Dijodohkan

Dijodohkan
Aksi Erick


__ADS_3

Di pagi hari suasana masih di selimuti hawa sejuk. Suasana kamar utama milik Raka begitu hangat dan menenangkan. Mereka berdua begitu nyaman seolah tidak mau lepas dari pelukan satu sama lain.


Aroma tubuh maskulin dan bertelanjang dada saat tidur mendekap Ziara, membuat gadis itu semakin nyaman dalam dekapan hangat itu. Tetapi ia tidak boleh lupa juga dengan tugasnya pelan-pelan ia menggeser tubuh menjauh dari Raka. Supaya suaminya itu tidak terbangun, ia tahu kalau Raka pasti kelelahan karena kemarin cukup menguras tenaga dan juga emosi.


Ziara bangun dan mengambil ikat rambut dan mengikat rambut yang sebelumnya tergerai mengikat tinggi. Lalu ia berjalan menuju almari menyiapkan pakaian untuk ia pakai dan setelah itu ia menyiapkan pakaian sang suami lalu ia pergi mandi.


Saat keluar kamar mandi, Zia melihat ke arah ranjang yang belumnya seorang dengan hikmat menikmati tidur, tetapi sekarang tidak ada di sana. Kemana dia?


Zia berjalan menuju ke pintu balkon yang terbuka. Ternyata Raka sedang berdiri di sana membungkukan tubuhnya bersandar ke besi-besi pembatas balkon, hanya mengenakan celana pendek dengan dada telanjag terlihat menikmati pemandangan taman rumahnya.


“Sedang apa kau di situ?” Sapa Zia membuat Raka menoleh. “Kalau ada perempuan melihatmu dalam keadaan seperti itu bagai mana?” Dagunya menunjuk dada bidang di sana.


Raka menoleh dan tersenyum, ternyata sebegitu secemburuannya istrinya itu. Lagi pula di balkon yang di kelilingi tembok-tembok tinggi dan mengarah ke taman miliknya sendiri siapa yang akan melihatnya.


“Yah ... paling pelayan yang melihatku,” ucap Raka di iringi dengan senyum manis dari bibirnya.


“Walau pun itu pelayan mereka juga normal. Lagi pula mereka juga masih muda, bahkan ada yang lebih muda dariku.”


“Memang kau muda?” tanya Raka lalu menyeringai. “Bahkan tubuhmu saja sudah tidak perawan lagi.” Memalingkan wajah tanpa merasa berdosa. Sepertinya Raka se pagi ini mau memancing perdebatan. Dia tidak tahu jika wanita kalau sedang PMS akan lebih memiliki emosi yang meningkat lebih besar dari pada biasanya.


“Jadi kau bilang aku sudah tua?” Zia mengonfirmasi pertanyaannya. Cowok itu menjawab dengan menaikan sebelah alis dan menyunggingkan bibir. Jawaban seperti itu membuat Zia semakin geram.


“Kira-kira kapan datang bulan itu akan pergi? Apa itu akan bertahan lama?”


pertanyaan itu membuat Zia tersenyum memikirkan sesuatu. Akan mengerjai suami yang membuat ia geram tadi.

__ADS_1


“Cukup lama .... mungkin sebulan.” Terkikih memalingkan wajah. “Lagi pula perempuan tua sepertiku bisa apa, harus bersabar ya tidak lama hanya sebulan.”


“Sebulan?” Raka mengusap wajah kasar. Bagai mana bisa bersabar sampai dalam waktu sebulan. “Apa enggak bisa di majukan? Pasti ada jalan lain kan?”


Zia menggeleng miris. “Enggak ada, sayang.” dengan wajah pura-pura prihatin tapi hatinya tertawa. “Maaf ya ....”


Raka mengehela napas lalu pergi melewati Ziara dengan berwajah masam. Ia akan pergi mandi menenangkan diri di bawah shower yang mengalir deras akan membuat otot-otot saraf rileks.


Satelah Zia bersiap-siap mengenakan pakaian biasa tapi terlihat pas di tubuhnya Dan Raka juga sudah siap mereka berjalan ke luar kamar sarapan yang sudah disiapkan para pelayan.


Setelah sarapan mereka berangkat menuju toko Zia. Seperti biasanya Raka mengantar wanitanya itu sampai ke depan toko tanpa ikut turun. Saat Ziara akan turun Raka menarik tangan dan berkata,


“Zia, kau bisa kan mencari tempat tinggal untuk perempuan itu. Aku akan menyuruh Sita membantumu. Pastikan dia jauh dari hidup kita, bahkan melihat kita saja tidak bisa.” Raka mengertakan gigi mengingat kebohongan Mama Claris.


