Dijodohkan

Dijodohkan
Keinginan


__ADS_3

Setelah mendapat telepon dari sang istri, Raka segera pulang. Sebelumnya menyuruh Rio untuk menjaga Vita di rumah sakit. Ia segera bergegas pulang ke rumah karena ingin segera menemui sang istri. Saat sampai, rumah tampak sepi karena waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Pasti Zia sudah tidur, batinnya berjalan menaiki tangga menuju kamar.


Saat membuka pintu kamar, dia disambut Zia yang berdiri tepat di depannya. Istrinya itu tampak sudah sangat merindukannya karena seharian ini tidak bersama. Dan mata Raka seketika memandang takjub sungguh ia beruntung dianugerahi seorang istri yang cantik, senyum Zia saat menyambutnya mampu menembus dadanya menjadi berdebar menimbulkan gejolak asmara yang ingin tersalurkan.


Aura kehamilan yang dialami Zia saat ini memang berbeda, jika sebelumnya Zia cantik, kali ini dia tampak lebih cantik dari sebelum hamil. Ditambah lagi perempuan itu mengenakan lingerlie, dengan rambut tergerai, aroma rambut itu mampu menembus indra penciuman Raka bagai bunga yang mekar di taman. Harum, batinya.


Berbeda dengan dirinya yang seharian ini belum mandi. Karena ia sibuk mengurus Vita di rumah sakit. Mungkin dengan mandi terlebih dahulu akan mengurangi bau di tubuhnya Raka memutuskan untuk mandi.


Tetapi, belum juga dia melangkah Zia terlebih dulu menghampiri, melingkarkan kedua tangan di pinggangnya, menempelkan wajah ke dada menciumi aroma tubuh Raka.


“Kenapa lama sekali? Aku sudah dari tadi menunggu, apa kau tidak kasihan sama anak kita, dia sudah tidak sabar pengen ketemu papanya.” Zia terus saja sibuk menciumi aroma tubuh Raka yang seharian belum mandi itu.


“Iya maaf, maaf sayang ... ada beberapa urusan yang harus diselesaikan tadi. Tapi ... yang rindu siapa ini? Zia atau bebby di dalam sana?”


“Dua-duanya.”


Raka melepas lingkaran tangan Zia lalu berangsur berlutut di lantai wajahnya menghadap ke perut Zia yang masih rata itu. Mengusap lembut dan berkata, “Hay ... sayangnya papa, apa kabar kamu hari ini? Kamu tidak membuat mama kesayangan kita repot kan?”


Zia yang memegangi pundak Raka itu tersenyum memandang suaminya sedang berbicara dengan perutnya itu. Momen yang tidak ingin berakhir begitu saja.

__ADS_1


Raka mendongak ke atas melihat Zia yang tersenyum. “Apa kamu sudah makan, sayang?” Lalu bangkit berdiri menatap wajah istrinya.


Zia mengangguk. Seharian ini memang bik Srie memasakkan makanan yang menggugah seleranya. Selain enak makanan itu mengingatkan makanan yang dibuat sang ibu sewaktu kecil.


“Baiklah kalau begitu, aku mau mandi dulu, badanku terasa lengket banget,” ucap Raka melangkah hendak ke kamar mandi.


Namun, Zia menarik tangan suaminya membawa pada pelukannya, rasa rindu sudah lebih besar dari apa pun. “Tapi aku tidak mau kamu mandi, aku suka dengan aromamu begini ....” perempuan itu kembali menciumi aroma tubuh Raka.


Raka menghela napas, apa setiap wanita hamil seperti ini? Tingkah istrinya itu menjadi aneh belakangan ini. Zia mempunyai kebiasaan mencium aroma tubuhnya saat sepulang dari kantor atau dari mana pun seperti saat ini. Bahkan Zia melarangnya mandi saat sepulang dari kantor, hanya karena ingin mencium aroma tubuh yang dipenuhi keringat. “Tapi ... aku harus mandi dulu, Zia. Lagi pula aku dari rumah sakit, banyak kuman. Apa kau mau terkontaminasi kuman?” ucapnya.


“Ya sudah, mandi sana ... jangan lama-lama,” ucap Zia lalu ia pergi ke ranjang menunggu Raka selesai mandi. Sambil menunggu ia memainkan ponselnya membalas chat dari Sita membuka topik mengenai Arini yang sudah lama tidak terlihat batang hidungnya oleh Zia.


