Dikira Janda Sama Si Duda

Dikira Janda Sama Si Duda
Krim malam


__ADS_3

"Sama-sama Mas," jawab Laila dengan napas tersenggal.


Setelah puas memeluk Laila dengan penuh kasih sayang, Bagus segera mandi. Di dalam kamar mandi, bibirnya tak henti tersenyum. Ia tidak menyangka akan mendapat kejutan seindah ini dari Laila. Ah, sungguh rasa cintanya naik berkali lipat saat Laila memberikan apa yang tidak ia bayangkan sebelumnya.


"La," panggil Bagus saat keluar dari kamar mandi.


Laila yang tengah mengenakan pakaiannya menatap sumber suara. Melihat Bagus yang sudah segar dengan harum sabun dan sampo yang membuat Laila tersenyum senang.


"Mandi dulu," ucap Bagus.


"Iya Mas," jawab Laila.


Laila segera berdiri. Bagus ikut meringis saat melihat Laila meringis menahan sakit.


"Sakit ya La?" tanya Bagus.


Laila tersenyum saat mendengar pertanyaan itu dari Bagus. Entah sudah berapa kali Bagus bertanya hal yang sama. Jawabannya memang sama, sakit. Laila merasakan sakit di daerah intinya. Namun ia berusaha menggeleng. Tidak mau membuat Bagus panik dengan rasa sakit yang dirasakannya.


"Ayo aku bantu ke kamar mandi La," ajak Bagus.


"Gak apa-apa Mas. Aku bisa sendiri kok," jawab Laila.


Bagus membiarkan Laila berjalan sendiri. Namun saat melihat Laila tertatih, Bagus segera menggendong badan mungil itu ke kamar mandi. Membantu menyalakan kran namun tidak membantunya lebih.


Laila terlalu menggoda untuknya. Bagus tidak mau saat ia harus kembali membuat Laila harus memuaskannya. Ia tahu betul Laila merasa sakit dengan apa yang sudah dilakukannya. Wajah Laila memerah saat Bagus menatapnya lekat.


"Mas jangan ngintip," ucap Laila.


"Ngintip? Aku bahkan udah lihat semuanya, La. Jangan malu lagi sama aku. Aku ini suami kamu," ucap Bagus.


"Tapi jangan gitu dong lihatnya," ucap Laila.


"Iya gak," jawab Bagus.


"Mas tunggu di luar aja!" pinta Laila.


"Gak apa-apa aku tunggu di sini aja. Aku gak ngintip kok," ucap Bagus.


Bagus berusaha memalingkan wajahnya. Meskipun ia merasa tidak mau membuang waktu untuk menikmati keindahan yang luar biasa di hadapannya. Sesekali Bagus mencuri pandang saat Laila sedang mandi.


"Ini anduknya," ucap Bagus.


Bagus sangat sigap. Saat melihat Laila selesai mandi, ia segera mengambil handuk untuk Laila. Membiarkan Laila mengelap tubuh basahnya hingga kering. Lalu kembali menggendong Laila keluar dari kamar mandi.


Bagus menurunkan Laila di depan meja rias. Membantunya duduk menghadap cermin dan mengeringkan rambutnya. Setelah itu ia berjalan ke lemari.


"Bajunya pakai yang mana?" tanya Bagus.

__ADS_1


"Biar aku aja Mas," ucap Laila.


"Gak apa-apa. Kamu tunggu aja di situ. Yang mana? Yang ini? Apa yang ini?" tanya Bagus sambil menunjukkan beberapa baju yang ada di lemari.


"Yang mana aja Mas," jawab Laila.


Sekarang waktunya untuk tidur. Bagus memilih pakaian yang tertutup untuk Laila. Ia tidak mau pakaian Laila membuatnya harus gelisah lagi karena keinginannya.


"Aku bantu pakai?" tanya Bagus.


"Gak usah Mas. Aku bisa sendiri," jawab Laila.


Laila mengenakan pakaian itu. Menyisir rambut dan berdiri. Dengan cepat Bagus kembali menggendong Laila dan membantunya tidur di atas ranjang.


