Dikira Janda Sama Si Duda

Dikira Janda Sama Si Duda
Basuki


__ADS_3

"Mas ini kopinya," ucap Laila.


Secangkir kopi yang masih mengepul disimpan di atas meja. Laila sendiri duduk di kursi yang berhadapan dengan Bagus. Keduanya saling menatap. Namun tak lama Bagus mengalihkan pandangannya. Entah kesal atau justru takut ketahuan tentang kebohongannya. Atau malah takut dua-duanya. Yang pasti Bagus berusaha menghindari kontak mata dengan istrinya.


"Mas kenapa?" tanya Laila.


"Tidak," jawab Bagus.


Untuk mengalihkan sikapnya yang mulai dicurigai, Bagus segera meraih kopi dan meniupnya berkali-kali. Tak lama seteguk kopi sudah mengalir membasahi kerongkongannya.


Laila membiarkan Bagus merangkai cerita dalam hatinya. Namun sayangnya tidak ada satupun kata yang keluar dari Bagus. Pengakuan itu tak kunjung Laila terima. Sampai akhirnya Laila memutuskan untuk memulai pembicaraan.


"Mas, tahu gak kemarin ada tetangga yang mendadak meninggal? Meninggalnya aneh," ucap Laila.


"Hah?" tanya Bagus sambil menggeleng.


"Dia meninggal dengan mata melotot. Mulutnya kebuka, susah nutup. Tahu gak kenapa?" tanya Laila.


"Gak. Memangnya kenapa?" Bagus balik bertanya.


"Dia itu tukang bohong sama istrinya," jawab Laila dengan nada menakut-nakuti.


"Astaga. Jangan begitu ah. Ngeri," ucap Bagus sambil mengusap dadanya.


"Yang meninggal dimana itu, Ma? Bukannya tetangga kita yang meninggal itu perempuan ya? Apa jangan-jangan cerita Mama kebalik kali? Si ibu yang suka bohong sama suaminya kali, Pah." Hasna dengan wajah polosnya merespon cerita Laila.


Bagus menahan tawanya. Ia melihat jelas wajah Laila yang terlihat begitu kesal padanya. Karena takut Hasna akan jadi sasaran kemarahan istrinya, Bagus meminta Hasna pergi bermain.


"Tuh makanya jangan bohong. Kalau bohong, jangankan meninggal. Lagi sehat aja langsung ketahuan," ucap Bagus sambil tersenyum puas.


"Ah iya bener banget Mas. Makanya jangan bohong. Itu bakso sama batagornya beli dimana? Bukan dari langganan aku, kan?" ucap Laila kesal.


Senyum Bagus mendadak hilang. Ia lupa bahwa dirinya juga mempunyai kebohongan pada Laila. Dengan cepat Bagus meminta maaf dan memberikan alasan kebohongannya. Semua Bagus lakukan untuk kesehatan Laila dan buah hatinya.


"Bukan berarti jajanan pinggir jalan gak sehat, La. Tapi kalau ada yang lebih baik kan gak ada salahnya juga. Maaf ya," ucap Bagus.


"Iya Mas. Aku juga minta maaf soal Pak Kumis," ucap Laila.


Baru mendengar nama pak kumis, Bagus sudah membuang napas kasar. Kesal dengan nama itu membuat Laila tertawa. Tak ingin salah pahamnya semakin panjang dan melebar, Laila segera menjelaskan soal kebohongannya.


"Mas sendiri yang ngajarin aku harus jujur. Apapun itu, jujur dan terbuka nomor satu. Jangan ajarin aku buat bohong ya Mas," ucap Laila.

__ADS_1


Bagus segera memeluk Laila. Ya, Bagus mengakui kesalahannya. Ia hanya takut Laila tidak mau dengan makanan yang dibawanya. Padahal ternyata ketakutan Bagus itu salah. Laila sangat mengerti saat Bagus memberikan penjelasan kekhawatirannya.


"Sayang, maafin aku ya!" ucap Bagus.


"Bu, ada tamu." Bi Sumi membuat Bagus dan Laila menatap bingung.


"Siapa?" tanya Bagus dan Laila bersamaan.


"Katanya urusan toko," jawab Bi Sumi.


"Oh iya suruh masuk aja Bi," jawab Laila.


Saat Bagus mengikuti Laila untuk menemui tamu itu, tiba-tiba ponselnya berdering. Nomor dari orang kantor yang membuatnya tidak bisa menunda panggilan itu. Bagus izin pada Laila untuk menjawab panggilan telepon itu di kamar.


"Oh iya sayang. Nanti ke ruang tamu aja ya kalau udah beres neleponnya!" ucap Laila.


"Siap," jawab Bagus.


Karena Bagus tidak bisa menemaninya, Laila pergi sendiri menemui tamu itu. Saat melihat tamunya, Laila sama sekali tidak mengenal tamu itu.


"Saya Basuki Bu," ucap tamu itu sambil mengulurkan tangannya.


"Oh iya Pak, saya Laila." Laila membalas uluran tangan tamu itu.


"Oh boleh silahkan Pak," jawab Laila ramah.


