Dijodohkan

Dijodohkan
MATA RIO


__ADS_3

“Ada apa ini?” Raka datang dengan berwibawa satu tangan masuk ke kantong celana. “Apa kalian tidak ada pekerjaan lain?” Raka menatap Rio dan Sita yang menunduk.


Tanpa menunggu jawaban dari keduanya Raka berbalik dan melangkah keluar, tidak ada gunanya lama-lama dengan mereka. Tiba-tiba ia teringat sesuatu, tanpa berbalik ia menghentikan langkah seraya berkata, “Rio, apa ada kabar dari klien yang dari Malaysia?”


Rio maju selangkah. “Ada, dia mengatakan siang ini mau datang, bos.”


“Baguslah. Oh ia Sita, kamu siang ini pergi ke rumahku temani Zia, dia mau mempersiapkan untuk buka toko kuenya.” Ucap Raka kepada Sita yang berdiri di belakang Rio.


Akhirnya, Sita bisa jauh dari orang menyebalkan di sampingnya itu dengan gembira ia mengangguk. “Baik aku akan langsung ke sana.”


Rio yang melirik malas kerahnya.


“Nanti siang.” Ucap Raka lalu ia berjalan keluar.


Sebegitu antusiasnya Sita lupa kalau Raka menyuruh ke sana nanti siang bukan sekarang juga. Gadis itu menepuk dahi merasa malu karena Rio memandang mengejek.


Kembali duduk sepertinya akan mengalihkan pandangan Rio. Dengan cepat Sita kembali ke kursi dan kembali mengetik tanpa melihat Rio.


Cowok play boy itu ngapain sih, lihat aku terus? Pasti dia berpikiran mesum!


Kelihatannya Rio belum beralih memandang Sita, bahkan pandangannya terlihat lain. Cowok itu melipat tangan di dada dan tersenyum nakal.


Gadis mana yang tidak merasa risih, ketika mata seorang laki-laki memandang nakal kearahnya. Sita berdiri dan mendekat kearah Rio.


“Kamu kenapa memandangku begitu?! Kamu pasti memikirkan yang kotor-kotor tentang aku ya? Dasar!” Sita dengan wajah juteknya.


Pemandangan itu membuat Rio mengusap wajah putus asa. “Ya ampun! Dosa apa ini?” ucapnya membuat Sita kebingungan.


Rio maju melewati Sita lalu mendekatkan bibirnya ke dekat telinga gadis itu dan berbisik , “Seleramu bagus.” Matanya seraya melirik kebagian dada Sita. Lalu berjalan keluar ruangan.


Sita yang masih berdiri masih menyaring perkataan Rio. Ia mengingat-ingat memutar bola mata hingga Sita ingat mata Rio tadi mengarah ke, buah dada!


Ya ampun, Sita baru menyadari kalau kancing kemeja yang ia gunakan terlepas di bagian atas. Bodohnya Sita tidak menyadari kalau Rio memperhatikan bagian yang terbuka.


“Dasar! Rio!” pekiknya menggerang.

__ADS_1


Sedangkan Rio yang mendengar suara Sita dari depan pintu, tersenyum menyeringai. “Mataku normal. Mana mungkin aku menyia-nyiakan kesempatan itu.” Lirihnya dan berlalu pergi.


Malu, pasti malu sekali, tidak tau harus bagaimana lagi. Sita mungkin akan memakai topeng saat bertemu Rio. Untung ia segera menyadari sebelum keluar ruangan. Tapi tunggu, bukannya Raka tadi ada di sana? Oh tidak, Raka melihatnya pantas saja ia segera berbalik dan pergi.


Mau tidak mau Sita harus keluar menemui Rio dan Raka karena ada yang harus di bahas dalam ruangan Raka. Sebelum ia melangkah tidak lupa ia menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya cepat. Semoga mereka melupakan, kalau mereka melihat b*a milik Sita.


Tok, tok tok!


Sita mengetuk pintu ruangan Raka. Tidak butuh waktu lama dengan cepat pintu terbuka wajah Sita menjadi pucat, karena malu saat pintu terbuka yang membukakan pintu untuknya adalah Rio.


Ria menyambutnya dengan mengulum senyum, seperti mengejek. Mungkin ia masih membayangkan b*a warana merah muda milik Sita. Laki-laki di mana-mana sama saja, tidak bisa menjaga mata.


Rio memandang kearah pakaian Sita, mungkin ia berharap kancing Sita akan terbuka dan mendapat rejeki nomplok lagi.


“Apa bisa dikondisikan matanya?” ucap Sita menatap jengkel.


“Mata, kenapa dengan mataku? Aku tidak melihat apa-apa.” Rio meraba-raba matanya sendiri.


