Dijodohkan

Dijodohkan
Ending


__ADS_3

Beberapa minggu setelahnya. Di pagi hari pagi buta sekali, seorang wanita paru baya mengetuk pintu kediaman Raka, wanita berpenampilan tampak modis dengan rambut sanggul tinggi dan pakaian berkelas tampak mengetuk pelan tapi pasti pintu rumah Raka. Ia sudah menekan bel rumah tetapi tidak mendapat respon juga. Mungkin ini masih terlalu pagi jadi pelayan mungkin masih sibuk di dalam, batinya.


Pelayan yang sedang sibuk di dapur itu segera bergegas membuka pintu setelah mendengar suara bel dan beberapa kali ketukan pintu.


Zia dan Raka yang baru keluar dari kamar menuruni tangga itu pun saling menatap. Siapa sepagi ini yang datang? Batin mereka.


Pelayan segera membuka pintu lebar-lebar dan terlihat sesosok wanita yang berdiri di depan pintu terlihat oleh Zia dan Raka yang berdiri di tangga rumahnya. “Mama!” ucap mereka serentak, saat melihat Clarisa berdiri dengan tatapan sendu.


Tanpa menunggu pelayan mempersilakan masuk, Clarisa segera berjalan melewati pelayan itu untuk menghampiri Raka dan Zia. Sebelum berbicara mata wanita itu mengeluarkan butiran bening yang menggenang di pelupuknya. “Raka, apa tidak ada sedikit pun kesempatan buat mama untuk meminta maaf? Mama tahu disaat kesadaran itu muncul semua sudah terlambat. Kamu sudah membenci mama dari pada apa pun. Kalau boleh aku minta berikan secuil hatimu untuk memaafkan mamamu ini. Aku sangat ingin hidup bersama kalian, kamu Raka, Zia dan juga Vita. Aku akan berusaha memperbaiki semua, menjadikan keluarga kita yang utuh.” Clarisa memohon dengan wajah sendu.


Raka melemah, nyatanya rasa dendam di hati sudah tidak ada lagi setelah bertemu Vita. Keluasan hati adiknya itu mampu mengingatkan padanya kalau dendam tidak menghasilkan apa pun. Raka menatap Zia, dan istrinya itu mengangguk tipis sembari tersenyum.


“Aku sudah maafkanmu, Ma ....” Raka berjalan selangkah mendekat ke arah ibunya. “Demi Vita dan Zia aku mau memaafkan mama, setelah aku pikir-pikir selama beberapa hari ini ... tidak ada gunanya jika aku terus menyimpan rasa dendam ini. Lagi pula Zia sedang hamil, tidak baik untuk anakku kelak jika aku terus menyimpan dendam kepada seseorang.” Raka menatap Zia. Mereka berdua saling melempar senyum.


Zia lega akhirnya suaminya itu bisa berlapang dada memaafkan sang mama. Sehingga tidak akan ada lagi pertikaian.


“Zia hamil? Benarkah itu? Mama tidak salah dengar kan, Raka?” Clarisa menatap Raka mengklarifikasi pertanyaannya. Dan Raka mengaguk membenarkan. “Kabar ini sangat membuat mama bahagia, mama sebentar lagi punya cucu ....” wanita itu kembali menyeka air mata karena bahagia. “Zia, apa aku boleh memelukmu?” tanyanya ragu dan Zia mengangguk cepat.

__ADS_1


Clarisa segera meraih tubuh menantu yang selama ini ia benci itu, memeluk erat dan menangis sejadi-jadinya. Ia senang akhirnya sebentar lagi akan menjadi seorang nenek. Sedangkan Zia yang tampak canggung itu menatap Raka yang berdiri di belakang Mama Clarisa tersenyum bahagia.


“Terima kasih, Raka. Kau mau memberikan mama kesempatan untuk menebus kesalahan, mama janji setelah ini tidak akan ada kesalahan yang terulang lagi,” ucap Clarisa setelah melepas pelukannya dari tubuh Zia.


Raka pun memeluk ibunya itu, tidak ada lagi canggung di antara mereka. Pelukan itu, belaian itu, hal itulah yang selama ini dirindukan seorang Raka dari ibunya. Ia sangat rindu kebersamaan dari kecil hingga sekarang. Sayang sekali papa tercintanya tidak hadir di antara mereka saat ini, tapi ia yakin kalau papanya lebih bahagia di sana.


