
Waktu yang sudah ditentukan sudah tiba. Yanti dan kedua anaknya sampai di Jakarta. Laila menunggu mereka dan segera membawanya ke kosan yang sudah disiapkan.
"La, kangen banget." Yanti memeluk Laila dengan hangat.
Laila pun membalas pelukan Yanti. Rasa rindu yang begitu besar membuat keduanya sampai meneteskan air mata. Apalagi saat Hasna dan Kayla yang dengan riang memeluknya. Laila merasa bahagia yang sangat luar biasa.
"Maaf La, ibu nelepon." Sopir menyerahkan ponselnya pada Laila.
"Oh iya Mang. Terima kasih ya," ucap Laila.
Ponsel Laila yang hanya memakai getar dan di simpan dalam tas membuat panggilan Bu Indah diabaikan. Kekhawatiran Bu Indah membuatnya menelepon Laila lewat sopirnya. Perhatian Bu Indah pada Laila membuat Yanti iri. Mereka yang baru mengenal saja sudah saling menyayangi seperti itu. Apa kabar orang tuanya yang kini menghilang entah kemana.
"Iya Bu, saya pulang. Sebentar lagi ya," ucap Laila.
"Ya udah La, kamu pulang aja. Besok kita bisa ketemu lagi," ucap Yanti saat telepon dari Bu Indah sudah berakhir.
Laila sebenarnya tidak enak saat harus pulang. Bu Indah sebenarnya mengajak Laila membawa Yanti dan kedua anaknya ke rumah besar dan megah itu. Namun Laila merasa itu tidak perlu. Belum saatnya ia membawa keluarganya ke rumah Bu Indah.
Beruntung Yanti sangat mengerti keadaan Laila. Walaupun sempat ada drama saat Hasna menangis karena ingin ikut pada Laila. Namun akhirnya Yanti bisa membujuk Hasna agar Laila bisa pergi.
Ini adalah pengalaman Yanti pertama kalinya hidup mandiri. Benar-benar mandiri. Dulu selalu bersama orang tuanya, lalu bersama mertuanya. Meskipun sempat beberapa bulan setelah menjanda tinggal bertiga, namun Laila hidup bersama orang-orang yang sudah lama dikenalnya. Kini ia benar-benar sendiri di lingkungan yang asing. Ah, tidak sendiri. Ada dua anaknya yang selalu menemaninya dan menjadi penguatnya.
Sebelum benar-benar pulang, Laila sudah menyiapkan makan malam untuk mereka bertiga. Belum lagi jajanan yang sengaja Laila beli untuk dua keponakan kesayangannya.
"Bu," panggil Laila saat melihat Bu Indah duduk di ruang tv.
"Mana kakakmu itu?" tanya Bu Indah.
"Istirahat di kosan Bu," jawab Laila.
"Kamu kenapa sih gak bawa dia ke sini aja? Di sana kan harus bayar kost. Suruh pindah ke sini aja," ucap Bu Indah.
"Udah terlanjur bayar kosan Bu," ucap Laila.
Bu Indah mengamati Laila. Ternyata meskipun Bu Indah memberikan banyak keleluasaan, namun Laila tidak berani seenaknya. Bahkan menurut Bu Indah, Laila terlalu tidak enakkan. Padahal Bu Indah tulus mengajak keluarga Laila untuk tinggal di rumahnya.
"Ya sudah kamu istirahat ya," ucap Bu Indah.
Letak kosan Yanti dan sekolah yang tidak terlalu jauh, membuat Laila sering mampir ke kosan itu. Bukan sering, bahkan setiap pulang sekolah, Laila pasti ke kosan Yanti. Tanpa bantuan Laila, Yanti sudah mendaftarkan Kayla yang sudah masuk ke kelas dua itu ke SD terdekat.
"Aduh maaf ya Kak. Aku jadi gak nganterin Kakak daftarin Kay," ucap Laila.
"Gak apa-apa. Sekolahnya deket kok. Kakak juga bisa sendiri. Nanti kalau Kakak butuh bantuan, pasti nelepon kamu. Jangan bosen-bosen direpotin ya," ucap Yanti.