“Matamu mesum!” Sita lalu melewati Rio dan menyenggol lengan membuat Rio bergeser.


“Kuat juga tenaga ini cewek.” Gumam Rio tidak terdengar Sita. Lalu cowok itu berjalan mengikuti Sita dibelakang menemui Raka yang menunggu di kursi.


Hingga tidak terasa waktu sudah menunjukan jam makan siang. Kini waktunya Sita untuk menemui Ziara dan menemani mempersiapkan keperluan toko kue milik Ziara.


Sita berjalan menuju mobil melihat Rio ada di dekat mobilnya.“Ngapain kamu di situ?” tanya Sita penuh curiga.


Sita memandang sinis, Melihat Rio bersandar di bagian depan mobilnya sendiri seraya menikmati hembusan demi hembusan dari sebatang rokok.


“Kamu perokok, Rio?” Tanya Sita melihat Rio menghembuskan asap keatas terlihat sedang menikmati setiap hembusan asap dari mulutnya.


Bahkan sebegitu nikmatnya ia tidak menjawab pertanyaan Sita.


Setelah Sita merasa tidak di dengar oleh Rio, ia kesal dan berlalu menuju mobil. Jadi buat apa dia haris berdiri di sana, lebih baik cepat menemui Ziara di rumahnya. Nggak ada gunanya juga kalau ia harus lama-lama melihat cowok menyebalkan dan sok kegantengan itu di sana.


“Sita....” ucap Rio menghentikan tangan dan langkah Sita saat akan masuk ke mobil.

__ADS_1


“Kenapa?” balas Sita ketus.


“Apa mau kuantar?” Rio menawarkan diri sepertinya ia bosan kalau sendirian di kantor. Terlebih-lebih ia harus bersama Raka yang sangat serius menatap pekerjaannya.


“Tidak usah, kalau kamu yang mengantar, bukanya tambah senang. Justru akan mensmbah merepotkan, lagi pula Tuan Raka menunggu mu diruanganya tadi sebelum aku keluar.” Sita membuka pintu lalu melajukan mobil pergi dari pandangan Rio.


Rio pun masuk menemui Raka, setelah Sita mengatakan bahwa Raka mencarinya. Buru-buru ia masuk ke dalam ruangan, mendekat kearah Raka yang sedang duduk di kursi malas.


“Apa kau memanggilku, Bos?” Tanya Rio berdiri di samping Raka.


“Rio, apa kau tau siapa klien dari Malaysia yang mau datang siang ini?”


Rio menggeleng, tidak tau. Dan apa urusan dengannya.


“Dia adalah sahabatku dari masa SMA. Maka dari itu jangan membuat kesalahan apa pun, karena dia tidak suka dengan kesalahan walau sekecil apa pun.” Ucap Raka. Dan Rio mengangguk-mengerti.


“Apa aku boleh keluar, Raka?” pamitnya


“Silahkan.” Raka mengangkat ponsel akan menghubungi seseorang. Ia mencari nomor faforit yang di beri nama my wife dengan cepat Raka menekan nomor dan melakukan vidio call dengan sang istri.


Sedang apa? tanya Raka melihat Ziara sedang menjawab telefon sambil sibuk mencari-cari pakaian di almari.


"Aku selesai mandi mau siap-siap ganti pakaian, kamu bilang Sita mau kesini. Jadi aku harus cepat-cepat bersiap."


Ziara sambil kerepotan satu tangan mencari-cari pakaian satu lagi memegang ponsel miliknya. Gadis itu terlihat mondar-mandir menyiapkan pakaian untuk ia kenakan mencari yang pas.


Sedangkan Raka dari seberang sana menyaksikan istrinya dari layar ponsel miliknya, sambil tersenyum ada yang di pikirkan di sana.


“Aku mau ganti pakaian, tutup sebentar, nanti kita sambung lagi,”


“Tunggu-tunggu, tetap di sana jangan matikan atau menutupnya, letakan di atas nakas. Dan kamu gantilah pakaian,” Ucap Raka tersenyum nakal.


"Jadi maksudmu aku?" Ziara menunjuk dirinya sendiri. “Apa tidak masalah?” tanyanya Ragu.


"Kalau ada masalah aku yang tanggung, apa lagi kalau kamu sampai hamil. Ayo cepatlah!"

__ADS_1


❣️Hae, hae, jumpa lagi dengan jenny, mohon maaf ya kakak-kaka kalau sedikit mengalami sedikit keterlambatan Update. Karena kondisi kurang fit, Terima kasih kaka-kakak yang selalu memberi komentar positif, komentar kalian selalu membuat saya semangat dalam berkarya.❣️


JANGAN LUPA UNTUK VOTE, LIKE , LOVE DAN KOMEN YA ... BUAT BANTU AUTHOR.


__ADS_2