Dijodohkan

Dijodohkan
Bonchap Season 2


__ADS_3

Raka merunduk sedih saat mendengar penjelasan dari Dokter. Walau pun ia tampak tegar, tetapi hatinya sangat rapuh. Ia berusaha supaya tidak terlihat sedih di mata Zia, itu semua karena Raka tidak ingin jika Zia menganggap kalau ia tidak sanggup menghadapi semua ini.


Setelah membawa Zia keluar ke mobil. Raka kembali menemui dokter dengan berdalih ada barang yang tertinggal. Lelaki itu memang sengaja menyuruh dokter untuk memberi kabar pada Zia kalau kandungannya baik-baik saja. Itu semua dia lakukan hanya karena tidak istrinya khawatir menanti hari kelahirannya.


Melihat ekspresi dokter Raka tahu ada yang mau disampaikan. Oleh sebab itu ia segera membawa Zia keluar. Karena tidak ingin istrinya itu kalau mendengar percakapan dengan dokter.


Raka bergegas memasuki ruangan dokter yang sebelumnya ia tinggalkan tadi. Dengan tergesa-gesa ia menatap dokter yang sedang menyusun berkas-berkas di meja.


Pelan-pelan Raka melangkahkan kakinya seperti menarik jangkar. Ia tahu, pasti ini bukan kabar yang baik. Karena dari ekspresi dokter Aine menunjukkan kalau semua tidak dalam keadaan baik-baik saja.


“Apa terjadi, dok?” tanya Raka mendekat ke arah kursi di depan meja dokter.


“Duduklah, Raka.”


Raka segera duduk dengan wajah sangat cemas. “Zia baik-baik saja kan, dok? Tidak ada sesuatu yang terjadi padanya kan?”


Dokter Aiene tampak merunduk. Kenyataan ini pasti akan sulit diterima oleh Raka. Tetapi, walau bagaimanapun ia harus mengatakannya, supaya Raka bisa waspada saat terjadi sesuatu pada Zia.


Perempuan yang menyandang sebagai dokter selama 10 tahun itu menghela nafas panjang lalu berkata, “Maaf Raka, Aku tahu kamu pasti akan terkejut mendengar ini, tetapi aku harus memberitahu kamu demi Zia. Demi kebaikan kalian semua.”


“Memang apa yang ingin kau sampaikan, dok?” tanya Raka rasa khawatir campur penasaran.


“Aku sudah melihat hasil tes darah Zia, Raka. Aku minta kamu jangan terlalu khawatir mendengar ini,” ucap dokter Aina.


Raka semakin dibuat penasaran oleh dokter itu. Kata-kata menguatkan kan yang muncul dari bibir dokter itu membuatnya semakin cemas. Ada apakah dengan Zia?


“Katakan yang sebenarnya, Dok. Tidak usah berbasa-basi padaku, karena Zia sudah menungguku di mobil. Jadi, aku minta cepat katakan apa sebenarnya yang terjadi?"


“Sebelumnya aku ingin bertanya, Tuan Raka. Apa Anda mengetahui, tentang seluk beluk keluarga Zia?”


“Aku adalah suaminya, tentu saja aku tahu tentang keluarga dia. Memangnya Apa yang ingin kau katakan, katakanlah secepatnya.” Raka tampak sudah tidak sabar mendengar penjelasan dari dokter.

__ADS_1


“Z—Zia, dia ... dia ....”


“Ayolah dokter jangan main tabak-tebakan seperti ini. Apa kau mau Zia datang ke mari? Karena kelamaan menunggu di mobil?”


“Zia mempunyai penyakit jantung bawaan, Raka. Risiko ini sangat berbahaya jika dia terus mempertahankan kandungannya itu.”


Duar!!


Seketika Raka seperti tersambar petir. Tuhan, cobaan apa lagi ini? Belum juga Zia bebas dari penyakit lainnya kini dokter sudah menemukan penyakit jantung bawaan?


“Tuan minumlah.” Dokter itu beranjak dan meraih gelas memberikan pada Raka.


Namun, lelaki itu menolak. Tenggorokannya tiba-tiba kering, matanya kaku, tidak berkedip sama sekali. Raka sangat syok mendengar semua ini. Ia tidak mau, sesuatu terjadi pada Zia, apa pun yang terjadi ia harus membuat istrinya itu sembuh.


“Apa yang menyebabkan semua itu terjadi padanya?” tanyanya mengedipkan mata yang sudah mengering.