__ADS_1
"Ih apaan sih Kak. Mana ada ngerepotin. Sebenernya aku gak enak karena biarin kakak ngekost di sini tapi aku malah tinggal di rumah Bu Indah," ucap Laila.
"Eh, jangan gitu. Kakak ngerti kok," ucap Yanti.
Yanti meminta bantuan Liala untuk mengantarnya ke toko baju dan kosmetik. Ia ingin melanjutkan jualan onlinenya. Untuk bertahan hidup di ibu kota, Yanti tidak bisa hanya mengandalkan jualan makanan dan minuman saja.
"Tapi Hasna gimana kalau Kakak jualan online?" tanya Laila.
Ya, Laila yang pernah bergelut di dunia jualan online tahu betul bagaimana kegiatannya. Mengunjungi toko untuk mengambil foto realpict yang akan dijual. Belum lagi kalau ada pesanan. Yanti harus kembali ke toko, mengemas dan mengirimnya ke ekspedisi terdekat.
"Hasna bisa Kakak bawa," jawab Yanti.
"Naik ojek online?" tanya Laila.
"Sementara ini sih iya. Tapi nanti kalau ada uang, Kakak mau beli motor bekas," jawab Yanti.
Laila menatap Yanti nanar. Ada rasa iba saat melihat beban di pundaknya begitu besar. Akhirnya ia memberi saran untuk mengambil foto di toko itu. Sementara ini, Laila meminta Yanti mengurus toko onlinenya saja. Biar kegiatan di lapangannya ia kerjakan sendiri. Kebetulan ada sopir yang selalu siap mengantarnya.
Dengan begitu, Hasna tidak perlu dibawa kemana-mana. Jalanan Jakarta itu tidak seramah di kampungnya. Terlalu banyak ini dan itu yang menurut Laila akan sangat membahayakan Hasna.
"Tapi itu ngerepotin kamu. Kamu kan sekolah," ucap Yanti.
"Nanti aku atur waktunya biar gak ganggu waktu sekolah. Kakak tenang aja," ucap Laila.
"Seandainya ibu tahu kamu udah besar dan mandiri begini, ibu pasti bangga. Jadi orang paling bahagia deh," ucap Yanti.
"Satu yang aku inget Kak. Ibu selalu minta biar kita selalu rukun dan saling menyayangi," ucap Laila.
Sebenarnya itu bukan hanya untuk Laila dan Yanti, tapi untuk Deri juga. Namun sikap dan ucapan Deri sepeninggal ibunya, membuat Laila hilang respect sama sekali. Ia bahkan sudah tidak mau menganggap Deri bagian dari hidupnya. Bahkan sekedar mengakui Deri pernah hadir di masa lalunya saja sudah malas.
"Udah ah kak jangan bahas ibu lagi. Jadi sedih," ucap Laila.
Laila pun pamit setelah puas melepas rindu. Tak lupa Laila izin untuk tidak mampir besok, karena ia harus ke toko untuk mengambil beberapa foto baju untuk bisnis onlinenya.
Tentu Laila meminta izin pada Bu Indah. Awalnya Bu Indah sempat keberatan, namun setelah mendengar penjelasan Laila tentang keadaan Yanti akhirnya Laila mendapat izin. Hampir setiap hari Laila telat pulang ke rumah. Belum lagi saat pulang ke rumah, sudah ada Bu Herlin yang menunggunya.
Bu Herlin yang sudah kembali dari luar kota sering menemui Laila di rumah Bu Indah. Padahal tidak ada permintaan Bu Indah agar Bu Herlin ke rumahnya. Itu semua murni karena keinginan Bu Herlin. Tidak ada pembelajaran apapun, Bu Herlin hanya sekedar mengobrol rencana tokonya.
Lama semakin lama, membuat Bu Indah merasa Laila semakin sibuk dengan kegiatannya. Kadang terselip rasa cemburu saat melihat Laila menghabiskan waktunya tanpa Bu Indah. Sampai akhirnya Bu Indah menegur Laila.
"Seminggu lagi kamu ujian. Belajarlah," ucap Bu Indah mengingatkan.
"Iya Bu. Tiap malam juga saya belajar," jawab Laila.
__ADS_1
"Jangan banyak keluyuran. Kamu jangan sampai drop. Ingat orderan Nak Bagus," ucap Bu Indah.
