
Suasana bahagia menyeru di seluruh penjuru kamar. Tat kala Zia sedang memandangi foto hasil Ultra Senografi anak yang masih dalam kandungan. Belum terlihat tapi foto itu mampu menyihir Zia hingga tidak mau lepas memandangnya. Perempuan yang sedang mengelus-elus perut yang masih rata itu memandang lekat kertas berwarna putih bergambar gumpalan warna kuning sembari tersenyum-senyum sendiri.
Sedangkan keluar dari pintu kamar mandi dengan handuk dililit dan rambut masih meneteskan air menambah kesegaran di wajah pria itu. Raka saat menatap ranjang matanya tertuju kepada sang istri yang tampak memancarkan rona bahagia. Raka mengganti pakaian lalu melangkahkan kaki berjalan ke arah ranjang untuk menghampiri istrinya.
“Sedang apa, sayang?” ucap Raka, lalu melempar handuk yang setelah ia gunakan untuk mengeringkan rambut ke keranjang.
“Kamu sudah selesai, mandinya?” Zia menghirup aroma tubuh Raka selayaknya bayi. “Harum ....” ucapnya sambil memejamkan mata menghirup dalam-dalam.
Sudut bibir Raka tertarik ke atas membentuk senyuman tipis. Ia tahu, pasti ada hal lain yang diinginkan istrinya itu. Semenjak Zia hamil memang wanitanya itu selalu menunjukkan sikap agresif. Di saat Raka sudah siap untuk berangkat ke kantor. Ia harus mengurungkannya beberapa jam lagi untuk tinggal, hanya untuk melayani permintaan sang istri.
“Sini ....” panggil Zia menepuk-nepuk sisi ranjang sebelahnya menyisakan satu ruang untuk Raka mendekat.
Sifat Zia semenjak masa kehamilan ini memang menguntungkan untuk Raka. Kalau saja dia tidak mengingat pesan dokter ia pasti sudah menghabiskan sepanjang waktu di atas ranjang. Raka yang sudah mengetahui niat istrinya itu pun mendekat. Meluruskan tangan dikepala ranjang supaya Zia bisa bersandar di lengannya.
“Ada apa, sayang?” Raka mendekatkan wajah lalu mengcup lembut pucuk kepala wanitanya itu.
Zia melingkarkan kedua tangannya di pinggang sang suami seraya mengerucutkan bibir manja. Memutar bola mata memikirkan sesuatu. Ia ragu, apa suaminya itu mau menuruti permintaannya? Tetapi bagai mana ia tau kalau tidak bertanya.
“Sayang, aku ... aku ....” ucapnya ragu.
Raka menautkan alis menunggu Zia selesai melanjutkan kalimatnya.
__ADS_1
“Aku ... mau makan nasi goreng langganan aku,” ucap Zia menggigit bibir bawahnya sambil menatap Raka.
“Di mana?” tanya Raka meraih gelas bening berisikan air di sampingnya untuk minum.
“Di dekat rumah ayah yang lama.”
Uhukk!
Raka tersedak saat mendengarnya. Bagai mana mungkin mencari nasi goreng di dekat rumah almarhum ayah mertuanya. Jarak yang harus ditempuh ke sana ialah dua jam perjalanan. “Apa kamu tidak salah, Zia? I-n-i apa tidak ada yang lain lagi selain nasi goreng dari sana.” Raka melihat Zia seketika murung saat ia mengatakan kalimatnya.
“Bukan itu maksudku. Maksudku begini, bukanya di daerah sini banyak yang jual nasi goreng? Bahkan lebih enak daripada nasi goreng di dekat rumah kamu.” Raka memandang Zia sejenak lalu berkata lagi, “Aku belikan nasi goreng di restoran pak kumis mau, ya?”
Zia menggeleng kekeh tetap ingin nasi goreng yang ada di dekat rumahnya dulu. “Sudahlah, lupakan saja, tidak penting.” Perempuan yang sedang mengidam itu pun menunduk sedih.
“Benarkah?!” Zia seketika melepas wajahnya dari dada Raka lalu beralih menatap suaminya untuk memastikan.
