
BAB 2. Rencana
**
Elena Atalia Atmaja, gadis berusia 17 tahun usianya bertambah satu hari yang lalu. Dia siswi di SMA Batik sekarang dia duduk di kelas 3 Siswi populer yang terkenal karena kecerdasannya.
Namanya selalu menjadi nomor satu di setiap akhir semester, nilai yang dia raih sangat sulit di kalah kan oleh teman-temannya. Bahkan Riki Siswa kutu buku pun sangat sulit mengalahkan Elena. Sering kali dia gigit jari jika melihat hasil ujian, bukannya mengalahkan Elena justru malah di yang di kalahkan oleh yang lainnya.
Elena Atalia putri satu-satunya dari keluarga Indra Atmaja dan Della Atmaja, Elena di jaga sebaik mungkin. Dia bagai berlian yang takut di curi orang, dia bagai Ratu yang di jaga kesuciannya. Dan Elena sangat paham akan hal itu.
Hari itu Elena pulang terlambat, teman kelasnya mendadak sangat baik. Mereka mengajak Elena untuk belajar bersama hingga Elena menurut dan ikut.
"Darimana, jam segini baru pulang?" Mama bertanya dari arah dapur, kemudian memberikan segelas air pada Elena.
"Belajar bersama, makanya telat." Sahut Elena, kemudian memberikan gelas kosong tersebut pada mama.
Mama manggut-manggut, kemudian menatap Elena dengan sorot mata yang sulit di tebak.
"Mau ngomong?" Tanya Elena, dia faham betul dengan sorot mata mengiba sang mama.
Mama tersenyum, kemudian meraih tangan Elena. Tiba-tiba Elena merasa ada yang aneh dan juga janggal. Terlebih mama malah memanggil namanya, bukan nama yang sering mama gunakan.
"Begini, kamu masih ingat tante Desi istrinya om Gunawan?" Mama meremas jari jemari Elena, Elena mengernyit aga heran dengan sikap mama.
Perlahan Elena mengangguk, kemudian kembali menatap sang mama.
Mama berdehem sebentar, kemudian kembali meremas jemari Elena. "Begini, mama dan papah berniat untuk menikah kan kamu dengan anak mereka." Elena sontak menarik tangannya, apa dia tidak salah dengar? Barusan mama nya berkata menikah bukan?
"Mama serius?" Elena menganggap ucapan mama nya hanya kebohongan, tapi mama malah mengangguk membuat Elena merasa lemas seketika.
🍃
🍃
🍃
__ADS_1
Elena masih merasa syok dengan apa yang dia dengar, apalagi ketika melihat wajah serius mama. Hingga Elena tidak sadar jika waktu terus berputar. Sekarang sudah berganti malam dan waktunya makan malam.
Dengan langkah gontai Elena menuruni anak tangga, wajahnya kusut layaknya pakaian yang tidak di setrika. Sorot matanya kosong, bahkan ketika dia duduk pun Elena tidak menyapa kedua orang tuanya.
Mama Della menoleh pada sang suami, dan Papah Indra hanya geleng kepala. Seolah berkata jangan bertanya. Atau mengucapkan apapun. Karena dia sendiri yang akan mengucapkan semuanya pada Elena, setelah selesai makan malam.
Elena sudah selesai makan, dia berniat berdiri dari tempat duduknya. Tapi papah Indra dengan cepat menarik tangan Elena.
"Sayang bisa duduk dulu!" Pinta papa dengan sorot mata berharap, Elena menghembuskan nafas berat. Dia sudah menduganya sejak tadi.
"Kamu pasti sudah tahu, apa yang akan papah bahas." Ucap papah Indra, dia menatap putrinya yang juga menatap ke arahnya.
"Kamu putri papah satu-satu nya, kamu seperti berlian yang renta hilang. Dan kamu seperti kaca yang mudah pecah. Papah takut tidak bisa menjaga kamu." Semua orang tua pasti merasakan seperti yang di rasakan oleh papa Indra, dan semua orang pasti merasakan takut.
"Maka dari itu papah memutuskan untuk menikahkan kamu dengan anak dari tuan Gunawan, kami sudah lama membahas hal ini. Tapi baru kali ini papah mengutarakannya pada mu." Sambung papah Indra, dia mendengar Elena menghembuskan nafas dengan kasar.
