
Lidya pergi ke mall, membeli pakaian untuk Gibor. "Tunggu dulu, gue kan gak tahu ukuran badan dia kenapa gue dengan pedenya datang kesini? " ucap Lidya berbisik pada dirinya.
" oih... sepertinya gue memang harus asal pilih aja deh, tapi gimana kalau gak muat atau kebesaran? ah siapa yang peduli yang penting sekarang gue liat dulu pakaian yang pas untuk badan bos tengil itu" Lidya melihat pakaian yang tergantung dan memilih tapi sangat susah untuk mencari pakaian yang pas untuk badan Gibor. Akhirnya ia bertanya kepada petugas yang ada di sana. Setelah beberapa lama, dia akhirnya menemukan satu set pakaian yang pas untuk Gibor. Ia kembali dan membuka pintu. Ia melihat Gibor yang duduk di sofa hanya dengan memakai handuk. Lidya menelan ludah melihat betapa seksinya lelaki yang ia pandang sekarang. " Sudah sampai? " tanya Gibor yang menyadarkan Lidya. " nih pakaiannya. kalau gak muat atau kebesaran, itu bukan urusan saya. Saya sudah berusaha sebaik mungkin dan sangat susah untuk mencari pakaian ukuran badanmu" Lidya menyodorkan kantongan yang ia bawa ke depan Gibor.
Gibor mengambilnya dan pergi ke kamar mandi untuk memakaikannya. "sial... untung dia cepat pergi kalau tidak gue benar-benar akan menjadi perempuan yang tidak bisa menahan diri. Badannya benar-benar bagus dan sangat seksi, itu benar-benar menggoda " gumam Lidya penuh nafsu membayangkan badan Gibor yang ia lihat. Gibor keluar dari kamar mandi dan penampilan itu membuat Lidya terkesima sampai tidak mengedipkan mata dengan mulut yang ternganga. "Sial... dia benar-benar tampan dan sangat keren memakai pakaian yang gue beli" Lidya bergumam dan terus menatap kearah Gibor.
Gibor memetik kan jarinya tepat didepan Lidya dan membuat Lidya terkejut dan tersadar. "kenapa? apa gue terlalu tampan? " tanya Gibor bangga. " iya... eh maksud saya biasa saja. bapaknya aja yang kepedean" ucap Lidya menutupi kekagumannya. Gibor tersenyum mendengar jawaban Lidya " benarkah? tapi dari yang saya lihat tadi, kamu sepertinya tidak berhenti memandang saya dan kamu tidak mengedipkan mata " ucap Gibor tersenyum mendekatkan wajahnya ke wajah Lidya. Lidya ternganga melihat senyum indah milik Gibor dan jantungnya berdetak kencang saat Gibor mendekatkan wajahnya yang hanya berjarak sepuluh centimeter itu. Gibor semakin tersenyum bahagia melihat ekspresi perempuan yang didekatnya itu "bukankah kamu bilang bahwa saya biasa saja? ada apa dengan mulut penuh nafsu ini? " Ucap Gibor menutup mulut Lidya dengan menekan dagu Lidya ke atas. Lidya menelan ludah dan jantungnya semakin berdetak dengan sangat kencang. Ia mendorong lembut Gibor karena kegugupannya. " bapak... bapak terlalu dekat" Ucap Lidya gugup. " apa kamu terlalu gugup? " goda Gibor " siapa... siapa yang gugup harusnya gue yang bertanya" ucap Lidya menutupi kegugupannya.
"Bertanya apa? "tanya Gibor bingung
" kenapa bapak bisa sangat jijik bahkan sampai mandi seperti ini hanya dipegang perempuan. Bukankah semalam gue eh saya juga memeluk bapak? kenapa bapak tidak mandi atau mengganti pakaian sama sekali? bahkan menyuruh saya untuk mencuci jas milik bapak"
" kamu yang berinisiatif untuk mencucinya" ucap Gibor menyangkal
" oke kalau begitu, tetapi kenapa bapak mau? kenapa bapak tidak bilang buang saja atau apa kek. Kenapa bapak mau saja dengan saran yang saya minta? " ucap Lidya serius menunjuk kearah Gibor.