Akhirnya permusuhan di antara mereka berakhir dengan perdamaian, saling memberi senyuman. Dalam seketika suasana pagi ini diselimuti kebahagiaan menyeru di seluruh penjuru rumah, momen haru yang dirasakan mereka turut membawa pelayan yang melihatnya ikut menangis.


“Mama–kakak,” panggil Vita yang baru muncul dari kamarnya. Sepulang dari rumah sakit Raka memang meminta adiknya itu untuk tinggal bersama mereka, untuk mempermudah menjaga kondisi Vita yang masih lemah.


Vita menghampiri mereka bertiga dengan kaki yang masih agak pincang karena masih ada beberapa luka yang belum pulih.


Clarisa meminta maaf kepada anak-anaknya atas segala kesalahan yang ia lakukan selama ini. Raka dan Vita memaafkan ibu mereka karena tidak ada lagi hal yang lebih terpenting selain kebersamaan. Setelah maaf memaafkan, mereka melepas jarak di antara mereka yang selama ini di pisahkan oleh dendam. Sehingga mereka saat ini begitu akrab layaknya keluarga sebenarnya.


Zia mengelus-elus perut yang mulai terlihat menonjol itu sembari tertawa mendengar candaan Vita dengan Raka. Tiba-tiba ia merasakan ada yang bergerak dari perutnya. “Aduh!” pekiknya. Membuat Raka, Vita dan mama Claris seketika menoleh ke arahnya.


“Kamu kenapa, sayang?” tanya Raka tampak khawatir.

__ADS_1


Begitu juga dengan Clarisa dan Vita mereka berdua memandang cemas.


“Aku merasakan bayi kita sedang menendang,” kata Zia menggigit bibirnya. Ia malu karena suaranya membuat obrolan mereka terhenti.


“Oh ... sayangnya papa, ingin gabung juga rupanya.” Raka mendekatkan wajah ke perut Zia mengusap lembut. “Tetaplah pintar di dalam sana, sayang ... kami menunggu kedatanganmu sampai waktunya tiba nanti.” Raka mencium perut sang istri penuh kasih sayang.


Kali ini adalah kali pertama bayi Zia yang masih dalam kandungan menendang dengan kuat. Sehingga membuat Raka antusias ingin merasakan gerakan anaknya itu. Tetapi di saat ia menempelkan tangannya justru janin tersebut tidak mau menendang. “Kenapa dia tidak mau menyapa, aku?” Raka menggaruk kepalanya.


“Pasti dia tidak mau dengan kakak.” Vita mendekat duduk di samping Zia. “Sayangnya ... tante Vita, sini sapa tantemu ini.” Vita menempelkan tangan ke perut Zia. Dan benar saja, ia merasakan pergerakan dari perut kakak iparnya itu. Vita tertawa kegirangan saat calon keponakannya itu refleks menyapanya dengan menendang.


“Oh ... ya ampun! Dia menendang,” ucapnya kegirangan.


Raka yang mendengar tidak percaya, bagai mana mungkin dengan dia ayahnya tidak mau menendang sedangkan dengan Vita menunjukkan reaksi. “Coba menyingkir, biar aku saja yang sentuh.” Raka menyingkirkan tangan Vita. Ia tidak mau kalah dengan adiknya itu yang merasakan tendangan anaknya sebelum dia. Tapi lagi-lagi, saat Raka menempelkan tangannya anaknya itu tidak menunjukkan pergerakan sama sekali. Membuat Raka mengerucutkan bibir.


Sedangkan Zia terkikik melihat tingkah Raka yang sangat antusias untuk mendapatkan tendangan sang buah hati namun tidak mendapat respons. Mereka semua saling tertawa bersama-sama menunggu giliran untuk menyentuh perut Zia supaya merasakan tendangan janin tersebut.


Mereka saat ini saling bersama. Saling berjanji untuk melindungi, menyayangi, walau apa pun yang terjadi. Clarisa dan Vita kini akan tinggal bersama menemani untuk menjaga Zia hingga waktunya anak yang di kandungan itu lahir ke dunia.

__ADS_1


SELESAI....


__ADS_2