Dijodohkan

Dijodohkan
episode 26


__ADS_3

"Lidya kita sudah sampai!" suara berat nan lembut membangunkan Lidya dari tidurnya. Perlahan Lidya menyadarkan dirinya dari rasa ngantuk dan pusing. Gibor mengambil minuman, ia membuka tutup botolnya dan menyerahkannya pada Lidya. Setelah Lidya mulai merasa segar, mereka beranjak dan pergi ke hotel yang sudah mereka pesan.


Setelah sampai ke hotel tersebut, Lidya menghempaskan badannya yang terasa berat ke kasur empuk dan memejamkan matanya. Gibor menghembuskan nafas berat. Ia meminta Lidya untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu untuk mendapatkan tidur yang nyenyak.


Dengan perasaan malas Lidya mengangkat tubuhnya dari kasur empuk dan terduduk malas. Melihat itu, Gibor mengambil tindakan dengan mengambil semua pakaian dan handuk Lidya dan menyerahkannya dengan santai.


"Are you crazy? Bagaimana bisa dia menyerahkan semua pakaian gue dengan mimik muka yang begitu santai? Dia bahkan mengambil pakaian dalam gue dengan santai. Apakah dia sudah kehilangan rasa malu?" batin Lidya menatap Gibor dengan wajah yang merona.


"Kenapa? Apa ada sesuatu di wajah gue?" tanya Gibor bingung melihat Lidya yang menatapnya tanpa kedip.


"Tidak...tidak ada" Lidya bergegas mengambil pakaian dan dengan cepat menutup pintu kamar mandi. Ia memegang dadanya yang berdetak tidak karuan dan mencoba mengatur nafasnya yang tidak teratur.


"Ini gila... ini benar-benar gila. Ahh bagaimana dia bisa berbuat seperti itu dengan santai?" teriak Lidya dalam dirinya. Ia bergegas untuk mandi dan melupakan hal memalukan yang ia alami.


Di sisi lain, Gibor terduduk dengan perasaan bingung melihat tingkah Lidya yang aneh. Ia bertanya pada dirinya sendiri tentang kesalahan apa yang ia perbuat. Ia berpikir keras tetapi dalam ingatannya dari rumah sampai tempat yang ia tempati sekarang, tidak ada kesalahan yang ia perbuat. Pikirannya benar-benar terganggu.


Lidya keluar dari kamar mandi dan melihat Gibor yang duduk seperti orang bodoh dan linglung. Lidya menghampirinya dengan penuh tanda tanya.


"Ada apa? Apa ada kerjaan mendadak? Atau ada sesuatu yang mengganjal di pikiran lho?"

__ADS_1


"Ini hari libur kita, jadi tidak ada yang namanya pekerjaan. Gue hanya berpikir..." Gibor menghadap Lidya dan menatapnya. Sontak Lidya kaget dan bertanya apa kesalahan yang ia perbuat pada dirinya sendiri.


"Sepanjang perjalanan... apa gue berbuat kesalahan?"


"Hah?" Lidya kaget dan bingung atas pertanyaan bodoh yang diucapkan oleh suaminya.


"Hanya saja lho bersikap aneh, jadi gue kira gue telah berbuat hal yang salah. Apa karena gue suruh lho mandi dulu? Tapi itukan demi kebaikan lho juga!"


"Jadi dia menjadi seperti orang bego hanya karena memikirkan kesalahannya? Bodoh!" ucap Lidya dalam hatinya dengan sedikit senyuman di bibirnya.


Gibor masih terdiam menunggu jawaban dari Lidya. Lidya menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali karena merasa malu untuk mengatakannya. Melihat mata yang berbinar dengan wajah yang merasa bersalah milik Gibor, ia mendengus dan mulai menjelaskan semuanya dengan wajah yang sangat merona.


Melihat raut wajah Lidya yang sudah berubah, Gibor membujuk Lidya dan menahan tawanya. "Maaf gue hanya merasa lucu aja. Gue gak tahu, ternyata lho bersikap aneh hanya karena malu. Lagian kita sudah suami istri jadi wajar dong."


