
Pagi ini Laila terbangun saat ponselnya berdering tak henti. Ah, bukan hanya Laila, Bagus pun ikut terbangun. Dengan mata yang masih terasa berat, Laila dibuat mendadak kehilangan ras ngantuknya saat melihat layar ponselnya.
Nomor yang biasa mengancamnya memang tidak diberi nama oleh Laila. Namun Laila sudah tahu betul nomor orang itu. Dadanya menjadi sesak saat laki-laki itu kembali mengusik hidupnya.
"Siapa?" tanya Bagus dengan suara serak.
"Mas tidur aja. Aku angkat telepon dulu ya!" ucap Laila.
Tanpa menjawab pertanyaan Bagus, Laila memilih untuk menghindar. Ia tidak mau kebersamaannya dengan Bagus menjadi berantakan. Apalagi saat Bagus jauh-jauh dari Jakarta menemuinya untuk memberi sebuah kejutan.
"Apa lagi sih?" tanya Laila kesal.
Sebisa mungkin Laila bicara dengan pelan. Meskipun emosinya sudah tidak lagi bisa ditahan. Laki-laki itu menjawab akan menemui Bagus dan menunjukkan foto Laila, jika sampai sore uang yang diminta tidak ditransferkan.
Belum sempat Laila menjawab, tanpa pamit laki-laki itu segera mengakhiri panggilannya. Laila menghela napas panjang saat merasa terdesak. Akhirnya Laila memutuskan untuk bicara dengan Bagus.
Tidak ada jalan lain. Laila tidak mau uang di rekening Bagus diberikan begitu saja pada laki-laki yang sudah mengancamnya. Laki-laki yang sama sekali tidak dikenalnya.
"Aku yakin Mas Bagus akan bijaksana dalam hal ini. Aku sama sekali gak mengkhianati Mas Bagus," gumam Laila.
Tekadnya sudah bulat untuk menceritakan semua ini pada Bagus. Meskipun pada akhirnya Laila tidak bisa menjamin jika Bagus akan mengerti keadaannya. Keadaannya yang berjauhan dengan suaminya di saat usia pernikahan yang masih sangat sebentar pasti akan membuat Bagus tidak mudah percaya padanya. Apalagi saat foto itu terkesan benar-benar terlihat nyata.
"Sayang, kok masih duduk di sini? Gak mandi? Apa jangan-jangan mau lagi?" goda Bagus.
"Mas, sudah bangun?" tanya Laila.
Perlakuan Bagus yang begitu manis membuatnya merasa yakin untuk menceritakan semua ini. Sikap Bagus yang hangat tidak mungkin menghakiminya begitu saja.
"Mas," ucap Laila.
"Sebentar sayang," ucap Bagus.
Saat Laila akan menceritakan semuanya, Bagus mendengar ponselnya berdering. Karena sedang berada di Surabaya, Bagus selalu terburu-buru menjawab panggilan karena takut menyangkut pekerjaannya.
"Apa?" ucap Bagus dengan nada tinggi.
Bagus menjawab panggilan itu dari kamar. Namun masih terdengar dengan jelas nada bicara Bagus yang begitu tinggi. Laila tidak berani melihat langsung ekspresi marah suaminya. Ia hanya bisa mendengarkan kemarahan Bagus dari luar kamar.
__ADS_1
"Wanita sampah seperti itu gak pantas diperjuangkan. Istri macam apa dia? Bro, selingkuh itu gak bisa dimaafin. Buang. Cari wanita lain yang lebih pantas," ucap Bagus yang terdengar begitu berapi-api.
Laila memegang dadanya. Wanita sampah? Akankah Laila juga dibuang dan diganti dengan yang lain? Keyakinan Laila untuk menceritakan semua itu pada Bagus, tiba-tiba membuatnya ragu. Bukan hanya ragu, kini Laila justru menjadi yakin untuk tidak menceritakan semuanya.
Ketakutan Laila saat Bagus tidak percaya padanya membuat air mata itu mulai menggenang. Nyaris saja berjatuhan sebelum akhirnya Bagus menghampiri Laila.
"Maaf ya sayang. Ada apa? Tadi kamu mau ngomong apa?" tanya Bagus.
"Gak kok Mas. Gak ada apa-apa. Aku gak mau ngomong apa-apa," jawab Laila.
Bagus mengangkat dagu Laila sehingga ia bisa mengamati dengan jelas raut wajah Laila. Jelas tidak seperti biasanya. Bagus beberapa kali bertanya masalah apa yang tengah dihadapi istrinya. Namun hanya jawaban tidak dan gelengan kepala yang ia terima.
"Kita sarapan di tempat Bi Sumi aja ya!" ajak Bagus.
"Iya Mas," ucap Laila.