Raka mengangguk tipis menanggapi Zia sembari menggaruk tengkuk yang tidak gatal. Kejadian mangga muda mungkin itu kejadian yang paling ekstrem untuk Raka. Tetapi nasi goreng ini juga tidak kalah ekstrem dengan mangga muda. Karena yang ia dengar penjual nasi goreng tersebut sudah tutup. Tapi itu hanya katanya. Ia akan mencoba mencari supaya anaknya kelak tidak mengiler.
Akhirnya dia langsung berangkat ke kota tempat nasi goreng itu berada. Yang akan ditempuh dalam perjalanan dua jam kalau jalanan tidak macet. Kalau jalan sedang macet bisa-bisa jarak tersebut bisa ditempuh selama tiga jam.
Raka ditemani Zia menuju ke rumah orang tua Zia. Dan akan beristirahat sebelum mencari nasi goreng yang diinginkan. Setelah membelah kemacetan di jalan penuh kendaraan, akhirnya mereka tiba di rumah lama yang masih terawat, Raka sengaja membayar seseorang untuk menjaga rumah itu tanpa mengubah sedikit pun benda yang berada di dalam rumah.
__ADS_1
Saat masuk ke rumah mata Zia menyusuri setiap hiasan, lukisan foto-foto ia dan kedua orang tuanya. Tidak ada yang berubah, batinya. Ia pun melanjutkan langkah kaki untuk pergi ke kamar. Diikuti sang suami ia pelan-pelan membuka pintu kamar.
Memori kenangan masa lalu seperti di putar kembali. Di saat dia bercanda, makan bersama, bahkan kamar ini untuk menghabiskan waktu bercerita dengan sang ibu. Air matanya tidak terasa menggenang di pelupuk matanya dan ia segera menyekanya dengan tangan.
“Ini yang tidak aku sukai jika aku mengajakmu ke sini. Aku benci melihat air mata yang mengalir dari matamu jika itu air mata duka. Kamu boleh mengenang tetapi tidak boleh terus berlarut dalam duka yang mendalam.” Raka meraih tubuh Zia lalu memeluknya. “Ada aku di sini, untuk membuatmu bahagia, dan calon anak kita ini ....” Raka mengusap-usap perut istrinya itu gemas.
“Apa kamu masih ingat, Zia?” tanyanya lagi setelah keheningan.
“Apa?”
“Lihat ranjang itu, Zia.” Raka menunjuk ranjang Zia berukuran kecil itu. “Apa kamu masih ingat saat kita ke di situ? Dulu kita tidur bersama tapi ... kita tidak berani melakukan apa pun.” Pria itu tersenyum tipis mengingat kejadian dulu.
Zia pun masuk dan duduk di ranjang, Raka segera menyusulnya. Mereka saat ini sama-sama duduk di atas ranjang.
“Apa kamu tidak ingin mengulang masa dulu yang tertunda, denganku, sayang?” Mata Raka memberi kode nakal ke arah Zia.
“Apa?” tanya Zia memasang wajah polos berpura-pura tidak memahami perkataan Raka. “Apa ini?” Ia merasakan tangan lelaki di hadapannya itu mulai nakal. “Tapi ... kita baru datang.”
Raka meletakkan jarinya di bibir Zia untuk menyuruhnya diam. “Aku hanya melanjutkan aktivitas kita yang terlewat di sini dulu.”
Hingga waktu sampai pada malam hari. Zia selesai dari kamar mandi membersihkan tubuh dari sisa-sisa percintaan dengan suaminya. Kode lapar mulai mengirimkan sinyal dengan bergemuruh. Sudah pukul tujuh malam tapi Raka masih belum juga bangun. Ia pun mendekat lalu mengguncang tubuh sang suami untuk mengajaknya membeli nasi goreng.
__ADS_1
“Bangun sayang ....” Ia mengguncang tubuh lelaki yang hanya menggeliat itu. Sudah Berkali-kali ia membangunkan tapi Raka tidak mengindahkan.
Karena Author upnya dobel jangan lupa like komen di sini juga. Vote jangan lupa... biar kenceng updatenya. 😆