Tamu itu menjelaskan tujuannya datang menemui Laila. Tidak sengaja laki-laki bernama Basuki itu belanja kue buatannya saat acara syukuran rumahnya. Kue buatan Laila di suguhkan di acara itu dan semua menyukainya. Yang hadir di acara syukuran itu bukan hanya warga sekitar. Banyak teman dn rekan kerjanya dari luar kota Surabaya yang ikut mengantar dan menghadiri acara syukuran tersebut.


"Kalau saya pesan dalam jumlah banyak setiap minggunya bisa?" tanya Basuki mengakhiri penjelasannya yang panjang lebar.


"Maksudnya untuk jualan lagi atau konsumsi pribadi aja Pak?" tanya Laila.


"Memangnya kenapa Bu?" Basuki balik bertanya.


"Maksud saya kalau untuk jualan lagi, artinya saya harus memberi harga yang sesuai. Saya belum tahu berapa kesepakatannya," ucap Laila.


"Oh gak masalah Bu. Soal harga tidak masalah buat saya. Harga normal aja gak apa-apa. Saya butuh mengirim kue kesukaan mereka setiap minggunya. Tapi nanti saya pilih jenis kuenya ya. Bisa disiapkan kalau lagi kosong di toko?" tanya Basuki.


"Oh siap Pak. Bapak pesan aja seminggu sebelum. Akan saya siapkan semua pesanannya," jawab Laila senang.


"Siap Bu. Terima kasih sebelumnya. Kalau begitu saya pamit," ucap Basuki.

__ADS_1


"Oh iya Pak silahkan. Terima kasih juga sudah percaya pada toko saya," ucap Laila.


"Mana tamunya?" tanya Bagus.


Tepat setelah mobil itu berlalu Bagus menemui Laila yang masih berdiri di depan teras rumahnya.


"Baru aja pulang. Tuh," jawab Laila sambil menunjuk mobil hitam yang nyaris sudah tak terlihat.


"Mau ngapain dia ke sini?" tanya Bagus.


Dengan senyum lebar dan aajah ceria, Laila menjelaskan maksud kedatangan tamu itu. Berbeda dengan Laila, Bagus justru menatap Laila bengong.


"Kok Mas gak seneng sih? Ini tuh pencapaian buat aku," ucap Laila.


"Seneng, aku seneng. Aku akan selalu seneng saat usaha kue itu maju. Tapi apa kamu udah tanya sebanyak apa yang mau dia pesen?" tanya Bagus.


"Gak," jawab Laila menggeleng.


"La, kamu ini lagi hamil. Pikirin kondisi bayinya juga dong," ucap Bagus sambil mengusap perut Laila yang masih rata.


Laila tidak tahu jika Basuki adalah pembeli borongan yang sempat membuat toko hampir kosong saat itu. Melihat Laila bengong, Bagus segera mengajak Laila masuk.


"Minum dulu," ucap Bagus.


Bagus mengingatkan Laila agar lebih berhati-hati dalam bekerja sama. Toko kue yang mereka rintis memang belum begitu besar. Namun semuanya harus belajar cara berbisnis. Bagus tidak mau Laila lalai dan gegabah dalam mengambil tindakan.


"Mas jadi aku harus gimana? Apa aku batalin aja?" tanya Laila cemas.


"Ya gak bisa gitu dong, La. Mereka itu konsumen. Kepuasan mereka nomor satu buat toko kita," jawab Bagus.


"Terus gimana?" tanya Laila bingung.


Bagus menenangkan Laila. Basuki akan menghubunginya untuk jumlah dan jenis pemesanan. Waktu yang dijanjikan Laila adalah seminggu dari proses pemesanan. Laila bisa mengukur berapa banyak orang yang dibutuhkan untuk membantunya di toko. Karena setelab tahu Laila hamil, Bagus tidak ingin terlalu fokus pada penjualan.


Saat ini, fokus Bagus adalah kesehatan Laila dan anak yang ada dalam kandungannya. Bagus harus memastikan jika toko bisa tetap berjalan meskipun ia sangat membatasi pekerjaan Laila.


Bagi Bagus, lebih baik mendapat sedikit laba dari pada melihat Laila lelah. Semua tentu akan berpengaruh pada buah hatinya. Bagus menunggu kabar lanjutan dari Laila. Kalau memang dibutuhkan chef baru, Bagus tentu akan mengirimkan secepatnya.


"Terima kasih ya, Mas." Laila memeluk Bagus dengan erat.


Laila memang selalu berambisi dengan toko kue itu. Cita-cita yang sempat patah namun kini terwujud berkat Bagus. Ia bahkan tidak tahu bagaimana cara berbisnis. Karena yang Laila kuasai hanya membuat kue dengan kualitas yang tidak perlu diragukan lagi.

__ADS_1


Adanya campur tangan Bagus adalah hal yang sangat diperlukan untuk Laila. Apalagi saat Laila sedang hamil. Kadang, Laila selalu berpikir jika ia adalah wanita mandiri dan kuat. Bagus selalu mengingatkan Laila jika kini ada kehidupan yang bergantung padanya.


__ADS_2