Dalam perjalanan, Laila merasa hidupnya sudah nyaris berakhir. Bayangan Bagus yang akan meninggalkannya sudah di depan mata.
"La," panggil Bagus.
"Eh, Mas. Udah sampai ya?" tanya Laila.
"Gak Mas. Ayo turun!" ajak Laila.
Laila segera keluar dari mobil. Ia harus menghindar dari pertanyaan Bagus dan kecurigaannya. Namun sayangnya Laila melihat laki-laki itu sudah ada di depan rumah kontrakannya.
"Akhirnya Mba Laila datang juga," ucap laki-laki itu seakan begitu akrab dengan Laila.
"Katanya sore. Ini masih pagi," ucap Laila kesal.
"Kalian janjian?" tanya Bagus sambil mengernyitkan dahinya.
"Katanya dia temannya ibu, Pak." Bi Sumi memberikan jawaban yang membuat Bagus semakin menatap Laila dengan tajam.
"Teman yang mana?" tanya Bagus.
Laila tidak ingin berbohong. Ia hanya diam. Mengunci bibirnya hingga tak bisa mengucapkan apapun lagi. Yang Laila lakukan hanya menggulung ujung bajunya dengan telunjuk. Berharap ini semua hanya sekedar mimpi. Namun tenyata semua adalah kenyataan pahit yang harus ditelannya.
__ADS_1
"Mana uangnya?" pinta laki-laki itu.
Laila menunduk. Tak bisa menjelaskan apapun. Saat ini ia hanya bisa pasrah.
"Uang? Uang apa?" tanya Bagus.
Saat Laila tidak menjawab apapun, Laila itu kembali mengancam Laila.
"Atau ibu mau aku membuka semua kenyataan itu sekarang? Di depan suami ibu?" ancam laki-laki itu.
"Kenyataan apa?" tanya Bagus lagi.
"Istri bapak selingkuh. Ini fotonya!" ucap laki-laki itu sambil menunjukkan sebuah foto dalam layar ponselnya.
"Mas, aku gak begitu. Bahkan niat aja gak ada. Gak mungkin aku begitu," ucap Laila. saat melihat Bagus menatapnya.
"Lalu ini apa namanya? Boleh cek keaslian foto ini. Tidak ada editan sama sekali," ucap laki-laki itu.
"Cukup. Saya gak kenal bapak. Jadi tolong jangan membuat rumah tangga saya berantakan," ucap Laila dengan pipi yang mulai basah karena tangisannya.
Tanpa Laila duga, tangan Bagus memeluk hangat Laila. Membiarkan Laila menangis di pelukannya. Bukan hanya Laila, laki-laki itu pun dibuat bingung oleh sikap Bagus. Sangat jauh berbeda dengan apa yang dibayangkannya.
Padahal laki-laki itu sengaja berangkat pagi-pagi. Hal ini karena Winari yang sudah tidak sabar melihat kehancuran Laila dan Bagus. Sayangnya Winari masih belum beruntung. Alih-alih melihat rumah tangga Bagus dan Laila berantakan, ternyata kejahatan Winari justru terbongkar.
"Pergi sekarang kemanapun yang kau mau. Karena sejauh apapun kamu pergi, polisi akan segera menangkapmu!" ucap Bagus.
Bagus menunjukkan sebuah video yang menunjukkan pertemuan Laila dengan laki-laki yang dituduhkan menjadi selingkuhan Laila. Saat foto itu di ambil dari salah satu arah, justru dari arah berlawanan Bi Sumi merekam video itu. Terlihat jelas apa yang dilakukan Laila.
Secepat kilat laki-laki itu pergi lari menjauh. Ssdangkan Laila menatap Bagus dengan penuh haru. Sama sekali tidak menyangka jika Bagus sudah tahu semua itu. Bagus sudah tahu sejak pertama kali laki-laki itu datang ke rumah kontarakannya.
Selama itu Bagus menunggu Laila mengadu padanya. Namun sayangnya Laila memilih bungkam. Sempat kecewa namun akhirnya Bagus mengerti kenapa Laila mengambil tindakan seperti itu.
"Harusnya kamu cerita!" ucap Bagus.
"Aku bingung Mas. Fotonya seolah-olah aku memang dekat sama laki-laki itu," ucap Laila.
"Laila, apapun yang terjadi nanti aku berhak tahu semua soal kamu. Ceritakan semuanya. Baik atau buruk, kamu adalah tanggung jawabku." Bagus mengusap kepala Laila.
__ADS_1
"Iya Mas. Aku janji akan cerita semuanya," ucap Laila.
Laila tersenyum senang saat masalah ini sudah selesai. Semuanya terasa mimpi bagi Laila. Mimpi indah yang membuatnya bisa bernapas lega. Kedatangan Bagus adalah kejutan untuknya. Apalagi saat Bagus datang dan menyelesaikan semuanya.