__ADS_1
" Karena kamu harus bertanggungjawab dengan perbuatan mu. Besok bawa kembali jas ku. Harus bersih dan rapi "
" oke. oke tenang saja pak
saya akan bawa besok. " Lidya menghormat kepada Gibor dan melupakan pertanyaan sebelumnya kepada Gibor.
" Akhirnya perempuan ini diam juga. Gue juga gak tahu kali kenapa gue gak jijik sama lho. Udahlah setidaknya gue tahu, gue tidak jijik pada semua cewek jadi gue bisa cari jodoh deh" gumam Gibor.
Disisi lain, Randy tiada hentinya membersihkan tangannya. " Hanya dipegang loh yang, kenapa lama banget sih nyucinya. " Larry merasa heran melihat suaminya itu. "Sayang... aku harus mencuci tangan ini dengan sangat bersih. Tangan ini terlalu kotor karena perempuan brengsek tadi. Kalau bukan karena kamu di sana tadi, aku yakin perempuan itu tidak akan lepas dari genggamanku. " ucap Randy semakin kesal karena mengingat kejadian yang dialaminya beberapa saat lalu. " Ternyata benar yah kata orang, kamu memang sangat kejam" ucapan Larry membuat Randy terkejut. " Apa kamu takut denganku? " tanya Randy khawatir. " Tidak... tidak. Mana mungkin aku takut sama suamiku sendiri. Lagian kamu sangat baik padaku dan aku juga merasa nyaman saat bersamamu jadi tidak ada alasan yang membuatku takut denganmu. " Randy melepas nafas lega mendengar perkataan istrinya itu. Ia memeluk Larry dan mengelus kepala Larry dengan sangat lembut. " Aku lega karena kamu tidak takut denganku. Aku tidak peduli dengan orang lain, yang aku pedulikan hanya perasaan istriku tercinta" Randy memberikan kecupan manis dan lembut di kening istrinya. Larry memeluk Randy. Baginya, tidak peduli seperti apa suaminya itu. Yang ia tahu sekarang, bahwa ia sangat mencintai suaminya dan selalu ingin bersamanya. Bahkan menyesali cintanya yang sekarang ia berikan untuk Randy juga sudah terlambat.
Telpon Larry berdering, menghancurkan suasana Indah di sana. Larry mengangkat telpon dari ayahnya itu.
" ah tidak. Papa hanya ingin mengundangmu nanti malam untuk makan malam disini. Sekalian bawa suamimu juga "
" emang ada acara apa pa? "
__ADS_1
" begini, adikmu akan dilamar oleh Ardian jadi..."
" hah? Ardian? bukannya dia lelaki playboy itu? bagaimana Lidya bisa bahagia bersama dia? "
" jangan buat papa kesal yah. Papa sekarang sedang bahagia, jadi jangan merusak kebahagiaan papa. Sudahlah yang penting papa sudah memberitahu mu jadi jangan lupa untuk datang bersama suamimu. " Ayah Larry mematikan telponnya. Larry segera berlari keruangan Gibor dan menemukan Gibor dan Lidya sedang bekerja. " Ada apa kak? " tanya Lidya yang terkejut karena Larry langsung membuka pintu tanpa mengetok nya dulu.
" bukan apa apa. Hanya saja apa kamu tahu kalau kamu akan dilamar oleh Ardian? " tanya Larry ragu. "hah? dilamar? aku dilamar oleh Ardian? " tanya Lidya terkejut. Larry hanya mengangguk kepala. Tiba-tiba terdengar suara ketokan pintu, Larry membuka pintu dan melihat bawahan ayahnya. "kenapa kamu kesini? " tanya Lidya menutupi kegugupan nya.
" Maaf nona muda, tuan besar menyuruh saya untuk menjemput nona muda "
" Kenapa? apa ada masalah? "
" Maaf nona muda, untuk soal itu saya tidak dapat memberitahukan nona muda"
" Kalau begitu aku tidak akan ikut " ucap Lidya tegas.
__ADS_1
" Mohon nona muda jangan membuat saya kesusahan. Tuan besar akan sangat marah jika nona muda tidak ikut "
" Baiklah Lidya akan ikut tapi akan ditemani oleh aku. " Lidya menatap Larry. Larry menenangkan Lidya dengan gerakan mimik wajah. Lidya akhirnya ikut pergi dengan rasa cemas.