Dikira Janda Sama Si Duda

Dikira Janda Sama Si Duda
Ari Wibowo


__ADS_3

"Mang Bro?" tanya Laila.


"Udah jangan banyak tanya. Ayo masuk!" ajak Jajang.


Tangan Laila ditarik oleh Jajang. Semua karena Laila hanya berputar melihat kemewahan yang ada di rumah itu. Bahkan Laila dibuat tercengang saat melihat banyak sekali orang dengan seragam yang sama di rumah itu.


"Mereka siapa?" tanya Laila sambil berbisik.


"Pekerja di sini," jawab Jajang.


"Hah?" ucap Laila sambil menghentikan langkahnya.


"Apa lagi sih? Ayo buruan. Ibu sudah nunggu dari tadi," ucap Jajang.


"Masa pekerja udah segitu banyak masih butuh tenaga aku?" tanya Laila.


"Mau kerja apa gak?" Jajang balik bertanya.


"Ya mau lah Mang Bro. Kalau aku gak mau kerja, mana mungkin aku ke sini. Jauh-jauh ke Jakarta ya buat kerja," ucap Laila.


"Ya sudah diam. Ayo!" ajak Jajang.


Jajang kembali membawa Laila menemui ruangan yang sudah dijanjikan pemilik rumah. Hanya butuh satu ketukan pintu, Jajang bisa langsung membukanya. Terlihat seorang perempuan berusia 50 tahun itu duduk sambil memegang buku.


"Bu, ini Laila. Laila ini Ibu Indah," ucap Jajang mengenalkan keduanya.


"Selamat siang Nyonya," sapa Laila sambil mengulurkan tangannya.


Bu Indah segera menyambut uluran tangan Laila. Mata Bu Indah membulat saat Laila mencium tangannya hingga membungkukkan badannya.


"Jangan panggil Nyonya, panggil Ibu saja." Bu Indah mengingatkan.


"Ah baiklah Bu. Saya pikir seperti di film-film.. Pembantu sama majikan kan manggilnya Nyonya," jawab Laila.


"Laila, bicara yang sopan dan seperlunya saja." Jajang mengingatkan.


"Ah, tidak apa-apa. Silahkan keluar Mang. Biar saya sama Laila di sini," pinta Bu Indah.


"Baik Bu," ucap Jajang.


Setelah Jajang pergi, Laila melihat pintu tertutup. Meninggalkan dirinya berdua dengan orang yang tidak ia kenal sama sekali. Laila mengedarkan pandangan ke sekeliling. Banyak buku yang berjejer di atas rak. Ingin sekali Laila bertanya tentang ruangan yang menurutnya seperti sebuah perpustakaan di sekolahnya. Namun Laila ingat ucapan Jajang untuk bicara seperlunya saja.


"Namamu Laila?" tanya Bu Indah menegaskan.

__ADS_1


"Iya Bu. Nama lengkapnya Laila Duma Wibowo," jawab Laila.


"Wah, ayah kamu bernama Wibowo?" tanya Bu Indah.


"Tidak Bu. Almarhum Bapak saya namanya Budi," jawab Laila.


"Budi Wibowo?" tanya Bu Indah.


"Bukan Bu. Budi Solehudin. Ibu pasti mau bertanya tentang nama Wibowo yang dipakai sama saya kan?" tebak Laila.


"Iya," jawab Bu Indah.


"Sebenarnya ibu saya memberikan nama itu karena waktu hamil ngefans banget sama Ari Wibowo," ucap Laila.


Bu Indah tertawa seketika. Jawaban Laila terdengar begitu polos dan apa adanya. Tubuhnya yang kecil juga membuat Bu Indah meyakini jika Laila memang masih sangat kecil.


"Kamu sebenarnya umur berapa sih?" tanya Bu Indah.


"Udah 15 tahun setengah Bu," jawab Laila.


"Gak sekolah?" tanya Bu indah.


"Udah keluar Bu," jawab Laila.


"Gak lanjut SMA?" tanya Bu Indah.


Bu Indah diam sejenak. Ia memperhatikan penampilan Laila dari atas hingga bawah. Sekilas penampilannya memang sangat sederhana. Tidak ada yang menarik dari remaja usia belasan tahun itu.


"Punya pacar?" tanya Bu Indah.


Pacar? Mendengar pertanyaan itu, Laila sedikit terkejut. Apa hubungannya antara niat untuk bekerja dengan pacar. Namun Bu Indah menjelaskan alasan pertanyaannya. Ia tidak mau jika Laila tidak fokus bekerja karena ingat sama pacarnya. Atau justru sering memainkan ponsel hanya untuk saling mengabari dengan laki-laki.


"Oh aman Bu. Kalau itu saya jamin aman. Seratus persen aman. Saya gak punya pacar dan gak pernah pacaran. Gak laku saya Bu," jawab Laila.


