
Bukan jam enam, Laila bahkan sudah siap sejak jam setengah enam. Laila menunggu Bu Indah di kamarnya. Sudah lengkap dengan tas kecil berisi dompet, ponsel dan charger.
"Astaga," ucap Bu Indah saat membuka pintu.
"Eh, Ibu. Saya udah siap nih Bu," ucap Laila.
"Iya. Sebentar ya!" ucap Bu Indah.
Laila melihat Bu Indah keluar dari kamarnya lalu kembali lagi. Tidak lama, Bu Indah sudah siap dan mengajak Laila pergi.
"Kamu tahu alamatnya kan?" tanya Bu Indah pad sopir.
"Tahu Bu," jawab sopir itu.
Dalam perjalanan, Laila merasa gelisah. Bayang-bayang ibunya menari di pelupuk matanya. Linangan air mata tak bisa dielakkan lagi.
"Jangan menangis," ucap Bu Indah.
Tiba-tiba tangan Bu Indah meletakkan kepala Laila di bahunya. Membiarkan Laila meluapkan perasaannya. Tanpa bicara pun, Bu Indah bisa tahu betapa besar rasa sakit yang Laila rasakan.
Mobil sudah terparkir di halaman rumah sakit. Nampak Deri yang sedang duduk di parkiran. Kepalanya menunduk. Terlihat sangat terluka. Dan ini hanya terjadi saat Bu Rini sakit. Tidak ada yang bisa membuat Deri terdiam seperti itu selain kondisi Bu Rini yang memburuk.
"Bang," sapa Laila.
"Ibu di dalam," jawab Deri tanpa melihat ke arah Laila sedikitpun.
Sakit? Tentu. Tentu rasa sakit itu menancap di dalam hatinya. Namun Laila sudah terbiasa dengan rasa sakit yang dilakukan Deri. Laila pergi mencari ibunya.
"Bu," ucap Laila dengan suara bergetar.
Tangisnya pecah saat melihat Bu Rini terbaring lemah. Banyak sekali selang yang terhubung dengan tubuh ibunya. Laila merasa lemas seketika saat Yanti mengatakan jika Bu Rini sudah tidak sadarkan diri sejak tadi pagi.
Bu Indah dengan cepat menguatkan Laila. Memberikan pelukan hangatnya dengan penuh ketulusan. Sampai saat ini Bu Indah tidak banyak bicara. Ia hanya mengenalkan dirinya pada Yanti. Selebihnya ia cukup mengamati keadaan dengan mata dan telinganya sendiri.
"Bu, saya izin gak ke Jakarta dulu boleh?" tanya Laila.
__ADS_1
"Ya," jawab Bu Indah singkat sambil mengusap punggung Laila.
Bu Indah yang sudah membuat janji dengan temannya tidak bisa menemani Laila. Ia harus segera pulang. Padahal sebenarnya ia ingin menunggu hingga Bu Rini sadar. Banyak hal yang ingin ia bicarakan. Namun sayangnya Bu Indah tidak punya kesempatan itu.
Di Jakarta, Bu Indah nampak gelisah. Laila memang tidak selalu bersamanya saat di Jakarta. Namun Bu Indah bisa tenang karena tahu jika Laila ada di rumah itu. Namun saat ini, Laila tidak ada. Bu Indah sampai ke kamar Laila. Mengamati keadaan kamar itu.
Tidak berubah sama sekali. Kamar yang dipakai Laila masih menampakkan kamar anaknya saat tinggal di sana. Bu Indah sampai menghela napas panjang. Berharap banyak sekali oksigen yang masuk dan membuat sesak di dadanya hilang.
"Aku tidak boleh kehilangan Laila," gumam Bu Indah.
Siangnya, Bu Indah mengutus orang untuk mengamati keadaan Laila di rumah sakit. Hal itu tentu membuat pekerja lain iri pada Laila. Perlakuan Bu Indah yang begitu tulus pada Laila menimbulkan banyak pertanyaan hingga tuduhan.
"Laila pakai dukun kali ya," ucap salah satu asisten rumah tangga.
"Kayaknya sih gitu. Masa tiba-tiba datang kok jadi ratu di rumah ini," timpal yang lainnya.
Sementara Bi Yani hanya menggelengkan kepalanya saat mendengar tuduhan2 yang dilayangkan untuk Laila. Kadang Bi Yani juga merasa kasihan pada Laila. Padahal usianya masih belasan tahun, tapi sudah digibahi seperti itu.
Baru tiga hari Laila pergi, kabar duka diterima Bu Indah. Bu Rini meninggal. Padahal kabar terakhir yang diterima, Bu Rini sudah siuman. Sayangnya Bu Indah sedang di luar kota jadi tidak bisa menemui Laila saat itu juga.
