
“Maaf, Tuan.” Pelayan menunduk saat seorang pelanggan merah-marah karena kue yang ia pesan tidak sesuai dengan yang diterima.
“Kau tahu. Waktuku yang begitu berharga, harus aku buang karena kesalahan yang kalian buat! Bagai mana bisa, aku sudah memesan Red velvet cake kenapa yang di antar jadi Rainbow cake? Kalian ini memang tidak ada yang berguna!” ucap seorang pelanggan dengan nada yang tinggi.
Para karyawan hanya menunduk tidak berani bersuara sedikit pun. Selain kata maaf. Harapan mereka hanya satu saat ini, yaitu Nyonya pemilik toko segera datang menyelamatkan mereka.
“Ada apa ini?”
Akhirnya doa mereka terkabul Ziara dengan cepat datang ke hadapan mereka, berdiri di belakang pelanggan tersebut.
Pelanggan ketika mendengar suara langsung menoleh. “Kau siapa?”
tanyanya dengan sedikit terheran.
“Aku adalah pemilik toko kue ini. Apa ada yang bisa saya bantu? Saya dengarkan dari luar suara anda begitu nyaring, apa ada masalah, Tuan?” ucap Zia dengan tegas.
Pelanggan tersebut diam setelah melihat Zia berbicara. Bahkan pelanggan laki-laki seumuran dengan suaminya itu memandang tanpa berkedip.
“Apa kau mendengarku, Tuan?” Zia melambai ke depan mata orang tersebut. “Hallo ... Tuan?”
Dan orang itu tersebut tersentak. “Oh, ya maaf aku, hm ... hanya sedikit masalah tidak terlalu penting biarlah lupa kan saja. Dan perkenalkan aku Erick aku baru pindah ke sini.”
“Erick? Baru pindah? Terus apa hubungannya denganku ....” gumam Zia. “Nita, ada apa yang terjadi sebenarnya?” tanya Zia memastikan memandang Nita dengan penuh penasaran.
“Jadi begini Nyonya ....” Nita pun menceritakan semua kejadian dari awal sampai pemilik toko datang. Namun mendengar kata Nita kalau Erick tadi ketika ia belum datang marah-marah membrutal, kenapa saat ia datang menjadi bicara secara lembut?
“Jadi apa yang harus kami lakukan, Tuan? Saya dan para pegawai meminta maaf. Dan akan segera mengantar kue sesuai pesanan.” Zia menyatukan tangan meminta maaf lalu pergi.
“Wanita yang manis.” Gumam Erick memandang punggung Zia yang berlalu pergi. Lalu ia keluar meninggalkan toko.
Erick dengan perasaan berbunga-bunga mengendarai mobil menuju kantor Raka. Ia sudah tidak sabar ingin menceritakan kepada sahabatnya itu, kalau dia melihat gadis yang pas sesuai dengan tipenya.
__ADS_1
Di dalam ruangan Raka terlihat memeriksa dokumen-dokumen yang menumpuk di mejanya. Ia memeriksa satu per satu sambil memegangi pangkal hidung. Ia merasakan sakit pada kepalanya.
“Selamat siang, Raka ....” ucap Erick dengan rasa gembira. Raka hanya melirik sebentar lalu kembali menatap dokumennya lagi.
“Kenapa? Tidak biasanya kau datang dengan wajah seperti itu.” Raka masih menatap seperti posisi yang sama. Ia mengenal Sahabatnya itu sudah cukup lama jadi dia tahu kalau Erick sedang bahagia atau pun sedih.
“Kau tahu Raka. Aku menemukan apa?” ucap Erick penuh semangat ingin bercerita. Ia sudah tidak sabar ingin membagi kebahagiaan dengan temannya itu.
“Memangnya apa yang kamu temukan?”
“Aku menemukan seorang perempuan, Raka.” Erick tertawa sambil membayangkan wajah wanita yang baru saja membuatnya jatuh hati pada pandangan pertama.
Raka yang mendengar kalau sahabatnya itu menemukan seorang gadis. Ia seketika menutup dokumen dan memandang Erick antusias ingin tahu lebih banyak.”Siapa nama gadis itu, dan di mana ia tinggal? Cantik enggak?” Begitu banyak pertanyaan yang di lontarkan Raka kepada Erick.
