
Raka jahat! Raka nakal! Raka jahat! Raka nakal!
Hanya itu kata yang terlintas dalam hati dan pikiran Ziara. Berjalan dengan langkah seribu langkah menuju kearah Raka yang belum menyadari kalau dia sudah melihatnya duduk berdua di sana.
Apa-apaan ini! Dia tidak ada waktu untuk menemaniku, tapi ada waktu untuk wanita gendut itu! Ohh jadi begitu seleranya mencari wanita yang mempunyai bodi seperti botol pelastik. Tunggu saja pembalasanku!
Raka berdiri dengan maksud ingin menghindari Gina yang terus saja mencoba mendekatinya. Tapi sebelum berbalik Raka mendengar suara deheman seorang perempuan. Ia mencoba mengabaikannya mungkin suara itu diberuntuhkan untuk orang lain.
Ehehhm!
Sekali lagi suara itu terdengar, dan Raka masih tidak menoleh dan tidak peduli. Ia akan pergi dari sana, dan saat berbalik.
DUAR!
suara dentuman hati Ziara. Tapi masih menahan walaupun dada rasanya mau meledak.
Raka melihat ekspresi air muka Ziara sepertinya tidak bersahabat. Pasti istrinya itu sudah salah sangka kepadanya. Ayolah Ziara jangan berfikiran macam-macam kepada suamimu itu, semua tidak seperti yang kamu pikirkan.
“Zia, kau di sini?” Raka mencoba memberanikan bertanya walau ia melihat wanita itu menatapnya dengan tatapan siap untuk membunuh.
“Gina kenalkan dia istriku, Zia. Dan Zia perkenalkan dia ....”
“Sudahlah aku sudah tau dia siapa.” Ziara tidak membalas Gina yang mengulurkan tangan untuk berkenalan dengannya. Wanita yang sedang terbakar api cemburu itu melihat ke arah Gina sinis. Menatap tajam dari ujung kaki sampai ke ujung kepala.
Memang berbeda jauh dengan penampilanya. Wanita itu lebih seksi dan mempunyai bentuk tubuh sangat ideal. Tidak seperti tubuhnya yang kecil dan pendek di samping Raka.
Zia benci itu!, Zia benci itu! Zia benci mereka berdua!
Dengan menahan emosi membara Ziara tanpa berucap tapi matanya siap membunuh. Ia segera berbalik meninggalkan Raka dan Gina.
Raka hanya mengela napas dan mengusap wajah frustasi. Inilah hal yang paling tidak ia sukai. Raka cepat-cepat mengejar Zia.
“Sayang, sayang ... tunggu aku!” Raka mencoba meminta Zia untuk berhenti. Tapi Zia tidak memperdulikan. “Berhenti Zia!” pekiknya, membuat para pengunjung restoran menoleh. Ia tidak perduli jika harus menjadi pusat perhatian orang di sana.
__ADS_1
Sedangkan Sita kebingungan. Bertanya-tanya apa yang terjadi dengan temanya itu kenapa tiba-tiba muncul dengan keributan.
Apa pun yang Raka katakan Ziara tidak akan peduli, hanya satu dalam pikirannya. Raka jahat, Raka jahat! gadis itu berdiri di tepi jalan untuk mencari kendaraan yang bisa mengantar dia pulang. Apa pun becak, ojek, angkot atau apa pun yang bisa membawanya pulang ke rumah. Akhirnya tanpa menunggu lama sebuah angkutan umum lewat dan Ziara segera naiki untuk pulang.
Sampai di rumah mobil Raka tiba sesudah Ziara masuk ke dalam rumah. Raka cepat-cepat turun dan mengejar istrinya itu yang menaiki tangga menuju kamar.
“Zia, ayolah sayang ... jangan seperti itu.” Raka mencoba menyuruh menghentikan langkahnya. Tapi tidak membuat gadis itu berhenti justru malah mempercepat langkahnya sampai ke kamar.
BRAK!!
Pintu kamar tertutup dengan keras membuat Raka hampir terbentur. Kalau saja tidak cepat mundur pintu itu sudah mengenai wajahnya. Hal ini juga yang Raka tidak sukai, pasti malam ini ia akan berpuasa, kasihan sekali dedek di bawah sana.
“Zia sayang ... ayolah buka pintunya.” Raka mengetuk-ngetuk pintu. “Biar aku jelaskan. Buka pintunya ya ....” Rengeknya seperti anak kecil.
“Sayang aku mau masuk.” Imbuhnya lagi memelas. Tapi tidak mendapat jawaban dari Ziara.
Akhirnya Raka menyerah mengusap wajah putus asa. Mungkin ia akan menunggu di sofa depan kamar sampai istrinya itu membuka pintu. Kasihan sekali hidup Raka harus berakhir seperti ini.
