
PERINGATAN! Dibaca waktu malam karena diksi 21+ Harap cermat dalam membaca sekiranya tidak berkenan harap di skip. Supaya lebih afdol baca pada malam hari.
Selamat membaca ....
Hari ini Raka memutuskan pulang lebih awal. Tanpa mengabari dan menjemput Zia ia segera menuju rumah karena dia kurang sehat memutuskan untuk beristirahat saat tiba nanti. Ia tahu pasti istrinya itu sangat banyak pekerjaan hari ini terlebih lagi dia menyuruh untuk mencarikan rumah untuk Claris. Kasihan jika harus menyuruh pulang hanya untuk menemaninya.
Setibanya di rumah, Raka dengan langkah lebar berjalan menuju kamar tanpa memperhatikan pelayan yang menyapa. Sesampai di kamar, cowok itu melonggarkan dasi yang melilit di kerah kemeja, lalu melepas pengait benda yang melingkar di pergelangan tangan kirinya lalu meletakan di atas meja.
Setelah mengurangi benda-benda yang membuat tubuhnya berat dan menyisakan kemeja warna navi digulung sampai siku. Dia melihat di sekelilingnya, ruangan ini begitu sepi tanpa ada Zia yang selalu menimbulkan gejolak di kamar ini. Memikirkan semua itu membuat Raka semakin merindukan saat-saat melampiaskan hasratnya.
Melihat ranjang yang sangat rapi entah kenapa tubuhnya seperti tertarik oleh kenyamanan di sana. Dengan cepat dia menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang hingga tubuh itu memantul, menandakan kalau ranjang itu benar-benar empuk dan juga nyaman, sehingga dia tidak bisa menahan kantuk yang menghinggapi matanya. Hingga pada akhirnya dia tertidur lelap.
Cklek (Suara pintu terbuka)
Zia datang dengan tiba-tiba satu tangan masih memegangi hendel pintu dan napasnya memburu saat berdiri di tengah pintu, sebelumnya ia berlari saat memasuki rumah karena salah satu pelayan memberi tahukan kalau Raka pulang dalam keadaan kurang sehat.
Sesampainya di kamar, pandangan Zia tertuju kepada sesosok lelaki yang biasanya berdiri dengan kewibawaan dan bertubuh tegap. Kini tubuh di sana tidak lebih seperti bayi dengan wajah polos tanpa rekayasa. Dengan hati-hati dia melangkah menjaga suara kaki supaya Raka tidak terganggu. Ia mendekat ke arah suaminya menunduk dan meletakkan punggung tangan di kening Raka untuk memeriksa suhu tubuh.
Akhirnya, ia bisa menghela napas lega. Saat ia memeriksa kening suaminya ternyata suhu tubuhnya normal. Sukurlah ....
Karena melihat suaminya sudah baik-baik saja dan sedang tidur pulas. Kini ia memutuskan untuk pergi mandi sebelum Raka bangun. Dengan cepat ia pergi ke kamar mandi.
Setelah beberapa menit melakukan ritual mandi, akhirnya ia keluar mengenakan handuk kimono dengan rambut yang masih basah menambah kesegaran wajahnya. Dia menoleh ke ranjang ternyata Raka masih tetap seperti semula tidak pindah sedikit pun.
Zia melangkahkan kakinya, menuju Raka mengamati wajah
Raka saat tertidur mendekat dan duduk di sebelah suaminya. Tangan Zia
menyusuri lekukan wajah Raka yang
sangat indah dan sempurna baginya,
pahatan Tuhan memang sempurna. Tidak lupa ia memberi sentuhan terakhir yaitu mengecup pipi Raka.
__ADS_1
Setelah itu ia beranjak dari ranjang berniat
untuk membiarkan Raka beristirahat, pasti suaminya itu sangat lelah.
Saat ia akan beranjak. Tapi tiba-tiba tangannya ditarik oleh Raka hingga limbung tersungkur di atas dada Raka.
Wajah Zia menjadi bersemu merah saat lelaki itu menatap menggoda berada di bawahnya.
“Mau ke mana?” tanya Raka dengan suara garau khas bangun tidur. “Kau pintar cari kesempatan menciumku sekarang.” Menarik hidung Zia gemas. Hingga membuat Zia mendengus kesakitan.
“Istirahatlah. Aku akan turun untuk melihat makan malam.” Zia mendorong dada Raka akan bangun, tapi justru tangan Raka semakin erat melingkar di pinggangnya.
“Tidak boleh,”
Zia mengerjapkan mata berulang. “Tapi ... Aku harus menyiapkan makan malam untukmu, sayang. Kau pasti lapar, semenjak pulang kau terus saja tidur. Tunggu aku akan bawakan makanan ke sini.” Mencoba melepaskan diri.
Raka tidak peduli melihat wanita di atasnya dengan rambut basah wajah polos tanpa polesan, bibir merah muda tanpa sentuhan lipstik, itu membuat gairahnya semakin bergejolak ingin memangsanya saat ini juga. “Apa tidak ada cara lain.” Ia menaikkan sebelah alis.
“Cara lain untuk menenangkan beby L.” Sambung Raka memelas terlihat tersiksa. Zia tertawa namun tertahan menyaksikan lalu menggeser tubuhnya beralih tidur di sebelah memeluk dada Raka.
