Dikira Janda Sama Si Duda

Dikira Janda Sama Si Duda
Duda?


__ADS_3

"Chef, jam berapa ini?" tanya Laila pelan.


"Masih jam tiga," jawab chef.


"Mau sampai jam berapa ini?" tanya Laila.


"Sampai beres," jawab chef itu.


"Ah, kalau menunya nambah terus mana ada beresnya. Masa iya sampai malam sih?" gerutu Laila.


"Mana saya tahu. Tanya aja sana sama Pak Jacob," ucap chef.


Laila tidak menjawab. Ia hanya cemberut saat belum tahu akan pulang jam berapa. Karena tidak ingin membuat Hasna dan Kayla khawatir, Laila meminta izin untuk keluar.


"Janji sebentar ya!" ucap Chef.


"Iya. Saya gak mungkin kabur. Masih butuh duit," ucap Laila sebelum berlalu pergi.


Laki-laki itu hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum saat mendengar jawaban Laila. Apalagi saat bayangan kepolosan Laila terbersit di kepalanya.


"Dia mau kemana sih?" gumam chef.


Tanpa diketahui chef, Laila pergi menemui Rena. Ia titip pesan untuk Kayla dan Hasna. Berharap mereka tidak kecewa jika seandainya pulang lebih malam.


"Dari mana?" tanya chef.


"Kepo deh, Chef." Laila mengejek Chef.


Laki-laki itu kembali menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah Laila. Bekerja dengan Laila membuat hari-harinya menyenangkan. Begitupun dengan Laila. Selain karena chef baik, Laila juga senang dengan pekerjaannya. Setidaknya hoby memasaknya tersalurkan. Walaupun sebenarnya, Laila lebih suka membuat kue jika dibandingkan dengan memasak menu makanan seperti itu.


"Akhirnya selesai," ucap Laila sambil menggeliat.


Laila membuka bola matanya lebar-lebar. Ternyata ini sudah jam tujuh malam. Laila segera pamit untuk pulang setelah pekerjaannya selesai. Ia juga meminta maaf tidak bisa mengantarkan makanan itu ke ruangan Pak Jacob.


Laila yang pulang berjalan kaki ternyata berhasil di susul oleh chef. Namun saat chef akan memanggil Laila, ia sudah melihat Laila masuk ke dalam sebuah rumah. Laki-laki yang mengikuti Liala itu melihat dua anak kecil yang memburu Laila sebelum masuk ke dalam rumah.


"Jadi dia udah berkeluarga? Aku pikir masih single," gumam chef.


Kembali chef melajukan motornya. Melaju meninggalkan rumah Laila dengan membawa rasa kecewa dalam hatinya. Berat rasanya menerima kenyataan jika Laila ternyata sudah memiliki dua anak.


Laki-laki yang tengah patah hati itu menghabiskan malam penuh dengan kegelisahan. Wajah dan tingkah Laila yang polos berhasil mengisi kepalanya semalaman penuh. Alhasil, ia bangun jauh lebih siang. Mengabaikan bunyi alarm yang sudah disetting sebelumnya.


Apa yang terjadi pada Chef, berpengaruh besar pada Laila. Ia yang ternyata bertanggung jawab penuh untuk sarapan Pak Jacob pagi ini. Dengan maksimal, Laila bekerja mengerahkan semua kemampuannya.


"Laila, dipanggil Pak Jacob!" ucap ajudan Pak Jacob.


Chef yang baru datang menatap cemas Laila yang terlihat pucat. Ia meminta maaf dan menenangkan Laila sebelum akhirnya Laila pergi dengan ajudan Pak Jacob.

__ADS_1


"Pak, ini saya gak diapa-apain kan?" tanya Laila.


