
Bagus sudah menanti lama waktu yang diharapkan. Untuk menyambut keinginannya itu, bahkan Bagus sampai datang ke Surabaya. Dengan sengaja mengambil cuti untuk dua hari.
"Mas, aku gak bawa semua ya bajunya! Kopernya penuh," ucap Laila
"Apa aku perlu beli koper lagi?" tanya Bagus.
Jujur saja, Bagus merasa sangat khawatir saat Laila tidak membawa semua pakaiannya. Apa artinya Laila hanya pindah untuk sementara? Apakah meninggalkan toko kue itu terlalu berat untuknya?
"Gak apa-apa Mas. Kapan-kapan kan kita ke sini. Jadi aku gak perlu bawa baju ganti. Kamu juga mampu kan belikan aku baju-baju baru nanti di Jakarta?" tanya Laila.
Bagus berusaha tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Bukan masalah sanggup dan tidaknya. Saat ini yang ada di kepala Bagus hanya kekhawatiran jika seandainya Laila ingin kembali tinggal di Surabaya.
Senyum Laila seketika membuat Bagus merasa senang, meskipun hatinya belum tenang. Sekarang yang penting Laila pindah ke Jakarta. Paling tidak ia akan menemani Laila lahiran nanti. Ia akan menjaga Laila yang hamil besar.
"Berangkat sekarang Mas?" tanya Laila.
"Sebentar," jawab Bagus.
Bagus meminta Laila duduk sebentar. Membahas tentang toko untuk ke depannya. Bagus yang kebingungan mencari orang untuk pengganti Laila di toko, ternyata dibuat terkejut dengan pernyataan Laila.
"Jadi Bi Sumi?" tanya Bagus sambil menunjuk Bi Sumi.
Bi Sumi hanya mengangguk. Ia berjanji akan belajar lebih giat lagi. Tanpa sepengetahuan Bagus, ternyata selama beberapa bulan terakhir, Laila mengajak Bi Sumi ke toko kue setiap hari. Ia mengajari banyak hal tentang toko kue. Jabatan yang dipegang Laila seketika diturunkan pada Bi Sumi yang tidak memiliki pengalaman apa-apa dalam sebuah perusahaan.
Sempat mengundang kegaduhan saat di toko. Namun Laila menjelaskan jika Bi Sumi hanya mengecek keadaan toko setiap hari. Selebihnya, Laila lah yang akan memantau toko langsung dari Jakarta.
"Jadi selama ini kamu sudah mempersiapkannya?" tanya Bagus.
"Iya dong," jawab Laila.
"Ah sayang. Kamu memang terbaik," ucap Bagus sambil memeluk dan mengecup singkat dahi Laila.
"Mas, ada anak-anak." Laila berbisik sambil mendorong dada Bagus.
Bagus tersenyum senang saat melihat beberapa koper ada di hadapannya. Sungguh tidak disangka jika akhirnya harapan Bagus kini jadi kenyataan. Untuk menyenangkan hati Laila, Bagus juga menyiapkan kejutan untuk Laila. Ia sudah menemukan lokasi yang tepat untuk toko kue yang baru.
__ADS_1
Laila memang akan merasa tercukupi dari pemberian suaminya. Namun Bagus juga menyadari jika Laila butuh ruang untuk mengembangkan mimpinya. Sebagai seorang suami yang baik, tentu Bagus ingin membuat Laila bahagia. Dan setahu Bagus, salah satu kebahagiaan Laila adalah toko kue. Bukan hanya memiliki, namun mengelolanya sendiri.
"Aku juga punya kejutan nanti buatmu," ucap Bagus.
Rasa bahagianya tak bisa menahan Bagus untuk membocorkan sedikit kejutan untuk istrinya itu. Ah tidak sedikit, bahkan Bagus menceritakan semua itu karena Laila terus merengek karena penasaran. Mata Laila langsung berbinar bahagia.
"Mas serius?" tanya Laila tak percaya.
"Serius. Kapan sih aku gak serius sama kamu?" ucap Bagus dengan penuh percaya diri.
"Wah, terima kasih ya Mas. Tapi nanti bayi kita gimana?" tanya Laila.
"Ya terserah kamu. Keputusan ada di tangan kamu. Aku kan baru beli tanah aja. Belum dibangun dan belum di apa-apakan. Kalau sekiranya kamu masih mau menikmati masa-masa bersama anak bayi kita, gak masalah. Semua terserah kamu," ucap Bagus.
Ya, sebenarnya harapan Bagus memang Laila fokus dulu ke anak mereka. Adapun lahan itu hanya untuk menyenangkan Laila. Simbol saja bahwa Bagus mendukung cita-citanya. Dan semua yang dilakukan Bagus sangat membuat Laila terkesan. Ia sangat senang dengan semua yang dilakukan Bagus untuknya.