"Papah gak percaya Lena?" Tanya nya tidak percaya, papah menggeleng samar kemudian meremas jemari Elena.
"Papah sangat percaya kamu, papah juga percaya teman-teman kamu. Tapi, papah tidak percaya pada Zaman yang terus mengikuti kita. Papah takut papah lengah, dan gagal menjaga kamu." Penuturan papah mampu memukul Elena, hatinya sakit mendengar betapa takutnya papah nya ini. Tapi Elena pun tidak bisa menerima begitu saja, dia masih ingin bebas layaknya buruk di angkasa sana.
*
*
*
Semalam Elena tidak bisa tidur, dia terus membuka matanya hingga tidak sadar jika waktu sudah menunjukan angka 2 dan sepertinya Elena bisa memejamkan matanya pada pukul 3 pagi. Terbukti pada lingkaran hitam yang begitu terlihat di bawah matanya.
"Kenapa mesti hitam begini, jelek kan jadinya." Gerutu Elena, yang tengah mengoles kan di mata panda nya. Dia berharap mata hitamnya itu bisa tersamarkan.
"Terus lagi papah ngapain lagi ngomong kek gitu." Lagi, Elena menggerutu dan terus berusaha menyamarkan mata panda nya.
Setelah selesai, Elena keluar dari kamar. Langkah nya begitu gontai Elena rasa tulang-tulang nya telah hilang. Karena mendengar penuturan dari papa.
Di meja makan sudah ada papa yang tengah membaca koran, dan di temani secangkir teh. Sedangkan kanjeng ratu dia tengah menjadi istri baik, terbukti dia tengah sibuk di area dapur.
__ADS_1
"Pagi" sapa Elena, kemudian menarik kursi.
"Pagi sayang." Jawab papa dengan senyum khas nya, "Kamu semalam bisa tidur?" Goda papa, yang melihat lingkaran hitam Elena meski sudah Elena samarkan.
Elena mendengus sebal, kemudian melegut susunya.
Mama datang dari arah dapur, kemudian meletakan nasi goreng dan duduk di depan Elena. Meja menjadi pembatas.
"Nanti pulangnya jangan kaya kemarin, jangan sore-sore. Bakal ada tamu soalnya." Beritahu mama, dia memandangi Elena yang terlihat berbeda. "Kamu dandan yah Nem?" Selidik mama.
Elena menatap horor ke arah mama, kemudian memalingkan wajahnya. "Ini tuh gara-gara mama sama papa." Gumam Elena yang masih bisa di dengar mama.
"Maksudnya apa?" Mama memicingkan matanya, masih belum faham dengan perkataan putrinya.
"Mata panda." Ketus Elena kemudian menatap mama.
Mama hanya manggut-manggut, kemudian kembali menatap Elena. "Ingat, jangan pulang terlalu sore. Tuan Gunawan dan Istrinya bakalan datang." Beritahu nya.
"Ngapain?" Jutek Elena.
"Mau ngebahas pernikahan kamu sama anaknya." Jawab mama dengan riang. Tapi sejurus kemudian mama menjerit ketika Elena malah memberinya semburan.
"Ih Inem kamu jorok." Teriak mama, mengibas-ngibas tangannya.
"Mama sih, aku kan lagi minum susu. Denger mama ngomong gitu kan jadi kaget." Elak Elena, kemudian mengelap mulutnya.
"Make-up mama berantakan, kamu jorok banget sih." Meraih tisu kemudian mengelap pada wajahnya.
"Ini juga gara-gara mama." Masih mengelak, kemudian bersiap-siap kabur sebelum mama menerkamnya.
"Kamu ini malah nyalahin mama, mama kutuk jadi tahu yah. Punya anak satu nyebelin nya." Teriak mama, ketika melihat Elena sudah berlari.
"Kutuk aja ma, aku ikhlas jangan lupa di goreng terus di kasih isian. Pake udang atau daging suwir enak ma." Elena masih bisa menjawab, meski harus teriak.
"Ih anak siapa sih dia????" Teriak mama kesal.
__ADS_1