“Aku minta maaf, sayang. Sebenarnya ... aku sudah tidak datang bulan lagi. Maaf ya ....” Gadis itu menarik telinganya sendiri sebagai permintaan maaf.
“Jadi? Kau ....” Suara Raka tercekat dan syok ternyata istrinya membohonginya beberapa hari ini. Sungguh tega sekali, tidak tahu bagai mana ia harus menahan rasa nyeri saat melihat Zia ada di hadapannya. Tapi ternyata dengan berani wanitanya itu berbohong.(Semoga Raka mengampunimu Zia)
Kedua sudut bibir Zia tertarik dengan berat membentuk senyuman terpaksa sebagai ungkapan rasa bersalah. “Maaf ....” katanya memelas semoga Raka tidak menghukumnya. “Kau mau kan, maafkan aku.”
“Tidak mau!” Raka melepas pelukan dan berpaling. Zia menghela napas panjang, sepertinya butuh kerja keras untuk menebus kesalahan yang telah ia perbuat. “Aku akan memaafkan kamu dengan satu syarat.” Berbalik ke arah seperti semula.
“Syarat? Apa syaratnya?” tanya Zia penasaran. Pasti suaminya itu sudah memikirkan hal di luar dugaan.
Raka menyeringai saat mendapat pertanyaan itu. Pelan-pelan dia mendekatkan wajah ke dekat telinga Zia hingga embusan napasnya terasa panas membuat jantung Zia berdegup kencang. “Persyaratannya adalah, kau harus menggodaku ....” lirih Raka dengan nada sensual. Lelaki yang sudah di bakar hasrat membara itu pun menggigit ujung telinga dengan lembut membuat bulu kuduk wanitanya itu berdiri.
“Menggoda bagai mana caranya?” tanya Zia. Menjauhkan wajah untuk menatap Raka. Tentu saja ia tidak bisa menggoda, karena ia biasa menikmati permainan yang diberikan.
__ADS_1
“Naik,” titah Raka.
Gadis itu memutar bola matanya. “Naik ke mana?” tanya lagi dengan polos. Tanpa menunggu lama Raka melingkarkan tangan lalu menarik tubuh Zia hingga berada di atasnya. Mata mereka saling beradu. Wajah perempuan itu menjadi bersemu merah karena malu dan jantungnya berdebar lebih kencang dari pada biasanya.
“Cium aku. Aku ingin tahu bagai mana rasanya di cium oleh istriku.” Mendengar itu Zia menjadi gugup memang benar Raka adalah suaminya. Tapi, ia tidak pernah memulai untuk menciuman lebih dulu.
“Tapi ....”
“Tapi, apa Zia. Ayo cepat lakukan, atau aku akan bangun dan pergi dari sini.” Kata Raka dengan nada sedikit penekanan.
“Baikalah.” Zia yang terlihat malu-malu itu pun mendekatkan bibir ke bibir Raka. Pelan-pelan ia menempelkan menciumnya sekilas lalu menyudahinya.
Alih-alih puas dengan ciuman yang diberikan Zia. Raka justru menertawakan istrinya itu, membuat wanita di atasnya itu membulatkan mata. Kenapa Raka menertawakannya? Apa ada yang lucu, sehingga dia harus menjadi bahan tertawaan.
“Zia, Zia, apakah itu yang dinamakan ciuman?” Raka menahan tertawanya. Zia memukul dadanya pelan.
“Kau bukan berterima kasih, justru malah menertawakanku. Tega sekali.” Mengerucutkan bibir, dan memalingkan wajah sebagai wujud protes tidak terima karena Raka menertawakannya.
“Aku mending pergi dari pada harus di sini.” Dia mencoba bangkit dari atas tubuh Raka. Bukannya melepaskan Raka justru membalik tubuh dan menindih tubuh Zia di bawahnya.
“Apa yang kau lakukan, hah?!” Zia memekik kesesakan tertindih oleh tubuh tegap di atasnya.
“Aku mau mengajarimu caranya mencium seseorang dengan baik. Biar aku tunjukan supaya kau berpengalaman saat aku memintanya.” Raka menyatukan jemarinya di sela-sela jari Zia lalu mendekatkan bibir hingga bibir mereka saling menempel.
Bibir itu menerobos masuk ke dalam bibir wanitanya. Mencecap, sari kenikmatan yang tiada duanya. Ciuman mereka semakin memanas mereka terbawa di dalam kenikmatan masing-masing. Mulut semanis madu, membuat Raka seakan tenggelam dalam manisnya cecapan demi cecapan yang mereka lakukan.
Zia merasa tubuhnya memanas di saat Raka terus memagut bibirnya, memperdalam ciuman di antara mereka berdua hingga bibir Raka turun ke leher jenjangnya. Desahan kecil lolos dari mulut Ziara, ia pun mengalungkan kedua tangannya di leher sang suami lalu membalas Serangan Raka hingga mereka hanyut dalam ciuman yang semakin memanas.
Dan terjadilah sesuatu yang sudah Raka tahan beberapa hari ini. Digelapnya malam di bawah sinar ibu bulan. Mereka menyatukan cinta dan semakin mendalam.
BERSAMBUNG ....
Jangan lupa terus dukungan cinta kalian buat Vote Jenny ya kakak ... terima kasih😆
__ADS_1