Bu Indah tersenyum mendengar kepolosan Laila. Niat hati menjadikan Laila pembantu di rumahnya, ternyata berubah. Laila begitu menarik di mata Bu Indah. Anak yang bisa membuat kesepiannya hilang seketika.


"Kamu mau jadi anakku?" tanya Bu Indah.


"Maaf Bu, saya ke sini buat kerja. Mang Bro bilang ibu butuh pembantu. Kok saya jadi dijual begini? Jangan ya Bu. Kasihan ibu saya di kampung. Meskipun saya begini, tapi ibu saya cuma punya 2 anak. Cuma saya dan abang saya. Kalau saya dibeli sama ibu, masa anak ibu saya cuma Bang Deri. Jangan ya Bu," ucap Laila sambil memohon.


Bu Indah tertawa begitu keras. Bahkan ia lupa kapan terakhir kali ia tertawa selepas ini. Lagi-lagi Laila sudah membuat dunia Bu Indah berubah. Jauh lebih berwarna dan sangat menyenangkan.


"Jajang tidak menjual kamu. Maksudku, tidak untuk membelimu. Aku hanya ingin kamu menganggapku seperti ibumu sendiri," ucap Bu Indah.

__ADS_1


"Oh begitu. Duh maaf ya Bu. Saya jadi malu. Eh tapi Jajang itu siapa ya?" tanya Laila.


"Kamu gak kenal sama Jajang?" tanya Bu Indah.


Laila menggelengkan kepalanya. Saat mendengar jawaban Bu Indah, kini giliran Laila yang tertawa begitu lepas. Laila juga orang pertama yang bisa tertawa selepas itu di rumah yang terkesan kaku. Semua begitu hormat pada Bu Indah. Tidak ada yang berani tertawa sampai selepas Laila saat ini.


"Duh, Mang Bro ternyata namanya Jajang. Aku juga kalau udah di Jakarta bisa kali ya ganti nama jadi Luna Maya," ucap Laila.


Bu Indah memandang Laila yang terlihat begitu apa adanya. Mungkin karena tidak tahu aturan bicara dengan Bu Indah, namun entah mengapa Bu Indah sama sekali tidak terganggu dengn sikap Indah.


"Mari aku antar ke kamarmu," ucap Bu Indah.


Laila mengekor di belakang Bu Indah. Sampai akhirnya langkahnya terhenti saat Bu Indah masuk ke kamar yang begitu besar dan sangat indah.


"Ayo masuk!" ajak Bu Indah.


"Ini kamar siapa Bu?" tanya Laila.


"Kamar buatmu," jawab Bu Indah sambil menarik tangan Laila.


Laila duduk di tepi ranjang yang begitu empuk. Berkali-kali ia bangun dan menjatuhkan bokongnya kembali di tepi ranjang.


"Empuk Bu," ucap Laila sambil mengusap-usap kasurnya.


Bu Indah duduk sambil melihat tingkah Laila yang tidak wajar menurutnya. Seseorang yang terlahir dari keluarga berada bahkan serba ada tidak tahu rasanya saat baru duduk di kasur empuk. Padahal menurutnya itu kasur biasa dan tidak terlalu istimewa.


"Bu, ini siapa?" tanya Laila sambil menunjuk sebuah bingkai foto.


Foto sepasang manusia yang tersenyum bahagia terpajang di meja cermin. Tampak penuh cinta dan sangat serasi.


"Dia anakku. Dulu," jawab Bu Indah sambil menutup bingkai foto itu.


"Dulu? Memangnya sekarang jadi anak siapa, Bu? Apa dia dijual?" tanya Laila.


Pertanyaan Laila tidak mendapat jawaban. Suasana di kamar hening. Laila berpikir jika nasib dirinya akan seperti orang yang ada di foto itu.


Apa nanti Ibu juga bilang gitu ya sama Bang Deri? Aku udah gak dianggap anak lagi karena Bu Indah udah nganggap aku anak.


Bu Indah seolah menyadari apa isi kepala Laila. Ia segera memegang bahu Laila dan sedikit mengguncangnya. Berusaha menyadarkan Laila dari lamunannya.


"Ini beda kasus. Tidak ada yang membelinya. Dia sendiri yang pergi. Tapi tidak apa. Dia berhak bahagia dengan pilihannya. Meskipun sebenarnya aku sakit," ucap Bu Indah.


Bu Indah nampak menyeka air matanya lalu duduk kembali di kursinya. Laila mendekat dan memeluk Bu Indah.

__ADS_1


"Bu, maaf ya. Saya gak ada maksud begitu kok," ucap Laila.


Bu Indah yang terbawa suasana membalas pelukan Laila. Dalam pelukan Laila yang penug dengan ketulusan, Bu Indah menangis. Seketika ia meluapkan semua rasa yang mengganjal di hatinya.


__ADS_2