Dijodohkan

Dijodohkan
Akhir Pekan 2


__ADS_3

Siang ini Raka sengaja mengajak Ziara untuk menemaninya bertemu dengan para klien di restoran. Sebenarnya pertemuan itu tidak terlalu penting, tapi Raka ingin banyak menghabiskan akhir pekan bersama sang istri, jadi memutuskan membawanya untuk pergi makan siang supaya terus bersama.


“Sudah siap?” Raka mengulurkan tangan untuk menggandeng.


“Siap.” Zia meletakan tangan di atas telapak tangan Raka. Lalu tangan itu menggenggam jadi satu, sepasang suami istri itu pun berjalan menuju mobil dengan bergandengan.


“Kau sangat terlihat cantik, sayang. Apa ini karena kau akan bertemu Gina? Aku harap kecantikanmu seimbang dengan kecantikannya.” Zia mencubit perut hingga membuat Raka meringis.


“Jangan bawa-bawa nama wanita itu, aku tidak suka. Jangan pernah membandingkan kecantikanku dengan kecantikan dia. Dan sampai kalau sampai aku melihatnya dekat denganmu awas aja,” gerutu Zia menyipitkan mata memandang sinis. Raka terkikih entah kenapa ia hari ini ingin menjahili istrinya.


“Kita bisa lihat nanti, mana yang lebih cantik. Kau atau dia, kalau menurutku sih ....” Raka mengetuk-ngetuk dagunya.


“Menurut kau apa? Dasar menyebalkan!” Zia memukul dada Raka pelan. Membuat Raka tergeser dari posisinya. “Awas aja kalau sampai berani macam-macam akan kupastikan kau tidur di taman selama lima bulan, dan akan kupastikan aku akan membekukan seluruh aset berharga milikmu,” ucap Zia dengan nada sedikit penekanan.


Raka membulatkan mata. Ia merinding dengan pengancaman yang diucapkan istrinya pasalnya memang seluruh aset berharga saat ini dalam kendali Ziara. Tapi bukan itu yang ia takutkan, dia lebih baik kehilangan aset-aset harta miliknya dari pada harus tidur di taman selama lima bulan. ltu lebih mengenaskan menurut Raka karena tidak ada yang berharga dibanding apa pun selain wanita di sampingnya.


“Baiklah aku minta maaf. Tidak akan menyebutnya lagi dan janji tidak akan menyebut, melihat, wanita mana pun selain kau. Aku dalam kendalimu sekarang, tidak mungkin aku berani macam-macam, sayang.” Raka mengusap rambut gemas.


Zia mengerucutkan bibir. “Berantakan kan jadinya rambutku.” Merapikan anak rambut yang berantakan.


“Kita berangkat?” Zia mengangguk.


Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang menuju tempat pertemuan yang sudah dinanti para klien dari beberapa kota, Erick dan Rio juga sudah menunggu di sana.


Erick dan Rio menunggu di restoran. Menanti kedatangan Raka sudah cukup lama mereka menunggu sudah lewat dari waktu yang sudah ditentukan. Tidak seperti biasanya Raka terlambat, karena ia selalu tepat waktu.


“Rio, coba hubungi Raka lagi,” titah Erick seraya melihat jam tangannya. Rio pun kembali menekan nomor dan menempelkan benda berbentuk persegi itu ke telinga. Cukup lama ia menunggu jawaban dari seberang sana tapi belum mendapat jawaban.

__ADS_1


“Tidak diangkat.” Memasukkan ponselnya ke kantong celana lalu kembali duduk di sebelah Erick.


Erick menghela napas terlihat sibuk memperhatikan jam tangannya. Sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu. Iya, kemarin Zia menerima tawarannya dan mengajak membicarakan tentang kerja sama hari ini jam dua siang, dan sekang sudah jam satu siang. Ia tidak ingin menyia-nyia kan kesempatan ini. Untuk mengenal wanita yang ia kagumi selama ini, tidaklah mudah mengajak Zia sampai akhirnya ia menyetujui.


“Sepertinya Raka sibuk dengan istrinya sehingga melupakan janjinya.” Rio menyeringai mengingat kejadian di rumah Raka waktu itu.


Erick melirik ke arah Rio menyaring apa yang diucapkan cowok itu. “Apa kau kenal istri Raka, Rio?”


Rio mengulum senyum. “Bukan hanya mengenal. Tapi kami dulu pacaran,” balas Rio cepat.


Erick membelalakkan mata terkejut. “Mana mungkin. Aku tidak percaya.” Menyeringai meremehkan.


