
Harap Vote kalau kalian suka...
Selamat membaca..
Hening...
Raka terlihat sedang memikirkan sesuatu. Masih memeluk tubuh istrinya erat ia melamun embusan napasnya menderu di leher Zia. Ia gelisah memikirkan bagai mana cara untuk mengembalikan perusahaan seperti semula. Meski ia mencoba melupakan sejenak. Tetapi pikiran itu selalu hadir dalam benaknya. Ia butuh merelakskan pikiran. Ia butuh Zia untuk meringankan pikirannya.
“Sayang, kenapa kamu diam?” tanya Zia yang terkunci dalam dekapan Raka itu.
“Tidak ada ....” balas Raka. Bibirnya mengatakan tidak tapi wajahnya mengatakan kalau sedang memikirkan sesuatu.
Melihat wajah Raka Zia bangun bersandar di kepala ranjang. Sedangkan Raka berada di bawah memeluk pinggangnya menggelendot dengan manja.
“Apa aku boleh bertanya, Raka?” tanyanya sambil membelai kepala Raka. Lelaki itu memang ingin dimanja saat ini.
“Silakan, tanyakan apa yang ingin kamu tanya kan,” Raka tidak mau ambil pusing yang ia tahu adalah hanya ingin memeluk dengan erat.
“Bisakah, kamu jujur padaku, sebenarnya apa yang terjadi?”
Mendengar itu Raka menautkan alis.
“Memang apa yang terjadi sayang? Tidak ada apa pun yang terjadi,” ucapnya dengan santai.
“Tatap aku,”
Raka menuruti permintaan istrinya. Ia mendongakkan pandangannya menatap wajah Zia yang nanar. Ia bangkit duduk sejajar dengan wanitanya itu lalu menangkup wajah istrinya lalu berkata, “Tidak ada apa pun yang terjadi semua baik-baik saja. Aku akan pastikan semua baik, tidak akan membuatmu kehilangan satu apa pun.”
Tidak akan membuatmu kehilangan satu apa pun? Kata itu terdengar ambigu untuk Zia. Ia tidak paham dengan perkataan suaminya itu. “Maksudmu, tidak akan membuatku kehilangan apa, Raka?”
__ADS_1
“Tidak apa-apa sudah tidak usah dipikirkan. Sekarang lakukan tugasmu sebagai seorang istri, aku menginginkanmu, aku menginginkan kehangatan tubuhmu,” ucap Raka. Ia masih menangkup wajah Zia perlahan ia mengecup kening, berangsur ke mata berangsur ke pipi. Membuat wajah Zia memanas bersemu. Raka mengusap bibir Zia bersiap mengangsurkan bibirnya di sana.
Namun tiba-tiba Zia menghalangi bibirnya dengan jari lalu melepas tangan Raka dari wajahnya. Raka berdecak kesal, disaat ia penuh gairah tiba-tiba istrinya mencegahnya.
“Aku masih mempunyai pertanyaan yang harus kamu jelaskan. Tolong katakan dengan jujur. Aku tidak ingin jika ada masalah membuat hubungan kita renggang,” ucap Zia dengan kekeh.
“Katakanlah, apa yang ingin kamu tanyakan. Tapi jangan halangi aktivitasku, aku tidak suka itu,” ujar Raka. Lelaki itu pun mulai memainkan tangannya menyusuri setiap lekuk tubuh di hadapannya, sehingga membuat sang pemilik menggigit bibir bawahnya merasakan sensasi yang di berikan Raka. Tanpa ia sadari desahan lolos dari bibirnya sehingga membuat Zia melupakan pertanyaan yang terkumpul di otaknya.
“Bagai mana, apa mau dilanjut?” tanya Raka dengan tatapan menggoda. Ia tahu istrinya itu sangat menginginkan dirinya saat ini.
Dengan menggigit bibir bawahnya Zia mengangguk menyetujui permintaan sang suami.
Mereka pun memulai aksi pergulatan panas di atas ranjang saling beradu satu sama lain napas memburu menjadi satu mengalahkan sejuta penat yang dirasakan saat itu. Raka memang memainkan suasana sehingga membuat Zia terbuai dalam permainannya.
—
Di pagi hari...
“Huek! Huek!”
Zia masih mengeluarkan isi perut yang membuat ia mual. Setelah itu ia membasuh wajahnya dengan air guna untuk menyegarkan.
