Dijodohkan

Dijodohkan
BAB 9. SAHABAT GILAK


__ADS_3

Bab 9. SAHABAT GILAK


**


FLASHBACK


Elena menyipitkan netra penglihatannya, lampu kamarnya masih menyala seperti tadi malam. Tapi posisi tidurnya kini sudah berubah. Dia tidur di atas ranjang dengan begitu nikmatnya, hingga Elena tersadar jika semalam dia menelungkup kan kepalanya di atas meja belajar. Tapi, pagi ini ketika dia bangun dia sudah berada di atas ranjang. Lalu siapa yang memindahkan nya? Suaminya, atau malah dirinya yang berjalan sambil tidur?


Elena memutar kepalanya dengan kaku, dia menoleh ke samping tempat tidurnya. Tempatnya kosong tidak ada siapapun tapi satu bantal nya hilang. Kemudian matanya melebar mencari sosok lelaki yang sudah menjadi suaminya, dia.. tengah tertidur di atas sopa tepat di bawah kaki Elena, dengan posisi yang sangat tidak enak. Kakinya menjuntai karena terlalu panjang.


Elena mendesah, entah rasa apa yang menghinggapi pikiran dan juga hatinya. Yang jelas dia seperti merasa kecewa, tapi entah karena apa. Dia pun bingung sendiri. Hingga Elena memutuskan untuk turun dari atas tempat tidur melangkah menuju kamar mandi, hingga netra nya kembali menangkap sesuatu yang janggal. Dia mendekat meski merasa ragu, tapi dengan rasa penasaran akhirnya Elena mendekat juga. Dia mengotak-atik laptop milik Aziz---suaminya, dan matanya kembali melebar ketika dia membaca laporan akhir bulan milik Aziz. Ternyata suaminya ini ketiduran, karena mengerjakan pekerjaannya. Elena melirik sebentar pada Aziz kemudian dia bergumam meski tidak jelas, tangan nya terulur untuk mengusap rambut Aziz namun dengan cepat ia tarik. Dan menegakkan tubuhnya kemudian memilih masuk kedalam kamar mandi.


Elena keluar dengan sudah memakai seragamnya, rambut hitamnya dia bungkus dengan handuk karena habis di keramas. Sebenarnya Elena begitu malas harus mencuci rambut, tapi karena rasa kantuk yang begitu hebat akhirnya Elena memutuskan untuk mencucinya saja meski rasa kantuk tak kunjung juga pergi.

__ADS_1


Mengabaikan Aziz yang masih tertidur dengan pulas, Elena lebih memilih memoles wajahnya menyamarkan lingkaran hitam yang terlihat menganggu. Kemudian beralih mengeringkan rambutnya. Tangannya terulur ketika ponselnya berbunyi.


Elena berdecak malas, membaca pesan yang begitu riuh di dalam grup. Dia tidak habis pikir pada teman-temannya kenapa harus begitu berisik padahal itu hanya sebuah pengumuman. Namun seketika aktifitasnya terhenti ketika membaca pengumuman selanjutnya. Ingin sekali Elena berteriak dan mengumpat, jika ia tidak ingat bahwa ada orang lain di dalam kamarnya, bagaimana tidak. Guru dengan seenak memberitahu jika hari ini jamkos sampai waktu yang belum di tentukan dan Elena sungguh merasa kesal akan hal itu. Kesal karena waktu tidurnya yang kurang dan kesal karena dia malah lembur semalaman seorang diri. Meski Elena mempunyai otak pintar, namun dia juga sama halnya seperti murid-murid yang lain.


Mengabaikan ponselnya yang terus berbunyi, Elena melangkah untuk merapihkan tempat tidurnya. Kemudian dia melirik ke arah jam yang berada di dinding. Menghela nafas dengan berat kemudian melangkah ke arah Aziz yang masih terpejam. Elena meringis ketika Aziz menggerakkan tubuhnya, seperti nya lelaki itu tengah mencari posisi nyaman. Dan Elena yakin tubuhnya pasti sakit semua.


"Mas.. bangun, sudah siang. Kamu ke Kantor tidak?" Elena menepuk-nepuk pipi Aziz, kemudian menggoyangkan bahunya pelan. Terdengar Aziz bergumam tapi entah apa, hingga tidak lama netra nya terbuka. Terlihat sangat sayu, pasti masih sangat mengantuk. Elena malah berpikir jam berapa suaminya itu tidur?


