Dikira Janda Sama Si Duda

Dikira Janda Sama Si Duda
Ini apa ya?


__ADS_3

"Kak awas," teriak Laila.


Motor direm mendadak saat hampir menabrak kambing. Yanti mengusap dadanya saat berhasil menghindar.


"Kak, jangan ngelamun dong. Fokus," ucap Laila.


"Iya, maaf. Ayo ah lanjut," ucap Yanti.


Laila dan Yanti melanjutkan perjalanan menuju rumahnya. Seperti biasa, kedatangan Yanti selalu diburu oleh kedua anaknya. Jajanan dalam kantong kresek yang tak lupa ia beli di warung, segera berpindah tangan.


Melihat Hasna dan Kayla berbagi makanan dengan senyum riangnya membuat Yanti dan Laila ikut tersenyum. Rasanya mereka ingin kembali seperti usia Hasna dan Kayla. Tak ada beban dalam hidup mereka. Hanya mendapat jajanan saja sudah tertawa riang seperti itu.


"Bang Deri belum pulang bu?" tanya Yanti saat keluar dari kamar dan tidak mendapati suaminya.


Bu Rini hanya menggeleng dan terlihat sedih. Sementara Yanti membalasnya dengan senyuman. Seolah meyakinkan Bu Rini jika dirinya tidak mempermasalahkan kepulangan Deri.


"Kak, lihat ini!" teriak Laila sambil menunjukkan ponselnya.


Hampir dua puluh pesanan masuk selama perjalanan pulang. Padahal jarak dari rumah ke toko tidak terlalu jauh. Yanti ikut berteriak girang saat melihat pesanan yang begitu banyak.


"Kalian kenapa sih? Ada apa?" tanya Bu Rini yang tidak tahu apa-apa.


"Laila dapat nilai ulangan bagus bu," jawab Yanti bohong.


Laila paham betul jika apa yang dilakukan Yanti demi kebaiknnya. Lagi pula, jika dijelaskan pun Bu Rini belum tentu mengerti tentang jualan online yang tengah dijalaninya.


"Wah, anak pinter. Selamat ya," ucap Bu Rini.


"Iya Bu," ucap Laila tidak enak hati.


"Gak kerasa ya sebentar lagi kamu lulus. Kamu kerja ya nanti. Cari bekel buat kebutuhanmu. Kasihan Kakakmu cape cari uang sendiri," ucap Bu Rini.

__ADS_1


"Ibu, Laila masih SMP. Mau kerja apa? Laila masih harus sekolah SMA," ucap Yanti.


"Sekolah SMA itu mahal. Mana ada uang. Kalau pun ada, buat bekel makan aja. Gak apa-apa udah sampai SMP aja. Udah bisa baca sama ngitung aja udah cukup," ucap Bu Rini.


"Bu, ini zaman sudah maju. Ketinggalan banyak kalau cuma sekolah sampai SMP," ucap Yanti.


Bu Rini terus memaksa Yanti agar mencarikan kerja untuk Laila. Laila sendiri tidak berkomentar. Ia hanya diam melihat bagaimana Yanti meyakinkan ibunya untuk pendidikannya.


"Ibu gak usah banyak pikiran. Aku bakal usahain biayanya kok," ucap Yanti.


"Bukan ibu gak percaya. Tapi apa yang kamu lakukan untuk keluarga ini sudah lebih dari cukup. Kalau kamu punya uang, kamu pakai untuk kebutuhanmu saja. Beli apa yang kamu mau," ucap Bu Rini.


Yanti tidak mau kalah. Ia terus meyakinkan Bu Rini. Laila sangat terharu dengan perjuangan Yanti untuknya. Hatinya sudah bertekad untuk membalas budi atas semua kebaikan Yanti. Seandainya Yanti dan Deri benar-benar berpisah, Laila akan jauh lebih menganggap Yanti kakaknya dibanding Deri yang merupakan abang kandungnya sendiri.


"Mamaaaa," teriak Hasna saat permennya diambil oleh Kayla.


"Kay," ucap Yanti.


"Kakaknya dikasih ya," ucap Yanti pada Hasna.


Hasna yang baru saja menerima permen dari Yanti justru mengembalikannya pada Kayla. Kayla pun berjingkrak senang saat permen itu sudah kembali padanya.


Yanti selalu mengajarkan kedua anaknya untuk selalu berbagi. Laila kagum dengan parenting Yanti untuk kedua anaknya. Apa yang Laila peroleh dari kelas parenting yang pernah diikutinya, Yanti sudah menerapkan semuanya.