Erick menggeleng memang kenyataan ia tidak tau nama dari wanita yang ia kagumi. Bodohnya dia kenapa pergi sebelum ia meminta untuk berkenalan lebih dulu. “Aku nggak tahu, Ka.”
Raka tertawa lepas menertawakan sahabatnya itu. Bagai mana seorang bisa disebut cinta kalau nama tidak terukir di sana. “Erick, Erick ...” Menggeleng pelan tidak habis pikir.
“Jangan menyerah, Rick. Dekati dia sampai kau mendapatkannya. Aku akan selalu membantu dan mendukungmu.” Raka berjalan ke arah Erick dan menepuk pundak memberi semangat.
Tok, tok, tok!
Suara ketukan dari arah luar ruangan. “Biar aku saja yang buka.” Erick menahan Raka yang akan berdiri. Dan dengan cepat ia berjalan membuka pintu.
“Sita ....” ucapnya saat melihat Sita berdiri di depan pintu. “Ada apa Sita?” tanyanya lagi.
“Saya hanya menyampaikan. Kalau kerja sama kita dengan perusahaan Anggana sudah resmi berakhir, mereka juga sudah sepakat untuk mengakhiri.” Sita menyerahkan dokumen-dokumen tersebut kepada Raka.
Lalu Raka memeriksa setiap lembar. “Baiklah, kamu boleh pergi,”
“Saya permisi tuan.” Sita berjalan keluar.
__ADS_1
Setelah Sita keluar Raka melihat Erick. Saat ada Sita barusan Erick menatap gadis itu dengan tatapan kagum. Erick kenapa semua wanita sekarang kau kagumi.
“Kenapa tidak Sita saja kau dekati, Rick? Apa kau tahu dia siapa?” tanya Raka membuat Erick penasaran.
“Memangnya siapa dia?”
“Dia adalah teman istriku. Dan sudah cukup lama dia tidak berpacaran. Bukan, bahkan dia tidak pernah berpacaran sama sekali. Itu cerita dari istriku ....”
“Tapi jantungku tidak bergetar saat melihatnya ... berbeda dengan perempuan yang tadi kutemui. Dia memiliki bibir warna merah muda, matanya indah, suaranya lembut, aku ingin segera berkenalan dengannya lalu melamar, dan menikah dengannya akan kubuat dia hamil mengandung anakku.” Cerocos Erick.
“Dasar mesum!” Raka melempar dokumen yang ada ditangannya. Sambil tersenyum ia senang melihat temannya mempunyai cita-cita mempunyai anak. Karena selama ini ia berpikir kalau Erick tidak normal. Tidak pernah ia melihat temannya itu seantusias itu bercerita mengenai seorang perempuan.
Untuk beberapa saat Sita berdiri di depan ruangan Raka. Ia mendengar kalau Erick sudah mengagumi wanita lain. “Betapa bodohnya aku ....” Menepuk dahi menyalahkan diri sendiri. “Lagi pula siapa aku, berkhayal disukai seorang seperti Tuan Erick.” Menggeleng lalu pergi dari sana.
“Sita, apa kau baik-baik saja?” tanya Rio yang melihat Sita pucat saat keluar dari ruangan Raka. Setidaknya Rio mempunyai rasa peduli sekarang.
“Kenapa kau tanya begitu? Memangnya apa yang terjadi padaku aku baik-baik saja.” Elak Sita menautkan alis.
“Sukurlah kalau kau tidak apa-apa, aku pikir kau sedang sakit, Sita.”
Sita membuang wajah malas. Ia tidak peduli sepertinya Rio sedang mencoba mencari-cari perhatian. Apakah ada rasa yang terpendam di hatinya untuk Sita?
Rio merasa Sita terlalu berharga untuknya. Tidak pantas seorang sepertinya mendekati gadis seperti Sita.
——
Jawaban Author.
Kok jadi muter terus sih thor jadi malas bacanya? Author tidak memaksa seorang untuk membaca kalau suka ya ... Alhamdulilah😆
Kenapa Upnya dikit-dikit sih thor? Maaf Author harus membagi waktu di sisi lain author juga harus kerja pada siang hari😆
__ADS_1
Kaka aku mau minta saran dong ... menurut kaka sukaknya cerita mengalir sehari-hari atau konflik yang bikin nyesek? bantu jawab ya kakak....🤔
JANGAN LUPA UNTUK VOTE, LIKE , LOVE DAN KOMEN YA ... BUAT BANTU AUTHOR.