
Laila baru saja sampai. Kedatangannya berbarengan dengan Bu Indah. Dengan antusias Bu Indah menanyakan respon Bagus atas kue buatannya.
"Katanya enak, Bu. Udah deal," jawab Laila dengan girang.
"Wah, selamat ya. Aku pastikan namamu akan jadi sorotan setelah persta pernikahan Bagus nanti," ucap Bu Indah.
Laila mengaminkan ucapan Bu Indah. Harapan Laila jauh lebih besar dari pada harapan ibu angkatnya itu. Nama yang akan dibangunnya tentu sangat berguna baginya. Nanti setelah lulus SMK, Bu Indah janji akan membantu Laila mendirikan sebuah toko kue untuknya.
Dengan sangat semangat, Laila kembali ceria untuk menjalani harinya. Bahkan Laila lupa kalau ternyata Bagas memang sudah tidak ada di sekolah itu. Namun kini, rasa kehilangan itu kian kecil hingga sampai pada titik tidak peduli.
Kini, tak lagi soal rasa untuk Bagas. Laila hanya sedang berusaha memberikan yang terbaik untuk Bagus. Semua demi masa depannya. Impiannya dan almarhum ibunya yang wajib ia wujudkan.
"La, kok jam segini baru pulang?" tanya Bu Indah saat Laila pulang terlambat.
"Tadi konsul sama guru, Bu. Saya belum paham banget soal menghias kue pengantin. Ya kali aja gambar kue yang dikirim Pak Bagus susah. Saya harus banyak belajar," jawab Laila.
Tidak perlu khawatir kalau Laila berbohong. Kegiatan Laila setelah pulang sekolah akan terpantau oleh sopir pribadi yang menjemputnya. Lagi pula, Bu Indah menyimpan nomor beberapa orang guru yang mengajar di sana. Belum lagi ada laporan wali kelas yang rutin memberi informasi tentang Laila.
"Ingat ya, seimbangkan juga sama istirahat. Jaga kesehatan," ucap Bu Indah.
Laila tersenyum senang saat mendapat perhatian dari Bu Indah. Bu Indah memang benar-benar terasa tulus menyayanginya. Laila selalu berpikir jika semua terjadi karena Bu Indah sudah kehilangan anaknya. Tujuan Laila saat ini adalah menjadi apa yang Bu Indah inginkan. Mengikuti semua arahan yang diberikan padanya. Walaupun kadang ada rasa tidak nyaman saat yang dilakukan Bu Indah tak sesuai dengan keinginannya.
"La, besok pulang sekolah usahakan jangan kemana-mana dulu. Bu Herlin mau ke sini," ucap Bu Indah.
"Oh ya? Les dandannya belum selesai?" tanya Laila.
"Kamu baru dua kali bertemu dengan Bu Herlin. Mana mungkin selesai secepat itu. Masih ada banyak hal yang harus kamu pelajari. Dia itu memang mahir di bidang fashion. Gak pernah gagal dandanin orang. Ya walaupun kadang-kadang kemenoran sih," ucap Bu Indah.
Laila tertawa. Ia senang saat apa yang ada di pikirannya ternyata sama dengan Bu Indah. Menurut Laila, kadang penampilan Bu Herlin terlalu berlebihan. Laila justru merasa berat sendiri dengan make up yang dipakai Bu Herlin.
Sesuai apa yang dikatakan Bu Indah, Laila pulang ke rumah tepat waktu. Bahkan ia melewatkan untuk datang ke perpustakaan umum. Kedatangan Bu Herlin jauh lebih penting. Semua untuk kebaikannya. Begitu ucapan Bu Indah yang selalu terngiang di telinganya.
"Haii, cantik." Bu Herlin menyambut kedatangan Laila dengan sangat heboh.
Laila yang baru datang tersenyum sambil menyalami Bu Herlin. Pelukan hangat pun ia terima dari Bu Herlin. Sama tulusnya dengan yang diberikan Bu Indah tiap kali memeluknya. Wajar, karena Bu Herlin adalah wanita yang setia dengan kesendirianny. Ia tidak memiliki anak karena sampai saat ini belum menikah.
"Mandi dan makan dulu sana," ucap Bu Herlin.
"Langsung aja, Bu." ajak Laila.
"Santai aja. Hari ini ibu free. Khusus buat nemenin kamu biar makin pinter soal urus diri," ucap Bu Herlin.