"Tapi tetap saja, lho tiba-tiba seperti itu jadi gue kaget. Lagian ini juga untuk pertama kalinya bagi gue. Gue cuma bingung, kenapa lho bersikap sangat biasa apa jangan-jangan lho sering seperti itu yah?"


"Lho lupa kalau gue selama ini jomblo"


"Ya...Ya mungkin saja lho punya banyak wanita tapi tidak ada yang tau"

__ADS_1


"Kalau gue punya banyak wanita untuk apa gue nikahin lho? Bukankah lebih baik gue nikah dari salah satu mereka?"


"Maaf hanya saja..."


"Lidya... ingat, gue bukan mantan lho. Jangan samakan gue dengan sampah yang sudah ninggalin lho. Gue mau keluar sebentar. Kamu bisa makan duluan!" Gibor melangkahkan kakinya dan pergi keluar meninggalkan Lidya seorang diri. Ia merasa sangat kesal dan marah karena Lidya yang tidak mempercayainya dan terlebih lagi karena telah menyamakan dia bersama sampah yang menjadi masa lalu Lidya. Ia ingin menenangkan dirinya dan memilih untuk keluar supaya tidak melampiaskan kemarahannya kepada Lidya karena ia tahu tidak ada hal baik yang akan keluar dari mulutnya saat ia benar-benar marah. Ia tidak ingin menyakiti hati Lidya.


Setelah pintu tertutup, pikiran Lidya kosong. Air matanya mengalir membasahi pipinya. Ia tidak bermaksud untuk membuat Gibor kecewa tapi trauma akan masa lalunya masih membekas dalam dirinya. Pikirannya benar-benar kacau. Ia menggigit bibirnya dengan keras hingga mengeluarkan darah. Masa lalu yang kelam datang lagi dalam pikirannya. Ia terpaku menggenggam erat baju yang ia pakai. Wajah yang selama ini berusaha ia lupakan, datang lagi dan mengingatkan semua rasa sakit yang ia alami. Bulu roma nya bergidik. Dirinya seperti dicekal dan membeku.


"Aku tidak akan meninggalkanmu. I love you Lidya. Imut banget pacar aku. Udah makan belum? Kamu tidak tahu yang inikan? Sini aku ajari. Hahaha kamu benar-benar seperti anak SD saat makan eskrim semuanya berantakan. Maaf Lidya kita sampai di sini saja aku sudah tidak cinta lagi dan aku sudah ada yang baru" Kenangan itu melekat di dalam pikiran Lidya. Senyuman yang selalu ada setiap harinya, tiba-tiba hilang. rasa sakit yang ia rasakan saat seseorang yang sangat ia cintai membawa orang yang menggantikannya sangat melekat dalam hatinya.


"Tidak... tidak..." Ia menggenggam rambutnya dan menarik dengan keras. Ia melihat kegelapan dengan langit yang masih terang dan dengan lampu yang menyala dimana-mana.


Saat Gibor membuka pintu, ia melihat Lidya yang tersungkur di lantai dan menyakiti dirinya sendiri.


"Sial...Lidya... Lidya jangan seperti ini oke?" Gibor bergegas untuk menenangkan Lidya yang kehilangan kesadaran pikirannya. Ia mengangkat kepala Lidya dan menempatkan kedua tangannya ke pipi Lidya yang basah.


"Tenang... tenang Lidya. Gue ada di sini." Gibor menatap mata yang menatapnya kembali dan mengusap air mata Lidya.


Gibor memeluk tubuh mungil Lidya dan mengusap kepala Lidya untuk menenangkannya. Setelah beberapa saat, Lidya akhirnya tenang. Gibor dengan sigap mengambil kotak yang dipenuhi alat pengobatan dan obat untuk mengobati luka pada bibir Lidya dan tangannya yang berdarah karena cengkraman kuat dari dirinya sendiri.

__ADS_1


"Jangan lakukan ini lagi oke?" peringat Gibor dengan mata yang berkaca-kaca dan perasaan bersalah karena mengingatkan orang yang membuat bekas luka yang mendalam dan meninggalkan Lidya sendiri dengan jangka waktu yang agak lama.


__ADS_2