Ajudan itu hanya menjawab singkat dan begitu dingin. Laila semakin cemas. Ia menggerutu sepanjang perjalanan untuk bertemu dengan Pak Jacob. Kalau sampai ada apa-apa, Laila janji akan meminta chef untuk bertanggung jawab. Karena menurut Laila, semua terjadi karena chef. Kalau saja chef tidak kesiangan, Laila tidak mungkin dipanggil Pak Jacob.


"Masuk!" perintah Pak Jacob.


Laila berdiri beberapa saat sebelum melangkahkan kakinya untuk masuk ke ruangan Pak Jacob. Dalam hatinya Laila berdoa agar tidak terjadi sesuatu yang buruk padanya. Masa depan Hasna dan Kayla tergantung pada nasibnya hari ini.


"Ini buatanmu?" tanya Pak Jacob sambil menunjuk piring kosong di atas mejanya.


Piring itu bekas sarapan Pak Jacob pagi ini. Ya, sarapan dengan menu biasa namun dibuat oleh tangan yang berbeda. Ada bahan yang tidak digunakan chef, namun Laila gunakan pagi ini. Dan ternyata rasanya sangat disukai Pak Jacob.


"Kenapa masakan kamu berbeda?" tanya Pak Jacob.


"Itu hanya sebuah kreasi saya aja Pak. Karena sebelumnya saya tidak tahu menu sarapan Bapak yang biasa dibuat Chef," jawab Laila.


Pak Jacob bertanya banyam hal pada Laila. Termasuk tentang pengalamannya di dunia masak. Laila mengakui jika pengalamannya sangat minim. Ia juga mengakui jika lebih suka membuat kue dibanding menu masakan seperti ini.


"Kue?" tanya Pak Jacob.


"Iya. Dulu saya pernah punya toko kue loh Pak di Jakarta," jawab Laila.


"Benarkah?" tanya Pak Jacob ragu.


"Iya Pak. Nama tokonya Herla bakery. Tapi sekarang udah bangkrut sih," jawab Laila.


Pak Jacob menatap Laila lekat. Dan benar! Pak Jacob ingat jika Laila adalah pembuat kue di pernikahan Bagus. Ternyata masih ada hubungan kekerabatan antara Bagus dengan Pak Jacob. Mereka masih ada hubungan saudara meskipun tidak terlalu dekat. Yang pasti Pak Jacob menghadiri pernikahan Bagus saat itu. Artinya Pak Jacob juga tahu jika Laila adalah pembuat kue kering dan pengantin pada pesta pernikahan Bagus saat itu.


"Bapak tahu toko itu kan? Di Jakarta sempat booming meskipun gak lama Pak," ucap Laila.


"Ya, saya tahu. Sekarang kamu kembali. Nanti saya panggil lagi kalau ada perlu," ucap Pak Jacob.


"Baik, Pak. Permisi," ucap Laila.


Pak Jacob segera menelepon Bagus setelah Laila keluar dari ruangannya. Hanya beberapa jam saja Bagus sudah sampai ke ruangan PK Jacob.


"Ada apa memanggilku ke sini?" tanya Bagus saat masuk ke ruangan Pak Jacob.


"Kamu harus tahu sesuatu," jawab Pak Jacob.


"Sesuatu?" tanya Bagus sambil mengernyitkan dahinya.


"Iya. Sesuatu yang sangat penting," jawab Oak Jacob.


"Apa?" tanya Bagus.


Pak Jacob pun menjelaskan tentang keberadaan Laila di sana. Bagus menghela napas dalam dan panjang saat mendengar nama Laila.

__ADS_1


"Aku mau ketemu sama dia," pinta Bagus.


"Tentu," jawab Pak Jacob.


Pak Jacob meminta ajudannya untuk membawa Laila ke ruangannya lagi. Tidak lama Laila datang dan menunduk hormat saat masuk.


"Apa kabar, Laila?" tanya Bagus.


"Baik, Pak." Laila menjawab dengan rasa cemas.


"Sudah lama kita gak ketemu. Tahunya bisa ketemu kamu di sini. Kenapa bisa pindah ke sini?" tanya Bagus.