"Ya ampun Mas, aku udah kayak nenek-nenek deh. Jombo banget kesannya. Kemana-mana digendong," ucap Laila.


"Bukannya gitu La. Sekarang itu kamu lagi sakit dan semua itu ulahku. Jadi ini caraku buat minta maaf sama kamu," ucap Bagus.


"Mas, aku gak nyangka kamu manis banget. Seumur-umur baru kali ini aku diperlakukan kayak ratu. Padahal aku bukan siapa-siapa," ucap Laila.


"Sekarang kamu itu siapa-siapanya aku. Kamu orang terpenting dalam hidup aku. Eh tapi soal Hasna dan Kayla itu gimana? Kenapa mereka bisa jadi anak kamu?" tanya Bagus.


Laila pun menceritakan semuanya dari awal hingga akhir. Siapa Hasna dan Kayla dan kenapa mereka bisa dianggap sebagai anaknya. Perihal panggilan Mama untuk dirinya pun tak luput dari cerita Laila.


"Lala? Jadi selama ini mereka manggil kamu Lala? Bukan Mama?" tanya Bagus.


"Enak aja," ucap Bagus.


Bagus benar-benar baru tahu kalau panggilan Mama dan Papa untuk mereka karena ulah Bu Rini. Ibu kontrakan yang sangat berjasa untuk hubungan mereka. Bagus pun menceritakan kesalahpahaman dirinya dengan Bu Rini. Dimana Bu Rini menganggapnya sebagai mantan suami Laila dan ayah kandung dari Hasna dan Kayla.


"Ah yang bener Mas?" tanya Laila.


Banyak hal yang ternyata tidak mereka ketahui. Dalam kesempatan itu, Bagus dan Laila saling terbuka. Sama-sama bercerita tentang masa lalu mereka. Bahkan Bagus sempat marah saat mendengar pengakuan Laila. Bagus benar-benar tidak menyangka kalau Laila sudah tahu jika Winari memang memiliki pacar saat akan menikah dengannya.


"Kamu jahat banget sih La jadi orang?" tanya Bagus.


"Eh Mas kalau dulu Mas gak nikah sama Kak Winari, mungkin Mas sekarang gak bakal nikah sama aku. Jadi Mas nyesel nih ceritanya nikah sama aku?" ucap Laila.


Bagus menatap Laila sambil menggelengkan kepalanya. Benar kata Laila, seandainya saat itu ia menikah dengan orang lain mungkin ceritanya akan berbeda. Bagus tidak akan menikah dengan Laila saat ini.


"La, terima kasih banyak ya! Aku bener-bener bahagia," ucap Laila.


Dengan penuh kasih sayang Bagus memeluk Laila dan mengecup seluruh wajah Laila. Membuat Laila mendorong tubuh Bagus.


"Mas, aku baru pakai krim malam. Bisa habis krim malamku nempel di bibir kamu," ucap Laila sambil memegang kedua pipinya.


"Nanti beli lagi yang banyak. Jangan takut," ucap Bagus.

__ADS_1


Setelah selesai membahas masa lalu, Bagus mengajak Laila untuk membahas masa depan. Bagus bertanya tentang jatah bulanan yang diinginkan Laila darinya. Namun lagi-lagi Bagus dibuat kagum dengan jawaban Laila.


"Berapa aja Mas. Aku percaya sama Mas. Berapapun yang Mas kasih ke aku, itu rejeki kita. Aku bakalan pakai sebaik mungkin," ucap Laila.


"Gak ada target gitu La mau berapa?" tanya Bagus.


"Ya paling gak sesuai UMR lah," jawab Laila sambil tertawa.


Bagus melihat ada ketulusan di tatapan Laila. Bahkan Laila mengikuti semua yang Bagus inginkan. Tidak menghubungi chef, tidak menghubungi teman laki-laki, tidak ini dan tidak itu. Laila hanya mengangguk tanpa protes sedikitpun. Hal itu justru membuat Bagus merasa ada sesuatu yang aneh.


"Kamu kok gak protes La?" tanya Bagus.