"Aduh tapi aku gak enak. Ibu aja datang sebelum aku pulang," ucap Laila.
"Santai, Laila. Udah sana mandi dan makan dulu. Nanti ke sini kalau udah beres ya," ucap Bu Herlin.
"Iya, Bu." Laila segera ke kamar untuk mandi.
Gila ya ibu-ibu satu itu dibayar berapa sih. Semangat banget sih. Aku baru pulang eh udah nongkrong aja di rumah. Ampun, berasa dikejar macan sih ini.
__ADS_1
"Bu, ayo makan bareng!" ajak Laila.
"Gak ah. Ibu udah gak makan nasi," ucap Bu Herlin.
Gak makan nasi? Terus dia makan apa sih? Masa iya makan beling.
Laila menikmati makan siangnya dengan cukup terburu-buru. Dalam ingatannya ada Bu Herlin yang sudah menunggunya. Bahkan Laila membayangkan Bu Herlin duduk di depan kursinya dengan wajah kesal karena terlalu lama menunggu.
"Bu, maaf ya lama." Laila nampak berat saat bernapas.
"Lama? No. Kamu bahkan makan terlalu cepat. Gak sampai lima menit loh ini," ucap Bu Herlin sambil melihat jam di pergelangan tangannya.
"Ah masa sih, Bu?" tanya Laila.
"Iya. Jangan-jangan kamu anak OSIS ya dulu?" tebak Bu Herlin.
"Kok anak OSIS?" tanya Laila.
"Itu yang anak-anak di sekolah itu loh. Yang kalau makan dihitung sampai lima, satu, dua, gitu loh." Bu Herlin memperagakan seingatnya.
"Oh, itu biasanya anak pramuka Bu." jawab Laila.
"Ih, anak OSIS juga begitu." Bu Herlin kekeh dengan pendapatnya.
"Ya kalau OSIS gak tahu, Bu. Soalnya waktu SMP saya gak ikutan begituan," ucap Laila.
"Loh kenapa?" tanya Bu Herlin.
"Wah, kamu pasti anak yang kuat. Semangat ya La," ucap Bu Herlin.
"Dipaksa kuat oleh keadaan Bu," ucap Laila.
"Tapi gak semua orang bisa ngelewatin semua ini kayak kamu loh. Itu artinya kamu orang pilihan," ucap Bu Herlin.
"Apapun itu, saya berusaha menjalani semua takdir saya. Meskipun dulu saya sempet iri sama temen-temen saya yang berasal dari keuarga gak mampu. Tapi akhirnya Tuhan kasih saya Bu Indah. Orang yang baru saya kenal tapi sudah menganggap saya sebagai anaknya," ucap Laila.
Bukan hanya Bu Indah, Laila juga menyebut nama Bu Herlin menjadi salah satu oramg yang dikirim Tuhan untuk mengubah hidupnya menjadi lebih baik. Bu Herlin pun senang dan terbuai dengan pujian Laila. Namun Bu Herlin kembali ke bahasan tentang OSIS dan pramuka.
"Oh ya La, terus kamu kenapa kamu ikut pramuka? Kan katanya kamu sibuk ngurus keponakanmu? Pramuka juga sama kan kegiatannya di luar jam sekolah?" tanya Bu Herlin.
"Itu karena gurunya bilang wajib. Kalau gak ikut pramuka nanti nilainya jelek. Makanya maksain ikut," jawab Laila.
"Terus pas kamu udah pramuka nilainya jadi bagus?" tanya Bu Herlin.
"Ih, saya di kampung pinter. Juara kelas loh Bu," jawab Laila.
"Sekarang?" tanya Bu Herlin.
"Lumayan sih, Bu. Waktu kelas satu semester satu cuma dapet nomor antrian. Tapi semester dua sih udah masuk tiga besar. Mudah-mudahan kelas dua bisa jadi juara satu. Doain ya Bu. Di sini pinter-pinter. Saya kerepotan ngejarnya," ucap Laila.
__ADS_1
"Semangat, La. Ibu yakin kamu pasti bisa. Pasti," ucap Bu Herlin.
"Terima kasih ya Bu," ucap Laila.
Setelah obrolannya dengan Laila dirasa cukup, Bu Herlin segera masuk ke pembelajaran. Hal yang tidak seantusias saat mengobrol untuk Laila. Namun Bu Herlin selalu berusaha mengemas pembelajarannya dengan sangat menarik. Apalagi kali ini tentang perpaduan warna.
