Dijodohkan

Dijodohkan
episode 21


__ADS_3

Pagi yang indah. Gibor menyalakan mobilnya dan menyetir ke arah rumah Lidya. Hari ini hari minggu. Mereka berencana untuk berkelana bersama Larry dan Randy tetapi tidak memberitahukan dulu kepada dua orang suami istri itu. Mereka berencana memberi kejutan.


"Lho sudah sampai? Kenapa begitu cepat?" tanya Lidya yang sudah berdandan rapi menunggu kedatangan Gibor.


"Cepat? Gue bahkan jadi bingung siapa yang paling cepat sekarang" jawab Gibor memandang Lidya dengan seksama.


Lidya tersadar bahwa perkataannya juga termasuk tertuju padanya. Ia memanyunkan bibirnya, yang membuat ia semakin mungil. Telinga Gibor terlihat sangat memerah melihat tingkah perempuan yang akan dijadikannya istri. Untuk menutupi kegugupannya, Gibor memberitahukan untuk masuk kedalam mobil kepada Lidya untuk mempersingkat waktu, Lidya menaiki mobil dan Gibor segera melajukan mobilnya ke arah rumah Randy.


Larry memasak untuk sarapan mereka. Larry sengaja tidak memperkerjakan semuanya, supaya dia ada waktu berdua dengan suaminya. Ia ingin memasak untuk Randy karena menurutnya, masakan yang dibuat oleh istri akan lebih nikmat rasanya. Ia tidak ingin kehilangan momen romantis bersama suaminya setidaknya, dalam seminggu mereka harus mempunyai satu hari untuk menikmati waktu bersama tanpa gangguan oleh siapapun.


Randy memeluk tubuh mungil Larry dari belakang. Ia mengecup leher Larry dan menggigit telinga Larry dengan lembut.


"Apa yang kamu lakukan?" Larry memutar kepalanya ke samping, menghadap wajah Randy.


"Kenapa? Apa aku tidak bisa memeluk istriku? Ingat loh waktu berdua kita itu sangat jarang " tampang Randy memelas.


" Tapi aku sedang memasak " Randy tersenyum.


"Aku tahu, sini aku bantu " Randy memegang tangan Larry dan menggongseng nasi goreng yang berada di dalam wajan.


Larry memandang Randy dengan penuh curiga. " Aku tahu sifat kamu. Kamu tidak mungkin hanya membantuku."


Randy menggigit bibir bagian bawahnya. Ia memandang wajah cantik Larry dengan penuh nafsu.


"Apa suamimu ini bisa merasakan mu?"


Larry mengembuskan napas kuat "Randy... kita sudah melakukannya semalam. Apa kamu juga mau melakukannya sekarang? Aku bahkan hampir tidak bisa berdiri tegak sekarang. Sekujur tubuhku rasanya mati rasa sekarang"


"Ayolah. Aku akan cepat " bujuk Randy dengan tampang menggemaskan dan mata yang berbinar.

__ADS_1


"Aku masih harus memasak. Tunggu sebentar la..." tanpa menyelesaikan perkataannya terlebih dahulu, Randy mencium bibir Larry dan mematikan kompor tanpa beralih dari ciumannya. Randy memeluk tubuh Larry dan menarik badan Larry agar merapat ke tubuhnya. Larry membalas ciuman panas itu. Larry membuka mulut dan menengadahkan kepalanya. nafasnya mulai berat dan tubuhnya gemetar di bawah tekanan tangan Randy.


Randy mencium bibirnya dengan lembut. Tangan Larry perlahan naik merangkul leher Randy. Jarinya mengusap-usap rambut Randy perlahan dan lembut. Randy tersenyum karena tubuh istrinya benar-benar merasakan kenikmatan. Ia kembali mencium Larry dan menuntunnya ke sofa di ruang tamu tanpa melepaskan ciumannya.


Randy menghempaskan tubuh Larry ke sofa dengan lembut. Ia mencium Larry kembali. Tangannya ia selipkan di lutut Larry dan mulai meraba tubuh wanita itu. Ia mulai membuka kancing baju Larry satu persatu. Ia mencium tubuh mungil itu dan meninggalkan bekas gigitan untuk kesekian kalinya.


Ia kembali mencium bibir lembut dan penuh milik Larry. Ia membuka mulut Larry dengan tekanan bibirnya. Ia menggigit bibir Larry sehingga membuat Larry meringis kesakitan.


