
BAB. 3 Pertemuan
**
"Mau langsung balik Na?"
"Iya nih, Kanjeng Ratu nyuruh gue langsung balik."
"Padahal kita mau pada jalan dulu, gak asik ah."
"Ya gimana dong, kanjeng ratu udah nurunin titah nya. Gue gak bisa nolak."
"Iya deh yang anak berlian."
"Anak emak gue, gue mah."
" Begini amat yah hidup gue, masih ****** udah mau di nikahin aja." Gumam Elena.
Waktu menunjukan angka 4 Elena pulang memang sedikit terlambat, bukan karena sengaja atau rencana hanya saja dia pun tidak tahu jika di kelas akan ada mata pelajaran tambahan. Dan Elena yakin jika sampai Rumah nanti dia pasti akan langsung di sambut ceramah sang Kanjeng Ratu.
Lain Elena lain sang Ibu, Della seolah lupa jika putrinya belum pulang. Dia terlalu semangat dan terlalu gembira untuk menyambut calon besan nya nanti. Bahkan Della langsung turun ke dapur untuk mempersiapkan semuanya.
45 menit Elena di perjalan pada akhirnya dia sampai di depan Rumah, pertama yang dia lihat adalah mobil Papa. Tidak biasanya Papa Indra pulang cepat. Padahal biasanya sebelum magrib atau sesudah Magrib baru lah Papa pulang.
"Baru pulang?" Elena terperanjat kaget mendengar suara sang Papa, padahal ketika dia masuk tadi Elena tidak melihat keberadaan Papa Indra.
"Hehe iya Pah." Cengengesan menjawab, Elena mendekat kemudian menarik tangan Papa. "Tadi ada kelas tambahan makanya telat." Sambungnya.
"Ya udah sana masuk, istirahat terus siap-siap. Mereka datang sekitar jam 7." Elena tepuk jidat, pantas saja Papa Indra pulang cepat. Dia lupa jika malam ini dia akan bertemu dengan calon suaminya.
Calon Suami? Elena bergidik membayangkannya.
Elena langsung berlari ke arah tangga setelah mendengar teriakan Della, sebelum ibunya datang dan ceramah lebih baik Elena segera kabur. Akan runyam urusannya jika sang Ibu mengeluarkan ceramah nya.
"Mana Elena pah, tadi mama denger suara Elena?" Samar-samar Elena mendengar suara Della, kemudian dengan langkah lebar dia langsung masuk kamar. Tidak perduli jika sang mama mengamuk di lantai bawah sana.
"Punya emak rasa ibu tiri, serem nya gak kira-kira." Ucap Elena berdiri di balik pintu.
__ADS_1
Masih ada 30 menit untuk Elena bersiap, dia memilih untuk merebahkan dirinya. Mengistirahatkan tubuh nya yang terasa lelah, selain lelah karena Sekolah. Elena juga lelah menghadapi kenyataan pahit yang ada di depan matanya.
Baru matanya akan terpejam, pintu kamar di dorong kuat dari luar. Sampai akhirnya dia terlonjak kaget dan refleks berdiri.
"Ihs mama." Teriak Elena, ketika melihat sang tersangka yang sudah mendorong pintunya secara paksa.
Mama Della cengengesan ketika sudah masuk ke dalam kamar putrinya, tanpa rasa bersalah dia kembali menutup pintu dengan sangat keras.
"Mama ihhh." Geram sekaligus kesal, Elena kadang tidak habis pikir dengan kelakuan ajaib sang mama.
"Hehe." Nyengir tanpa merasa bersalah, mama Della melangkah untuk mendekat pada putrinya. "Ini gaun kamu, dandan yang cantik yah nanti. Jangan malu-maluin mama mu ini."
Elena menerima paper bag tersebut dengan enggan, dia malah berniat akan memakai piyama untuk menemui calon suaminya nanti.
"Mama tahu loh apa yang kamu pikirkan!" Elena melongo tidak percaya, ibu nya ini manusia atau bukan?
"Emang menurut mama, aku mikirin apa?" Tantang Elena, dia tersenyum ketika melihat wajah bingung mama Della.
"Kamu berniat bikin malu mama, biar calon suami kamu itu ilfeel." Tebak mama Della, Elena tidak bisa lagi mengelak. Karena tebakan mama Della tepat sasaran. Dia percaya jika ikatan Ibu dan anak itu begitu kuat.
