Dijodohkan

Dijodohkan
episode 20


__ADS_3

Lidya melihat anggota keluarga Gibor yang duduk mengelilingi meja makan. Terlihat dua kursi yang masih kosong berdampingan.


" Halo. Selamat malam semua " Lidya menundukkan kepalanya gugup. Semua tersenyum dan menjawab sapaan Lidya tetapi tidak dengan ayah Gibor. Lydia mengangkat tegak kepalanya dan duduk disebelah Gibor.


" Mari makan dulu, jangan ada yang bicara sampai semuanya siap makan " ucap ayah Gibor tegas tanpa ekspresi.


Kegugupan Lidya semakin meningkat. Ia melihat semuanya tidak ada yang berbicara dan menikmati makanan mereka. Bahkan anak kecil yang ada dihadapannya juga menuruti perintah dari ayah Gibor. Semua terlihat sudah terlatih.


Lidya menelan ludah pahitnya dan mulai memakan makanan yang ia suka.


Semua sudah menyelesaikan makanannya. Tiba saatnya hal yang membuat Lidya gugup dan takut. Ayah Gibor menatap Lidya dengan seksama. Lidya menundukkan kepalanya dan tidak berani untuk menatap balik. Ayah Gibor tersenyum tipis melihat Lidya yang gemetar ketakutan. Lidya yang menoleh kearah ayah Gibor membuatnya sedikit terkejut. Ia melihat senyum manis milik ayah Gibor. Semua keluarga Kartoni tertawa termasuk Gibor yang sudah mengetahui bahwa ayah mereka hanya menggoda Lidya. Lidya tersenyum malu, pipinya memerah karena tersipu.


Ibu Gibor memulai pembicaraan " Jadi kapan kalian ketemu nak? " Lidya melirik Gibor dan Gibor mengangkat alis memberikan kode kepada Lidya untuk menjawab seperti yang mereka sudah rencanakan.


" Belum lama ini tante, saat aku mulai bekerja dan Gibor menjadi bos ku. Gibor menatap heran Lidya. Jawaban Lidya tidak seperti apa yang mereka bicarakan.

__ADS_1


" Oh... ternyata masih baru. Jadi kapan kalian jatuh cinta? " tanyanya lagi. Lidya menatap Gibor lagi dan melihat wajah Gibor yang sudah berubah mengeriput.


" Sebenarnya kami belum saling suka tante. Eh... dia sebenarnya hanya membantuku dari perjodohan yang dilakukan oleh papaku. Papaku ingin menjodohkan ku dengan lelaki yang sudah mempunyai tiga istri diumur nya yang masih muda " Lidya menjelaskan sedikit gugup.


Gibor tercengang. Lidya benar-benar mengatakan yang sebenarnya dan tidak mengatakan yang mereka sepakati. Semua anggota keluarga Kartoni mengangguk menandakan mereka semua mengerti.


" Tapi kalian akan beneran menikah. Apa kamu tidak apa? " tanya ayah Gibor merasa khawatir kepada Lidya. Gibor mengernyitkan keningnya, membelalakkan kedua matanya dan mulutnya yang terbuka lebar. Ia tidak menyangka bahwa yang keluarganya khawatirkan bukan dirinya melainkan wanita yang ada disebelahnya itu.


" Sebenarnya aku tidak mau menikah seperti ini. Aku sebenarnya ingin menikah dengan orang yang aku cintai, tapi dia meninggalkanku dan sampai sekarang belum ada yang bisa menggantikannya. Tetapi karena situasi ini, aku harus menikah. Tapi itu baik untuk melupakan orang yang menyakitiku dan memulai cinta dengan pasangan hidupku. Lagipula aku yakin jika kami benar-benar berjodoh maka akan tumbuh serpihan cinta diantara kami, dan jika tidak maka pernikahan ini tidak akan berlangsung sekuat apapun kita berusaha. Jika pernikahan ini berlangsung, maka kami tidak lagi menjadi dua melainkan satu dan aku tidak akan meninggalkan belahan jiwaku selama itu bukan maut yang merenggutnya dariku " Ia menatap Gibor dengan tulus. Bagi Lidya, Pernikahan itu hanya sekali seumur hidup. Semua tersenyum mendengar ucapan Lidya. Mereka tenang menyerahkan putranya kepada perempuan cantik itu. Mereka yakin apapun rintangan dalam rumah tangga, jika mereka memilih untuk tetap setia dan percaya, maka rumah tangga itu akan bertahan.


