Dijodohkan

Dijodohkan
Ketahuan


__ADS_3

Siang ini Ziara ditemani Sita mempersiapkan setiap keperluan untuk toko kue. Ziara memeriksa semua di sana mulai dari bahan-bahan, alat-alat keperluan, semua hampir tidak ada yang terlewat sedikit pun. Bahkan karyawan sudah disiapkan Raka sebelumnya.


“Semua sudah beres. Aku lapar, kita makan yuk, Zie!” ajak Sita yang sudah mulai, merasakan perutnya keroncongan.


Ziara segera menoleh beres kasihan temanya itu suara perutnya hingga terdengar nyaring.


“Boleh. Memangnya mau makan di mana, Sita?” Ziara mengikuti Sita ke mana pun tempat makan yang temannya pilih.


Sita menatap ke atas berpikir kira-kira di mana tempat yang tepat. “Hem ... bagaimana kalau di tempat biasa kita nongkrong dulu. Kita sudah lama semenjak terakhir kali waktu aku mau dijodohkan, semenjak itu kita nggak pernah ke sana lagi.”


“Boleh juga idemu, Sita. Aku juga sudah lama enggak ke sana,” ucap Ziara antusias.


“Tunggu sebentar, aku akan menyelesaikan ini sebentar.” Ziara meletakan vas di meja lalu selesai.


“Ayo kita bergi.” Ajaknya


“Oke ....”


Mereka berdua sepanjang jalan menuju restoran menceritakan kejadian yang baru di alami Sita, di saat Rio melihat b*a Sita yang berwarna merah jambu. Lelaki memang tidak menjaga mata, dan selalu memandang mesum. Membayangkan wajah Rio bikin Sita bergidik ngeri.



Di sebuah tempat, tepatnya sebuah restoran. Raka dan Erick duduk disudut khusus perokok, restoran yang tidak banyak berubah dari masa mereka kuliah sampai saat ini, hanya cat dan beberapa benda saja yang terlihat berubah mungkin karena sudah tidak layak pakai atau sudah tidak membawa hoki untuk restoran mereka.


“Rokok?” Erick menyodorkan sebungkus rokok yang terbuka untuk mempermudah Raka mengambil.


Raka menepisnya. Ia tidak berselera lagi dengan itu. “Maaf, aku tidak pernah mengonsumsi itu semenjak lama.” Raka menepis bungkus itu lalu Erick meletakan rokok tersebut ke meja.


“Aku lupa kalau temanku ini adalah lelaki tampan anti rokok. Tapi suka main perempuan,” ucap Erick dengan suara pelan. Raka mendelik bagaimana bisa Erick mengungkit masa lalu.


Dulu memang ia tidak pernah menghargai wanita dan lebih cenderung mempermainkannya. Tapi itu dulu sebelum mengenal Ziara dan Papanya sewaktu masih hidup. Yang lalu biarkan berlalu menemani kenangan yang telah terbuang ke tempat sampah. Itulah kata yang tepat dalam hati Raka.

__ADS_1


“Jangan bawa-bawa masa itu. Waktu itu aku memang tidak tahu apa cinta, istriku mengubah segala sesuatu menjadi indah. Kami sudah bahagia di masa ini, jadi jangan ungkit masa lalu.” Kekeh Raka membayangkan wajah istrinya.


Erick menggeleng-geleng bahasa seorang yang sedang jatuh cinta memang berbeda. Tidak seperti dengan dirinya yang seorang kaum jomblo sejati. Apalah daya cowok itu belum menemukan wanita yang pas untuk dijadikan seorang istri.


“Baiklah maaf. Aku penasaran bagaimana sih, wanita yang membuat temanku jatuh hati seperti ini.” Erick mencecap secangkir kopinya.


Walaupun Erick penasaran ingin tahu, Raka belum mau untuk memperkenalkan istrinya. Entah apa alasannya yang pasti ia tidak mau jika Ziara bertemu Erick saat ini.


“Yang pasti kau bukan tipenya.”


“Ka, aku pergi dulu ya? Ada panggilan mendesak tiba-tiba.” Erick memegangi ponsel setelah mendapat pesan chat, ia buru-buru beranjak berdiri. Tanpa menunggu jawaban Raka, Erick berlalu meninggalkan Raka.


“Baiklah ....” gumam Raka duduk di kursi sendiri. Tidak ada yang spesial untuk hari ini, berniat ingin lama-lama bercerita di restoran sana. Justru Erick malah pergi lebih dulu meninggalkannya.


Mungkin Raka akan menghabiskan secangkir kopi itu di sana sendirian. Tanpa di temani siapa pun.


Saat ia menikmati seduh demi seduh dari secangkir kopi. Tiba-tiba Ia melihat wanita yang tidak asing baru memasuki restoran.


