Dijodohkan

Dijodohkan
Bonus


__ADS_3

“Enggak mau!” tolak Ziara menggeleng cepat. Walaupun bagaimana caranya ia akan mempertahankan keras kepalanya. Supaya Raka tidak mengulangi perbuatan seperti kemarin.


“Jadi ... kamu beneran nggak mau? Yakin?”


“Yakin seratus persen,” kekeh Ziara, menolak permintaan Raka. Meminta maaf itu memang harus butuh kerja keras Raka.


“Baiklah.” Raka melepas pelukan tangannya dan berbalik. “Kurasa tidak ada gunanya aku membujuk istriku. Lebih baik aku menemui Gina untuk menemaniku ke hotel.” Mengulum senyum lalu mengintip ingin melihat ekspresi Zia di belakangnya.


“Kalau mau pergi. Pergi sana, aku tidak akan melarangmu!” Mengusap air mata dengan lengan karena tanganya kotor.


Raka yang melihat terkikih betapa lucunya ekspresi wajah Zia, menangis tapi disembunyikan. Ayolah, cepat akhiri sandiwara kalian.


“Baiklah, kalau kamu yang meminta. Aku akan meneleponnya lebih dulu.” Raka merogoh ponsel dari kantong celana. Tapi ia lupa kalau pinselnya tertinggal di rumah. Sandiwara konyol macam apa ini.


“Oia ... aku lupa, bisakan aku pinjam ponselmu, Zia? Kebetulan aku lupa membawanya tadi.” Raka menadahkan tangan kearah istrinya. Melihat Zia yang terus mengusap air matanya, ada rasa kasihan dalam benak Raka. Tapi, ini jalan satu-satunya supaya membuat Zia tidak marah lagi padanya.


“Bisa pinjam ponselmu?” pinta Raka sekali lagi.


“Ponselku nggak ada. Aku sudah membuangnya.” Kekehnya disertai isakan kecil.


Raka seperti sudah tidak sanggup lagi menahan ketawa. Kasihan sekali wanitanya itu harus mengrluarkan air mata gara-gara tingkah konyolnya.


“Baiklah, kalau begitu aku akan langsung menjemputnya di rumah.”


Darah Zia sudah naik jangan menambah dengan perkataan menyakitkan lagi. Stop sampai di sini atau akan berakibat buruk.


“O, iya ... menurutmu, enaknya di bawa ke mana. Hotel, vila, atau ... kamar kita?”


Kini darah Ziara sudah naik ke ubun-ubun tangannya meremas kuat. Apa-apa yang barusan Raka katakan tadi? Ke kamar mereka berani sekali dia mengatakan hal seperti itu.

__ADS_1


“Kamu tunggu di sini ya anak baik, jangan kemana-mana. Aku hanya bermain dengannya sebentar, mungkin dua atau tiga jam saja.


Berani, beraniya Raka. Ziara menggeram dengan cepat ia berbalik dengan tangan yang berlumuran tepung ia “Beraninya kau!” Tangan wanita itu membabi buta, mencabik dan memukul dengan cepat. “Akan kupastikan kau tidak akan bisa lagi bertemu dengan wanita itu. Enak saja kau mau berbuat itu! Aku sudah menyerahkan semua. Hidupku, cintaku, keperawananku, bahkan ciuman pertamaku semua kamu yang mengambilnya. ” Pekiknya disertai isakan dan tangannya memukul dada Raka pelan.


Kalau sudah begini urusannya Raka nyerah. Kelihatannya Zia sudah kehilangan kendali. Raka, Raka kamu memang pintar membuat suasana menjadi runyam.


“Sayang, heh, hentikan aku hanya bercanda jangan anggap serius.” Tangan Raka mencoba menghentikan tangan Zia yang terus memukul dadanya.


“Kamu jahat! Aku enggak akan maafkan kamu! Kamu jahat! kamu jahat! Arghhh!"


Raka mengela napas dalam-dalam. Apapun kesalahan yang ia perbuat di masa lalu tolong maafkan jika itu bisa membantunya saat ini.


“Sayang, stop!” Mencekal kedua tangan Ziara lalu memeluk, membenamkan wajah Zia ke dadanya. “Hentikan semua ini sayang.” Memeluk lebih erat. Sedangakn Zia menangis terisak-isak di dalam dekapannya.


“Kamu tega,” ucap Ziara kekeh masih ingin memukul dada Raka tapi tenaganya melemah. Hanya satu pukulan tangan pelan yang mendarat di sertai tangisan.