Raka yang terlelap itu pun seketika membuka mata saat mendengar suara istrinya itu muntah-muntah dari dalam kamar mandi. Ia seketika cemas takut jika terjadi apa-apa dengan wanitanya itu. Ia pun segera beranjak dari tempat tidur ingin menghampiri sang istri. Tetapi saat ia baru akan melangkah dari samping ranjang. Zia keluar dengan wajah lemas dan pucat memegangi perut yang merasa mual.
“Sayang kamu kenapa? Apa yang terjadi?” tanyanya dengan cemas.
Namun Zia hanya mengangkat satu tangan untuk mencegah Raka bertanya. Karena ia merasakan mual dan ingin segera mengeluarkan isi perutnya yang mengganjal. Wanita itu pun kembali berlari ke kamar mandi mengeluarkan muntah yang tidak bisa di tahan lagi.
Raka pun bertambah semakin cemas ia tampak khawatir menunggu istrinya di depan pintu kamar mandi. Ia tidak pernah melihat Zia seperti itu sebelumnya.
__ADS_1
Akhirnya Zia yang ia cemaskan keluar juga dari dalam sana. Dengan wajah semakin memucat ia seperti tidak berdaya lagi. Saat Raka ingin menghampiri ia kembali berlari masuk ke dalam muntah kembali.
Raka pun menghampiri merasa cemas bercampur iba melihat kondisi istrinya seperti itu. Ia pun membantu memijat tengkuk Zia berharap istrinya itu tidak muntah lagi.
Setelah selesai mengeluarkan semua isi perut yang membuat Zia tidak nyaman. Dengan dibanjiri air keringat dingin di wajahnya ia kembali membasahi wajahnya dengan air. Setelah itu ingin melangkah ke luar kamar mandi.
Namun saat ia baru melangkahkan kaki satu langkah. Raka dengan sigap mengangkat tubuhnya menggendong membawa ke ranjang. Raka meletakan tubuh istrinya yang lemah tidak berdaya itu penuh kehati-hatian selayaknya porselen mahal ke ranjang.
“Apa sudah berkurang, sayang? Sebenarnya kamu kenapa, apa yang terjadi, sehingga kamu jadi seperti ini? Tunggu aku akan menelepon Vino supaya memeriksamu,” ucap Raka membelai kepala istrinya itu dengan kekhawatiran.
“Tidak usah, sayang ... aku begini karena seharian kemarin belum makan. Setelah aku makan dan minum obat cadanganku pasti akan sembuh.”
“Kenapa kamu seharian tidak makan?” tanya Raka.
“A-aku menghawatirkanmu,” jawab Zia dengan ragu.
“Menghawatirkanku? Apa yang membuatmu khawatir?”
“Dari semalam aku sudah ingin menanyakan. Tapi ... kamu malah buat aku lupa, sebenarnya ... aku khawatir denganmu, kenapa kamu tiba-tiba berubah. Kamu menjadi seperti orang lain, pergi bekerja saja tidak memberi tahuku. Bahkan aku melihatmu sedang makan siang dengan seorang wanita,” ucap Zia.
Raka seketika mengusap wajah kasar. Ia merasa bersalah karena sikapnya yang kurang perhatian beberapa hari ini. Sehingga membuat istrinya khawatir, dan sampai tidak makan seharian dan kini sakit, itu semua memang salahnya. Tapi bagai mana pun di bersikukuh supaya Zia tidak mengetahui kalau perusahaan sedang diambang kebangkrutan.
“Maaf sayang. Kemarin aku begitu buru-buru dan aku melihatmu tertidur lelap, jadi tidak tega untuk membangunkanmu. Dan wanita yang bersamaku di restoran itu hanya klien, kami hanya membicarakan, kerja sama tidak lebih,” balas Raka.
“Apa perusahaanmu sedang mengalami masalah, sayang?” tanya Zia mendongakkan pandangannya untuk melihat wajah Raka.
Raka tersenyum getir memalingkan mata. “Tidak ada yang terjadi apa-apa di perusahaan, Zia. Semua baik-baik saja. Jangan berpikiran yang macam-macam oke!” balasnya mencubit hidung istrinya, dia mencoba mengalihkan pembicaraan. “Aku akan mengambilkan kamu makan tunggu.” Ia segera bangkit turun dari ranjang melangkah keluar kamar untuk mengambilkan makan.
Apa pun yang terjadi dia tidak ingin jika istrinya itu ikut memikirkan perusahaannya. Ia hanya ingin istrinya tau jika perusahaannya itu baik-baik saja.
__ADS_1
BERSAMBUNG...