Dikira Janda Sama Si Duda

Dikira Janda Sama Si Duda
Gagal


__ADS_3

Winari tidak mau menunggu terlalu lama. Dengan cepat ia dan suaminya segera pergi ke Surabaya. Semua strategi sudah diatur. Meskipun ini pertama kalinya Winari ke Surabaya, namun tidak sulit untuk menemukan alamat Laila.


Selain toko kue yang cukup besar itu sudah cukup terkenal meskipun belum selesai pembangunannya, Winari juga tahu betul alamat Laila dari temannya yang menghadiri pesta pernikahan Laila dan Bagus. Hanya saja Winari sendiri tidak diundang hingga tidak bisa datang dan mengacaukan pernikahan keduanya. Namun sejak awal Winari sudah berniat untuk menghancurkan Laila.


"Winari?" gumam Laila.


Tak sengaja matanya melihat sosok Winari. Hanya saja, saat itu Winari yang sedang dalam mobil tidak mengenali Laila. Winari nampak asik mengobrol dengan laki-laki selingkuhannya yang kini sudah resmi menjadi suaminya.


Laila menggelengkan kepalanya. Berpikir jika itu hanya sebuah halusinasinya saja. Mungkin karena kekhawatirannya saat jauh dari Bagus. Jujur saja, melihat sikap Winari yang berani, Laila memiliki ketakutan jika mantan istri Bagus itu akan menggoda Bagus lagi. Bagaimanapun, Winari cantik. Bukan hal mustahil jika Bagus akan kembali tergoda jika wanita itu terus mendekatinya.


"Mama," panggil Hasna.


Laila segera tersadar dari lamunannya. Ia kembali berjalan menyusuri jalanan yang begitu nyaman dengan semilir angin. Rambutnya sedikit berantakan saat terpaan angin itu tak mampu dielakkannya. Namun meskipun begitu, Laila tetap terlihat sangat cantik.


Rumah Bagus ditinggalkan sepi. Sementara Laila dan kedua keponakannya tetap tinggal di rumah kontarakan. Tentunya ditemani Bi Sumi yang selalu setia membatu semua kebutuhannya.


"Apa aku cerita aja sama Mas Bagus ya?" gumam Laila.


Saat sudah sampai di rumah, Laila kepikiran lagi dengan wanita dan laki-laki yang terlihat jelas seperti Winari dan suaminya. Namun ia ragu untuk menceritakannya pada Bagus. Apalagi saat ingat bahwa Laila sudah tidak boleh menyebut lagi namanya di hadapan Bagus.


Semalaman Laila menahan rasa penasarannya. Ia gelisah saat Bagus terus menghubunginya. Sambungan video call berlangsung lama namun Laila masih tidak bisa mengucapkan apa yang sudah ia lihat tadi siang.


"La, kamu kenapa?" tanya Bagus.


"Gak apa-apa kok, Mas. Memangnya kenapa gitu?" Laila balik bertanya.


"Kamu gak kayak biasanya. Ada apa sih? Urusan pembangunan toko kue ada masalah?" selidik Bagus.


"Gak kok, Mas. Semua berjalan lancar," jawab Laila.


"Terus kamu kenapa?" tanya Bagus.


"Gak apa-apa kok, Mas. Aku baik-baik aja," jawab Laila.


Bagus terus menekan Laila. Ia sampai mengingatkan Laila tentang dosa bohong pada suami. Bagus berhasil membuat Laila bicara. Saat tahu Laila melihat Winari, Bagus langsung meyakini jika dia memang Winari. Tidak ingin Laila kenapa-kenapa, Bagus segera mengabari Laila pertemuannya dengan Winari.


"Apa? Astaga dia jahat banget Mas," ucap Laila.


"Dia memang jahat. Makanya kamu harus hati-hati," ucap Bagus mengingatkan.


"Siap Mas," ucap Laila.


Meskipun Bagus tahu ada Bi Sumi yang menemani Laila, tapi Bagus juga tahu sifat Winari. Ia segera menghubungi salah satu orang kepercayaannya di Surabaya untuk menjaga Laila.

__ADS_1


Hal itu Bagus lakukan tanpa sepengetahuan Laila. Bagus yakin jika Laila tahu, pasti akan menolak. Tapi selama Bagus tak ada di samping Laila, ia pasti akan merasa khawatir. Apalagi Winari ada di sana.


"Bi, kalau ada perempuan atau laki-laki ke sini nanyain saya bilang saya gak ada ya!" pinta Laila.


"Siapa memangnya Bu?" tanya Bi Sumi.


"Mantan istrinya Mas Bagus," jawab Laila.


Bi Sumi segera mengangguk. Ia tahu betul langkah yang harus diambil. Setelah informasi dari Laila, Bi Sumi selalu menjaga Hasna dan Kayla dan tidak mengizinkan Laila keluar rumah.


"Bi, gak usah dijemput. Biasanya juga mereka pulang berdua. Mereka udah besar," ucap Laila saat Bi Sumi pamit untuk menjemput Hasna dan Kayla ke sekolah.