"Memangnya apa yang harus diprotes, Mas?" tanya Laila.


"Ya kali aja gitu kamu keberatan sama permintaan aku," jawab Bagus.


Laila menggeleng. Ia sama sekali tidak keberatan dengan adanya permintaan dari Bagus. Ah sebenarnya itu lebih seperti aturan, bukan permintaan. Namun bagi Laila tidak ada yang harus diributkan. Laila sendiri tidak punya teman laki-laki yang harus dihubunginya. Dengan chef pun, Laila sudah tidak bekerja di tempat yang sama. Apa yang harus dibahas lagi dengan chef?


"Terus kamu sendiri gimana buat aku? Apa yang boleh dan gak boleh aku lakuin?" tanya Bagus.


Laila diam sambil mengernyitkan dahinya. Ia berpikir, aturan macam apa yang harus ia berikan untuk Bagus. Haruskah Bagus juga tidak menghubungi teman-teman perempuannya? Tapi Laila yakin banyak sekali teman perempuan yang berpengaruh dengan pekerjaan Bagus.


"Apa ya? Aku sih cuma minta Mas sehat aja. Biar selalu jujur dan setia sama aku. Karena kalau udah gak jujur dan setia, artinya Mas udah gak sehat. Ngerti kan maksud aku?" tanya Laila.


"Iya. Sehat yang kamu maksud waras kan?" Bagus meyakinkan apa yang ditangkapnya dari ucapan Laila.


"Pinter," jawab Laila sambil mengangkat jempol tangannya.


Bagus melihat jam di ponselnya. Sudah jam satu malam. Menghabiskan waktu dengan orang yang tepat ternyata tidak terasa. Sudah terlalu malam jika Bagus melanjutkan obrolannya. Akhirnya Bagus mengajak Laila tidur.


"Selamat malam dan selamat tidur istriku," ucap Bagus.


"Selamat malam dan selamat tidur juga, Mas." Laila tersenyum haru pada Bagus.


Ah, Laila sama sekali tidak menyangka jika akhirnya ia bisa bertemu dengan laki-laki hebat dalam hidupnya. Laki-laki yang memperlakukannya dengan sangat baik. Bayangan suami seperti Deri sudah lenyap dari ketakutannya. Laila bisa membuktikan bahwa tidak setiap suami seperti Deri. Tidak semua rumah tangga seperti Deri dan Yanti.


Bang Der, kamu dimana? Kamu harus tahu kalau aku udah bahagia sekarang. Hasna dan Kayla udah dapet kasih sayang dari Mas Bagus. Laki-laki yang jauh lebih punya hati den empati untuk mereka berdua. Gak kayak Abang. Oh ya Bang, aku juga mau buktiin kalau kutukan Abang udah sirna. Takdir udah buktiin kalau aku bisa menikah sama laki-laki terbaik yang pernah aku temuin.


Laila memejamkan matanya saat Bagus mematikan lampu kamar dan menggantikan lampu tidur yang jauh lebih redup. Rasanya Laila sedah berada di negeri dongeng. Rasanya saat ini dunia penuh dengan keindahan. Apalagi saat Bagus tidur dengan memeluknya.


Berbeda dengan Bagus yang sudah terlelap, Laila justru tidak bisa tidur. Berkali-kali Laila menatap Bagus yang tidur menghadap ke arahnya. Senyumnya selalu terukir setiap kali Laila mengingat semua kebaikan yang Bagus berikan untuknya.


Entah jam berapa Laila tertidur. Ia hanya ingat saat mencium wangi nasi uduk. Perlahan matanya terbuka untuk memastikan indra penciumannya masih berfungsi dengan baik atau tidak.


"Mas," panggil Laila.


Laila merasa ini mimpi saat melihat Bagus tengah menuangkan teh hangat ke dalam gelas. Sudah ada nasi uduk dan beberapa potong buah-buahan juga di sana. Laila sampai mengucek matanya untuk memastikan penglihatannya.

__ADS_1


"Pagi, La. Mau aku bantu ke kamar mandi?" tanya Bagus.


__ADS_2