
Selamat pagi," sapa suara seorang laki-laki baru datang dari arah luar. Membuat mereka bertiga serentak menoleh.
"Rio!"
Raka seketika berdiri matanya menyorot tajam kearah Rio. Ia tidak terima dengan kedatangan cowok itu. Setelah membuat dia dan Ziara salah paham. Dan akhirnya terjadi hukuman enak, seharusnya Raka berterima kasih. Berkat kecemburuannya gelora asmara memuncak dan akhirnya ia memberi nafkah kepada Ziara.
"Ngapain kamu kesini?!" Raka mengepal tangan akan menonjok. Namun Ziara mencegah sigap memegangi lengannya.
"Kamu jangan salah paham, aku hanya memastikan kalau kamu tidak berbuat diluar kendali. Aku kesini hanya mau meluruskan, agar kamu tidak selalu cemburu buta." ucap Rio santai.
"Apa omonganmu bisa dipercaya?" tanyan Raka sedikit melemah. Memastikan kalau semua ini bukan sandiwara laki-laki dihadapanya itu.
"Kamu boleh percaya kata-kataku, kalau aku dan ...." Rio menatap Ziara dengan raut wajah tegang. "Kami semalam hanya tidak sengaja bertemu, aku hanya meminta peluk untuk terakhir kalinya,"
Tangan Raka kembali mengeras mendengar kalau Rio memeluk Ziara. Ia berjalan cepat kearah cowok itu. Secara cepat melayangkan satu buah pukulan telak di wajah Rio. Hingga membuat laki-laki itu meringis memegangi sisi pipinya.
"Raka hentikan!" Ziara melerai berdiri di tengah-tengah mereka. Karna begitu emosi yang memuncak Raka melayangkan pukulan kedua, namun kali ini bukan wajah Rio. Tidak sengaja ia menonjok Ziara hingga membuat gadis itu tersungkur ke lantai.
"Ziara!" Kedua lelaki tampan itu menyeru namanya. Rio akan menolong namun Raka menepisnya lalu berkata, "Jangan sentuh dia!" Rio mundur menyadari kalau wanita dihadapannya adalah milik orang.
"Sayang, kamu nggak papa?" Raka akan mengangkat tubuh Ziara. Namun gadis itu mengangkat satu tangan. Berharap Raka berhenti disana tidak mendekat. Ia kecewa kenapa Raka masih suka salah paham dan tidak bisa mengendalikan emosi.
"Setidaknya bicaralah dengan kepala dingin. Jangan jadikan otot untuk menyelsaikan masalah. Raka apa kamu lupa, dengan janji kita semalam? Apa kamu mau kita bertengkar gara-gara hal sepele seperti ini?" Ziara berdiri di tengah-tengah mereka berdua sedangkan mama Clarys hanya menonton diam.
"Aku minta maaf, sanyang. Aku akan mengobati wajahmu." Raka memegangi wajah Ziara akhibat kebrutalannya. Untung saja ia melayangkan pukukan kedua tidak sekencang pukulan pertama. Walaupun begitu untuk seirorang perempuan itu sangat menyakitkan.
"Pelayan!" pekiknya lalu menggandeng Ziara. Para pelayan langsung menghadap.
"Ambilkan air hangat, untuk mengompres!" Raka memegangi wajah gadis itu penuh khawatir. Sedangkan Rio berdiri tak kalah khawatirnya dengan Raka.
Setelah pelayan datang Raka langsung ingin mengompres dengan handuk dan air hangat yang sudah di siapkan. Namun Ziara menepis dan mengambil handuk itu untuk mengompres wajahnya. Tanpa mengucap satu patah katapun.
"Sayang, aku minta maaf karna membuatmu seperti ini. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi," ucap Raka dengan memelas. Rio menyeringai mendengarnya.
__ADS_1
"Janji tidak mau mengulangi tapi selalu mengulang, apa janji menjadi kebiasaannya." gumam Rio memasukan tangan di satu kantong. Raka melihat kearahnya lalu kembali menatap istrinya.
"Sayang, kamu boleh meminta apapun, atau menghukumku, tapi pleas jangan diam seperti ini," ucap Raka memohon. Melihat istrinya diam itu menyakitkan dari apapun. "Ayo katakan sesuatu." Ia memegangi tangan Ziara.
Hal itu membuat gadis di hadapannya tidak tega. Menghela napas panjang, walau bagaimanapun ia tidak ingin seperti ini. Ziara melihat kearah Raka lalu berkata, "Baiklah, tapi aku ada satu syarat." Ia memalingkan wajah sombong.
"Apa syaratnya?"
"Syaratnya adalah, satu kamu harus berjanji untuk mengendalikan emosi, dua kamu dan Rio harus berdamai." Raka menautkan alis. "Ketiga kita bertiga sekarang teman." Ziara mengangkat kedua alis.
"Kamu yakin?" ucap Raka memastikan. Ziara mengangguk yakin. Sumpah demi apapun ini adalah hal yang berat bagi Raka karna harus berbaikan sama musuh bebuyutan tapi demi sang istri dia rela berbuat apapun. Jika Ziara terus marah akan menyiksa kebutuhan biologisnya yang baru merasakan manisnya malam pertama.
Dengan berat hati ia menyetujui kemauan istrinya. Walaupun sangat terpaksa. Ia menghela napas lalu berkata, "Baiklah, aku terima persyaratanmu."
