Dijodohkan

Dijodohkan
Cemburu


__ADS_3

Mendengar kata-kata Erick seketika membuat Rio terkejut, syok, dan membelalakkan mata membulat sempurna. Ide konyol macam apa yang di susun Erick? Bagai mana bisa dengan cepat ia mengajak Sita untuk jadi pacarnya. Walaupun itu pura-pura. Tapi itu membuat Rio tidak suka. Setelah ia tersedak meletakkan gelas kembali ke meja lalu berkata, “Kenapa kau mendadak jadi gila, Erick? Bagai mana bisa kau jadikan Sita sebagai pacar pura-puramu?” Lelaki itu berdecak kesal.


“Aku tidak gila ... Rio. Ini semua demi kebaikan Raka dan Zia. Raka tidak mau menerima bantuan karena dia menganggap aku akan merebut Zia darinya. Jika aku dan Sita berpura-pura pacaran maka Raka akan percaya dan ... dia akan menerima bantuanku, Rio. Sita kamu maukan membantu aku supaya menjadi pacar pura-puraku?” Erick memandang Sita penuh harap.


Sedangkan Rio mendesis kesal “Kenapa harus aku yang selalu menjadi korban? Apa salahku, sehingga nasibku selalu begini?” Rio bergumam dalam hati lalu menggaruk tengkuk yang tidak gatal.


“Kamu mau kan, Sita?” tanya Erick lagi melihat Sita yang diam.


Sita menarik napas dalam-dalam. “Aku tau ini sandiwara yang sulit, tapi ... demi Zia aku akan berusaha. Baiklah, Tuan. Aku mau jadi pacar pura-pura Anda ....” Sita berucap dengan penuh keyakinan.


“Bagus, mulai besok kita akan berpura-pura menjadi sepasang kekasih di depan Raka. Dan kau Rio jangan coba-coba memberitahukan rencana kita dengan siapa pun.” Erick berucap lalu berdiri di tengah-tengah Sita dan Rio duduk. “Baiklah, aku akan pergi sampai jumpa besok Sita,” Sita mengangguk sembari tersenyum. Lalu Erick keluar ruangan.


Rio yang melihat kepergian Erick itu pun mencibir dalam hati. Ia kesal dengan ide Erick. Eh, tetapi kenapa dia kesal? Bukankah dia bukan siapa-siapa Sita, lantas kenapa timbul perasaan tidak nyaman saat perempuan itu di dekati seorang pria.


“Kamu pasti senang ya, Sita?” tanyanya kepada wanita yang sedang menatap layar laptop di hadapnya itu.


Seketika Sita menaikkan pandangannya menetap Rio malas lalu berkata, “Enggak usah cari gara-gara ya, Rio. Aku lagi serius mengerjakan laporan keuangan, kalau salah sedikit aku bisa kena sangsi dari Raka. Jadi tetap diam, duduk manis di situ, oke!”


Rio yang mendengar itu seketika menciut. Entah kenapa saat melihat Sita memerintahnya lelaki itu seolah tunduk seperti ibu dan anak. “Tapi ... aku,” ucapnya lagi tertunduk.


“Rio aku mohon diam ....”


“Baiklah!” seru Rio lalu ia kembali membuka berkas-berkas yang menumpuk di hadapannya.


Sita yang diam-diam memperhatikan, mengulum senyum melihat tingkah Rio. Lagian apa urusannya dengan dia, Sita senang atau tidak, ini tidak ada hubungannya dengan dia.


“Sita, kamu sudah makan siang belum?” tanya Rio lagi mencoba mencari perhatian Sita lagi.

__ADS_1


“Belum,” balas Sita singkat tanpa menoleh.


“Kita makan siang yuk, Sita! Siang ini biar aku yang traktir,” Ajak Rio.


Kebetulan sekali kondisi dompet Sita sedang menipis di saat akhir bulan seperti ini. “Boleh juga tuh, kita mau makan siang di mana, Rio?”


“Terserah kamu, kamu aja yang tentukan.”


“Bagai mana kalau di restoran di seberang sana, Rio? Di sana menu makanannya enak.”


Rio berdiri dengan cepat lalu berkata, “Kalau begitu tunggu apa lagi, ayo cepat! Kalau tidak nanti jam makan siang berakhir.”


