
Sejak mendapat kabar jika pernikahan Bagus diundur, Laila menjadi gelisah. Ini bukan soal uang, namun soal nama. Padahal Laila berharap jika pernikahan itu dilangsungkan sesuai dengan tanggal yang sudah ditentukan. Pasalnya, setelah pernikahan itu berlangsung Laila akan segera membuka toko kue milik Bu Herlin.
Awalnya Laila pikir dengan berbekal nama yang sudah dikenal karena pernikahan Bagus, maka tidak akan terlalu sulit saat harus memasarkan kue buatannya meskipun ia masih duduk di bangku SMK.
"Apa aku temuin Pak Bagus aja kali, ya?" gumam Laila.
Sebelum pulang ke rumah, Laila izin ke supermarket. Ada beberapa kebutuhan pribadinya yang habis. Tanpa diduga, ia bertemu dengan Bagus saat keluar dari supermarket.
"Pak, Pak, Pak," panggil Laila dengan berteriak.
Laila berlari mengejar Bagus dengan membawa tas belanjaan miliknya. Bagus yang terkejut, berhenti mendadak dan membalikkan badannya. Laila yang tidak bisa berhenti mendadak menabrak Bagus hingga terpental dan jatuh. Tas bawaannya jatuh, bahkan sebagian ada yang berserakan di lantai. Sementara Bagus hanya mengerutkan dahinya dengan wajah bingung.
"Oh, kamu. Kenapa teriak-teriak? Bikin malu saja," ucap Bagus saat Laila mengangkat wajahnya.
"Takut keburu Pak Bagusnya pergi," ucap Laila.
"Ayo aku bantu!" ucap Bagas sambil mengulurkan tangannya.
Laila meraih tangan Bagus dan segera bangun. Ia merapikan pakaian dan rambutnya. Tak lupa tas belanjaannya segera ditenteng kembali.
"Sendiri aja, Pak?" tanya Laila.
"Berdua," jawab Bagus.
"Wah, calonnya dimana nih?" tanya Laila.
"Calon siapa?" tanya Bagus.
"Calonnya Bapak," jawab Laila.
"Di rumahnya kali," ucap Bagus.
"Loh, kok kali? Tadi katanya berdua. Bapak gimana sih?" tanya Laila.
"Kamu juga bisa dihitung manusia, kan? Artinya aku gak sendiri. Berdua sama kamu," jawab Bagus.
"Eh, kirain berdua sama calonnya. Saya mau ngomong boleh gak?" tanya Laila.
"Dari tadi juga kamu udah ngomong kok," jawab Bagus.
"Ya, gak Pak. Ini saya mau ngomong serius banget," ucap Laila.
"Apa? Soal orderan kue yang dibatalin?" tanya Bagus.
"Hah? Dibatalin? Kata Bu Indah cuma diundur," ucap Laila sedih.
"Terus hubungannya sama kamu apa? Kamu mau monta ganti rugi?" tanya Bagus.
"Bukan, bukan begitu Pak. Kita bicara di sana yu!" ajak Laila saat melihat Bagus sudah bicara dengan nada tinggi.
"Gak mau," tolak Bagus.
"Saya yang bayarin," bujuk Laila.
__ADS_1
"Kamu pikir saya kere? Saya gak bisa bayar sendiri?" tanya Bagus dengan semakin mendekatkan wajahnya pada Laila.
Laila segera mundur. Berusaha menjauh dari Bagus yang terus menekannya. Laila takut Bagus berniat jahat padanya. Beruntung ada calon istri Bagus yang menghampiri mereka.
"Kalian ngapain di sini? Gak malu apa? Banyak yang liatin," ucap calon istri Bagas.
Bagas segera menjauh dan pergi. Tanpa menjawab pertanyaan calon istrinya atau hanya sekedar pamit, Bagus berlalu begitu saja. Hal itu membuat calon istri Bagus malu dan ikut pergi meninggalkan Laila sendirian.
Loh, kok pada pergi? Kalian kenapa sih? Aduh, aku kejar yang mana ya? Pak Bagus kali ya? Dia kan banyak duitnya. Dia juga yang bakal bayar orderan kuenya.
Laila membiarkan calon istri Bagus dan pergi mengejar Bagus. Namun belum sampai Laila memanggil nama Bagus, tiba-tiba ia menghentikan langkahnya.
Aduh, nanti aku dikira pelakor lagi. Ah, aku lerjar kakak itu aja deh. Biar aku cari tahu dulu apa penyebab mereka gagal nikah.
Laila putar balik. Berlari mengejar calon istri Bagus. Saat itu, hamoir saja calon istri Bagus masuk ke dalam mobil. Beruntung Laila masih bisa mengejarnya dan menahannya.
"Kak, sebentar! Saya boleh bicara gak?" tanya Laila sambil menarik tangan calon istri Bagas.
"Ada apa? Kamu selingkuh sama Kak Bagus ya?" tanya wanita itu.
"Gak, gak. Mana ada aku selingkuh sama Pak Bagus. Tadi saya kebetulan ketemu sama Pak Bagus terus saya mau nanyain tentang orderan kue itu. Tapi katanya," ucapan Laila tertahan saat melihat wanita itu menatap Laila dengan tajam.
"Aku gak harus jelasin apapun ke kamu, kan?" tanya wanita itu.