"La, kamu kuat ya!" gumam Bu Indah sambil memeluk ponselnya setelah mengirim sebuah pesan untuk Laila.
Laila yang tengah berduka mengabaikan pesan Bu Indah. Bahkan Laila tidak tahu dimana ponselnya saat ini. Yang ia pegang hanya keranda berisi ibunya. Laila masih tak berhenti menangis. Penyesalannya begitu besar. Seandainya ia tahu jika usia Bu Rini tidak lama, tentu ia tidak akan ke Jakarta.
"La, kuat ya. Ada Kakak sama anak2 di sini," ucap Yanti.
Suara Yanti masuk ke dalam hatinya. Hati yang nyaris kosong tak terisi apapun. Bibirnya mulai tersenyum saat melihat Hasna dan Kayla yang tengah menatapnya.
"Terima kasih udah ngurus Ibu ya Kak. Aku hutang budi sama Kakak," ucap Laila.
"Jangan gitu, La. Ibu ini kan ibunya kakak juga. Yang penting kamu harus ingat pesan ibu ya. Belajar yang bener dan jadi orang sukses," ucap Yanti.
Laila mengangguk. Air matanya mengakir deras saat mengingat kalimat-kalimat terakhir dari ibunya. Banyak pengharapan yang mungkin akan berat untuk Laila. Namun Laila berjanji pada dirinya sendiri. Kelak ia akan menjadi orang sukses. Laila berharap bisa membanggakan Bu Rini meskipun sudah tiada.
Puncak kepedihan Laila adalah saat berdiri di pemakaman ibunya. Melihat tubuh yang terbungkus kain putih itu tak lagi terlihat dalam pandangannya. Tanah merah mulai menutupnya hingga yang ia hanya bisa memeluk tanah itu sambil menangis sejadi-jadinya.
__ADS_1
Banyak orang yang menenangkan Laila. Entah karena perhatian atau mungkin karena sebatas rasa iba. Namun Laila masih duduk tersimpuh di makam ibunya. Bajunya sudah kotor namun Laila tidak peduli sama sekali. Sampai semua orang mulai pamit, Laila masih tidak bergeming.
"La, ayo pulang!" ajak Yanti.
"Kakak pulang duluan aja. Kasihan Hasna sama Kay. Nanti aku nyusul," ucap Laila.
"La, ini udah sore. Sebentar lagi gelap. Ayo pulang!" ajak Yanti lagi.
"Kakak duluan aja," ucap Laila.
Melihat sikap Laila, Yanti pun pasrah. Hasna yang sudah rewel membuatnya terpaksa harus meninggalkan Laila sendiri. Sebenarnya Laila tidak sendiri. Ada Deri yang masih duduk di sana. Namun bagi Yanti, keberadaan Deri justru akan membuat Laila makin sedih. Tapi apa boleh buat. Hasna sudah menangis, rewel sekali.
"Bang, aku sama anak-anak pamit ya! Titip Laila," ucap Yanti.
Tidak ada jawaban dari Deri. Bahkan hanya sekedar isyarat anggukan kepala pun tidak nampak. Namun Hasna membuat Yanti harus pergi dari sana. Tidak apa, Laila sudah besar dan tahu harus bersikap seperti apa jika Deri tiba-tiba kumat.
Jauh diluar dugaan, setelah di makam itu hanya tinggal mereka berdua. Deri yang biasanya selalu mengoceh dan menghina Laila, tiba-tiba diam. Sama sekali tidak membuat masalah apapun. Ia hanya diam dan tertunduk, mungkin menangis. Namun Laila tidak berusaha meyakinkan dugaannya. Ia bahkan bersikap sama dinginnya dengan Deri.
"Kapan kamu balik ke Jakarta? Ada yang mau aku bicarakan," ucap Deri.
Laila sempat melihat ke sekeliling. Ia sampai memastikan jika Deri memang sedang bicara padanya. Cara bicara Deri yang tenang membuat Laila tidak percaya jika Deri sedang bicara dengannya.
"Gak tahu," jawab Laila.
"Kalau berangkat ke Jakarta, bawa semua barangmu. Jangan pernah balik ke rumah lagi," ucap Deri.
"Abang ngusir aku?" tanya Laila sambil memegang dadanya.
Laila pikir dalam kondisi seperti ini Deri akan bersikap baik padanya. Ternyata diamnya Deri tidak memberikan ketenangan sama sekali. Laila bahkan diusir di hari pemakaman ibunya sendiri.
"Ibu udah gak ada. Rumah itu dibeli sama bapakku. Kamu gak berhak ada di rumah itu," ucap Deri.
"Bapakku abang bilang? Bapakku juga Bang. Aku mau tinggal dimana kalau gak di rumah? Abang tega ngusir aku?" tanya Laila sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Bapakku, bukan bapakmu." Deri segera pergi meninggalkan Laila.
__ADS_1