Laila memang tidak terlalu suka dengan warna yang terang dan bercorak-corak. Ia terlalu suka dengan warna gelap dan polos.
"Bu, sebelum aku makin lanjut belajarnya, tolong jelasin apa belajar tentang perpaduan warna baju seperti ini bermanfaat juga buat pembuatan kue?" tanya Laila.
"Loh, ada dong. Ada banget malahan. Ibu dengar dari Bu Indah katanya kamu baru deal-dealan soal orderan kue pengantin ya sama Bagus?" ucap Bu Herlin.
"Iya Bu, alhamdulilah. Tapi dimana hubungannya ya?" tanya Laila.
"Laila, saat kamu membuat kue pengantin, hiasannya tentu harus menarik. Tidak sama seperti kamu hanya membuat kue kering. Perpaduan warna untuk menghias kue pengantin itu harus pas. Menarik tapi gak norak," jawab Bu Herlin.
Laila diam sebentar. Ia merasa kue pengantin yang dilihatnya dari google atau aplikasi sosial media, kebanyakan hanya warna putih. Hanya butuh permainan seni saja. Namun Laila berpikir panjang. Mungkin suatu saat nanti ia bisa mendapat pesanan kue ulang tahun yang hiasannya lebih ramai dan berwarna.
"Iya deh, Bu. Ayo belajar," ucap Laila.
Laila dengan semangat mempelajari apa yang disampaikan Bu Herlin. Dengan teliti ia mengamati warna-warna yang tengah dipadukan oleh wanita keibuan yang ada di hadapannya itu.
Berbeda dengan Bu Herlin yang sedang berusaha menyampaikan perpaduan warna untuk fashion, otak Laila berusaha memadukan warna untuk dekorasi kue pengantin atau ulang tahun. Bibirnya mulai tersenyum saat mendapat ide untuk warna kue pesanan Bagus.
"Udah ngerti, La?" tanya Bu Herlin.
"Ngerti, ngerti Bu." Laila menjawab dengan sangat yakin.
"Ya udah kalau gitu ibu pulang dulu ya! Besok ibu gak ke sini," ucap Bu Herlin.
Wajah Laila nampak berseri. Senang rasanya bisa merasakan menghirup udara bebas tanpa materi Bu Herlin. Laila mengerti kalau semua yang diberikan Bu Herlin tentu akan sangat bermanfaat untuknya suatu saat nanti. Tapi bagaimanapun, Laila butuh waktu untuk istirahat.
Akhirnya aku bisa merasakan nikmat tiada tara. Nikmat tidur siang yang udah lama gak aku rasakan.
"Tapi besok kita ketemu di cafe biasa ya," ucap Bu Herlin sesaat sebelum benar-benar pergi.
Ambruk sudah harapan Laila untuk tidur siang. Meskipun Bu Herlin tidak ke rumah, namun ada agenda untuk bertemu di luar. Artinya, masih ada pembelajaran lain lagi.
Gak jadi rebahan. Nikmatnya diundur ya. Gak apa-apa, La. Sabaaaar. Nanti nikmatnya diganti berlipat-lipat. Tapi kapan? Gak tahu ah. Kapan-kapan kali.
Karena aktivitas Laila yang cukup melelahkan, Laila tidur lebih awal. Jam delapan, Laila sudah mengurung diri di kamar. Bu Indah yang mengkhawatirkan keadaan Laila segera mengecek informasi dari Bi Yani.
"Dia gak lupa makan kan hari ini?" tanya Bu Indah.
"Aman Bu," jawab Bi Yani.
"Pastikan Laila gak sampai telat makan. Dia harus sehat," ucap Bu Indah.
"Ibu tenang aja. Laila itu meskipun sibuk tapi gak pernah lupa makan. Aman bu," jawab Bi Yani.
__ADS_1
Bu Indah tersenyum mendengar jawaban Bi Yani. Tak apa, itu lebih bagus dari pada Laila lupa makan dan sakit. Saat ini, Bu Indah hanya memastikan jika Laila dalam keadaan sehat dan berprestasi.
Di tangan Bu Herlin, Bu Indah yakin jika Laila perlahan akan berubah. Penampilan dan kebiasaannya harus berubah. Laila harus meninggalkan image kampungnya. Dia harus menjadi wanita cerdas yang menarik.