Dijodohkan

Dijodohkan
episode 22


__ADS_3

Gibor memandang Randy yang sangat rakus dalam berbelanja. Ia tahu hal ini akan terjadi.


"Lho bawa barang sebanyak itu? Gak sekalian aja lho beli tokonya" ucap Gibor menatap kesal sahabatnya itu.


Randy tersenyum tidak bersalah "Betul juga kan lho yang traktir"


Gibor mendengus tidak suka "Seharusnya gue gak usah ajak kian patung berjalan ini kan susahnya terdampar di gue" Gumam Gibor kesal.


Kedua kakak beradik itu jengah melihat tingkah kekanakan pria yang ada di depannya. Mereka memberi jarak supaya semua orang tidak mengetahui bahwa kedua pria itu datang bersama mereka. Mereka tidak mau dianggap gila seperti Randy dan Gibor.


"Kenapa kalian menjauh? " tanya Randy bingung


Keduanya saling memandang "Maaf anda berdua siapa? Kita tidak sedekat itu bukan? " mereka berjalan dengan gugup di depan dan tetap menjaga jarak.


Randy menatap Gibor heran. Ia menaikkan alisnya memberi kode mengapa dengan kedua kakak beradik itu. Gibor mengangkat bahu dan tangannya setinggi bahu mengartikan ia juga tidak tahu.


Dengan langkah yang berirama mereka mengikuti kedua wanita cantik itu dan menggaruk kepala bingung.


Randy menarik tangan Larry dan memeluk pinggangnya. "Kenapa dengan sikap cuek mu itu? " Randy bertanya serius.


" Eh... gue mau ke sana dulu " Lidya berjalan ke arah yang ditunjuk dengan gugup. Namun hanya beberapa langkah Lidya berjalan, Gibor mencegatnya dengan menarik tangan lembut itu.


" Mau kemana? " tanya Gibor menatap sinis Lidya.


Lidya tersenyum miring "Lepasin gak? Gue gak mau sampai orang-orang melihat gue jalan sama orang gila seperti kalian"


" Gila apanya? " tanya Gibor dan Randy bersamaan dengan suara yang keras.


Banyak orang yang memandang mereka.


Kedua orang itu saling menatap. "Kenapa lho ngikutin gue? " ucap mereka serempak.


Mereka menatap dengan sinis satu sama lain.


Larry mendorong lembut Randy "Kalian bisa diam gak sih? Gue benar-benar malu semua orang liatin kita "

__ADS_1


" Betul. Gue gak tahu ternyata kalian itu benar-benar kekanakan " Lidya melepas genggaman tangan Gibor.


" Maaf ayang. Itu karena manusia Dajjal satu ini" Randy memeluk kembali istrinya dengan tampang memelas.


" Sial. Dia benar-benar tahu kelemahan ku " gumam Larry melihat betapa menggemaskannya suaminya itu.


Larry tersenyum mengangguk. Melihat itu Randy mencium kening istrinya itu dengan bahagia.


Lidya dan Gibor mematung ditempatnya dengan perasaan jijik. Lidya menarik tangan Gibor untuk menjauh dari pasangan suami istri itu. Ia benar-benar malu melihat kakak dan kakak iparnya itu tidak tahu tempat untuk bermesraan.


" Kenapa? Apa lho mau? " ucapan Gibor membuat bulu kuduk Lidya berdiri.


" Mau apanya? Membayangkannya saja membuat ku merinding apalagi orangnya itu... " Lidya memandang Gibor dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan ekspresi jijik.


" Ada apa dengan ekspresi itu? Ingat loh, orang yang lho pandang dengan jijik ini akan menjadi suami lho sebentar lagi " ucap Gibor marah.


Lidya tertawa melihat wajah marah Gibor yang imut. Ia tidak menyangka bahwa Gibor benar-benar peduli dengan apa yang Lidya pikirkan tentang dirinya.


" Sial. Selain lho ngatain gue, lho juga terlihat bahagia melihat gue marah ya? " Gibor menatap kesal Lidya.


Lidya menyadari betapa kesalnya pria yang ada di depannya itu. Tapi suasana hatinya benar-benar bahagia melihat Gibor yang seperti itu. Ia ingin sekali menghentikan tawanya itu tetapi dia benar-benar tidak bisa.