🍃
🍃
🍃
"Pah Elena sudah turun belum?" Berjalan sambil terus memperbaiki tatanan rambutnya, mama Della terlihat cantik dengan gaun berwarna biru laut. Hampir sama dengan gaun milik Elena, bedanya mama Della memakai gaun yang lumayan panjang. Sedangkan punya Elena hanya selutut dan berwarna merah muda. Sangat cocok dengan usia Elena yang masih sangat muda.
"Belum, mungkin belum selesai." Sahut Papah Indra, dia begitu terpukau melihat penampilan istrinya.
"Ihs anak itu, gak bisa apa cepat sedikit." Mengabaikan sang suami yang begitu terpukau, mama Della berniat menemui putrinya. Baru satu anak tangga yang dia injak, mama Della langsung menutup mulutnya ketika melihat Elena turun dari lantai atas.
Terus melihat ke arah sang putri dengan mata yang tidak berkedip, mama Della sampai tidak sadar jika yang dia lihat sudah berada di depannya.
"Mama." Elena melambai-lambai di depan wajah sang mama, tapi mama Della masih saja bengong.
"Ihs mama." Pada akhirnya Elena mengeluarkan lengkingannya.
__ADS_1
"Ihs berisik kamu." Mama Della langsung menggosok-gosok telinganya yang terasa panas akibat mendengar teriakan Elena.
"Abisnya bengong sih."
"Mama bengong karena lihat kamu."
"Emang aku kenapa? Aneh yah ma?"
"Kamu cantik mama suka."
"Ck"
Yah Elena terlihat begitu cantik, gaun berwarna merah muda di padupadan kan dengan heels berwarna hitam. Sedangkan rambutnya dia kuncir kuda, namun sebelumnya dia Curly terlebih dahulu. Dan make-up dia buat senatural mungkin, mengingat wajahnya yang terlihat begitu imut. Untuk asesorisnya dia memakai kalung mas putih, dengan bandul huruf E di tambah arloji untuk pergelangan tangannya.
"Benar kata mama, kamu cantik sayang." Papah menghampiri kedua wanita berharga nya, kemudian menggandeng keduanya sampai ke depan pintu.
Pintu di buka lebar, kemudian memperlihatkan dua mobil yang masuk ke dalam pekarangan Rumah keluarga Atmaja.
Papah langsung berjalan untuk menyambut tamunya, kemudian di susul oleh mama Della. Sedangkan Elena hanya diam di ambang pintu dengan wajah tegang nya.
"Selamat malam Tuan Abraham, selamat datang di gubuk kami." Sapa papah Indra, kemudian merangkul tamunya.
"Kau ini, seperti pada siapa saja. Kita teman seperjuangan." Jawab Tuan Abraham dia merasa kesal dengan tingkah sahabatnya itu.
Papah Indra tertawa dengan keras kemudian membawa tamunya untuk masuk, sedangkan para perempuan masih berbicara degan gaya rempong nya.
"Ah apa ini calon mantuku?" Tanya Nyonya Desi Abraham, dia membelai sisi wajah Elena. "Ya ampun imut sekali." Sambungnya, kemudian mencium seluruh wajah Elena.
Elena merasa terganggu dengan apa yang di lakukan oleh nyonya Desi, tapi untuk protes pun dia tidak berani. Apalagi ketika melihat ibu kandung rasa tirinya sudah melotot di belakang Nyonya Desi.
"Iya tante ini Elena." Jawab Elena, kemudian mencium punggung tangan Nyonya Desi.
"Ahh manisnya, dan itu calon suamimu." Tunjuk Nyonya Desi pada pria yang baru saja turun dari dalam mobil.
Mereka semua langsung melihat ke arah pria yang di tunjuk nyonya Desi, Elena di buat bungkam dengan apa yang dia lihat. Bukan karena tampan atau menawan tapi dia terlihat Tua di mata Elena.
Sedangkan si pria, dia benar-benar merasa takjub dengan pilihan orang tuanya. Gadis bergaun pink, ber-kuncir kuda dia terlihat sangat imut. Tapi bukan itu masalahnya, dia malah terlihat seperti anak kecil dan lebih pantas menjadi Adiknya dari pada Istrinya.
__ADS_1
Oh ibu apa kau berniat membunuhku, dia terlihat amat manis tapi aku belum bisa menikmati nya batin Aziz sambil terus berjalan.