
“Tunggu-tunggu, tetap di sana jangan matikan atau menutupnya, letakan di atas nakas. Dan kamu gantilah pakaian,” Ucap Raka tersenyum nakal.
"Jadi maksudmu aku?" Ziara menunjuk dirinya sendiri. “Apa tidak masalah?” tanyanya Ragu.
"Kalau ada masalah aku yang tanggung, apa lagi kalau kamu sampai hamil. Ayo cepatlah!" Raka sudah tidak sabar melihat melihat menyetujui permintaannya.
"Yakin?" tanya Ziara ragu. Raka mengangguk berharap istrinya itu mempercepat dengan fantasi liarnya.
Demi suami tercinta apa pun akan Ziara lakukan walau permintaan Raka sangat konyol. Oke, ia akan menurutinya meletakan ponsel diatas nakas, lalu melakukan sesuai intruksi suaminya itu. Permintaan gila macam apa ini? Ziara bahkan terkikih sendiri di seberang sana.
Sedangkan Raka terlihat sedang memperhatikan menatap benda pipih berbentuk persegi itu tanpa berkedip.
“Selamat siang,” sapa seorang yang baru masuk ke ruangannya.
Sontak kedatangan orang tersebut membuat Raka terperanjak, dan ponsel yang ia pegang terjatuh. Untung saja Raka segera menangkap hingga ponsel tersebut tidak jadi jatuh ke lantai.
Setelah Raka berhasil menangkap ponselnya ia baru melihat siapa yang datang.
“Erick!” pekiknya histeris. Beranjak dari duduknya melangkah ke arah teman yang sekaligus klien dari negara Malaysia itu mereka bersalaman kompak.
Erick adalah sahabat Raka dari semenjak kuliah, hingga lulus bersama. Tapi persahabatan mereka harus terpisah karena Erick harus ke Malaysia untuk membangun perusahaan di sana.
Ada sifat saling mengalah diantara mereka, dan oleh sebab itu mereka masih menjalin persahabatan walau jarak memisahkan diantara mereka sampai saat ini.
“Apa kabar, Raka?”
“Kabarku baik, lebih baik dan semakin baik.” Raka berbalik dan berjalan kearah sofa. Di ikuti Erick duduk di sampingnya.
“Dimana sekertaris yang aku suruh menyambutmu?” Raka celingukan mencari Rio di belakang Erick.
“Aku sengaja, melarang mereka memberi tahu kamu, kalau aku sudah datang. Supaya kejutan. Tapi ... sepertinya kamu sedang sibuk menelfon seseorang, apakah itu istrimu, Raka?”
__ADS_1
“Iya lah, siapa lagi.” Raka tersenyum mengingat permintaannya yang konyol, tapi selalu dituruti Ziara. Isitrinya di sana pasti sedang kesal karena ia memutus sambungan telefon tiba-tiba. Tapi, semoga saja tidak.
“Maaf Raka. Saat pernikahanmu saya tidak datang kemari, seharusnya saya ada di sana melihatmu bahagia,” ucap Erick kepada Raka yang duduk santai.
“Nggak masalah. Lagi pula kesehatan orang tuamu lebih penting, dan tidak ada pesta, kami ... menikah dengan sederhana.” balas Raka memberi pengertian supaya Erick tidak merasa bersalah.
“Bagaimana kalau sebagai gantinya ....” Erick memimbang-nimbang mencari ide yang tepat untuk solusi. “Bagaimana kalau sebagai gantinya, aku yang urus untuk bulan madunya?” Berharap Raka mau menyetujuinya.
“Tidak perlu repot-repot, Erick ... aku tidak kekurangan uang untuk masalah itu. Dan aku juga sudah mengatur semua,” ucap Raka berharap Erick tidak repot-repot.
“*Pleas*e ... jangan tolak. Ini kado dariku, apa kau tidak mau menerima kado dariku?” Erick dengan nada memohon.
Raka tersenyum kalau sudah melihat temanya itu memohon tidak bisa lagi ia untuk menolak. “Baiklah, baiklah, tapi ... pastikan cari tempat yang indah untuk menghangatkan cinta kami.”
“Akanku pastikan semua seperti keinginanmu. Supaya tambah bersemangat lagi,” canda Erick dan Raka tersenyum teringat istrinya.
Mereka berdua menghabiskan waktu saling bercerita, tanya kabar dan lain-lain. Setelah bicara cukup banyak di ruangan Dua orang pria tampan itu pun memutuskan untuk pergi keluar kantor untuk mendatangi tempat-tempat ngumpul saat mereka semasa kuliah dulu.