“Kau boleh tidak percaya. Tapi memang kenyataannya kami dulu pacaran. Orang tua Zia tidak merestui hubungan kami, supaya kami berpisah mereka segera menikahkan putrinya supaya hubungan kami tidak berlanjut ... aku sadar, aku memang tidak pantas mendapatkannya, walau sekuat apa pun aku mengejar dia ... untuk kembali denganku, itu hanya sia-sia. Bahkan dia harus menderita karena perbuatanku, kehilangan kedua orang tuanya itu semua karena salahku.” Rio bercerita dengan tenang mengingat kejadian demi kejadian yang mereka lalui. Sedangkan Erick mendengarkan dengan rasa penasaran tidak berkedip sedikit pun.


“Sangat sulit menyatukan pecahan kaca yang pecah menjadi utuh lagi. Begitu juga denganku, begitu banyak kesalahan yang kuperbuat membuat Zia menderita, bahkan dia harus berpisah dengan teman baiknya.”


Mendengar itu mata Erick semakin melebar “Maksudmu?”


Erick memaki dalam hati tidak menyangka ternyata lelaki di hadapannya adalah lelaki brengsek yang suka mempermainkan banyak perempuan. “Brengsek lo!”


Rio tersenyum tipis. “Itu memang kenyataannya. Sangat banyak dosa yang kulakukan dan aku sudah berjanji untuk tidak mengulangi lagi.”


“Lalu ... bagaimana dengan nasib wanita yang sudah kau tiduri? Apa kau tidak memikirkan perasaannya?”


Rio berpikir sejenak. Kenapa ia tidak pernah berpikir ada Arini yang tersakiti. Selama ini dia begitu sibuk mengejar Ziara dan melupakan kalau Arini telah ia hancurkan. “Masalahnya aku ... melakukan semua tanpa rasa cinta. Aku menyentuhnya karena nafsu yang tidak kudapatkan dari Zia. Sampai saat ini aku tidak mempunyai perasaan apa-apa, dan begitu juga seterusnya.”


Erick memandang sinis.

__ADS_1


Lelaki di hadapannya ternyata adalah tidak lebih dari seorang pengecut yang hanya meniduri para perempuan. Setelah itu ia pergi tanpa peduli dengan perempuan itu lagi.


“Semoga tidak ada perempuan yang menjadi korbanmu lagi, kasihan mereka.” Erick mengangkat cangkir dan menyesap kopi.


Saat ia sedang menikmati kopi dan Rio mulai sibuk dengan ponselnya. Raka datang menghampiri mereka. "Apa aku terlambat?" Duduk bergabung di tengah-tengah mereka.


Sebenarnya Raka datang bersama Zia. Tetapi Zia menyuruh Raka untuk mesuk lebih dulu kerana ia sedang menerima telepon dan akan menyusul saat sudah selesai.


“Tidak kau tidak terlambat sama sekali, justru kamilah yang datang terlalu awal,” canda Rio. Erick pun tertawa mendengarnya.


“Maaf, aku terlambat.” Raka melihat wajah Erick dan Rio yang terlihat kesal. “Sekarang di mana mereka para klien itu?”


“Mereka sedang menunggu di ruang VIP, sudah cukup lama mereka berada di sana,” ucap Erick. Sebanarnya Erick dan Rio dari tadi hanya menunggu di ruang umum sedangkan para klien menunggu di ruangan khusus yang diboking untuk para pengusaha untuk melakukan pertemuan penting.


“Ayo kita masuk!” titah Rio berdiri siap melangkah.


“Tunggu. Aku akan menunggu istriku sebentar, kasihan dia jika mencariku.”


“Baiklah ....” Rio duduk kembali menyetujui Raka. Erick pun penasaran bagai mana sesosok perempuan yang bisa membuat temannya itu jadi budak cinta seperti sekarang. Posisi mereka bertiga saat ini sama-sama mengarah ke pintu masuk. Rio berharap Zia cepat datang supaya pekerjaannya cepat selesai dan Erick penasaran karena ini pertama kalinya ia melihat istri dari teman baiknya.


Dan....


Datanglah wanita yang ditunggu-tunggu, Raka dan Rio memandang biasa saja. Tetapi pandangan lain ditunjukan Erick. Cowok itu seketika tersenyum merekah saat melihat wanita yang ia kagumi masuk ke dalam restoran. Dia seketika bangun dari kursi dengan mata tidak berkedip. Jantungnya semakin berdagup kencang saat sesosok wanita itu tersenyum ke arah dia. Lebih tepatnya bukan dia, tetapi Raka yang berada di belakangnya.


BERSAMBUNG....


Yah putus lagi ....

__ADS_1


AUTHOR PUNYA GRUP CHAT AYO GABUNG BIAR ENAK KITA SAPAANNYA. SAMPAIKAN KELUH KESAH KALIAN BIAR NGGAK ADA JARAK DI ANTARA KITA😂


TERIMA KASIH UNTUK KALIAN YANG SELALU MENDUKUNG OTHOR KACANGAN INI ... KALIAN LUAR BIASA. LOP LOP POKOKNYA😘


__ADS_2