
"Kasian juga si Laila ya," gumam Bagus.
Perjalanan pulang diurungkan oleh Bagus. Ia memilih untuk kembali ke kantor. Meminta maaf pada Laila dan menjalankan kembali misinya untuk membalas dendam pada Winari.
Wajah Bagus sudah berseri-seri. Ia sudah mempersiapkan kata-kata yang disusun sebaik mungkin. Berharap Laila tidak marah lagi padanya. Namun senyum Bagus tidak bertahan lama karena Laila tengah berdua dengan chef di kantin.
"Makan ini!" ucap Chef sambil mengangkat makanannya ke depan mulut Laila.
Bener-bener ya Laila. Pantes aja lakinya pergi. Orang ceweknya genit begini.
Bagus berdiri sambil menggerutu dalam hatinya.
"Pak," panggil Laila.
Bagus yang tengah menatap mereka dengan tajam langsung mengerjap. Ia berusaha terlihat tenang. Meskipun hatinya benar-benar merasa kesal melihat Laila berduaan dengan Chef.
"La, saya ke sana dulu ya!" ucap Chef.
Chef yang tahu kalau orang itu adalah Bagus, segera pergi. Laila sudah menceritakan tentang Bagus yang hampir memecatnya. Chef itu berusaha menjaga jarak di depan Laila saat ada Bagus.
Rasa yang mulai tumbuh di hati chef untuk Laila membuatnya cemburu saat Laila bersama dengan Bagus. Namun karena Bagus khawatir dengan nasib Laila, Bagus harus mengalah. Lebih baik ia menjauh saat Laila bersama Bagus. Dari pada Bagus memecatnya. Itu akan lebih menyulitkannya untuk bertemu dengan Laila.
Lagi pula, dari pengakuan Laila tidak ada perasaan apapu pada Bagus. Walaupun chef tahu kalau Bagus sudah ada perasaan untuk Laila. Wajar saja, selain Laila cantik wanita itu juga baik. Kepolosannya membuat Laila terlihat apa adanya.
Sikap dan sifat Laila memang mudah membuat orang nyaman saat bersamanya. Laila yang penuh dengan ketulusan selalu membuat orang disekitarnya senang. Walaupun masih banyak yang mengiranya janda beranak dua.
Hal itu sudah mulai terbiasa di telinga Laila. Kini sudah tidak ada lagi kesedihan yang berlebih saat banyak orang yang menganggapnya sebagai janda. Meskipun sebagai manusia biasa, Laila sesekali berada di fase jenuh dengan sebutan yang dituduhkan padanya itu. Tapi di satu sisi, Laila mengambil sisi positifnya.
Bagi Laila, mungkin dengan anggapan orang tentang statusnya akan mendatangkan laki-laki yang mencintainya dengan tulus. Kalau saja ada orang yang bisa menerima kedua keponakannya, Laila yakin jika laki-laki itu tulus padanya.
"Bapak ngapain ke sini?" tanya Laila.
"Kenapa? Gak boleh?" tanya Bagus.
"Bukannya begitu Pak. Saya kan cuma nanya," jawab Laila.
Tanpa di suruh, Bagus duduk di hadapan Laila. Menatap Laila dengan lekat hingga membuat Laila salah tingkah.
"Bapak kenapa lihatin saya begitu sih Pak? Ada belek ya, Pak?" tanya Laila.
"Gak ada," jawab Bagus.
"Upil?" tanya Laila sambil mengupil.
"Astaga Laila. Kamu kenapa jorok banget sih?" ucap Bagus sambil memalingkan wajahnya.
"Abisnya Bapak lihatin saya begitu. Saya kan bingung. Siapa tahu ada apa-apa gitu di wajah saya," ucap Laila.
Bagus menggelengkan kepalanya. Lalu dengan tegas Bagus menanyakan hubungan Laila dengan Chef. Setelah tahu kalau Laila tidak mempunyai hubungan apapun selain berteman, Bagus tersenyum senang.
Meskipun Bagus tidak merasa cemburu, namun kenyataannya mendengar Laila hanya berteman dengan chef cukup membuatnya senang. Bagus pun memutuskan untuk melanjutkan rencananya. Membalas dendam pada Winari dengan cara melibatkan Laila.
"Tapi Pak," ucap Laila.
"Gak ada tapi-tapian. Mau ikut rencanaku atau mau dipecat?" tanya Bagus.
