
Raka harus terima hukuman dari Ziara. Mau tidak mau dari pada harus berdebat lebih panjang mendingan dia pergi ke kamar sebelah. Walau terpaksa ia juga tidak yakin bisa tidur nyenyak atau tidak malam ini tanpa Ziara di sampingnya.
Raka meninggalkan Zia yang marah di bawah selimut. Berbagai cara sudah ia lakukan tapi, hasilnya nihil. Semoga suatu saat kejadian memilukan bagi Raka ini tidak akan terulang lagi. Butuh berpikir ratusan ribu kali jika Raka akan melakukannya lagi.
“Untuk sementara aku akan tidur di sini. Entah sampai kapan.” Raka melepas kemeja dan semua benda yang menempel ada pada tubuhnya. Setelah itu ia mandi untuk menenangkan sesuatu yang mengganjal.
Setelah mandi Raka akan segera tidur karena ia akan melaksanakan mogok makan malam. Dengan begitu Zia akan memperhatikannya dan dia akan memanfaatkan situasi itu. Ia sudah menyusun rencana dengan matang.
Namun sudah cukup lama Raka menunggu Ziara tapi, wanitanya itu tidak juga mengetuk pintu. Sepertinya rencana Raka gagal, sayang sekali. Baiklah, ia akan tidur saja dari pada berharap istrinya membawakan makanan ke hadapannya.
Namun ia terlihat gelisah, pikirannya gusar berbalik ke kanan-kiri tapi ia tidak bisa memejamkan mata. Zia keluarlah, lihat kondisi suamimu di sana yang sangat memilukan itu.
Di kamar utama.
Pemandangan tidak jauh berbeda dengan Raka. Perempuan yang sedang melakukan aksi marah itu terlihat gelisah tidak bisa tidur. Tidak jauh berbeda bukan.
Malam ini mereka tidur dengan penuh kehampaan, di dalam kamar masing-masing.
Hingga malam telah berlalu di gantikan dengan hangatnya terik matahari yang menyinari bumi.
Raka merasakan cahaya mengganggu retina matanya. Ia merasa tidak nyaman tatkala cahaya itu mengusik tidurnya saat sedang terlelap. Bagaimana tidak, Ia baru saja memejamkan mata gara-gara semalam kesulitan tidur karena terus memikirkan istrinya.
Dengan malas Raka menoleh jam ternyata sudah menunjukkan pukul sembilan. Betapa terkejutnya. Dia lupa kalau hari adalah yang paling penting buat Ziara. Dari semenjak beberapa hari yang lalu mereka sudah memutuskan untuk membuka toko hari ini pukul sembilan.
Dengan langkah seribu bayangan ia pergi ke kamar dan cepat-cepat mengganti pakaian. Ia tidak melihat Zia di sana ke mana dia, entah lah mungkin dia sudah turun lebih dulu. Setelah selesai bersiap-siap, ia akan menyusul ke meja makan.
Akan tetapi saat ia tiba di meja makan Zia tidak di sana juga.
“Pelayan apa kau melihat Zia?” tanya Raka pada pelayan yang lewat di hadapannya.
Pelayan yang lewat pun berhenti dan menjawab, “Non Ziara tadi pagi, pagi sekali sudah pergi, Tuan.”
“Ke mana?”
Pelayan menggeleng lagi. “Saya tidak tahu, Tuan.”
“Baiklah kamu boleh pergi.”
__ADS_1
Pelayan itu pun pergi dari hadapan Raka. Teganya Zia menelantarkan dia bahkan ia tidak peduli lagi jika Raka makan atau belum. Raka mulai geram, kesabarannya mulai teruji. Terlebih lagi, bagai mana bisa istrinya itu keluar rumah tanpa meminta izin darinya.
Zia tidak tahu masalah ini akan berlangsung panjang karena perbuatannya. Raka dari awal sudah mengatakan kalau dia akan marah kalau istrinya itu keluar tanpa meminta izin darinya.
Tanpa sarapan terlebih dahulu Raka pergi menuju ke tempat Zia saat ini. Ia tau ke mana tujuannya. Pasti wanita itu ada di toko kue untuk pembukaan.
Setelah mobil yang Raka kendarai tiba tepat di hadapan toko kue. Ia melihat banyak orang di sana ada beberapa karyawan dan ada juga teman-teman Zia. Kalau ia turun pasti akan menimbulkan keributan. Dan akan membuat malu Ziara di depan orang-orang. Ia kembali memutar arah memutuskan untuk ke kantor.
“Bukankah itu mobil Raka?” Ziara melihat dari balik kaca dari dalam tokonya. “Aku sudah menunggunya dari tadi, tapi ... setelah sampai dia pergi. Dasar menyebalkan! Nggak peka, enggak sayang, pasti dia mau menemui wanita itu lagi.” Gerutu Zia mendengus kesal.