Kalau nanti aku punya anak, aku mau jadi ibu yang hebat kayak Kak Yanti. Nikah? Kalau suaminya kayak bang Deri gimana? Ih ogah sih. Mending jomblo seumur hidup dari pada punya suami sableng kayak Bang Deri.


"Kamu kenapa, La?" tanya Yanti saat melihat Laila bergidik.


"Gak, aku gak apa-apa. Aku mandi dulu ya," ucap Laila yng berusaha menghindar.


Malam ini semua sedang berkumpul. Nonton televisi bersama. Kebiasaan lama yang sempat terhenti selama hampir sebulan. Tiba-tiba Deri datang dan langsung ke kamar. Yanti pamit untuk menemui suaminya.

__ADS_1


Laila dan Bu Rini saling menatap lalu mematikan televisi. Mereka pergi ke kamar masing-masing. Takut kalau kejadian seperti kemarin terjadi di depan mereka.


Tidak lama, Yanti masuk ke kamar Laila. Sebuah kantong kresek hitam diberikan pada Laila tanpa berkata apapun. Hanya kode agar Laila diam dan menyimpan apa yang diberikan Yanti. Anggukan kepala Laila membuat Yanti segera keluar dari kamar Laila.


"Ini apa ya?" tanya Laila pelan.


Laila segera menyimpan kantong kresek itu di tempat yang menurutnya paling aman. Sebenarnya kalaupun Laila menggeletakkannya dimanapun asal itu di kamar Laila, sudah masuk kategori aman. Karena sampai saat ini, Deri tidak pernah masuk ke kamar Laila.


"Tolong simpan dengan baik. Sekolah dan belajar yang bener. Nanti kakak jelaskan kalau waktunya udah pas. Jangan dibales. Hapus pesan ini kalau kamu udah baca ya!"


Sebuah pesan diterima Laila saat ia selesai mandi. Laila segera menghapus pesan yang diterimanya sesuai permintaan Yanti. Ia juga bersikap biasa di hadapan semuanya. Sampai akhirnya Laila melamun sepanjang jalan.


Jawaban tentang apa yang sebenarnya terjadi membuat Laila tidak bisa fokus seharian di sekolah. Saat pulang, dengan meminta bantuan temannya Laila diantar ke toko. Sayangnya toko tutup dan Laila kebingungan.


"Kak Yanti kemana ya? Padahal tadi pamitny mau kerja," gumam Laila.


Laila pun pulang ke rumahnya dengan pertanyaan yang semakin banyak. Kebingungannya semakin besar tentang teka teki yang terjadi. Tiba-tiba muncul niat untuk mencari tahu isi kantong kresek yang diberikan Yanti tadi malam. Namun tiba-tiba Yanti meneleponnya.


Yanti sudah menduga kalau Laila ke tokonya. Sebagai seorang kakak, Yanti juga tidak bisa membiarkan Laila sibuk dengan kebingungan yang sudah dibuatnya. Hari itu toko memang tutup. Tapi Yanti tidak mau jika dirumah seharian. Bersama dengan Deri sementara hubungannya sedang tidak membaik. Yanti tidak mau jika anak-anak yang akan jadi korbannya.


Wanita kuat dan hebat itu tidak diam. Selama libur, Yanti pergi ke toko-toko lain untuk diajak kerja sama. Ya, sekitar dua toko yang berhasil ia ajak kerja sama. Toko kosmetik dan sepatu sudah memberikannya kesempatan untuk menjual dagangannya.


Melihat toko onlinenya mulai berkembang pesat, Yanti berpikir untuk mencari barang lain agar bisa meningkatkan penghasilannya. Beruntung Tuhan memberikan jalan dengan mudah. Meskipun memang sempat ada beberapa toko yang menolak kerja sama dengannya.


"Lumayan lah La, kita bisa jualan tanpa keluar modal. Modal kita cuma jujur dan kerja keras aja," ucap Yanti.


"Syukurlah. Aku pikir Kakak kabur," ucap Laila polos.


"Astaga. Kamu ini kok mikir jahat banget sih La," ucap Yanti.


Tapi Yanti mengerti ketakutan yang dialami Laila. Saat masih duduk di bangku SMP, tinggal bersama dua orang keponkannya yang masih kecil dan ibu yang sudah tua tentu jadi beban berat baginya. Yanti bukan orang yang tega seperti itu. Mana mungkin ia bisa meninggalkan kedua anaknya begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2