Randy tersenyum dengan penuh nafsu. Ia sangat menyukai rintihan tangis Larry saat melakukan hubungan yang sangat surgawi dengannya. ******* Larry begitu seksi sehingga membuat Randy semakin tidak bisa menahan diri dan ia lupa dengan janjinya sebelum melakukan **** dengan Larry. Ia membuka dua kancing kemejanya dan mencium Larry dengan ganas.


Pintu tiba-tiba terbuka.


" kakak..." senyuman indah di bibir Lidya dengan seketika menjadi membulat. Ia membelalakkan matanya tanpa berkedip melihat pemandangan indah di depannya.


Larry mendorong Randy ke sampingnya dan mulai merapikan pakaiannya dengan wajah yang sangat memerah. Lidya menelan Saliva nya dan masih mematung di tempat.


Suara Gibor menyadarkan Lidya. Larry dan Randy sangat panik. Dengan cepat Lidya menutup mata Gibor dan Randy menghalangi dengan badan lebarnya. Larry mempercepat tangannya untuk menutup kembali pakaiannya.


" Apa yang lho lakuin? " Gibor mencoba menarik tangan Lidya yang sangat erat melingkar di matanya.


"Jangan buka dulu" ucap Lidya panik.


"Tapi gue capek harus nunduk"


"Gue juga capek kali harus jinjit. Pokoknya jangan lepas dulu"


Perbedaan tinggi keduanya memang sangat unik. Gibor yang setinggi 185 cm dan Lidya 155 cm.


Larry akhirnya selesai merapikan pakaiannya. Randy mengembuskan napas kuat, menghempaskan dirinya ke atas sofa dengan perasaan lega. Lidya menarik tangannya dari mata Gibor dan berdiri dengan benar.

__ADS_1


Lidya berjalan dan duduk di sofa dengan kesal. Ia tidak menyangka bahwa ia akan melihat hal yang tidak seharusnya ia lihat. Untung saja, Randy belum membuka pakaiannya.


Gibor terlihat bingung dan duduk disebelah Lidya. Ia memandangi kedua orang itu dengan bingung melihat wajah mereka yang memerah seperti terbakar.


"Kenapa dengan kalian?" tanya Gibor penasaran


"Tidak. Bukan apa-apa kok, jangan terlalu dipikirkan!" jawab Larry cepat karena rasa gelisah dan malu.


Gibor menggaruk lehernya, mengangguk tidak percaya. Randy menatap sinis Gibor, Gibor dapat merasakan tatapan mematikan itu menghunus sampai ke jantungnya. Ia semakin bingung apa kesalahan yang ia perbuat Sampai harus menerima kekesalan yang seperti neraka itu dari Randy.


"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Randy dengan halus namun Gibor tahu yang keluar dari mulut Randy itu bukan pertanda baik.


"Sebenarnya kami ingin mengajak kak Larry dan kakak ipar untuk jalan-jalan"


"Kenapa tidak memberitahukan dulu, kamu kan bisa telpon kakak dulu sebelum ke sini"


"Tapi Gibor bilang tidak usah. Karena kami ingin memberikan kejutan traktiran sepuasnya dari Gibor" ucapan Lidya berhasil membuat bulu roma Gibor bergidik. Ia menelan saliva nya dengan berat. Ia menatap ke arah Randy dan melihat tatapan mematikan Randy tertuju padanya.


Tubuhnya mulai membeku merasakan tatapan devil yang mengarah padanya seolah Randy ingin segera menghanguskan nya dari dunia ini.


"Ternyata lho yang merencanakan ini" Randy tersenyum miring.


"Apa...apa salahnya? Gue hanya ingin mengajak kalian!" ucapnya gugup namun masih belum mengetahui kesalahannya.


"Tidak ada yang salah. Oh iya, lho yang traktir kan?" Gibor mengangguk dengan ragu.


"Bagus. Ayo kita bersenang-senang" Randy bangkit dari sofa dengan senyuman mencurigakan


"Perasaan gue udah gak enak nih" gumam Gibor melihat betapa berbahayanya teman yang bersamanya sekarang. Kedua kakak beradik itu beranjak dari sofa mengikuti Randy. Gibor melangkahkan kakinya mengikuti ketiga orang itu dengan penuh tanda tanya.

__ADS_1


__ADS_2