Dijodohkan

Dijodohkan
Sayang


__ADS_3

Orang tua adalah anugerah yang di miliki setiap anak di dunia. Tanpa adanya orang tua, tidak akan ada anak yang akan terlahir. Sejak kecil hingga dewasa mereka selalu setia menemani, anak-anaknya menemani dalam keadaan susah ataupun senang. Cinta orang tua sangatlah besar dan tidak akan terbalaskan.


Maka dari itu Ziara mencoba membalas jasa-jasa itu walau dengan cara apa pun, meski dulu dia tidak mencintai Raka tapi demi orang tua ia rela menikah bukan atas dasar nama cinta.


Sepanjang perjalanan, Ziara mengenang saat-saat dulu ia disayangi, dan dimanja. Kasih sayang dan suasana hangat keluarga begitu melekat di kehidupan Ziara.


“Bagaimana kamu senang?” tanya Raka menoleh di sela-sela mengemudinya.


Ziara mengangguk dan menjawab, “ Iya aku senang. Terima kasih ... atas semua yang telah kamu lakukan untukku.” Lalu menyandarkan kepala di pundak Raka.


“Aku punya sesuatu lagi buat kamu,”


“... Apa?” tanya Ziara penasaran.


Melihat raut wajah Raka sepertinya ada kejutan yang akan membuat ia senang.


“Tunggu, aku akan membawamu kesana.”


Raka melajukan mobil ke sebuah pusat kota. Mobil yang ia kendarai berhenti di depan sebuah bangunan tidak besar dan juga tidak kecil. Bangunan bagian depan yang di penuhi kaca-kaca tembus pandang itu begitu menggoda mata.


Mata Ziara berbinar sudut bibirnya tertarik ia membebtuk guratan senyum. Ia tidak menyangka Raka mengabulkan permintaannya secepat ini. Toko kue bergaya modern di hadapan apa ini untuknya ataukah milik orang lain. Ziara bertanya-tanya dalam benak, dia harap itu untuknya. Tapi terlalu mewah kalau hanya untuk jualan kue. Batinya.


“I-ini?” Melihat Raka di sampingnya memastikan kalau bagunan itu untuknya.


Raka mengangguk dengan penuh keyakinan. “Iya.” Lalu tersenyum tipis kepada istrinya.


“Terima kasih ... sayang ....” ucap Ziara dengan hati senang. Ia sudah tidak sabar ingin melihat ke dalam penasaran bagaimana isi di dalam sana.

__ADS_1


Raka segera memasukan anak kunci dan memutar hingga pintu terbuka lebar. Ziara masuk selangkah demi selangkah, bola matanya menyusuri setiap sudut ruang. Bahkan ke langit-langit tidak luput dari pandangannya. Raka sudah menyiapkan sangat sempurna tidak ada satu pun terlewat. Etalase kaca yang berjejer, meja kasir, dan dapur semua sudah tersusun Rapi.


Raka yang berjalan mengikuti Ziara itu pun hanya tersenyum bangga. Menyaksikan wanita di depannya bahagia merupakan candu untuknya ingin selalu menambah kebahagiaan yang hakiki.


“Apa ada yang kurang?” tanya Raka satu tangan di masukan disisi kantong celana.


“Semua sempurna, tapi ... apa ini tidak terlalu mewah? Untuk ukuran toko kue ... biasanya tidak membutuhkan tempat sebagus ini, karena aku ingin yang membeli kueku dari semua kalangan, mulai kalangan bawah sampai ke atas.” Ucap Ziara.


“Buat kamu, aku tidak ingin yang murahan, kamu begitu mahal di mataku. Tempat ini sangat pas buat buka toko kuemu,” ucap Raka.


“Baiklah.” Ziara menyunggingkan bibir, lebih baik ini dari pada tidak sama sekali. Melihat mewahnya tempat itu, ia berpikir mana mungkin ada orang dari kalangan biasa masuk ke dalam. Melihatnya dari luar mungkin mereka akan beranggapan kue yang dijual pasti mahal kayak kue artis-artis itu.


“Kamu kenapa? Tidak senang?” tanya Raka melihat Ziara memikirkan sesuatu.


“A-aku senang kok." Ziara manggut-manggut dan satu jari mengetuk-ngetuk pipinya. “Ini sudah sore, ayo kita pulang!” ajak Ziara lalu melingkarkan tangan di bahu Raka.


Biarlah mau ada orang beli atau tidak, yang penting Ziara tidak membuat kecewa. Dengan membahas kalau toko itu terlalu mewah sehingga akan membuat Raka kecewa.


Ziara nampak mengagumi laki-laki yang resmi menjadi suaminya itu. Ia bersukur ayahnya menjodohkan dengan laki-laki yang selalu mengerti dirinya, berusaha membuat ia bahagia.