Bi Sumi tidak jujur karena akan membuat cemas Laila. Terpaksa Bi Sumi berbohong. Bi Sumi beralasan sekalian ke warung hingga akhirnya mendapat izin dari Laila.


Beruntung Bi Sumi datang tepat waktu. Sudah ada mobil yang terparkir di dekat sekolah. Padahal biasanya tidak ada yang datang ke sekolah membawa mobil. Kecurigaan Bi Sumi terbukti saat Hasna dan Kayla tengah bicara dengan dua orang yang tentu dikenalnya.


"Hasna, Kayla." Bi Sumi berteriak saat melihat Winari menggenggam tangan Hasna.


Winari segera memakai masker saat melihat Bi Sumi mendekat. Winari segera pamit setelah memberikan sebuah coklat untuk Hasna. Sementara laki-laki itu segera menarik tangan Winari.


"Bi Sumi kakak itu baik ya! Dia ngasih coklat ini!" ucap Hasna.


"Iya," jawab Bi Sumi.


"Hasna maaf ya!" ucap Bi Sumi.


"Kan sayang coklatnya jatuh," ucap Hasna.


"Nanti Bibi ganti ya!" ucap Bi Sumi.


Bi Sumi segera mengajak Hasna ke warung dan membeli coklat untuk Laila. Meskipun tidak seperti coklat yang diberikan Winari, namun Hasna senang saat dibolehkan untuk jajan semaunya.


"Ini boleh?" tanya Hasna.


"Boleh," jawab Bi Sumi.


"Yang ini juga?" tanya Hasna.


"Boleh," jawab Bi Sumi.


"Sama yang ini juga ya satu!" ucap Hasna.


"Iya. Ambil sepuasnya. Tapi Hasna harus ingat ya jangan nerima makanan dari orang yang gak dikenal," ucap Bi Sumi.

__ADS_1


"Memangnya kenapa?" tanya Laila.


"Kita gak kenal. Jadi kita terima dari yang kenal aja ya," jawab Bi Sumi.


Saat Hasna berusaha bertanya lagi, Bi Sumi segera mengalihkan obrolan. Ia tidak mau membuat Hasna panik. Apa yang terjadi, Bi Sumi ceritakan pada Laila. Bukan untuk membuatnya panik, tapi Bi Sumi berharap Laila jauh lebih hati-hati lagi.


Dibalik rasa syukur Bi Sumi dan Laila karena Hasna dan Kayla tidak berhasil dibawa pergi Winari, ada dua orang yang tengah marah dan kesal. Padahal mereka nyaris saja berhasil membawa Hasna dan Kayla. Winari dan suaminya sepakat untuk menggunakan Hasna dan Kayla untuk membuat Laila frustasi. Dengan begitu, Bagus dengan sendirinya akan ikut menderita.


"Dia siapa sih? Kenapa harus ikut campur?" ucap Winari kesal.


"Lebih baik kita balik ke Jakarta. Rencana kita udah gagal. Aku takut dia ngelaporin kita ke polisi," ucap suaminya.


"Belum apa-apa udah nyerah. Kita jauh-jauh ke sini buat bikin Bagus sengsara. Kita kuras hartanya," ucap Winari.


"Jangan gila kamu! Bagus itu bukan orang bodoh," ucap suaminya.


"Tapi aku jauh lebih cerdik. Kamu tenang aja. Masih ada rencana lain," ucap Winari dengan sangat yakin.


"Apa lagi sih?" tanya suaminya.


"Nanti aku kasih tahu. Pokoknya kita harus buat mereka menderita. Aku kesal saat Bagus terus menghinaku," ucap Winari.


Suaminya hanya menghela napas panjang. Tampak kesal saat Winari berusaha membuat Bagus menyesal karena menikahi Laila. Padahal niat utamanya adalah mendapat uang tebusan dari Bagus. Lalu rencana apa lagi yang akan Winari susun? Apakah bisa menghasilkan uang untuknya?


Keesokan harinya, Winari mengajak suaminya ke toko kue yang belum selesai itu. Mengamati keadaan pembangunan itu dari kejauhan. Meskipun suaminya belum tahu apa rencana Winari, namun ia tetap menemani. Baginya asal bisa menghasilkan uang, apapun rencananya semua akan dilakukan.


"Kita harus membakar toko kue itu!" ucap Winari sambil menunjuk toko kue yang masih dalam proses pembangunan.


"Hah?" tanya suaminya.


"Kenapa? Gak mau?" tanya Winari.


"Tapi itu kriminal," jawab suaminya.


"Kamu pikir nyulik dua anak kecil buat minta tebusan bukan kriminal? Sama aja," ucap Winari kesal.


"Tapi kalau nyulik, dia gak bakal lapor polisi. Kalau bakar toko, udah pasti lapor polisi. Sama aja namanya bunuh diri," ucap suaminya.


Winari tersenyum. Ia sudah menyiapkan orang untuk melanjutkan rencananya. Ia akan mengancam Laila untuk memberinya uang atau mengabari Bagus dan mengaku kalau orang itu adalah selingkuhan Laila.


"Oh jadi itu rencananya?" tanya suaminya.


"Gimana?" tanya Winari.

__ADS_1


"Sempurna," jawab suaminya.


__ADS_2