Semua keluarga Kartoni akhirnya menyetujui pernikahan Gibor dan Lidya. Gibor tidak menyangka bahwa kejujuran Lidya akan berhasil membuat keluarganya menerima Lidya. Dia benar-benar merasa sial karena mengarang cerita cinta yang tidak penting dan tidak diperlukan. Mereka semua tertawa dimalam itu. Lidya benar-benar menjadi sumber kebahagiaan di rumah itu. Ketakutan Lidya dengan seketika sirnah, yang ada dalam dirinya hanya kebahagiaan layaknya bersama keluarga. Hal ini menjadi awal yang baik bagi Lidya dan Gibor.


Jam menunjukkan pukul 23.59. Lidya berpamitan kepada keluarga Kartoni untuk pulang dan diantar oleh Gibor.


" Gue tidak menyangka bahwa lho akan mengatakan yang sebenarnya. Lho tau tidak gimana terkejutnya gue saat lho mengatakannya? " ucap Gibor yang sedang mengemudikan mobilnya.

__ADS_1


" Kalau gue tadi berbohong. Maka hal itu akan menjadi konflik dalam hubungan kita nantinya. Lebih baik mencegah bukan? "


" Lho memikirkan sampai kesitu ternyata. Tapi ingat yah apa yang lho bilang tadi. Walaupun tidak ada cinta diantara kita, kita tidak boleh berpisah sekalipun kita menemukan orang yang kita cintai. Kita harus tetap menjaga pernikahan kita ini sampai maut memisahkan kita berdua. Jangan pernah mengatakan kata cerai nanti karena hal itu merupakan hal yang paling gue tidak suka "


" Sikap kita memang berbeda, tetapi prinsip kita itu sama. Atau jangan-jangan lho itu takut menjadi duda muda yah. Tenang saja gue tidak akan meninggalkan mu kalau lho memang sudah menjadi suamiku nanti sekalipun mantan gue datang atau ada orang baru yang mengisi hatiku " ucapan yang selalu Gibor tunggu, bahwa Lidya tidak akan meninggalkannya bahkan saat mantan yang masih ia cinta datang lagi ke kehidupannya.


" Aku pegang janjimu tidak akan pernah meninggalkanku "


" Tenang saja. Aku tidak akan meninggalkanmu jika lho menjadi suami gue. Tapi jika lho tidak menjadi suami gue, maka gue akan ninggalin lho " malam itu merupakan malam yang diinginkan Lidya. Karena yang ada malam itu adalah kebahagiaan dan keramaian. Itu untuk pertama kalinya Gibor selalu menjawab dan merespon setiap apa yang Lidya ucapkan.


Lidya turun dari mobil dengan senyum di bibirnya. Suasana malam ini benar berbeda dari hari biasanya, dimana Gibor selalu mengabaikan Lidya. Lidya melambaikan tangannya dan Gibor merespon dengan senyuman di bibirnya. Senyuman manis yang membuat Lidya terpana dan tertegun. Ia masih terdiam ditempatnya memandang mobil Gibor menjauh hingga tidak terlihat.


Lidya akhirnya sadar dari lamunan mabuk senyuman Gibor yang melekat di otaknya.


Ia membuka pintu dan berjalan ke arah kamar tidur tempat ternyaman nya. Semua sudah tertidur pulas pada malam itu. Ia meletakkan tas yang tergantung di bahunya yang sedari tadi itu ke atas meja. Ia mendorong kan badannya di atas kasur empuk miliknya.

__ADS_1


Ia mengingat semua yang terjadi padanya hari itu. Setelah rasa lelahnya sedikit menghilang, ia pergi menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya. Setelah itu, dia kembali menghempaskan badannya ke kasur empuk miliknya. Mata yang penuh power itu, perlahan-lahan melemah dan menutup. Lidya benar-benar nyenyak dengan tidurnya pada waktu malam yang gelap itu.


__ADS_2