Setelah mengenakan pakaian Raka mendekati Zia duduk di samping istrinya itu, sambil melihat pesan yang masuk dari ponsel pintarnya.


Tidak ingin merasa diabaikan, Zia berpindah dari bantal ke paha Raka, untuk menumpukan kepalanya. Ia mencoba mengganggu dengan menusuk-nusukkan jari ke perut sang suami. Tapi, perut yang mempunyai bentuk kotak-kotak itu tidak bergerak sedikit pun. “Sayang,” panggilnya.


“Hemm ....” Raka menjawab tetapi tidak melihat ke arah Zia. Ia masih tampak serius menatap layar ponsel pintarnya.


“Kalau aku boleh tanya, kamu terganggu tidak sih, dengan perubahan semenjak aku hamil ini? Aku kadang merasa ini berlebihan, tapi... aku ingin selalu ada di dekatmu, entah kenapa sebelum mencium tubuhmu aku tidak bisa tidur,” ucap Zia masih menusuk-nusuk dengan jari telunjuknya.

__ADS_1


Raka yang mendengar itu seketika beralih menatap Zia, lalu meletakkan ponselnya ke atas nakas. Ia membelai rambut sang istri yang berada di pangkuannya itu lalu berkata, “Kenapa bicara begitu, bukankah dokter sudah mengatakan kalau pembawaan ibu hamil itu berbeda-beda. Bahkan ada salah satu karyawanku yang mengatakan kalau dulu pas istrinya sedang hamil, tidak mau dekat dengan suaminya sama sekali. Aku beruntung karena kamu tidak seperti itu, dan beruntungnya lagi sekarang kau yang lebih sering meminta dahulu sebelum aku.” Raka mencubit gemas hidung istrinya.


Hingga membuat Zia mengerucutkan bibir. “Baiklah, sekarang aku tidak akan meminta, aku malu kalau kau mengejekku.” Memandang malas ke arah Raka. Hingga ia teringat dengan kata-kata Raka sewaktu melalui telepon. Bukankah suaminya itu akan memberi kejutan?


“Oh, ia! Bukannya tadi saat menelepon kau ingin mengatakan sesuatu kejutan padaku? Kalau aku boleh tau apakah itu?” tanya Zia penasaran.


Hampir saja Raka melupakan kabar bahagia yang ia bawa mengenai Vita. Untung saja Zia segera mengingatkan jadi bisa segera menceritakannya langsung pada istrinya itu. “Aku mempunyai kabar yang sangat mengejutkan buat kamu mengenai Vita.”


Vita? Zia Menaikkan sebelah alisnya lalu ia mengubah posisi menjadi duduk menghadap Raka dengan penuh penasaran. “Kenapa dengan Vita?” tanyanya.


“Aku yakin kamu akan terkejut mendengar ini, aku hampir tidak percaya. Kalau Vita adalah adikku,” ucap Raka membuat Zia tercengang.


Sungguh sulit untuk mempercayai ini, Zia menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan karena terkejut. Vita? Adik suaminya? Ia harus meminta Raka supaya menjelaskan sejelas-jelasnya. Bagai mana hal sebesar ini baru terungkap.


Raka menceritakan semua tentang Vita seperti yang ia dengar dari adiknya sebelumnya. Kabar ini membuat Zia sangat senang, ia selalu menginginkan seorang adik atau kakak, statusnya sebagai anak tunggal membuatnya merasa kesepian. Dan saat sudah menikah, ia juga harus mendapatkan suami yang terlahir sebagai anak tunggal. Saat mengetahui Vita adalah adik Raka tentu saja hal menggembirakan untuk Zia.


Akhirnya bayangan berbelanja dengan seorang adik akan terwujud. Karena itu menjadi keinginan Zia yang terpendam selama ini, karena tidak memiliki saudara perempuan.


Semua kejadian mengenai Vita sudah diceritakan kepada Zia, sehingga tidak ada lagi kisah yang terlewat. Setelah selesai menceritakan Vita. Raka memenuhi keinginan Zia yang dari siang istrinya itu inginkan hingga mereka berdua melepas kesyahduan di malam yang dingin, suara germicik air hujan menambah berkobarnya gelora asmara mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2