"Beneran?!" ucap Ziara antusias. Wajah sumringah sangat senang akhirnya bisa mendamaikan musuh bebuyutan itu. "Aku mencintaimu sayang, aku sangat mencitaimu!" gadis itu mencium pipi Raka hingga berulang kali.
"Uhuk!, uhuk!"
"Kamu bukan dinding, tapi serangga pengganggu!" ucap Raka. Membuat Rio membulatkan mata tak terima.
"Sekarang tunggu apa lagi? Ayo cepat berbaikan!" Ziara menarik tangan Raka untuk berdiri. Cowok itu nampaknya sangat berat melakukanya. Kini satu tangan Ziara memegang tangan Raka, satu lagi menarik tangan Rio, lalu menyatukan.
"Baikalah aku yang ngalah. Raka maafkan aku, karna selalu menggangu hubungan kalian." Rio mengulurkan tangan untuk bersalaman.
"Akhirnya mau mengakui kesalhanmu juga." Raka tersenyum sinis. Lalu menjabat tangan.
Ziara tersennyum senang menyaksikan semua itu. "Jadi masalah selsai ya, jangan ada permusuhan lagi diantara kita,"
"Teman,"
"Ayo sayang kita janji pertemanan!" Ziara kembali menarik tangan Raka. Menaikan tangan itu diatas tangan Rio, lalu ia ikut munpuk tangannya. "Janji, kalian jangan pernah bertengkar lagi,"
"Sudah, apaan seperti anak kecil!" Raka menarik tangannya lalu memasukan ke sisi kantong celana. "Rio, aku punya penawaran buat kamu. Bagaimana sebagai bukti perdamaian kita ... Aku ingin kamu menjadi sekertarisku, apa kamu setuju?"
__ADS_1
"Sepertinya tawaran ... cukup menarik, baiklah akan kupertimbangkan," ucap Rio dengan sombong menguji Raka.
"Kalau kamu nggak mau, hari ini aku akan mengisi posisi itu dengan orang lain. Banyak orang yang ingin mendapatkan posisi itu."
Setelah mendengar ucapan Raka, Rio memikirkan sesuatu. Kenapa harus melewatkan kesempatan ini? Disaat keuangan keluarganya sedang mengalami krisis. Bahkan ia adalah harapan satu-satunya sang ayah. Ia segera menyetujui tawaran Raka. "Baiklah aku mau,"
Raka tersenyum bangga akhirnya membuat Rio menerima tawarannya. Ziara juga ikut senang akhirnya persahabatan yang putus tersambung lagi. Tidak sia-sia mendapat pukulan dari Raka. Membuat mereka berdua merasa bersalah dan saling memaafkan.
"Mulai hari ini kamu langsung ke kantor, mulailah dengan baik, jangan membuat aku kecewa. Kalau sampai kamu membuat kesalahan akan tau sendiri akibatnya!" Raka merapikan jaz, ingin pergi. Karna ada banyak janji hari ini.
"Oke!"
Rio menyepakati seperti permintaan Raka. Dan Raka meninggalkan ruangan di ikuti Ziara mengantar ke depan pintu. Untuk pergi ke kantor.
"Aku kerja dulu ya?" ucap Raka. Ziara mengangguk. "Ucapan selamat paginya belum," Cowok itu menyodorkan pipinya.
"Apa?" tanya Ziara wajahnya menjadi merah muda karna malu. Ia tau kode dari Raka supaya gadis itu mencium pipinya.
"Ayo!" Raka memajukan pipinya dan kedua tangan kebelakang tubuhnya sedikit menunduk. Karna tubuh Ziara jauh lebih kecil darinya.
Ziara nampak malu-malu mendekatkan wajahnya. Melihat kekanan-kekiri memastikan kalau tidak ada orang. Lalu ia mendekatkan wajah untuk mencium pipi sang suami. Sebelum bibirnya sampai ke pipi Raka. Bibir cowok itu lebih dulu menyambar bibirnya. Merangkul tubuh Ziara, menikmati lebih dalam.
"Ya ampun—ampun! Apa kalian nggak punya kamar?!" ucap Rio yang lagi-lagi mengganggu kemesraan mereka. Mereka menyudahi aktifitasnya setelah mendengar suara Rio. Ziara nampak menunduk malu. Sedangkan Raka mengusap bibir dengan jari jempolnya seperti habis merasakan maisnya gulali.
"Kenapa? Kamu iri? Lain kali jangan gangu saat kami sedang ...."
"Memadu kasih?" Rio menertawakan pria di hadapannya yang sedang dimabuk cinta itu. "Sudah lupakan saja, aku mau pamit untuk mengambil data-data yang tertinggal di rumah." Rio berjalan melewati mereka berdua untuk pulang. Hingga menghilang dari hadapan.
"Aku juga pamit sayang," ucap Raka menatap Ziara, tersenyum manis. "Nanti siang, pak Handoko akan jemput kamu untuk ke kantor. Aku ingin makan siang di kantor sama kamu dan .... melanjutkan yang tadi belum selesai"
Ziara membulatkan mata terkejut dengan kekonyolan sang suami.
❣️Jangan lupa tekan bintang lima, tips, Vote like dan komen. karna kalian harapan satu-satunya. Terima kasih.❣️
__ADS_1