Di dalam kamar Ziara nampak kesal. Bagaimana tidak, Raka baru saja menyuruhnya dengan aksi konyol. Dengan berat hati ia menuruti tapi ternyata, suaminya itu mematikan ponsel tanpa memberi tahu dia sebelumnya. Ziara menggerang menghentakan satu kaki, teganya Raka menjahilinya seperti itu.
“Dasar!” gerutu Ziara. Membanting ponsel ke kasur. “Awas aja, lain kali kalau minta nggak mungkin aku kasih.” Gadis itu terus saja menggerutu. Menyangka kalau Raka sengaja menjahilinya.
Ziara segera bersiap-siap, memoles wajahnya, setelah selesai ia ke luar dari kamar dengan semangat ia turun ke lantai bawah. Akhirnya cita-cita yang sudah lama mempunyai toko kue yang ia inginkan akan terwujud. Raka selalu mengerti dirinya, hingga apa pun yang ia inginkan selalu dituruti.
Saat tiba di lantai bawah ia bertepatan dengan kedatangan Sita. Segera mereka menuju toko kue yang belum di beri nama itu.
“Apa kamu sudah mempunyai nama untuk toko kuemu, Zie?” tanya Sita sambil mengemudi.
Ziara menggeleng. “Belum. Apa kamu punya ide untuk nama toko kueku, Sita?” Berharap Sita memberikan ide untuk nama toko kue miliknya.
“Aku juga nggak tau, Zie ... kenapa kamu nggak tanya suamimu? rundingan gitu.”
__ADS_1
“Dia sekarang terlalu sibuk. Enggak ada waktu buat ngomongkan, hal seperti itu.”
Sepertinya Ziara tidak sadar dengan apa yang di bicarakan mengundang mata Sita.
Sita mengulum senyum melihat sahabatnya itu. “Enggak ada waktu, tapi ....” Mata Sita mengarah ke leher Ziara. “Tapi dia selalu ada waktu buat tanda itu.” Sita melepas tawanya hingga terbahak-bahak.
“Husst!” Ziara memukul tangan pelan. Seharusnya Sita tidak tertawa seperti itu. Karena hal memalukan untuknya.
Kenapa Ziara seceroboh itu, seharusnya Ziara menutupi bekas-bekas percintaan semalam dengan Raka. Sebelum pergi Ia terburu-buru sehingga lupa untuk mengenakan syal, atau apa pun untuk menutupi lehernya. Raka memang selalu membuat dia seperti orang konyol.
“Bisakah turunkan nada tertawamu, Sita?” ucapnya mendengar suara tertawa Sita semakin kencang.
Gadis di samping asik menertawakannya. Tapi tidak sadar seharusnya dialah yang harus ditertwakan karena sampai saat ini Sita belum juga punya pacar atau menikah. Terlalu mencintai dirinya sendiri, atau takut disakiti?
Ziara juga ingin sahabatnya itu merasakan kebahagian seperti halnya dia dan Raka. Semoga saja Sita menemukan suami yang baik tidak seperti ayahnya.
“Apa kamu belum menemukan lelaki yang pas, Sita?”
Pertanyaan Ziara kali ini berhasil membuat Sita bungkam dan mengeryitkan alis. Apa yang terjadi, kenapa tiba-tiba Ziara bertanya seperti itu?
“Kenapa kamu tiba-tiba bertnya begitu, Zia? Apa enggak ada topik lain. Aku belum mau menghadirkan laki-laki di hatiku, belum siap kalau mereka menyakitiku seperti Papa yang menyakiti Mamaku,”
Oh, jadi itu sebabnya Sita sampai saat ini enggan berpacaran atau menikah. Ia trauma melihat Mama yang ia sayangi dihianati oleh Papanya. Orang tuanya memang kaya, tapi sangat disayangkan ia tidak bisa menikmati. Karena Mama tiri Sita menguasai segalanya.
“Sabar, Sita. Semua akan indah pada saatnya.” Ziara memegang pundak Sita mengungatkan, ia yakin sahabatnya itu akan menemukan teman hidup yang sejati.
“Kita sudah sampai.” Sita menepikan mobilnya tepat di halaman toko kue Ziara.
Memulai sesuatu yang baru Ziara melangkah dengan keyakinan. Ia berjanji akan menunjukan kepada Raka kalau dia bisa membuat usaha yang mendapat dukungan dari suaminya itu akan berhasil dan berkembang.
Ada anggota baru namanya Erick🤔
__ADS_1
JANGAN LUPA UNTUK VOTE, LIKE , LOVE DAN KOMEN YA ... BUAT BANTU AUTHOR.