Laila mengangkat wajahnya. Menatap lawan bicaranya dengan tatapan bingung. Dari pertanyaannya, Laila yakin jika laki-laki di hadapannya itu mengenalnya. Tapi siapa? Laila sama sekali tidak mengenali Bagus.


"Bapak kenal sama saya?" tanya Laila.


"Astaga. Pertanyaan macam apa itu?" Bagus menggebrak meja.


Laila menelam salivanya dengan susah payah. Takut rasanya saat melihat Bagus bersikap seperti itu.


"Tapi ma-maaf Pak. Saya lupa Bapak ini siapa. Kita pernah kenal sebelumnya?" tanya Laila gugup.


"Astaga Laila. Kamu ini belum tua tapi memorymu buruk sekali. Aku Bagus. Laki-laki yang sudah tertipu sama bualanmu. Kalau saja dulu aku gak dengerin ucapan kamu tentang Winari, mungkin aku tak akan menjadi duda seperti ini. Huhhh," ucap Bagus membuang napas kasar.


"Pak Bagus? Ini Bapak? Kok sekarang gendut? Jenggotan lagi. Dulu Bapak ganteng kok sekarang begini?" tanya Laila polos.


"Jadi menurutmu sekarang aku jelek?" tanya Bagus dengan penuh penekanan.


"Ah, mana ada saya bilang begitu? Cuma menurut saya dulu bapak jauh lebih ganteng," jawab Laila.


Pikiran Laila sudah melayang jauh pada Bagus yang mengatakan jika sekarang sudah berstatus duda. Ya, hal ini sudah Laila takutkan sejak Laila menemukan laki-laki lain bersama Winari sehari sebelum pernikahannya. Namun ia tidak menyangka jika akan secepat ini.


Awalnya Laila pikir Winari bisa mengelabui Bagus lebih lama. Namun nyatanya Tuhan tidak membiarkan kebohongan itu tertutup rapat lebih lama. Status duda yang disandang oleh Bagus menjadi rasa bersalah Laila yang begitu besar.


Seperti yang dituduhkan Bagus, Laila memang orang yang membuat pernikahan itu terjadi. Namun ia juga tidak diterima jika disalahkan sepenuhnya. Karena sebagai seorang kekasih, seharusnya Bagus lebih tahu keadaan Winari yang sebenarnya.


"Kenapa kamu bisa membela wanita itu?" tanya Bagus sambil mengepalkan tangannya.


Ingin rasanya Laila meminta maaf dan mengakui kesalahannya. Namun semua hanya akan memperburuk keadaan. Ia takut ini akan berdampak pada statusnya yang baru tiga minggu jadi karyawan di pabrik itu.


"Maaf Pak. Tapi yang saya tahu, Kak Winari itu baik. Apa yang saya bilang ke Bapak saat itu, ya memang itu kenyataan yang saya tahu." Laila terpaksa berbohong.


Bagus memaklumi sikap Laila. Karena Winari memang pandai bermain peran. Ah, sudahlah. Bagus tidak mau mengingat kembali semua masa lalu yang berhubungan dengan mantan istrinya itu. Kini Bagus berpikir tentang rencananya untuk membuat pabrik kue terbesar di Surabaya.


"Pulang kerja, temui aku di sini." Bagus memutuskan untuk meminta Laila pergi.


Laila yang peka dengan kalimat itu, segera pamit dan kembali kembali menemui chef. Namun ia bungkam. Bahkan saat chef bertanya alasannya dipanggil ke ruangan Pak Jacob, Laila hanya bisa berbohong.

__ADS_1


Duda? Salah aku kali ya udah ikut campur sama pernikahan mereka waktu itu. Nyesel banget kalau inget kejadian itu. Kalau aja waktu bisa diputar lagi, aku lebih milih buat gak ikut campur. Lebih baik kalau mereka gak nikah. Paling gak, Pak Bagus gak jadi duda secepat ini.


__ADS_2