Dikira Janda Sama Si Duda

Dikira Janda Sama Si Duda
Empat orang


__ADS_3

Laila tidak bisa tidur. Ia teringat ucapan Kayla. Kenapa tiba-tiba Kayla membahas tentang Deri? Ah tidak tiba-tiba. sebenarnya Kayla sering membahas tentang Deri dengan Bagus. Namun dengan Laila, mungkin ini yang pertama kalinya.


"Bang, kenapa sih kamu bikin semuanya jadi rumit? Padahal aku udah cukup seneng menjalani hidup sama Hasna dan Kayla tanpa Abang," gumam Laila.


Laila menghela napas panjang. Pikirannya kacau. Ingin sekali Laila menceritakan semuanya pada seseorang. Tapi siapa? Bagus? Ah tidak perlu. Laila tidak ingin cerita tentang Deri kembali diangkat.


"Bu," panggil Bi Sumi sambil mengetuk pintu.


"Iya Bi. Kenapa?" tanya Laila.


"Ada telepon dari Pak Bagus. Katanya ibu gak jawab panggilan Bapak dari tadi. Saya disuruh cek takut ibu kenapa-kenapa," jawab Bi Sumi.


Telepon? Astaga. Laila sampai lupa jika sejak tadi ia mengabaikan ponselnya. Bahkan Laila cukup kebingungan mencari ponselnya. Namun pada akhirnya ponsel itu ditemukan dari dalam tasnya. Ternyata sejak pulang dari sekolah Kayla, Laila tidak memainkan ponsel sama sekali.


"Sebentar ya Bi. Saya telepon Mas Bagus dulu," ucap Laila.


Setelah memastikan Laila berkomunikasi dengan Bagus, Bi Sumi segera pamit. Tugasnya sudah selesai. Namun pada saat akan kembali ke dapur, Bi Sumi melihat Kayla tengah duduk di teras belakang.


Dari dalam dapur, Bi Sumi memperhatikan Kayla. Ditangannya terdapat buku dan pulpen. Nampak seperti sedang menulis namun Bi Sumi tidak tahu apa yang ditulis Kayla.


Awalnya Bi Sumi tidak menghampiri Kayla. Pikiran Bi Sumi tidak jauh dari PR atau tugas sekolah yang harus dikumpulkan secepatnya. Namun lama-lama Bi Sumi melihat Kayla mengusap pipinya. Kian lama kian kerap Kayla melakukan hal serupa.


"Dia nangis ya?" gumam Bi Sumi.


Masih memantau, Bi Sumi menatap lekat Kayla dari kejauhan. Saat Kayla meninggalkan tempat itu, Bi Sumi mencoba mengikuti langkah Kayla. Entah kemana, Bi Sumi tidak tahu tujuan Kayla. Yang Bi Sumi tahu, Kayla hanya berjalan dengan memegang erat buku di tangannya.


Kayla dengan wajah murung menepi dan duduk d bawah pohon. Di sebuah taman yang tidak terlalu jauh dari rumahnya. Walaupun dengan umur Bi Sumi, jarak itu lumayan membuat kakinya pegal.


"Kay," panggil Bi Sumi.

__ADS_1


"Bibi," ucap Kayla terkejut.


Kayla tampak melihat Bi Sumi dengan tatapan bingung. Kedatangan Bi Sumi di tempat itu sama sekali tidak terbayangkan oleh Kayla. Apalagi saat Bi Sumi tersenyum dan memeluknya.


"Kamu gak sendiri Kay. Kalau Mama Laila gak bisa dengerin cerita kamu, Bibi bisa kok. Cerita sama Bibi ya!" ucap Bi Sumi.


Kayla menahan dadanya yang sesak. Tanpa bisa ditahan, air matanya jatuh begitu saja. Tangisannya pecah dalam pelukan Bi Sumi. Walaupun Kayla belum bisa menceritakan apa yang menjadi beban dalam hatinya, namun setidaknya ada orang yang mengerti perasaannya saat ini.


"Pulang yu!" ajak Bi Sumi.


Kayla menggeleng. Ia masih ingin menangis bebas sepuasnya. Dadanya yang sesak harus lega saat pulang ke rumah. Ia tidak mau kegelisahannya saat ini membuat Laila menjadi tidak nyaman. Apalagi Kayla tahu saat ini Laila tidak boleh banyak pikiran.


"Aku gak mau pulang," jawab Kayla disela isak tangisnya.


"Ya udah cerita dulu biar lebih tenang," ucap Bi Sumi.