Sesampai di rumah mobil terpakir di halaman. Raka dan Ziara masuk ke dalam karena tubuh mereka sudah lengket dan lelah karena seharian di luar mereka ingin segera mandi dan istirahat. Raka berjalan tidak cepat dan juga tidak lambat di iringi Ziara di belakang menuju kamar.


Claris yang melihat kedatangan mereka begitu penasaran. Sebenarnya ke mana mereka berdua hingga sore begini baru pulang Batinya.


Akhirnya dengan berat hati dan rasa ingin tahu yang lebih besar. Ia memberanikan diri untuk bertanya ke pada Raka yang berjalan melewatinya. Ia mendekat seraya berkata,


“Raka, kalian dari mana? Kenapa seharian ini kalian nggak ada di rumsh? Dan sore begini kalian baru pulang. Mama khawatir dengan kalian, aku tanya para pelayan tapi ... mereka tidak ada yang tahu.”

__ADS_1


Raka yang hendak melangkah menaiki tangga, tiba-tiba langkahnya terhenti. Ia menoleh saat mendengar kalimat khawatir dari mulut ibunya. “Khawatir?” tanyanya mengonfirmasi perkataan Mama Claris kalau dia tidak salah dengan pendengaran.


Raka menaikan sebelah alisnya dan menyeringai memandang sinis, membuat Claris menunduk.


“Apa rasa khawatir itu baru ada dalam dirimu?” Sudut bibir Raka tertarik ke atas dia tersenyum mencemo-oh wanita yang menelantarkannya sewaktu kecil.


“Sayang sekali kata-kata itu ada disaat aku sudah tidak membutuhkannya.” Ucap Raka memandang malas dan akan melanjutkan melangkah.


“Raka maafkan Mama, aku tau kamu sangat sakit hati atas perlakuanku. Tapi saat ini mama menyesal, seandainya waktu bisa diulang, aku nggak akan berbuat seperti itu. Raka aku mohon maafkan aku. Mama hanya ingin di sisa-sisa umur ini hidup bahagia dengan kalian, bersama cucu-cucuku anak kalian nanti.” ucap Claris dengan wajah memelas.


“Kamu bisa minta maaf kepada ku. Tapi ... bagaimana orang yang dulu kamu sakiti? Apa kamu lupa, bagaimana kamu menyakiti Papaku? Penderitaan yang kemu berikan begitu membekas di hati kami. Jadi jangan minta maaf semudah itu. Apa kamu mau mengebalikan masa sulit ketika aku kecil?!”


Claris hanya bungkam tidak bisa menjawab. Ia menunduk malu atas perbuatannya yang kembali diungkit Raka. Kali ini salah meminta maaf, seharusnya ia menyembunyikan rasa ingin taunya sehingga tidak membuat Raka kembali murka.


Suasana mereka saat ini tegang. Walaupun mereka berhadapan tapi tidak ada yang megeluarkan suara. Melihat wajah Raka yang merah dan rahangnya mengeras itu saja membuat Claris bergeming. Ziara hanya diam di belakang Raka berjaga-jaga kalau Raka kehilangan kendali.


“Kenapa diam?” tanya Raka menatap tajam Claris yang menunduk. “Apa kamu menyadari dosa-dosamu hah?!” pekik Raka emosi yang mencapai puncaknya. Ia seolah ingin mengeluarkan segala isi hati, tangannya mengepal buku-buku tangannya nampak jelas. Raka mengangkat tangan ingin memukul.” Namun Ziara menahan lengannya.


Raka sadar, tangan yang terangkat itu bukan untuk memukul tapi untuk menggertak. Ia tau batasan walau bagaimana pun wanita di hadapannya itu adalah ibu yang melahirkan. Tidak ada gunanya lagi ia berbicara tentang kesalahan yang telah lalu nyatanya luka itu masih membekas di hati Raka.


Raka dengan mata tajam, dan wajah merah membara. Cowok itu melangah menaiki tangga tidak perduli dengan apa pun tentang Claris.


Setelah Raka menghilang Ziara barulah mendekat kearah Claris seraya berkata,


“Mah, kalau mau minta maaf. Dan ingin di maafkan, sebelumnya tanyakan dan yakin hati Mama lehih dulu, barulah mama yakinkan Raka kalau Mama memang pantas di maafkan.” Setelah selesai menasehati Claris, Ziara nyelonong pergi meninggalkan wanita yang tertunduk. Malu, sedih , merasa bersalah entah apa yang Claris pikirkan hanya dia yang tau.


——

__ADS_1


BERHUBUNG BULAN PUASA BERMESRAANNYA KITA SKIP DULU😂


JANGAN LUPA UNTUK VOTE, LIKE , LOVE DAN KOMEN YA ... BUAT BANTU AUTHOR


__ADS_2