
Suasana haru menyeru di setiap sudut kamar rawat Vita. Perasaan bahagia yang ada pada diri Raka tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Tetapi sayang, kebahagiaan itu bercampur penyesalan. Ia menyesal, kenapa baru sekarang dipertemukan dengan seorang adik yang sama sekali tidak ia duga kehadirannya. Sulit dipercaya, perempuan yang bersamanya adalah adiknya. Ia menyesal karena dipertemukan disaat Vita sudah hancur karena ulah suaminya.
Raka tidak menyangka ternyata begitu banyak penderitaan yang dialami Vita, penderitaan adiknya itu tidak sebanding dengan kisah buruk yang ia alami sewaktu kecil.
Walaupun bukan adik kandung tetapi, mereka mempunyai ikatan darah yang sama dari sang ibu. Mereka berdua mempunyai nasib yang tidak jauh berbeda. Sama-sama menderita karena status yang disandang. Akankah mereka menyalahkan sang mama, atau haruskah mereka menyalahkan takdir?
Vita menceritakan semua kejadian demi kejadian. Tentang kisah masa kecilnya dan begitu juga sebaliknya dengan Raka. Dalam hitungan jam mereka terlihat begitu akrab terlihat seperti adik dan kakak sesungguhnya.
“Aku akan pastikan, membuat suamimu yang kurang ajar itu menerima hukuman yang barat.” Raka berdiri berjalan menuju ke arah jendela berukuran besar itu, untuk menatap pemandangan arah luar. “Seorang wanita terlahir bukan untuk disakiti, apa lagi sampai tidak dihargai, kamu, Zia, kalian akan kulindungi sebisa mungkin aku akan membuat kalian bahagia,” ucap Raka mengembuskan napas menenangkan pikirannya.
“Lalu ... bagai mana dengan mama? Bukankah dia seorang wanita juga, kak? Dia juga butuh dukungan dari kita. Mungkin banyak kesalahan yang dia buat, tapi ... apa kakak tidak mempunyai sedikit pun perasaan untuk memaafkannya? Aku hanya ingin kita sama-sama mama, kakak dan Zia kita bisa bersama dalam satu rumah meraih kebahagiaan yang hakiki.” Vita mengusap air mata dan Raka melihatnya.
“Maafkan aku karena terlalu berandai ... tapi itu ungkapan dari hatiku yang selama ini terpendam, aku sangat menginginkan keluarga kita bersama.” Vita terus saja mengusap air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.
Raka benci wanita menangis, ia benci air mata yang mengalir dari mata seorang wanita yang ia sayangi, ia tidak suka melihat air mata itu menetes, tidak Zia dan juga tidak Vita. Rasa bersalahnya semakin besar saat mendengar pernyataan Vita. Nyatanya perempuan di hadapannya itu lebih menderita, terapi mau memaafkan ibunya yang telah membuangnya. Dan perempuan itu masih mempunyai angan hidup bahagia bersama mama yang telah menorehkan sejuta luka kepadanya.
“Aku tidak menyangka, kalau aku mempunyai adik seperti ini. Hatimu seluas samudera. Sehingga membuat aku malu karena sulit untukku memaafkan seseorang yang telah menyakitiku. Nyatanya egoku lebih besar dari pada perasaanku,” ujar Raka menunduk malu karena perbuatannya selama ini.
Vita tersenyum melihat Raka lalu berkata, “Semua butuh proses, kak. Begitu banyak badai yang kulalui untuk menjadikan aku kuat menghadapi badai selanjutnya. Aku yakin, penderitaan demi penderitaan yang kualami akan berakhir dengan sebuah kebahagiaan yang sebenarnya.”
Raka berjalan menuju ke arah Vita duduk di kursi samping tempat tidur, lelaki itu menggenggam tangan adik yang baru saja ia temukan itu. “Aku akan membuat kamu bahagia, tidak akan kubiarkan kamu menderita setelah ini ....” Raka menatap Vita.
__ADS_1
Tiba-tiba ceklek! (suara pintu terbuka)
“Waow! Raka apa ini? Kau dan Vita kenapa, kalian, ada apa ini?” ucap Rio terkejut. Ia salah paham saat baru memasuki ruangan. “Aku tidak menyangka kau sedekat ini dengan Vita, Raka. Bagai mana dengan perasaan Zia kalau melihat kalian seperti ini. Please jangan sakiti dia, kumohon ....” oceh Rio beranggapan sendiri tentang Raka yang menggenggam tangan Vita erat.