Kayla menunjukkan bukunya. Tulisan tangan Kayla berhasil membuat hati Bi Sumi terenyuh. Seakan ia larut dalam luka yang dialami oleh Kayla.


Kalimat tanya dan ungkapan hati seorang anak yang dikemas dalam tulisan sederhana. Namun maknanya membuat Bi Sumi tak mampu menahan air matanya.


"Kamu anak hebat. Anak kuat dan gak semua orang bisa kayak kamu Kay," ucap Bi Sumi sambil memegang tangan Kayla dengan erat.


"Aku gak sekuat yang Bibi pikir," ucap Kayla.


"Gak, Kay. Kamu kuat. Kamu anak paling kuat yang Bibi temui," ucap Bi Sumi.


Kayla pun merasa sedikit kuat saat Bi Sumi berusaha menguatkannya. Air mata itu sudah tak mengalir lagi. Ia mulai mengatur napas dan tersenyum.


"Mau cerita sama Bibi atau kita langsung pulang?" tanya Bi Sumi.

__ADS_1


"Tanpa aku cerita, aku yakin Bibi tahu apa yang aku rasakan. Kita pulang aja," jawab Kayla.


"Tapi naik ojek ya!" ucap Bi Sumi. "Gempor Bibi, Kay." Bi Sumi melanjutkan ucapannya saat melihat Kayla menatapnya tajam.


"Aku gak bawa uang," ucap Kayla.


"Astaga. Bibi juga," ucap Bi Sumi sambil meraba semua sakunya.


"Ya udah jalan aja. Biar sehat," ucap Kayla.


Bi Sumi tidak punya pilihan lain selain jalan kaki. Meskipun betisnya sudah terasa mengkal, tapi setidaknya ia senang saat melihat Kayla sudah bisa tersenyum lagi.


Saat mereka sedang berjalan menuju ke rumah Laila, tidak sengaja mereka berpapasan dengan seorang anak yang sedang memulung. Tangannya digenggam oleh seorang bapak tua yang juga memegang wadah besar di tangan yang lainnya.


"Kamu lihat itu?" tanya Bi Sumi sambil menggunkan tatapan matanya untuk memberi kode pada Kayla.


"Kenapa?" Kayla balik bertanya.


Bi Sumi menjelaskan bahwa tidak ada yang baik-baik saja dalam hidupnya. Setiap orang itu sedang berproses dengan ujian hidupnya masing-masing. Ada sebagian yang terlihat baik karena berhasil menyembunyikannya. Ada juga sebagian yang mengeluh bahkan sampai putus asa.


Menurut Bi Sumi, Kayla beruntung. Karena saat ayah dan ibunya tidak ada, Kayla justru diberikan Laila dan Bagus yang begitu tulus menyayanginya. Tapi mungkin saat ini, Kayla adalah anak yang kurang bersyukur. Ia merasa justru pemulung itu lebih beruntung darinya.


"Mereka terlihat manis dan hangat. Meskipun dalam keadaan susah pun, ayahnya sangat peduli. Bibi lihat kan tangan mereka gandengan begitu? Dan aku gak pernah ngerasain itu," ucap Kayla.


Bi Sumi terdiam. Ia tidak bisa berkomentar apapun saat ini. Kayla memang sedang ada di fase rindu. Rindu yang sudah lama ia pendam dan tak tahu kapan ujungnya. Mungkin tak akan pernah berujung sama sekali.


Tanda-tanda kehidupan Deri seolah lenyap ditelan bumi. Dari banyaknya informasi yang dikumpulkan Bagus, tidak ada berita yang menyenangkan hatinya. Bahkan Kayla sempat berpikir jika Deri sudah pergi menyusul ibunya. Atau justru Deri yang sebenarnya pergi lebih dulu. Ah entahlah. Kayla hanya mampu menduga-duga hal yang tidak pasti.


"Udah ah. Jangan nangis-nangis lagi. Bibi suka ikutan sedih," ucap Bi Sumi sambil mengusap sudut matanya.

__ADS_1


Kayla melihat Bi Sumi memang benar-benar peduli padanya. Paling tidak, Kayla tahu ada empat orang yang menyayanginya dengan tulus. Ada Laila, Hasna, Bagus dan Bi Sumi. Kayla memang berharap suatu saat nanti bisa bertemu dan merasakan kasih sayang Deri. Namun kalaupun tidak, empat orang itu akan selalu ada untuknya.


__ADS_2