__ADS_1
Laila diam. Ia memikirkan Hasna dan Kayla. Namun Bagus menjanjikan semuanya akan berjalan dengan baik. Untuk sementara ini, Bagus hanya akan memamerkan Laila melalui media. Itu pun hanya Winari yang tahu.
Saat Bagus membawa Laila ke Jakarta, Bagus akan meminta orang untuk menemani dan mengurus kedua keponakannya. Sebagai hadiahnya, Bagus akan menjanjikan jabatan yang Laila inginkan di pabrik kue yang akan dibangunnya nanti.
"Bener ya?" tanya Laila.
"Kapan aku bohong sama kamu? Yang ada kamu bohong sama aku," jawab Bagus.
"Mana ada saya bohong sama kamu? Saya itu jujur Pak. Saya ngomong seadanya," ucap Laila.
"Kamu ngomong yang gak sesuai sama kenyataan. Aku jadi duda gara-gara kamu, Laila. Jadi kamu yang harus tanggung jawab," ucap Bagus.
"Ih, mana bisa begitu? Kenapa saya disalahin?" tanya Laila.
"Kalau bukan kamu yang bujuk-bujuk saya, gak mungkin saya jadi duda." Bagus menunjuk Laila, meyakinkan Laila akan kesalahannya.
"Tapi kalau Bapak bisa mempertahankan pernikahan, saya yakin Bapak gak akan jadi duda." Laila masih berusaha membela diri.
"Oh jadi kamu gak mau disalahin? Siapa yang bisa bertahan kalau ternyata istrinya. Ahhh," ucap Bagus sambil menggebrak meja.
Laila sampai terkejut saat melihat Bagus marah. Laila jadi penasaran apa yang sebenarnya terjadi dengan rumah tangga Bagus dan Winari. Apa laki-laki itu ketahuan sama Bagus? Ucapan Bagus yang tidak selesai membuat Laila semakin ingin tahu. Namun bukan waktu yang tepat untuk bertanya hal itu.
Sabar Laila, semua akan terjawab. Gak apa-apa disalahin terus. Sabar aja.
Jauh dalam hati Laila, ia pun menyadari kesalahannya. Bagaimanapun ia memang ikut andil dalam pernikahan Laila. Ia juga tahu perselingkuhan Winari dengan laki-laki itu. Namun Laila tidak terima kalau Bagus terus-terusan menyalahkannya.
"Pak, ini udah jam masuk. Saya permisi dulu ya!" ucap Laila.
"Tapi ingat ya! Kamu harus tanggung jawab," ucap Bagus mengingatkan.
"Iya Pak, iya. Saya masih muda, belum pikun. Tenang aja," ucap Laila.
Laila, kamu memang unik.
Bagus tersadar saat panggilan di ponselnya berdering nyaring. Ia segera menerima panggilan di ponselnya. Setelah panggilan berakhir, Bagus dengan cepat meninggalkan tempat itu. Sementara Laila kembali ke dapur utama. Menemui Chef untuk kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Dia gak ngapa-ngapain kamu, kan?" tanya Chef.
"Gak, chef. Dia baik kok. Jangan khawatir ya," ucap Laila.
"Kamu suka sama dia?" tanya Chef.
Suka? Lagi-lagi Laila menuduh Chef cemburu padanya. Sama halnya seperti Laila menuduh Bagus cemburu padanya. Walaupun sebenarnya mungkin sudah ada perasaan untuk Laila dari keduanya.
"Aku sih asal kamu bahagia aja," ucap Chef tiba-tiba.
"Kalau aku bahagia sama dia gimana?" tanya Laila.
Chef menghela napas panjang tanpa menoleh ke arah Laila. Ia berusaha menyembunyikan perasaan kecewanya.
"Ya gak apa-apa. Lagi pula Pak Bagus jauh lebih mapan. Kebutuhan kedua anak kamu pasti terjamin sama dia," jawab Chef dengan lemas.
Laila tiba-tiba terdiam. Ia kembali teringat satu, dua tahun ke belakang. Ia sempat ingin menikah muda. Mencari pria kaya buat dipamerkan pada Deri. Membuktikan kalau kutukan Deri tidak mungkin jadi kenyataan. Namun saat ini, Laila tiba-tiba berpikir jika laki-laki mapan belum tentu bisa menerima kedua keponakannya.
