
“Bayi ini akan hidup. Aku akan relakan nyawaku asal dia baik-baik saja,” sergah Zia sehingga membuat mereka bertiga menoleh ke arahnya.
Raka segera meraih tubuh Zia memeluk mendekap dengan erat. Ciuman mendarat bertubi-tubi di kepala Zia. Ia tidak ingin kehilangan istrinya, tidak ingin mendengar Zia berkata seperti itu.
Kalau boleh memilih, Raka akan memilih dia yang akan kehilangan nyawanya asal istri dan anaknya dalam keadaan baik-baik saja.
“Jangan katakan seperti itu lagi, Zia. Aku mohon jangan pernah tinggalkan aku. Aku tidak akan bisa hidup tapamu, kau adalah nyawaku, belahan jiwaku. Aku tidak sanggup kalau harus kehamilanmu sayang.” Raka menangis memeluk eret, menenggelamkan wajah Zia dalam dadanya. Sementara ia terus mengecup kepala Zia berulang-ulang disertai isakan.
“Tapi bagaimana dengan anak kita!” Zia yang sebelumnya hanya meneteskan air mata sedikit sekarang berubah menjadi menangis putus asa. “Dia lebih penting, dia membutuhkan kasih sayang kalian. Sedangkan a—aku, aku akan, aku akan pergi dengan bahagia saat melihat putri kita lahir. Setidaknya aku bangga, aku pergi meninggalkan buah cinta kita.”
“Aku mohon jangan katakan apa pun lagi, Zia. Aku mohon ....” Raka tidak bisa lagi berkata-kata begitu juga dengan Zia yang di dalam dekapannya.
Mereka berdua menangis dalam pelukan. Begitu juga dengan Clarys dan Vita, mereka tidak kuasa menyaksikan Zia dan Raka seperti itu. Kalau boleh memilih lebih baik mereka tidak ada dari pada harus melihat semua ini.
Pun dengan pelayanan. Mereka yang berdiri menyaksikan keluarga Raka menangis, tidak kuasa menahan air mata. Raka di mata mereka adalah orang baik. Kenapa Tuhan menguji mereka seperti itu.
Clarys mengusap air matanya, tidak ada gunanya ia menangis. Ini tidak akan mengubah apa pun. Wanita itu beranjak dari tempat duduknya dan mendekat ke arah Zia dan Raka.
“Aku yakin, semua akan baik-baik saja, Raka—Zia,” ucapnya membelai punggung menantunya itu.
Zia melepaskan diri dari dekapan Raka lalu menoleh ke arah Clarys. “Semua akan baik-baik saja kalau aku akan memilih bayi ini untuk tetap hidup, Mah. Aku sudah cukup bahagia selama ini karena merasakan kasih sayang dari kalian. Tapi bayi ini, dia masih belum merasakan kasih sayang kalian, setidaknya dia nanti tidak akan pernah kekurangan kasih sayang, karena kalian akan terus ada untuk dia.”
__ADS_1
“Apa kamu aku tampar? Apa kau sudah bosan dengan, hah?” Raka menangkup wajah Zia menghadapkan ke arahnya.
“Tapi ini sudah menjadi keputusanku. Kita semua harus memutuskan, supaya dokter bisa segera melakukan tindakan. Sayang, kau mencintaiku, kan?” tanya Zia, mematri mata sang suami untuk menatap matanya.
“Kenapa kau menanyakan itu, sayang? Haruskah semua itu masih dipertanyakan? Tentu saja, kau adalah cintaku, penerang, teman hidup, kau adalah segalanya bagiku.”
Bibir Zia yang bergetar karena menahan tangis itu tertarik ke atas semburat senyum bahagia terukir dalam wajahnya. Ia senang mendengar jawaban dari Raka setidaknya jika ia nanti pergi meninggalkannya membawa cinta Raka ke alam sana.
“Aku menghubungi rumah sakit di Singapura. Bertanya pada mereka tentang dokter yang ahli menangani kasus seperti ini.” Vita mendekat dan duduk berlutut tangannya memegang perut Zia.
“Ponakan aunty, kamu baik-baik di dalam. Jangan nakal, aunty akan selalu menunggu kelahiranmu, sayang ... a—aunty harap kamu dan mama--kalian-” Vita tidak kuasa melanjutkan kata-katanya. Ia beranjak, mengusap air mata lalu berkata lagi, “Aku permisi mau ke kamar dulu ya.” Ia segera berlari ke kamar seraya sibuk mengusap air matanya.
BRAK!!
Tanpa Zia mereka tidak akan seperti ini. Keluarga ini akan hampa, jauh dari kata kebahagiaan yang sempurna.
Vita beranjak walau dengan tubuh yang bergetar. Perempuan itu mengambilnya ponsel di atas untuk menghubungi Rio, pria yang sebentar lagi akan menikahinya.
Vita : “R—Rio, kita harus menunda pernikahan kita.” Ia menahan tangis dari mulutnya.
Rio : “Vita, apa kau baik-baik saja, sayang? Kenapa suaramu seperti menangis?”
__ADS_1
Vita : “Kak Zia, Rio ....”
Rio : “Ada apa dengan Zia?” tanyanya dengan cemas karena Vita terdengar sedih.
Vita : “Dia, dia terkena sakit jantung, Rio. Dan dokter meminta supaya kami bisa memilih dari salah satu mereka untuk di selamatkan. Ini keputusan yang sulit Rio, ini sulit ....”
Rio : “Kamu tenangkan diri dulu ya, sayang. Berdoa, semoga semua baik-baik saja. Aku akan segera ke sana menemuimu.” Ia segera menutup sambungan telepon.
Di ruang keluarga. Clarys menatap Raka dan Zia yang berpelukan saling menguatkan. “Raka, ini sudah malam bawa ke kamar,” perintahnya.
Raka mendengarkan Clarys segara membawa Zia ke kamar. Entah malam ini akan dilalui mereka berdua seperti apa. Mereka hanya berdoa semoga ada jalan keluar untuk semua ini.
Bersambung....
PENGUMUMAN HARAP DI BACA!
NOVEL INI SUDAH ADA LANJUTANYA DI NOVEL (DIJODOHKAN LAGI) YA, KENAPA GAK LANJUT DI SINI?
GADA BEDANYA KOK, TETAP SAMA DI NOVELTON BEDA COVER AJA.
Ingat judul "Dijodohkan Lagi"
__ADS_1
kurang paham simak pengumuman di bab bawah!