Aziz memposisikan tubuhnya untuk duduk, dia menyender sebentar kemudian meregangkan otot-ototnya. Rasanya tubuhnya itu begitu kaku, dan juga kakinya seperti mati rasa. Sangat sakit dan juga ngilu. Dia menunduk meraih laptopnya, menutupnya begitu saja. Kemudian bangun tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.


Elena refleks mundur, dia terus memperhatikan suaminya. Hingga Aziz masuk ke dalam kamar mandi tanpa sepatah kata. Dan Elena hanya menghembuskan nafas berat. Tapi pintu kembali di buka, dan memperlihatkan wajah Aziz. Kemudian lelaki tersebut memberitahu Elena, bahwa dia hari ini akan ke Kantor. Setelah pintu kembali tertutup dengan cepat Elena menyiapkan segala keperluan Aziz. Dan menyimpannya di atas ranjang. Elena sadar setelah menikah tugas nya bertambah dia bukan lagi seorang pelajar yang hanya mengerjakan tugas, tapi seorang istri yang harus melayani suaminya. Iyah Suami--Nya.


Sembari menunggu Aziz, Elena kembali membuka ponselnya. Andai dia tahu hari jamkos, dia akan tidur lebih lama lagi. Dan berangkat ke Sekolah agak siang saja, dari pada seperti sekarang. Matanya begitu mengantuk hingga harus di paksa agar tetap terjaga. Pintu kamar mandi terbuka menampakan Aziz dengan---handuk yang hanya sepinggang. Menampilkan dadanya lebarnya dan perutnya yang kotak-kotak. Rasanya Elena malu sendiri melihatnya. Terlebih dia belum pernah melihat seorang pria bertelanjang dada. Termasuk Ayahnya sendiri. Dan sekarang, dengan entengnya suaminya itu tengah memakai pakaiannya dengan santai. Seolah dia itu lupa jika ada seorang gadis yang tengah menunduk dan memejamkan matanya dengan kuat. Oh astaga, suami laknat dasar !!!

__ADS_1


Dan lamunan Elena buyar seketika, ketika sahabat gila nya itu berteriak heboh di samping nya. Hingga Elena hampir tersungkur jika saja Sandra tidak gesit menarik tubuhnya.


"Na, kamu tidur?" Heran Sarah, ketika Elena berhasil ia tarik. Elena mencebik kesal, dia melengos begitu saja. Tidak menjawab pertanyaan dari Sarah. "Na.. ihs lu mah, tadi tidur?"


"Engga Sar, lagian kamu kenapa sih teriak? Kaget tahu gak?" Sarah meringis melihat raut wajah kesal Elena, dia kemudian senyam-senyum tidak jelas. Membuat Elena bergidik sendiri, apakah sahabatnya ini benar-benar tidak waras? Pikir Elena.


"Gue waras yah!!" Seolah bisa membaca pikiran Elena, Sarah langsung menjawab dengan kembali teriak. "Tapi gak usah teriak, gue gak budeg Sarah, Astagfirullah." Sarah hanya nyengir menampilkan deretan gigi putihnya. "Kenapa sih? Perasaan itu wajah seneng banget."


"Itu loh Na, ya ampun Mas Satrio calon suami gue. Dia keren banget." Lagi Sarah kembali teriak, dan kali ini penghuni kantin melihat ke arah mereka dengan tatapan horor. "Ya ampun Na, ganteng banget. Sumpah ya si Satrio itu.. ahh tidak bisa aku definisikan dengan kata-kata." Elena menelan ludah dengan susah payah, bukan karena melihat ketampanan Satrio hanya saja tatapan anak-anak kantin begitu horor menurutnya.


"Sar, lu pernah denger gak. Persahabatan bisa putus karena rasa malu?" Sarah menoleh dengan alis yang hampir menyatu, dia tidak pernah mendengar kata-kata tersebut. "Emang bisa yah kaya gitu?" Tanya nya dengan serius. "Iya bisa, dan gue bakal melakukannya sekarang. Gue malu punya sahabat kaya lu sumpaaaah." Setelahnya Elena langsung berdiri, dan berjalan begitu saja. Sedangkan Sarah, dia melihat sekeliling. Dan sialnya hampir seluruh warga kantin tengah menatapnya dengan tatapan yang sulit di mengerti oleh Sarah. Kemudian mendongak dan mencari keberadaan Elena yang sudah tidak terlihat.


"Gustii, gue emang malu-maluin banget yah?" Gumamnya sambil berdiri, kemudian berlari dengan langkah lebar berharap bisa mengejar Elena.

__ADS_1


__ADS_2