"Aku sih cari yang sayang sama Hasna dan Kayla aja. Masalah duit sih bisa dicari sama-sama," ucap Laila.
__ADS_1
Jawaban Laila membuat chef menghentikan kegiatannya. Melihat dengan senyum senang ke arah Laila.
"Kenapa lihat saya sambil senyum-senyum begitu?" tanya Laila.
"Gak," jawab Chef sambil memalingkan wajahnya.
Chef senang saat merasa memiliki kesempatan untuk bisa menikahi Laila. Soal Hasna dan Kayla, Chef rasa bukan masalah. Ia menyukai anak kecil. Bukan hal yang sulit untuk menerima keduanya.
Setelah jam istirahat, Laila dan Chef berjalan sangat baik. Ia senang saat melihat Laila bekerja dengan ceria dan semangat. Chef merasa Laila menularkan energi positif padanya.
"Mau saya antar pulang?" tanya Chef saat jam pulang.
"Gak usah. Saya bisa pulang sendiri. Ini masih siang kok," jawab Laila.
"Udah ayo sekalian!" ajak Chef.
Laila sempat menolaknya beberapa kali. Namun chef berusaha membujuk Laila agar bisa pulang dengannya. Akhirnya Laila mengiyakan. Dalam perjalanan pulang, mereka mengobrol beberapa hal. Wajah bahagia Chef terlihat sekali.
"Pak Bagus ngapain sih?" ucap Laila.
Chef yang melihat mobil Bagus terparkir di depan rumah Laila, sudah kehilangan moodnya. Tanpa banyak kata, Chef pamit saat Laila sudah keluar dari mobilnya.
"Chef, terima kasih banyak ya!" ucap Laila sambil melambaikan tangannya.
Setelah mobil Chef berlalu, Laila baru menghampiri Bagus.
"Udah lama Pak?" tanya Laila.
"Ngapain kamu dadah-dadah begitu? Norak," ucap Bagus.
"Lah, suka-suka saya dong. Bapak ngapain ke sini?" tanya Laila.
Mood Bagus dibuat naik turun karena keberadaan Chef itu. Meskipun Bagus tidak mau mengakui perasaannya, namun ia tidak bisa menyembunyikan kekesalannya setiap kali melihat Laila bersama Chef itu.
Bagus harus berusaha menenangkan dirinya agar bisa bicara dengan baik. Butuh waktu beberapa saat untuk bisa bicara dengan Laila.
"Ganti bajumu! Kita harus ke lokasi sekarang!" ucap Bagus.
"Lokasi apa, Pak?" tanya Laila.
"Bisa gak sih kamu gak usah banyak tanya?" ucap Bagus.
Laila diam. Ia segera mandi dan berganti baju tanpa mengajak Bagus untuk masuk ke rumah kontrakannya. Beberapa kali Bagus menatap pergelangan tangannya. Pintu rumah terbuka namun Laila tak kunjung keluar.
"Ayo!" ajak Laila saat hampir tiga puluh menit.
Bagus mengernyitkan dahinya saat melihat Laila turut membawa Hasna dan Kayla. Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa saat Laila mengancamnya. Laila tidak akan ikut ke lokasi yang dimaksud Bagus.
Selama perjalanan, Bagus diam. Tidak satu pun pertanyaan yang diajukan Bagus untuk Laila. Ia hanya mendengarkan Laila menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak penting menurutnya. Namun Laila dengan sabar menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Hasna dan Kayla.
Laila yang Bagus kenal sebelumnya tidak seperti Laila saat ini. Dengan penuh sabar, Laila terus bicara dengan Hasna dan Kayla. Berbeda saat Laila bicara dengannya. Selalu menyebalkan, membuat Bagus darah tinggi.
"Sudah sampai. Ayo turun!" ajak Bagus.
Sebelum turun, Laila mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ia melihat tanah kosong yang begitu luas. Laila bingung apa tujuan Bagus membawanya ke tempat itu. Tanah yang jauh dari pemukiman warga. Bahkan di ujung tanah kosong itu masih terdapat banyak rumput tinggi. Tiba-tiba Laila memeluk kedua keponakannya dengan erat.
__ADS_1
"Pak tolong jangan apa-apain saya. Saya janji mau tanggung jawab asal Bapak biarkan saya dan mereka hidup," ucap Laila.
"Mikir apa sih kamu? Otak kamu kotor Laila. Dasar Piktor," ucap Bagus kesal.