“Tiga menit, oke!” Sita menyelesaikan pekerjaannya lalu menutup laptopnya selesai.


“Oke, kita pergi.”


bersama-sama. Sita di iringi Rio di belakang menuju parkiran. Mereka memutuskan untuk menaiki satu mobil untuk mempermudah perjalanan lagi pula lokasi restoran tidak begitu jauh dari sana akan lebih cepat sampai di sana bersama-sama.


Sesampainya di restoran Sita dan Rio memesan makanan yang mereka sukai. Karena ini jam makan siang, banyak pengunjung di sana. Sehingga harus membuat mereka menunggu. Di saat mereka mengobrol secara tidak sengaja mata Sita melihat seorang wanita yang ia kenal. Ya, dia adalah teman baiknya yang sudah lama menghilang.


“Arini?” Sita Memastikan kalau matanya tidak salah mengenali wanita yang sedang sibuk membaca daftar menu di seberang sana. “Rio, bukankah itu Arini?”


Rio pun seketika menoleh menuju ke arah wanita yang ditatap Sita. Dan benar saja wanita itu adalah Arini, wanita yang pernah ia tiduri dulu.


“Iya benar itu Arini.”


Sita pun beranjak dari duduknya ingin menghampiri temanya itu, tapi sebelum ia melangkah. Arini terlihat buru-buru pergi, sepertinya dia sedang ada janji dengan seseorang. Tapi saat Arini berdiri Sita terkejut saat melihat perut temannya itu membuncit sepertinya dia sedang hamil.

__ADS_1


Hamil anak siapa?


Apakah dia sudah menikah dengan orang lain? Tapi kenapa dia tidak mengabari Sita? Begitu banyak pertanyaan dalam benak Sita butuh jawaban dari Arini.


“Rio, apa kamu lihat ... Arini sedang hamil, apa mungkin dia sudah menikah, tapi ... dengan siapa? Kenapa secepat itu, bahkan dia tidak mengabariku.” Sita mengerucutkan bibir kecewa.


“Sudahlah, Sita. Tidak usah dipikirkan, mungkin dia dan suaminya sengaja menjaga privasi mereka. Duduk lah, makanan sudah siap ayo kita makan!” titah Rio yang bersiap untuk melahap makanan yang baru datang diantar pelayan.


Sita pun duduk dan makan bersama Rio. Tapi benaknya tidak mau berhenti memikirkan Arini yang sedang mengandung, Sita merasa dirinya jahat karena telah mengabaikan temannya itu. Seharusnya ia menjadi penengah bukan harus ikut membenci Arini.


“Sita, apa boleh aku bertanya?” ucap Rio di sela-sela mengunyah.


“Apa?”


“Memangnya ... tipe sepeti apa sih, laki-laki yang kamu inginkan, Sita? Kenapa sampai saat ini kamu masih betah menjomblo.”


Sita meletakan sendoknya menarik napas lalu berkata, “Yang pasti dia setia ... melindungi, tampan, dan tidak merokok. Ya ... yang pasti tidak seperti kamu lah ....” balas Sita tertawa, membuat Rio mendengus kesal.


“Setidaknya aku keren!” ucap Rio membanggakan dirinya sendiri. “Coba kamu bandingkan, aku dan Erick, dia tidak apa-apanya dengan aku, Sita. Dan lihatlah Raka, dia juga tidak sebanding denganku.”


Sita tertawa mendengar ocehan Rio yang terlalu membanggakan ketampanannya, ia menahan tawanya lalu minum setelah meletakan gelas di atas meja ia berkata,


“Menilai seseorang bukan diukur dari ketampanan, Rio. Ketampanan bukanlah segalanya, ada banyak alasan ketika rasa cinta menghampiri seseorang. Walau seorang itu buruk rupa pun kalau sudah jatuh cinta tidak akan menjadi masalah,” ucapnya membuat Rio diam.


“Baikalah, aku tampan, aku diam,” canda Rio membuat Sita kembali tertawa.


Mereka berdua menghabiskan makan siang sembari membicarakan pekerjaan dan bercanda tentang kepercayaan diri Rio. Tidak seperti biasanya, saat ini mereka begitu akur dan Rio membuat Sita tertawa lepas sehingga melupakan pekerjaan yang menumpuk di kantor.

__ADS_1


__ADS_2