Jika biasanya Raka yang selalu di buat cemburu kali ini berbeda. Baru kali ini Ziara terbakar api cemburu, karena baru kali ini dia melihat Raka berduaan dengan wanita. Semoga Zia di dalam sana cepat sadar kalau ia hanya salah paham, karena kondisi Raka terlihat miris.
Dua jam berlalu tapi Raka masih setia menunggu di depan kamar.
Ya ampun, cobaan apa ini?
Dua jam lamanya Zia tidak juga kunjung memberi tanda-tanda membuka pintu. Mungikin Raka akan mencoba sekali lagi siapa tau istrinya itu berbaik hati dan membukakan pintu. Karena demi apa pun ini tidak enak sama sekali buat Raka. Ia tidak sanggup jika harus dihukum Ziara seperti ini.
Raka mendekat ke arah pintu mengangkat tangan mau mengetuk pintu. Tapi, sebelum tangannya mendarat di benda berbentuk persegi berwarna coklat di hadapanya itu. Pintu itu terbuka dari dalam, akhirnya Zia memberinya kesempatan untuk menjelaskan.
Setelah membuka pintu Ziara berbalik berjalan menuju ranjang lalu ia duduk di tepi ranjang. Dengan wajah di tekuk dan mengerucutkan bibir mematung hanya melirik sesekali ke arah Raka.
Raka mengulum senyum, ternyata seperti ini istri tersayangnya kalau sedang cemburu. “Dasar pikiran dangkal!” gumam Raka membuat Zia melebarkan mata. Raka menyangka gumamnya tidak terdengar tapi ternyata Ziara mendengarnya.
Raka mendekat dan duduk berlutut di bawah istrinya itu dengan tangan bertumpu di lutut Zia. Menghela napas dalam. “Cemburu?” melihat keatas menatap mata Zia yang berkaca-kaca.
__ADS_1
“Enggak!” Ziara memalingkan wajahnya.
Raka kembali mengulum senyum. Menyaksikan tingkah wanitanya itu memang menggemaskan. “Aku tidak menyangka kamu kalau cemburu seperti itu, sayang.” Meraih kedua tangan Zia lalu menyatukan final mengecup tangan itu.
Sekuat apa pun rasa emosi kalau sudah Raka memperlakukan seperti itu akan meluluhkan hati Ziara. Sedikit meluluh walau tidak sepenuhnya. Tapi, ia masih belum memaafkan.
“Maaf. Dia bukan siapa-siapa, kami tidak sengaja ketemu.” Terang Raka semoga Zia mempercayainya. “Percaya?” Menatap penuh harap.
“Enggak!” Ziara tetap kekeh berpaling muka.
Raka menghela napas lagi, entah sudah beberapa kali ia mengela napas. Ia harus tetap bersabar menghadapi istinya itu. Cowok itu lalu beranjak dan duduk di sebelah Ziara. Berharap mata Ziara menatapnya tapi tidak wanitanya itu malah memalingkan wajah berlawanan arah.
Sabar, sabar Raka ini ujian. Raka mendengus kesal tapi ia juga harus bersabar. Cowok itu mengelus dada mencoba menyabarkan dirinya sendiri.
“Jadi enggak mau percaya?” Raka mengusap wajah putus asa. “Jadi? Apa yang harus aku lakukan supaya kau percaya?” Darah Raka mulai naik entah sampai kapan Zia seperti itu.
“Sudah ku bilang enggak! Dan kamu sana tidur di kamar lain malam ini.” Ziara dengan cepat menjatuhkan tubuhnya di atas kasur memunggungi Raka yang duduk di sebelah lalu menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut hingga tidak terlihat lagi.
Raka menepuk dahi kacau. Inilah hal yang membuat Raka takut saat Ziara marah. Mana mungkin ia harus tidur di kamar lain. Bagaimana nasib yang di bawah sana?
Raka sudah terbiasa melakukan ritual sebalum tidur, kalau sampai ia tidur di kamar lain bagaimana bisa ia melaksanakan ritual itu (Artikan sendiri).
“Sayang ayolah ... apa kamu nggak kasihan sama aku? Lagi pula wanita itu bukan apa-apa di banding kamu, sayang.” Raka mendekap tubuh Zia dari belakang.
“Keluar ....” perintah Ziara pelan dari balik selimut.
“Tapi ... sayang.”
“Kamu yang keluar atau aku yang keluar!” Zia membuka selimutnya dan duduk dengan bada marah.
Yah, terima saja nasibmu Raka. Untuk malam ini sementara ia akan berpuasa dulu. Semoga marah Ziara tidak berlanjut lama.
Maaf, karena dikit ya ... maaf🙄
__ADS_1
JANGAN LUPA UNTUK VOTE, LIKE , LOVE DAN KOMEN YA ... BUAT BANTU AUTHOR. SUPAYA OTHOR SEMANGAT MENGHADAPI KOMEN-KOMEN PEDAS.