Dijodohkan

Dijodohkan
14. KANTIN


__ADS_3

BAB 14. KANTIN


**


"Gimana bisa sih Na, lutut sampe biru begini?"


"Ya bisa, ini buktinya."


"Maksud gue lho habis ngapain bego, lari-lari di ruang tengah kaya bocah. Terus di omelin mak lu sampe jatoh."


"Ihs ya enggak lah, ini tuh kepentok meja Sarah."


Sarah terlihat hanya manggut-manggut tidak jelas, entah lah dia mengerti atau tidak.


Guru tidak lama datang, setelah ketua kelas kami masuk. Kami menikmati pelajaran seperti biasa. Kelas terasa hening karena semua siswa/i menikmati setiap materi yang di jelaskan oleh Guru.


"Sekian pelajaran dari bapak, selamat istirahat."


"Terimakasih pak."


Kelas yang hening langsung berubah jadi riuh, mereka seperti anak ayam yang sudah sangat kelaparan. Meski begitu tidak semua nya riuh ada juga yang langsung merebahkan kepalanya di atas meja. Dan ada juga yang langsung memainkan ponselnya. Seperti Danu dan yang lain, mereka sudah berada di pojokan untuk mabar.

__ADS_1


Sedangkan aku, aku masih duduk dengan tenang. Menunggu Sarah yang masih sibuk dengan ponselnya. Sebenarnya aku sangat lah lapar.


"Udah dong Sar, kantin yu. Laper nih."


"Iya bentar."


"Ihs, Sar ayo buruan. Lho mah rese."


"Sabar Na, si Denis belum keluar dari kelas soalnya."


"Astaga Sarah, tapi gue laper."


"Ihs bawel deh lho, ya udah ayo."


"Mau pesen apa?" Kami sudah sampai kantin, dan aku juga sudah duduk. Sarah masih berdiri menunggu apa yang akan aku pesan.


"Siomay deh, minum nya jus jeruk." Siang bolong, dengan panas yang menyengat seperti nya nikmat jika minum yang dingin-dingin.


"Gue pesenin dulu, si Denis lagi jalan kesini." Sarah berlalu begitu saja, aku acuh tak acuh mendengarnya sudah biasa. Palingan aku bakal menjadi obat nyamuk di antara Sarah dan Denis.


Seperti apa yang di katakan oleh Sarah, Denis datang ke Kantin dan langsung berjalan dimana aku duduk. Tapi kali ini dia tidak sendiri, ada beberapa anak lelaki yang ikut berjalan dengan nya.

__ADS_1


"Na?" Aku mendongak ketika Denis menepuk kepala ku, lelaki ini suka seenak nya saja. Aku takut Sarah salah faham atau malah cemburu terhadap ku. "Jangan gitu lagi Den, gue gak enak sama si Sarah." Aku langsung menepis tangannya, dia tidak marah malah ketawa. Dasar aneh.


"Sarah gak akan cemburu, dia tahu gue cuman cinta sama dia." Percaya diri sekali anda, mending kalo ngelakuinnya cuman ke gue. Nah ini, kadang-kadang dia juga melakukannya pada perempuan lain.


"Na ini, eh rame bener? Kalian pada ngapain?" Sarah datang dengan wajah terkejut, aku pikir dia tahu jika pacar ini akan membawa antek-antek nya. "Kamu ngapain ngajak mereka sih Be?" Sarah langsung duduk di samping Denis, otomatis yang ada di sebelah Denis langsung bergeser ke tempat lain.


"Mereka yang mau ikut, bukan aku yang ngajakin." Kan, si Denis emang punya tangan gak bisa di kontrol sudah merambat ke pipi si Sarah. Dasar bucin.


"Ch, tumben bener lho ngikutin cowok gue?" Sarah memandang sinis ke arah Ardian, dia salah satu teman kelas Denis. "Suka-suka lah, kantin kan punya kita semua." Aku hanya menahan bibir ku agar tidak tertawa, salah-salah jika aku tertawa si Sarah malah akan mengamuk.


"Udah deh, biarin aja." Denis yang awalnya cuek mencoba melerai, mungkin dia juga pusing mendengar Sarah terus beradu mulut. "Ihs, abisnya nyebelin. Ngapain si cecunguk ini ikut-ikutan kesini. Ganggu tahu gak." Lagi-lagi aku hanya geleng kepala, sudah di bilang kantin ini milik bersama tapi masih saja begitu. Dasar si Sarah ini.


"Udah deh Sar, mending makan gak usah debat mulu. Pemilu sudah lewat kali." Mulutnya sih ngomong ke si Sarah, tapi kenapa matanya terus lihat ke arah gue? Si Satrio ini emang bikin i'l feel doang.


"Mulut ngomong ke si Sarah, tapi mata lihatnya ke si Elena. Dasar modus lhu."


"Diem deh ah."


"Suka? Bilang boss."


"Salah kalimat bego."

__ADS_1


"Biarin lah suka-suka gue."


Ini nih yang paling tidak aku suka, niat hati ingin makan dengan tenang. Tapi apa yang di dapat? Kebisingan yang luar biasa yang aku dapat. Dasar Adnan, Indro bego.


__ADS_2