“Kalau kau tidak cinta lagi dengan Zia katakan padaku, aku akan membuat dia bahagia, dari pada harus hidup denganmu yang penuh pengihanatan.” Rio terus saja mengoceh tidak jelas.
Sedangkan Vita dan Raka hanya diam. Rio tidak memberi kesempatan kepada mereka untuk menjelaskan, lelaki itu terus mengoceh tidak tentu arah.
Raka diam ia tidak peduli dengan ocehan Rio yang seperti burung beo. Ia tidak peduli kalau terus dianggap sebagai lelaki tidak setia. Tetapi, apa yang baru saja ia dengar?
Raka menangkap Rio mengatakan kalau dia akan membuat Zia bahagia? Berarti Rio selana ini masih menyimpan perasaan kepada Zia? Raka tidak terima, tangannya mengepal menggeram siap untuk menerkam. Tetapi Vita segera menahan lengannya menggelengkan kepala tipis melarang Raka untuk emosi.
Raka menghela napas dalam lalu membuangnya kasar, kembali duduk melanjutkan mendengar ocehan Rio yang masih belum berhenti. “Apa sudah cukup, Rio?” tanyanya secara pelan.
“Apa kau tau, Rio Vita itu siapa? Dia adalah adikku!”
“Oh ....” ucap Rio santai, tiba-tiba membulatkan mata terkejut. “Apa kau bilang, Raka? Perempuan ini adalah adikmu? Tidak-tidak, tidak mungkin ini pasti akal-akalan kalian supaya bisa mengelabuiku, aku tidak percaya,” kekeh Rio menolak percaya atas pernyataan Raka.
“Kami tidak bohong, Rio. Raka adalah kakakku, kami memiliki ibu yang sama, yaitu Clarisa Sanjaya. Mungkin buat kamu mempercayai ini dengan cepat sangat sulit, tapi ... inilah kenyataannya. Kami adalah adik kakak,” ucap Vita menegaskan.
“Ini banar-benar mengejutkan, kalian adalah kakak adik? Apa Zia sudah tau masalah ini, Raka?” Rio tercengang hampir-hampir dia tidak bisa berbicara lagi mendengarnya.
__ADS_1
“Aku akan memberitahu Zia setelah aku pulang nanti, Rio.”
Tampaknya Zia sedang panjang umur, belum juga Raka menutup mulut menyebut namanya. Ponsel Raka bersering. Zia tampaknya sedang membutuhkan suaminya itu saat ini. Lelaki itu segera menggeser tombol hijau dan segera mendekatkan ke telinga. Karena ada Rio dan Vita Raka memilih menjauh dari mereka.
"Hallo ... sayang ada apa?" tanya Raka saat saluran mulai tersambung.
"Apa Vita sudah sadar, sayang? Aku ...." ucap Zia menggigit bibir bawahnya. Ada satu kalimat yang belum terselesaikan.
Raka melihat ke arah Rio dan Vita yang berada di belakangnya "Kamu kenapa? Kalau mau sesuatu katakan saja, nanti aku akan bawakan setelah pulang dari sini," ucapnya tampak khawatir.
"Aku mau ... hemm ...." Zia masih ragu dengan perkataanya. "*Tapi ... apa Vita sudah sadar?"
"Sudah, sukurlah tidak ada luka yang fatal, jadi setelah ini dia bisa sembuh dengan cepat. Aku juga punya kejutan buat kamu, Zia*." Raka kembali menatap Vita.
"Apa kejutannya?" tanya Zia tampak penasaran dari seberang sana. "*Ayo kasih tau apa kejutannya ...."
"Sabar ... nanti kalau sampai rumah akan aku ceritakan semuanya. Oh, iya, kamu bilang tadi mau sesuatu, memang apa yang kamu inginkan, sayang*?"
"Menjauhlah, dari samping Vita, aku malu jika dia mendengarnya," ucap Zia yang membuat Raka semakin penasaran dan dia berdoa semoga permintaan istrinya itu tidak di luar dugaan lagi seperti yang sudah-sudah.
"Aku merindukankanmu, sayang ... cepatlah pulang aku menginginkanmu."
__ADS_1
Dan author menginginkan kalian Vote....