Ziara di seberang sana terlihat sedang bahagia, bisa dilihat dari pancaran wajahnya. Raka akan mengamati sedang apa dia di sana. Semoga tidak ada laki-laki yang menghampirinya. Kalau tidak negara api akan menyerang.


Saat pandangan Raka begitu serius dan lurus mengawasi dua orang wanita di seberang sana.


“Raka!” suara seorang wanita menyeru namanya. Raka pun sontak menoleh ke sumber arah suara yang memanggilnya. Saat menoleh ia melihat seorang perempuan mengenakan pakaian seksi serba minim panjang di atas lutut. Godaan apa ini? Raka pun bingung kenapa wanita tersebut memanggilnya. Apakah Raka mengenal, ataukah itu wanita yang coba mendekatinya. Entahlah, pertama-tama biarkan dia mendekat dulu setelah itu Raka akan bertanya padanya.


“Kamu jahat, Raka! Aku sudah panggil-panggi kamu malah tidak membalas sedikit pun.” Gerutu wanita yang sok akrab kepada Raka.


Raka mengerutkan alis, mengingat-ingat seperti kenal tapi siapa kah dia? Raka bertanya-tanya dalam benaknya.


“Apa kamu lupa, Raka?” Berharap Raka cepat mengenali. Tapi Raka masih raut wajah tanda tanya. “Ya ampun ... aku Gina.” Tegasnya lagi, tapi Raka belum juga mengingat.


“Proyek rumah sakit harapan kasih. Apa kamu sudah ingat, Raka?”

__ADS_1


Seketika ingatan Raka pulih kembali saat wanita itu menyebut proyek rumah sakit harapan kasih. Oh, ia lelaki itu baru mengingat kalau dua tahun lalu pernah bekerja sama dengan Gina wanita seksi bodi aduhai. Tapi itu tidak akan menggoyahkan jiwa Raka. Ia sudah kebal dan di matanya hanya ada Zia seorang.


“Sorry, sorry, aku lupa,” ucap Raka.


“Baiklah tidak masalah. Apa aku boleh duduk, Raka?”


Raka menyunggingkan bibir dan tangannya mengarah ke kursi. Mempersilahkan Gina untuk duduk. Suatu kebanggaan untuk Gina bisa duduk di bersama pria tampan.


Mereka berdua mulai mengobrol membahas pekerjaan yang lama telah selesai. Tidak, tidak, bukan mereka tepatnya Gina, karena Raka hanya diam dan menjawab sesekali.


“Aku ke toilet sebentar ya, Sita.” Ziara berdiri akan ke toilet.


“Jangan lama-lama.” Sita menunggu sendiri di sana.


Ziara pun melanjutkan langkahnya menuju toilet. Semoga saja ia tidak melihat ke arah ruangan yang di sekat kaca tembus pandang itu. Ke gunaan kaca adalah untuk menghalau asap rokok, karena itu khusus untuk perokok. Raka lebih baik seharusnya cepat-cepat pergi. Kalau tidak entah apa yang terjadi pada Raka saat istrinya melihat.


Ziara jalan lurus ke toilet, tanpa memandang siapa pun orang di sekelilingnya jadi itu membuat Raka aman. Wanita itu pun segera membersihkan diri di depan kaca yang terdapat di dalam toilet wanita.


Setelah selesai dan sekirannya cukup. Ziara ke luar toilet dan berjalan kembali akan bergabung dengan sita kembali.


Tunggu-tunggu, sepertinya Ziara melihat sesuatu saat melewati ruangan di balik kaca itu. Ia mundur kembali saat langkah itu sudah terlewat. Ia memperhatikan dua pasangan yang sedang duduk bersama hanya si wanita yang terlihat. Karena cowoknya menghadap membelakangi Ziara.


“Cantik.” Ziara kagum melihat kecantikan wanita di seberang sana. Dan lelakinya juga terlihat pas dengan pakaian kemeja warna Navi digulung sampai ke siku. Tunggu, sepertinya pakaian pria di dalam sana tidak asing lagi bagi Ziara.


Bukankah, itu pakaian persis dengan pakaian yang dipakai Raka tadi pagi?


Tapi mana mungkin Raka ada di dalam sana. Diakan sibuk di kantornya mana mungkin, tidak mungkin. Ziara akan melanjutkan langkah kembali, mencoba mengusir pikiran buruknya.


Namun hal tidak terduga terjadi, entah apa yang terjadi. Atau apa yang membuat Raka berbalik menoleh ke arah wanita yang dari tadi memperhatikannya.


“Bukankah itu ... suamiku?” Ziara bertanya pada dirinya sendiri. “Agrrhh! Dia memang Raka. Sepertinya dia mulai berani main di belakangku.” Dengan langkah cepat ia masuk ke dalam sana.

__ADS_1


Raka jahat! Raka nakal!


JANGAN LUPA UNTUK VOTE, LIKE , LOVE DAN KOMEN YA ... BUAT BANTU AUTHOR.


__ADS_2