Bagi Raka pukulan yang diberikan istrinya tidak terasa apa-apa. Yang menyakitkan adalah saat melihat air mata yang keluar dari mata indah wanitanya itu. Tapi ia melakukan karena terpaksa, kalau tidak seperti itu Zia tidkak akan menyadari.


“Kau yang begitu berharga untukku, jangan berpikiran macam-macam. Aku tidak akan membuang barang berharga hanya demi barang murahan. Sudah aku katakan dia tidak ada apa-apanya di bandingkan kamu, percayalah padaku,” ucap Raka meyakinkan Zia. Kali ini kata-katanya tidak bisa di bantah lagi, pandangan Ziara mulai melemah.


“Maukan percaya sama aku?” tanya Raka satu kali lagi. Dan Ziara menggangguk. “Kalau tidak mau percaya aku akan menemui Gina.” Imbuhnya lagi. Membuat Zia mencubit perutnya hingga ia meringis.


Kasihan sekali nasib Gina. Namanya di bawa-bawa padahal ia tidak melakukan apapun. Semoga saja ia tidak tersedak saat makan karena Raka dan Zia selalu menyebut namanya.


“Jadi kamu ke hotel bersamaku, sayang. Atau ....” Memutar bola mata Zia pasti tau apa artinya itu.


“Iya aku mau! Jangan bawa-bawa nama wanita itu lagi. Kalau tidak aku akan membuat kamu menyesal seumur hidup!” ucap Zia dengan nada mengancam.


“Ternyata istriku ini kalau sedang marah lebih galak dari pada kucing oren ya.” Raka mencubit hidung pelan. “Jadi? maukan menemaniku ke hotel?”

__ADS_1


“Iya.”


Ziara mengangguk wajahnya dalam tangkupan tangan Raka. Bibir itu sudah lama semenjak semalam Raka merindukannya. Raka mendekatkan bibirnya ke bibir Zia siap untuk memulai aksi.


Dan...


“Maaf Nyonya,” Suara salah satu karyawan membatalkan aksi Raka. Sejak kapan dia ada di sana, kenapa mengganggu seperti itu. Raka mendengus kesal.


“Kau ada apa? Kenapa tiba-tiba di situ?” tanya Ziara karena terkejut melihat karyawan itu tiba-tiba ada di sana. Dan Raka mengulum senyum seraya berkata,


“Apa kau sengaja ingin mengintip kami di sini?” Raka menatap tajam, membuat karyawan itu menunduk.


Apa salahku, bahkan aku di sini sebelum kamu datang Tuan, kalian seperti anak kecil, membuat aku malu.


.“Tidak tuan, saya hanya tidak sengaja melihat. Kalau bigitu saya permisi dulu.” Karyawan tersebut pergi keluar.


Tempat ini memang tidak aman. Baiklah Raka sudah tidak sabar menahan. Ia segera mengangkat tubuh Zia untuk memanggulnya. Hingga membuat Ziara tersentak dan mengerjibkan mata berulang.


“Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku.” Meronta supaya Raka menurunkannya. Tapi Raka tetap kekeh tidak merubah bergerak sedikitpun. “Lepaskan aku, sayang. Apa kau tidak malu dilihat mereka.” pekik Zia yang terus saja di bawa Raka ke luar.


Para karyawan yang menyaksikan mengulum senyum. “Kaya di drama-drama ya?” ucapnya kepada salah satu temannya. Dan temanya mengagguk “Iya.”


Tidak selang beberapa lama, mobil Raka tiba di depan hotel yang memiliki jarak tidak jauh dari toko kue Ziara. Raka membukakan pintu mobil untuk Ziara akan mengangkat tubuh tubuh istrinya lagi ke dalam.


“Tidak usah aku bisa sendiri.” Zia menolak, lebih baik ia jalan sendiri dari pada harus menjadi tontonan banyak orang di sana.


Akhirnya mereka masuk ke dalam untuk memesan kamar. Lalu apa kabar dengan tangan dan tubuh yang dipenuhi dengan noda tepung. Raka tidak perduli itu adalah perkara yang gampang dibanding hasratnya yang sudah tidak bisa di bendung lagi. Karena demi apapun ini sangat menyiksa untuk Raka.


Kalau ada typo ingatkan Author ya... ngebut soalnya ngetiknya demi kalian🙄

__ADS_1


JANGAN LUPA UNTUK VOTE, LIKE , LOVE DAN KOMEN YA ... BUAT BANTU AUTHOR.


__ADS_2