
Suasana haru menyelimuti seisi kamar. Kabar kehamilan yang baru saja diperoleh Raka dan Zia kebahagiaan itu tiada bandingannya dengan apa pun. Anak adalah anugerah karunia dari Tuhan yang maha Esa tiada yang berharga untuk orang tua di dunia ini selain mendapat seorang anak. (Tapi yang belum dikaruniai jangan sedih dan berkecil hati ya.)
“Selamat ... atas kehamilannya kakak. Aku harap kalian bisa kerja sama saling menjaga kondisi kehamilan yang masih trimester awal ini. Dalam kondisi ini kandungan masih lemah, aku sarankan kakak ipar untuk mengurangi aktivitas, perbanyak istirahat, jangan terlalu lelah. Untuk hal kandungan kakak bisa memilih dokter Anin, dia adalah dokter kandungan yang hebat, mulai besok aku akan atur jadwal pertemuanmu dengan dia,” ucap Vino berdiri di hadapan Raka dan Zia yang masih berpelukan.
Mereka melepas pelukan mengharukan itu dan Zia berkata, “Terima kasih, dokter Vino. Semoga kalian bisa cepat menyusul juga, aku sudah tidak sabar ingin melihat anak-anak kita berteman.”
“Berarti kita, akan cepat tua dong ... sayang, kalau anak kita cepat besar,” sahut Raka.
“Memangnya kenapa kalau kita, tua?”
“Kalau kita tua, kamu tidak sayang aku lagi.” Raka bergelendot di pundak Zia.
“Tua itu bukan masalah, yang akan jadi masalah itu ketika kamu mencintai orang lain.” Zia melirik kode.
“Tidak akan pernah ....” Raka mencium pipi istrinya itu.
“Baiklah ... karena sudah tidak diperlukan lagi, aku pamit pulang,” ucap Vino membuat Zia dan Raka tersadar dari kemesraan dan menoleh ke arahnya. “Kakak, aku tidak berani memberimu obat apa pun, aku harap besok kamu langsung menemui dokter Anin.”
“Baiklah, besok aku akan mengantar istriku ke dokter itu. Pergilah ... aku sudah tidak membutuhkanmu lagi,” ujar Raka mengundang gelak tawa di kamar.
“Aku akan pergi, kakak pastikan kakak tidak beraktivitas dulu. Dan Raka, aku harap kamu juga mengurangi aktivitas,” titah Vino.
“Aku, kenapa? Aku kan tidak hamil.”
“Yang aku maksud adalah kurangi aktivitas di atas ranjang,” canda Vino membuat Raka membulatkan mata.
__ADS_1
“Apa itu dilarang saat istri sedang mengandung, Vino?” tanya Raka serius. Tentu saja ini adalah pertanyaan yang penting dia harus tahu.
“Bukan dilarang ... tapi dikurangi, karena kondisi kandungan masih belum kuat.” Vino memautkan tangan dan memandang Sari. “Sayang, ayo kita pulang, aku juga mau seperti mereka ....”
Cubitan kedua mendarat di pinggangnya lagi sehingga membuat ia meringis. “Kamu pintar mencubit ya sekarang, selain mencakar,” godanya.
“Haiss ... apa kamu tidak malu,” ucap Sari pipinya memerah karna malu.
Mereka berdua pun jalan keluar dari kamar Raka dengan saling berpelukan mesra. Cinta memang tidak membutuhkan status harta, Tahta, dan rupa. Meski kedua orang tua Vino tidak merestui mereka mencoba meyakinkannya walau sulit.
“Sayang kita lanjutkan yuk!”
“Apa?”
“Yang tadi tertunda ... aku akan mencarikan buah mangga setelah ini.”
“Terus kegiatan kita yang tertunda bagai mana, sayang?”
“Carikan aku mangga dulu baru ... kita akan melanjutkan kegiatan yang tertunda tadi.” Zia dengan cepat mendorong tubuh Raka ke luar kamar “Sebelum membawa kembali mangga ke sini, kamu tidak boleh masuk kamar.”
“Tapi ....”
Belum juga Raka melanjutkan kalimatnya. Pintu kamar sudah tertutup dan Zia mengunci dari dalam. Ia menghela napas mengusap wajah kasar, berpikir keras bagai mana cara menemukan mangga muda itu.
“Bik, apa kau tau ... di supermarket mana yang menjual mangga muda baru dipetik?” tanyanya saat bik Sri lewat di depan.