“Jantung bawaan biasanya, diakibatkan karena keturunan. Bisa jadi, salah satu dari orang tua Zia ada yang pernah mengalami sakit jantung. Itu sebabnya Zia membawa gen dari salah satu mereka.”


“Oleh sebab itu, kemungkinan besar Zia menurun dari ayahnya. Ini terlalu berisiko, Raka. Jika Zia terus mempertahankan kandungannya itu semua sangat berbahaya bagi nyawanya. Sudah banyak kejadian seperti itu, bahkan dua hari yang lalu aku menangani kasus yang sama seperti Zia. Tapi ....” Dokter Aiene tampak ragu untuk berucap.


“Tapi apa, Dok?” tanya Raka penasaran.


“Tapi dia tidak selamat, Raka. Sampai saat ini aku masih merasa bersalah karena tidak bisa menyelamatkan, ibu dari bayi itu.”


“Maksud dokter, perempuan itu meninggal karena melahirkan karena sakit jantung?” tanya Raka dengan rasa khawatir yang sangat besar.


Dokter Aine mengangguk. Memang benar kenyataannya. Seorang wanita yang sedang mempunyai penyakit jantung bawaan terlalu berisiko jika memaksakan untuk melahirkan.


“Lalu, apa yang harus aku lakukan? Apa tidak bisa diobati, dengan cara lain?”


“Karena usia kandungan Zia sudah matang, kamu harus bisa menentukan pilihan Raka. Pilih salah satu dari mereka, Zia atau bayi kalian?”

__ADS_1


Indra kelima Raka seketika kaku, seperti tidak berfungsi lagi. Apa yang harus ia lakukan setelah ini? Pilihan itu sangat sulit, ia tidak bisa memilih salah satu dari mereka.


Zia adalah cintanya, hidupnya penyemangatnya. Zia adalah segalanya bagi Raka. Tanpa Zia Raka tidak akan bisa hidup di dunia ini. Pun begitu pula bayinya, anak itu selama ini yang sangat ia rindukan kejadiannya, bahkan Zia tidak akan sanggup jika itu terjadi.


Pintu ruangan dokter terbuka. Seorang perawat masuk dengan segan.


“Maaf dok, dokter kepala memanggil Anda supaya menemuinya. Ada hal penting yang ingin beliau sampaikan,” ucap perawat tersebut.


“Katakan pada dokter Fira, kalau aku akan segera ke sana ya.”


“Baik dok.” Perawat itu keluar dari ruangan lalu menutup pintu kembali.


Raka masih termenung di kursi itu. Rasanya tidak ingin beranjak dari sana dan melihat Zia, akan membuatnya semakin sedih.


Dokter Aine menghela napas, tampak kasihan melihat Raka. Kasus seperti ini memang sudah sering ia temui, dan hampir semua penderita jantung yang memaksakan untuk melahirkan selalu berakhir dengan kematian.


Ada yang bisa bertahan, tetapi itu hanya satu persen dibanding seratus. Sungguh menyedihkan. Dokter itu beranjak dan mendekat ke arah Raka lalu menepuk pundak seraya berkata,


“Pikirkan ini baik-baik, Raka. Putuskan semua ini degan semua anggota keluarga kalian, demi Zia, dan juga bayinya.” Setelah berucap dokter itu berlalu pergi meninggalkan Raka yang masih termenung di sana.


Kenapa? Kenapa harus Zia yang menanggung semua ini?


Raka mengusap wajah kasar meremas rambutnya sendiri sebagai tanda ke putusasaan. Ia tidak berdaya atas semua ini, bingung, sedih, cemas, semua berbaur jadi satu.


Ia tidak mau kehilangan Zia, apa pun yang terjadi jalan keluar harus segera di temukan.


Tidak terasa air mata lolos dari matanya dengan buru-buru ia mengusapnya sebelum ada dokter masuk lagi ke ruangannya. Mata Raka merah akibat kesedihan yang ia rasakan. Ini untuk pertama kalinya, seorang yang terkenal begitu dingin dan galak pada anak buahnya, kini meneteskan air mata.


“Tuhan, jika aku selama ini banyak berbuat dosa, maka jangan hukum Zia dan calon anakku. Hukumlah aku ... karena aku tidak sanggup kehilangan mereka berdua.”


Slow up ya kak... author banyak cerita yang harus di tulis😞

__ADS_1


__ADS_2