Laila mulai peka. Ia tahu keinginan Bu Indah. Meskipun sulit, namun Laila berusaha memenuhi keinginan Bu Indah. Ia mengabari Yanti jika tidak bisa menemuinya selama seminggu ke depan. Urusan toko akan tetap berjalan lancar. Laila meminta bantuan pelayan toko untuk bekerja sama.
Beruntung pelayan tokonya baik dan mau diajak kerja sama. Tidak hanya itu, Laila juga meminta bantuan kurir untuk mengambil barang di toko itu. Orderan yang lumayan banyak membuat pemilik toko dan jasa ekspedisi tidak keberatan. Justru mereka senang dengan kerja sama yang ditawarkan Laila. Sementara itu, Yanti hanya bisa tersenyum senang saat Laila mengatur semuanya.
Meskipun Laila tidak bisa menemui Yanti, namun Laila tetap membantunya. Kadang Yanti merasa dirinya terlalu banyak merepotkan Laila. Hanya saja, dalam kondisi saat ini Yanti memang sangat membutuhkan bantuan Laila.
Seminggu berlalu. Hari ini tepat pertama kalinya Laila melaksanakan ujian semesternya. Laila menyempatkan diri untuk menemui Yanti dan melihat kondisi kedua keponakannya.
"Kak, maaf ya aku gak bisa lama-lama. Aku pulang dulu," ucap Laila.
Hasna dan Kayla yang sedang tidur siang bahkan tidak sempat bertemu dengan Laila. Sebuah kecupan yang diberikan Laila tidak membangunkan keduanya. Sedih, tapi apa yang dilakukan Laila saat ini tentu untuk masa depan mereka berdua juga. Laila tentu ikut serta dalam membantu perekonomian keluarga Yanti.
"Gimana hasilnya?" tanya Bu Indah saat melihat Laila pulang sekolah.
"Belum diperiksa Bu. Kan masih hari pertama. Tapi tadi saya bisa ngisi semua soalnya," jawab Laila.
"Syukurlah," ucap Bu Indah senang.
Seminggu sudah berlalu, ujian sudah selesai. Nilai sudah dibagikan. Hampir semua nilai ujian Laila di atas angka sembilan puluh. Senyuman di bibir Bu Indah jelas terlihat. Dengan penuh kasih sayang Bu Indah memeluk Laila dan berterima kasih.
"Harusnya saya yang terima kasih sama ibu," ucap Laila.
Seminggu ke depan, masa remedial dan porak. Karena Laila tidak mendapat remedial, Laila sering ke tempat Yanti saat porak sedang berlangsung. Kondisi sekolah yang tidak efektif membuat Laila mempunyai banyak kesempatan untuk bisa bersama dengan Yanti.
"Kamu gak dimarahin guru kesini jam sekolah?" tanya Yanti cemas.
"Gak dong Kak. Lagi porak," jawab Laila.
"Kakak cuma gak mau nanti Bu Indah jadi kecewa sama kamu gara-gara sering keluar rumah cuma buat ketemu sama Kakak," ucap Yanti.
"Tenang, Kak. Semuanya dijamin aman. Oh iya gimana jualan onlinenya?" tanya Laila.
"Wah, makin banyak La. Semalem Kakak sampai tidur jam satu karena harus rekap pesenenan konsumen. Banyak banget," jawab Yanti.
"Wah, syukurlah. Ikut seneng dengernya," ucap Laila.
Tiba waktunya Laila dibagi raport. Hasil yang sangat memuaskan. Akhirnya Laila memimpin. Juara satu kelas dipegang oleh Laila. Walaupun juara umum jurusan tata boga belum bisa diambil alih.
"Selamat sayang," ucap Bu Indah sambil memeluk Laila penuh bangga.
Laila pun terharu dengan ekspresi Bu Indah. Namun pikiran Laila melayang pada Kayla yang hari ini dibagi raport juga. Ingin rasanya ia menemui Kayla dan mengapresiasi hasil belajarnya selama di Jakarta. Namun tidak enak dengan Bu Indah. Apalagi Bu Indah mengajaknya untuk makan di cafe biasa setelah acara di sekolah selesai.
__ADS_1