
“Mah, kalau mau minta maaf. Dan ingin di maafkan, sebelumnya tanyakan dan yakinkan lah hati Mama lehih dulu, setelah itu barulah mama yakinkan Raka, kalau Mama memang pantas di maafkan.” Ucap Ziara membuat Claris seperti mendapat tamparan.
Setelah selesai menasehati Claris, Ziara berlalu pergi meninggalkan wanita yang tertunduk. Malu, sedih , merasa bersalah entah apa yang Claris pikirkan hanya dia yang tau.
Setelah Ziara menghilang dari pandangan. Claris nampak mengusap air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Wanita penuh teka-teki itu penuh tanda tanya, di satu sisi dia ingin meminta maaf dengan Raka, tapi di sisi lain dia tidak ingin Ziara menjadi menantunya.
Di dalam kamar, Raka terlihat masih emosi. Bisa dilihat saat Ziara masuk dari raut wajah Raka begitu dingin dan rahangnya mengeras. Tangan masih mengepal kuat.
Saat ini tugas Ziara untuk menenangkan suaminya, menasehati Raka supaya tidak berlarut-larut terbawa rasa dendam yang akan berdampak buruk untuk mereka kelak.
“.... Raka,” lirihnya meraih tangan Raka yang mengepal bertumpu ke dinding.
“Lepaskan aku!” Raka menepis tangan Ziara kuat hingga membuat Ziara mundur selangkah tidak berani berucap.
Untuk saat ini semua orang di mata Raka akan terlihat buruk, meski pun peri akan terlihat buruk di mata Raka yang sedang di tutupi kabut kemarahan. Di matanya yang terlihat hanyalah keburukan penghianatan, dan lain-lainnya. Memang itulah sifat terburuk Raka, tidak bisa mengontrol emosi meski pun dengan wanita yang ia cintai sekalipun.
Setelah suasana hening, Raka melirik ke samping, melihat Ziara yang berdiri memaku di sampingnya. Ia mengusap wajah putus asa. Bagai mana ia bisa lupa, kenapa ia membentak gadis tidak bersalah, bahkan tidak tau apa pun tentang permasalahan dia dan ibunya.
“Maaf kan aku, Zia ... secara tidak sengaja aku telah membentakmu, maaf.” Raka mencangkup wajah Ziara yang menunduk, mengarahkan kewajahnya.
Ziara mengerjapkan mata, walau bagaimana pun Raka memperlakukannya, ia akan menerima. Ia tau Raka tidak mungkin membentaknya jika tidak sedang emosi yang teramat membara.
Ziara memegang tangan Raka yang berada di pipi dan tersenyum tipis, lalu berkata,
“Aku tidak apa-apa. Justru aku mengkhawatirkan kamu. Aku takut kamu kembali ke luka masa lalu. Bukankah kita sudah bahagia? lalu apa lagi yang ingin kamu cari?” ucap Ziara berwajah nanar, memandang wajah Raka yang sayup.
__ADS_1
“Maafkan aku, sayang, aku janji akan berusaha melupakan kenangan pahit masa lalu. Tapi ... kalau memaafkan wanita itu aku belum bisa,”
“Itu hak mu, memaafkan atau tidak, biarlah hatimu yang memutuskan. Aku ada pertanyaan buat kamu, walau apa pun yang terjadi kita akan lewati sama-sama kan?” ucap Ziara ingin kepastian.
Hati Raka tersentuh mendengar kata-kata Ziara. Ia langsung menarik tubuh kecil itu dan mendekapnya. Rutinitas yang tidak pernah ia lupakan adalah mengecup kepala Ziara dengan lembut seraya berkata,
“Aku tidak bisa berjanji, tapi aku akan mencoba membuktikannya. Aku akan berusaha membuatmu bahagia, hingga tidak ada celah untuk kamu mengeluh kalau kamu tidak bahagia,” ucap Raka penuh keyakinan.
“Gombal.” Ziara mendorong tubuh Raka pelan, ingin melepas pelukan. Tapi Raka justru merapatkan pelukannya.