Lidya menarik nafas panjang. " Maaf " ucapnya dengan senyum indah di bibirnya.


Gibor menatap betapa tulusnya permintaan maaf dari perempuan cantik itu. "Baiklah. Tapi jika sampai lho menyulut kemarahan gue lagi gue akan menghukum lho " Gibor tersenyum menggigit bibir bawahnya.


Lidya tahu betul apa yang dimaksud oleh Gibor. Ia menelan ludahnya dengan gemetar. Gibor tersenyum puas melihat kegelisahan Lidya. Lidya menatap Gibor kesal karena Gibor hanya menggodanya.


Gibor memencet hidung pesek Lidya. "Makanya kalau otak itu dipakai untuk belajar dan bekerja bukan untuk melihat hal yang negatif "


" Terserah gue lah. Orang gue selalu mengantuk kalau belajar jadi gue melakukan apa yang gue suka lah "


Gibor menggeleng kepalanya dengan senyuman tipis di bibirnya " Kamu itu memang benar-benar yah "


Di sisi lain, Randy sedang duduk di sofa menunggu Larry mencoba pakaian di ruang ganti. Pegawai di sana benar-benar menatap Randy dengan penuh *****.

__ADS_1


Larry keluar dengan dress merah setinggi lutut dan kombinasi semua riasan yang ada pada tubuhnya, membuat Larry semakin cantik. Apapun yang dipakai oleh Larry, pakaian itu terlihat menjadi sangat sempurna. Randy menatap Larry tanpa beralih sedikit pun.


" Apa aku cantik? " tanya Larry sedikit malu.


Randy tidak merespons. Ia benar-benar tidak memperdulikan apapun. Ia terpana memandang betapa cantiknya wanita yang ia nikahi itu.


Melihat tidak ada respons dari Randy, ia menjadi gugup karena takut apa yang ia pakai tidak sesuai dengan dirinya. Melihat kegugupan Larry, Randy tersenyum menggeleng kepala. Ia tahu pasti istrinya itu berpikiran yang tidak-tidak.


Semua karyawan semakin tidak bisa mengendalikan dirinya melihat senyuman indah lekat di bibir pria yang duduk di sofa itu.


" Apa aku seburuk itu? Tadi aja diam pas ditanya sekarang malah tertawa " ucap Larry cemberut.


Randy menarik tangan Larry dan memangku nya. Dengan seketika wajah Larry berubah menjadi sangat memerah. Semua tatapan tertuju kepada mereka. Ada yang memandang dengan bahagia dan ada juga yang memandang dengan iri.


" Jangan banyak berpikir, aku hanya terpana melihat kecantikan mu " Randy membisikkan kata itu dan meniup telinga Larry.


Larry memegang telinganya dan memalingkan wajahnya berhadapan dengan Randy.


" Kenapa? Apa aku mengenai area sensitif mu?" ucap Randy tersenyum dengan sangat bahagia. Ia tahu letak titik lemah istrinya itu berada di telinganya.


" Apa kamu bisa berhenti menggodaku? " ucap Larry dengan pelan.


" Tidak. Selama kamu ada di sisi ku, aku tidak akan pernah berhenti mengganggu mu " Randy mengecup pipi Larry dengan cepat.


Banyak karyawan yang berteriak histeris melihat kemesraan Randy dan Larry. Dan banyak juga yang memandang rendah Larry.


Hari yang begitu bahagia. Larry menelpon Lidya untuk pulang. Mereka berjumpa di parkiran dan melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah mereka masing-masing.


" Terima kasih " ucap Lidya yang diantar oleh Gibor. Gibor mengangguk dan menyalakan mobilnya.


" Hati-hati " ucapnya lagi melambaikan tangannya.


Ia memasuki rumahnya dan berjalan ke dalam kamarnya.


Gibor memasang musik untuk menghidupi kesunyian di dalam mobilnya. Ia sudah terbiasa dengan keributan yang diperbuat oleh Lidya. Hidupnya benar-benar berubah menjadi lebih berwarna.

__ADS_1


__ADS_2