Lambaian tangan Bi Sumi membuat Laila menangis. Surabaya adalah tempat dimana ia mulai berdiri bahkan berlari saat di Jakarta ia hanya mampu merangkak. Kini ia harus meninggalkan Surabaya. Kembali ke Jakarta dengan semua kenangan yang ada.
"Kak, kok nangis?" tanya Hasna.
Seandainya bisa, Kayla pasti akan menolak dan tetap tinggal di Surabaya bersama Bi Sumi. Menikmati hari-harinya dengan penuh harap. Sampai saat ini pun Kayla masih berpikir jika ayah kandungnya akan menemuinya suatu saat nanti.
"Tak apa. Akan ku buat status lagi di akun media sosialku. Biar Papa Deri tahu kalau aku sudah tinggal di Jakarta. Tapi apa nanti Mama gak marah? Papa Bagus pasti akan marah kalau sampai ada yang kirim paket ke alamatnya. Apalagi sekarang Mama juga mengawasi media sosialku," gumam Kayla.
Kayla berusaha senang dengan segala keputusan Laila. Ia masih bisa tersenyum bahkan tertawa meskipun tidak setulus Hasna. Ah, Kayla sedang berusaha sekuat tenaga mendalami perannya. Peran seorang anak yang selalu patuh papa orang yang menyayanginya. Itu saja. Walaupun sebenarnya ia berharap lebih dari itu.
"Besok Papa antar kamu ke sekolah yang baru ya. Sekarang kalian istirahat," ucap Bagus.
Keduanya tidur di kamar yang sama namun ranjang yang berbeda. Bagus sengaja menyiapkan semua itu untuk mereka berdua. Selain agar mereka tetap akur, Bagus ingin agar Kayla tidak terlalu bebas. Setidaknya ada Hasna yang akan laporan jika Kayla macam-macam.
Malam ini pertama kalinya Kayla menikmati suasana malam di ibu kota. Matanya menatap jendela kamar yang masih terbuka lebar. Semilir angin cukup membuat anak rambutnya berdesir membuat wajah Kayla terlihat lebih cantik.
"Kak, tidur." Hasna menarik tangan Kayla.
"Ya kamu tidur aja. Kasur kita kan beda," ucap Kayla.
__ADS_1
"Tapi jendelanya belum ditutup," rengek Hasna.
Kayla berdecak kesal dengan kemanjaan Hasna. Padahal Kayla masih sangat menikmati angin malam. Namun dari pada berdebat dengan adiknya, lebih baik Kayla yang mengalah. Berdebat dengan Hasna hanya akan menambah masalah untuknya.
"Pagiiii," panggil Laila pagi ini.
Wanita dengan perut besar masuk ke kamar Kayla dan Hasna. Membuka gorden kamar hingga membuat mata mereka berdua sedikit terbuka.
"Jam berapa ini?" tanya Kayla terkejut.
"Kalian kesiangan. Ayo mandi dan siap-siap," ucap Laila.
Hanya itu yang Laila ucapkan. Setelah itu Laila keluar dari kamar dan menunggu mereka di ruang makan. Kebetulan sudah seminggu di rumah Bagus tidak ada asisten rumah tangga. Hingga Laila yang menyiapkan sarapan pagi ini.
"Nasi goreng," ucap Bagus.
Bagus nampak mengendus aroma nasi goreng yang tersaji di hadapannya. Bukan menu sarapan yang asing baginya, namun ini adalah menu spesial. Alasannya karena sarapan kali ini dibuatkan langsung oleh istrinya.
"Kalian kenapa pakai seragam?" tanya Laila bingung.
"Loh, tadi katanya harus siap-siap." Kayla nampak semakin bingung.
"Iya ini kan masih suasana liburan Kay. Kamu pakai baju bebas aja. Papa mau nganterin kalian ke rumah kepala sekolahnya," ucap Laila.
"Oh, aku pikir di Jakarta udah mulai masuk sekolah Ma." Hasna cemberut karena harus mengganti lagi seragamnya.
"Ya gak dong. Jadwal libur sama masuk sekolah itu sama," jawab Laila sambil menggelengkan kepalanya.
"Udah gak usah ganti baju. Gitu aja udah," ucap Bagus santai.
"Mas, tapi ini masih libur. Malu aku sama kepala sekolahnya nanti disangka gak tahu jadwal sekolah," ucap Laila.
"Gak apa-apa. Biar nanti kepala sekolahnya tahu kalau anak kita itu berprestasi. Semangat sekolahnya tinggi. Jadi meskipun libur masih semangat pakai seragam," ucap Bagus sambil tertawa.
"Ih Papa," ucap Kayla dan Hasna sambil cemberut.
__ADS_1