—
Hari ini suasana pagi di dalam kantor perusahaan Sanjaya grup begitu sibuk. Orang-orang begitu melakukan kesibukan masing-masing. Ada yang berjalan ke kanan ada yang ke kiri ada yang menyapu, ada sibuk membawa berkas-barkas. Begitu juga dengan Sita terlihat sedang serius di depan benda pipih berbentuk persegi itu nampak sedang ada masalah tentang proyek yang ia garap.
Butuh waktu tenang sunyi untuk memperbaikinya. Jadi ia butuh ketenangan dan jangan coba-coba ada yang mengganggu untuk saat ini, atau akibatnya akan buruk.
Tapi dan tapi baru saja merasakan lega, tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Sita menoleh melihat dari ujung kaki berangsur naik, ia harap bukan Rio. Saat matanya sampai ke atas melihat wajah yang tersenyum manis. Sita membuang napas kecewa karena Rio berdiri di sana.
“Aiiss, kenapa harus dia ....” gumamnya menyipitkan mata melirik malas lalu kembali menatap layar hitam di hadapannya.
Sedangkan Rio berjalan menuju kursi miliknya ia juga harus memerikesa beberapa data-data yang masuk dari letopnya. Tidak seperti biasanya yang banyak bicara dan mengganggu Sita. Rio kali ini terlihat serius tanpa melihat Sita sedikitpun.
Ada yang aneh, kenapa dia diam? Apakah sedang sakit gigi, atau lagi pms? Tidak, tidak, dia seorang laki-laki mana mungkin dia pms ngomong apa sih kamu Sita. Sita menepuk-nepuk dahinya ia memperhatikan dari balik layar leptop miliknya lelaki itu terlihat kacau.
Dan tiba-tiba suara
__ADS_1
Hakciuuuhh!
Terdengar dari arah Rio. Sepertinya dia sedang flu, mungkin gara-gara semalam sebelum ia menolong Rio terkena hujan, kerena rasa penasaran ingin tau Sita merogoh dalam isi tas mengambil sesuatu lalu berjalan mendekat kearah Rio.
“Ini ambilah.” Menyodorkan sekeping obat dari telapak tangannya.
RIo yang siap-siap mau bersin pun berhenti dengan tangan akan menyentuh hidung yang akan bersin. “Apa itu?” tanyanya menaruh curiga kepada Sita, siapa tau karna gadis itu membencinya berniat memberinya racun.
“Ini obat flu, sisa aku kemarin.” Sita menggoncaang tangan supaya Rio untuk cepat mengambil dari tangannya.
“Ini bukan racun, pelet guna-guna atau dan lain sebagainya bukan, Sita?” ucap Rio menatap Sita ragu.
Sita mendesis kesal membuang napas kasar. “Kalau nggak mau ya sudah, kenapa repot. Aku juga nggak memaksa.” Ia kembali menggenggam obat itu lalu melempar ke tempat sampah.
Rio menganga di buatnya, baru saja akan mengambil obat itu dari telapak tangan Sita. Gadis itu sudah memindahkan obat ke tong sambah. Cewek di hadapanya memang tidak suka bisa diajak bercanda.
“Gadis tua, kenapa kau menawariku, kalau akhirnya kau membuangnya?” Gerutu Rio lalu berdiri sampai ke pintu menghentikan langkahnya dan berkata, “Dasar wanita tidak normal!” ucapnya santai sambil menyeringai.
Kalimat apa barusan yang di lontarkan Rio? kalimat itu selalu jadi bahan ejekan. Wanita yang normal tidak akan terima disebut oleh seorang dengan sebutan seperti itu. Darah Sita seketika naik, ia akan mengambil benda apa saja, pokoknya apa saja untuk di lemparkan Rio.
Matanya menemukan sesuatu di bawah kakinya, yaitu tong sampah yang berbahan plastik. Segera ia melemparkan tong sampah, membuat Rio menggeram dan mengepal.
“Dasar! wanita aneh! menyebalkan ....” Rio berbalik tangan mengepal alisnya menyatu dan mata menyorot tajam kearah Sita.
Terlihat menyeramkan, tapi itu tidak membuat Sita takut sedikit pun. Rio siap menggerang siap menerkam. tapi ....
__ADS_1
Tiba-tiba Raka datang entah dari mana dan kapan lelaki itu berada di sana.
JANGAN LUPA UNTUK VOTE, LIKE , LOVE DAN KOMEN YA ... BUAT BANTU AUTHOR.