“Apa kau yakin, tuan Raka?” tanya Zia sesuai Raka memerintahnya jadi ia memanggil sebutan itu. “Apa kau tidak mau memberi kesempatan lagi ... buat Mama?”


Raka tidak menjawab dan wajahnya menjadi dingin tidak bersuara. Cowok itu terlihat memikirkan susuatu. “Enggak ada lagi kesempatan buat pembohong itu. Semakin kita memberinya kesempatan, maka dia akan semakin mengulangi perbuatan dia lagi.”


“Tapi ... aku melihat mata Mama lain seperti biasanya. Sepertinya Mama mau mengatakan sesuatu tapi entah apa. Bolehkah aku menemuinya?” Rasa penasaran Zia begitu kuat ingin tahu yang sebenarnya. Semoga Raka mengizinkannya.


“Aku memberimu tugas untuk mencari rumah. Bukan menemuinya, jangan coba-coba mendekati atau menemui wanita itu, atau kau akan tau akibatnya,” ucap Raka dengan nada mengancam.


“Tapi sayang.” Ziara mencoba membantah. Walau bagai mana pun ia tidak tega jika membiarkan ibu mertuanya itu hidup sendiri.


“Enggak usah pakai tapi-tapian. Nurut atau kau akan terima akibatnya, cukup mencarikan rumah tidak lebih.” Raka diam menghidupkan mesin mobil yang tadi sebelumnya dimatikan. Zia diam menuruti ucapan suaminya. Lalu ke luar dari mobil untuk masuk toko.

__ADS_1


Raka melajukan mobil meniggalkan halaman toko kue Zia, dan saat mobil Raka baru saja keluar dari parkiran. Mobil yang tidak kalah mewahnya berwarna hitam memasuki parkiran toko Zia.


Erick datang untuk membeli kue, bukan membeli kue tepatnya untuk menemui Zia. Ia ingin mengetahui kehidupan gadis itu lebih dekat. Dari semenjak semalam ia menahan diri untuk ingin bertemu, tapi sayang toko Zia tutup saat dia akan mengunjunginnya. Dengan langkah yang elegant mengenakan jas dan seluruh benda yang ia kenakan mendukung betapa tampan dan kayanya orang tersebut.


“Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” ucap karyawan yang melihat Erick menoleh ke kanan dan ke kiri saat memasuki toko. Tubuhnya menghadap ke arah karyawan tetapi matanya seperti mencari sesuatu. Apa lagi kalau bukan mencari gadis yang berhasil mengaduk-ngaduk hatinya Nona Ziara Zavanya istri dari sahabatnya sendiri.


“Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” tanya karyawan sekali lagi.


“Oh, maaf, aku sedang mencari kue ....” Erick pura-pura memikirkan akan memilih kue yang ia pesan. Tiba-tiba matanya berbinar saat melihat apa yang ia cari sejak dari tadi akirnya keluar. “Ah, ia aku sudah tahu kue yang akan aku pesan. Apa boleh aku langsung memesan kepada pemilik toko langsung?”


Karyawan yang mendengar permintaan Erick itu pun merasa heran, kenapa harus menemui pemilik toko sedangkan begitu banyak karyawan yang berjaga. “Kenapa harus Nona, kami ada di sini siap melayani anda ....”


“Tolong please ....” Wajah Erick memelas membuat karyawan tersebut kasihan.


“Baiklah saya akan memanggil Nona, anda tunggu di sini.” Karyawan tersebut berjalan menuju di mana Zia sedang memeriksa laporan-laporan kemasukan toko.


“Nona, ada pelanggan yang ingin bertemu dengan anda ....” ucap karyawan tersebut.


“Siapa? kenapa harus aku? kalian enggak bisa melayaninya?”


“Maaf, Nona ... kami sudah menwarkan tapi dia tidak mau, tuan itu ingin memesan langsung kepada Nona,” ucap karyawan tersebut merasa tidak enak.


“Baiklah, aku akan menemuinya.” Ziara meletakan buku catatan di atas meja lalu berjalan menemui Erick.


TERUS BERIKAN CINTA KALIAN UNTUK

__ADS_1


VOTE, LIKE , LOVE DAN KOMEN YA ... BUAT BANTU AUTHOR.


__ADS_2