—
“Jadi?”
Erick tertawa terbahak-bahak saat Raka menceritakan kejadian kemarin. Yang membuat Ziara kesal sampai saat ini.
“Ini semua gara-gara kau, Erick. Kalau saja kau tidak pergi kemarin, pasti istriku tidak akan semarah ini.” Gerutu Raka.
“Sorry, sorry aku nggak tau akan seperti ini. Apa perlu aku jelaskan ke istrimu, Raka?”
“Enggak usah, biar aku atasi masalahku sendiri,” tolak Raka. Buat apa harus melibatkan orang lain, untuk rumah tangganya.
Raka bersandar di kursi malas memikirkan bagaimana cara untuk membuat istrinya itu percaya. Sedangkan Erick sedang memainkan ponsel di sofa.
Tok, tok tok!
Suara ketukan pintu dari luar. Membuat Raka menegakkan kepalanya.
“Masuk!” mempersilahkan masuk. Dan ternyata yang mengetuk adalah Sita.
“Sita, Kenapa kemari?” tanya Raka saat melihat Sita masuk ke dalam.
“Saya hanya ingin menyampaikan pesan dari Zia, kalau anda di tunggu untuk menghubunginya. Dia sudah menghubungi anda tapi tidak aktif,” ujar Sita.
Betapa bodohnya Raka, ia tidak menyadari kalau ponsel miliknya tertinggal di rumah saat mengisi daya. Raka mengusap wajah putus asa. Semoga Ziara tidak berpikiran buruk lagi tentangnya.
“Baikah, terima kasih, Sita.” Raka segera beranjak dan lari ke luar. Ia tidak mau jika Ziara bertambah salah paham lagi kepadanya.
__ADS_1
Sedangkan Sita dan Erick diam menganga menyaksikan tingkah laku Raka.
Saat Sita akan keluar dia menoleh ke arah Erick. Dan cowok itu membalas dengan senyuman bersahaja.
Setelah beberapa menit mobil sport yang di kendarai Raka tiba di toko Ziara. Dengan cepat ia turun dan berjalan masuk mencari istrinya.
“Di mana Ziara?” tanyanya kepada salah satu karyawan di sana.
“Nona Zia sedang ada di belakang.”
Tanpa menunggu aba-aba Raka pergi menemui Zia di belakang. Saat ia tiba di bagian pengolahan ia berdiri diam melihat wanitanya itu sedang terlihat sibuk. Tangannya di penuhi noda tepung.
“Aku rindu, sayang.” Raka memeluk dari belakang. Mengecup leher dengan lembut.
Dan Zia hanya memandang malas ia tidak bisa berbuat apa-apa ingin menolak tapi tangannya di penuhi tepung. Ah, sudahlah lebih baik ia pasrah tapi lihat sekeliling banyak karyawan yang menyaksikan.
Zia menarik napas dalam-dalam lalu mengatakan, “Jangan lakukan ini, aku malu, Raka.”
Kondisikan perbuatanmu Raka lihat sekelilingmu. Zia menghela napas lagi. “Hentikan.” Tidak mendapat jawaban.
Setelah beberapa saat.
“Aku akan hentikan, tapi ... dengan satu syarat. Kalau kau tidak menerima syaratku, aku akan pastikan akan berbuat lebih dari ini, di sini sekarang juga.” Raka mengusap perut Zia lembut.
“Apa syaratnya?” ucap Ziara sambil merasakan geli pada perutnya akibat tangan Raka berkelana di area perutnya.
Wanita mana yang tidak luluh, saat suaminya memperlakukan seperti itu. Wajah Zia seketika bersemu merah karena malu. Ia mencoba menyembunyikan wajahnya supaya tidak terlihat bersemu.
“Maafkan aku ... aku sayang kamu,”
“Tapi aku enggak mau,” balas Zia menggelengkan kepala. Sifat keras kepalanya memang patut diacungi jempol. Gerak tubuh mengatakan iya tapi bibir berkata lain. Ia masih ingin marah kepada sang suami.
Raka ingin tahu sampai kapan wanitanya itu akan terus keras kepala.
“Di dekat sini ada hotel. Kita pergi kesana?”
“Enggak mau!” tolak Ziara menggeleng cepat. Walaupun bagaimana caranya ia akan mempertahankan keras kepalanya. Supaya Raka tidak mengulangi perbuatan seperti kemarin.
__ADS_1
YAH ... SEBENARNYA SIH AKU PENGEN CREZY UP. TAPI KALIAN NGGK ADA YANG MAU VOTE😂
JANGAN LUPA UNTUK VOTE, LIKE , LOVE DAN KOMEN YA ... BUAT BANTU AUTHOR.