__ADS_1
“Di supermarket tidak menjual mangga muda, Tuan. Kalau mau mendapat mangga muda biasanya ada di pasar, tapi ... belum tentu ada juga, karena ini bukan musim buah. Biar saya coba carikan ke pasar ya, Tuan?” tawar bik Srie.
“Tidak usah, bik. Zia hanya mau aku yang mencarikannya. Bibi tetap di sini temani Zia, jangan ke mana-mana kalau dia membutuhkan sesuatu segera ambilkan. Aku pergi dulu ....” Raka berlalu pergi dan bik Srie tersenyum betapa senangnya melihat tuan Raka sangat antusias untuk mencari buah mangga.
Selain membuat mie instan hari ini juga hari yang cukup bersejarah untuk seorang yang sebentar lagi akan menjadi calon ayah itu. Raka turun dari mobil mewahnya. Pelan-pelan ia memijakkan kaki untuk pertama kalinya itu. Suara riuh beberapa pedagang saling menawarkan barang dagangan, banyak orang berlalu lalang dari semua kalangan membuat lelaki itu bingung.
Raka pun masuk ke dalam pasar di sambut bau amis, aroma makanan semua tercampur jadi satu. Ia tidak kuat mencium aroma ini, ia pun menutup hidung dengan tangan. Banyak mata memperhatikannya, memang Raka berpenampilan biasa tetapi aura pemimpinnya terlihat jelas di sana sehingga orang-orang mengira dia adalah petugas dinas yang menyamar menyelidiki harga pasar.
“Apa kau menjual mangga?” tanyanya kepada pedagang sembako. Pedagang itu menggeleng dan menhan tawa. Raka bepindah setiap petak kios ia datangi tetapi hasilnya sama dia tidak mendapat hasil apa pun. Ada mangga tetapi sudah masak, meskipun begitu ia tetap membelinya. Dari pada tidak sama sekali batin Raka.
Raka ke luar membawa lima kilo buah mangga masak menuju mobil. Ia sudah menyerah, sudah tiga kali mengelilingi pasar tetapi tidak menemukan mangga muda. Ia melajukan mobil akan mencarinya sambil mengendarai di kompleks yang pernah di lihat banyak pohon mangga. Mungkin di sana ada batinya.
Pelan-pelan Raka mengemudikan mobil, sembari memantau sekiranya ada pohon yang berbuah. Tapi memang nasib tidak berpihak kepada Raka. Tidak ada satu pun pohon yang berbuah. Ia menepikan mobil berpikir sejenak, putus asa dan sedih karena tidak bisa mencarikan keinginan istri dan calon anaknya itu.
Namun saat akan masuk ke dalam mobil ada dua anak kecil berjalan melewati mobil. Sepertinya anak yang kira-kira berumur tujuh tahunan itu bukan anak kompleks, karena penampilan lusuh. Tapi bukan itu yang menjadi perhatiannya. Mata Raka menjadi bahagia saat melihat apa yang berada di tangan anak itu. Dua buah mangga muda dan terlihat segar, yah! Itulah yang dia cari akhirnya.
“He ... berhenti!” pekiknya membuat kedua bocah itu berhenti dan menoleh ke arahnya. Ia pun berjalan untuk menghampiri bocah itu.
Kedua anak itu terlihat ketakutan. Saling memandang satu sama lain. “Dia siapa?” tanya si anak satu.
“Aku tidak atu ....” balas anak dua.
“Jangan ... jangan ....” kedua anak itu saling menatap berpikiran sama kalau pria yang memanggilnya adalah. “Penculik ... lari ... dia mau menculik kita ayo lari!” seru anak satu kepada si anak dua yang sedikit tertinggal darinya. Kedua anak itu berlari sekencang mungkin menghindari Raka.
Mereka salah paham Raka bukan penculik tetapi dia hanya meminta buah mangga muda . Lelaki itu mengejar dua anak tadi untuk menjelaskan. Tetapi anak itu semakin bersuara keras menyeru kalau dia adalah penculik. “Heh tunggu!” Berlari dengan napas terengah-engah mengejar dua bocah itu.
__ADS_1
Sampai akhirnya ia tidak kuat lagi untuk berlari. Ia menghentikan langkah untuk berhenti sejenak, dan saat menaikkan pandangannya ia melihat tiga orang dewasa dan anak tadi bersembunyi di belakang mereka. Raka seketika memundurkan kaki dua langkah dari posisinya.
JANGAN LUPA TINGGALKAN LIKE DAN KOMEN DI SINI SOALNYA JENNY UP DUA HARI INI. JANGAN LUPA VOTE.