"Kak, kita bicara dulu yu! Jangan salah paham. Saya cuma mau berteman aja sama Kakak. Siapa tahu kakak butuh teman," ucap Laila.
Wanita itu diam. Ya, saat ini wanita itu memang butuh teman. Tidak ada yang bisa diajak bercerita dengannya. Tapi apa mungkin Laila orang yang tepat untuk dijadikan tempat berceritanya?
"Ikut ke mobil!" ajak wanita itu.
"Ayo!" ajak wanita itu.
Laila mengikuti langkah wanita yang berjalan lebih depan darinya. Sebuah bangku di sudut ruangan sengaja dipilih wanita itu. Mungkin agar tidak terlalu banyak orang yang hilir mudik. Bagaimanapun, apa yang akan ia ceritakan sangat privasi.
"Mau pesen apa?" tanya wanita itu.
"Minum aja Kak," jawab Laila.
Wanita itu memesan dua gelas minuman dan satu piring cemilan. Dengan duduk saling berhadapan, wanita itu mulai bercerita. Awal cerita membuat Laila tersedak.
"Kita pernah ketemu kan waktu itu?" tanya wanita itu.
Laila diam. Ia bingung harus menjawab apa. Belum sempat Laila menjawab, wanita itu kembali memperjelas pertemuan mereka. Tak lupa wanita itu mengenalkan dirinya.
"Iya. Aku Winari. Cewek yang pernah berfoto mesra sama laki-laki yang meminjam ponselmu. Aku juga wanita yang membelikanmu pulsa saat itu. Aku menyenutnya rasa terima kasih atas kebaikanmu karena sudah menjual memori eksternal di ponselmu," ucap Winari.
"Ya ampun Kak. Padahal aku gak mau bahas lagi soal itu," ucap Laila.
"Aku harus cerita karena pernikahan aku sama Kak Bagus batal juga karena mantan pacarku itu," ucap Winari.
"Hah? Benarkah?" tanya Laila.
Winari pun menjelaskan jika Bagus membatalkan pernikahan mereka karena mantan pacarnya datang kembali. Menjelek-jelekkan Winari di depan Bagus. Winari mengaku jika dengan mantan pacarnya yang lalu sempat bertunangan dan sudah foto prewedding. Namun karena suatu masalah, mereka sepakat untuk menyudahi hubungan itu.
__ADS_1
"Ini kegagalan kedua untukku," ucap Winari sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Laila segera menggeser kursi. Duduk di samping Winari dan memeluknya. Berusaha menenangkan wanita yang tengah menangis itu. Laila juga berjanji akan membantu Winari untuk membujuk Bagus agar bisa memperbaiki hubungannya dengan Winari.
"Kamu serius mau bantu aku?" tanya Winari.
"Ya, tentu. Saya bakalan ke rumah Pak Bagus dan ngajak ngobrol dia. Siapa tahu kalau udah tenang dia juga bisa berpikir lebih baik lagi," ucap Laila.
Winari tersenyum dan berterima kasih atas kebaikan Laila. Setelah itu mereka bertukar nomor telepon agar bisa saling berkabar tentang hasil perjuangan Laila.
"Maaf, La. Ini udah sore. Ayo pulang! Bu Indah nelepon. Tadi nanyain lagi dimana. Memangnya kamu gak bilang sama Bu Indah ya lagi di sini?" tanya sopir.
"Astaga. Saya lupa mang," jawab Laila.
Laila segera pamit pada Winari dan kembali ke mobil. Dengan cepat ia menghubungi Bu Indah dan segera meminta maaf. Tak banyak bicara, karena saat ini yang Bu Indah inginkan adalah Laila pulang ke rumah secepatnya.
"Sudah berapa kali aku bilang. Jangan pernah membuatku khawatir," ucap Bu Indah tegas.
Laila yang baru saja sampai ke dalam rumah langsung menelan salivanya dengan kasar. Ia hanya bisa menunduk pasrah. Tidak ada keberaniannya untuk bicara bahkan hanya sekedar untuk meminta maaf.
Suasana di rumah itu hening. Sesekali hanya terdengar ungkapan rasa kecewa Bu Indah yang diiringi dengan napas berat. Laila berusaha memberanikan diri untuk meminta maaf. Tanpa ada yang ditutupi, Laila pun menceritakan apa yang terjadi saat di supermarket.
"Kamu gak perlu ikut campur, Laila. Kamu ini bukan siapa-siapa," ucap Bu Indah mengingatkan.
Laila diam mendengar komentar Bu Indah. Padahal awalnya Laila sempat berpikir jika Bu Indah akan bangga padanya saat bisa membantu keduanya untuk bisa memperbaiki masalah diantara mereka.
"Kamu masuk kamar! Mandi, makan dan istirahat. Pakai waktu dan kepalamu untuk berpikir tentang tugas-tugasmu di sekolah," ucap Bu Indah.
"Iya, Bu." Laila mengangguk dan segera pamit untuk ke kamarnya.
Laila menutup pintu kamar dan bersandar di daun pintu kamarnya yang sudah tertutup rapat. Tas belanjaan ia jatuhkan tepat di samping tubuhnya yang tengah berdiri lemah. Hanya dalam hitungan detik, Laila menjatuhkan tubuhnya perlahan hingga duduk di lantai. Punggungnya masih rapat dengan daun pintu.
Kepala Laila tertunduk. Tanpa suara, Laila meluapkan penyesalannya. Ia benar-benar tidak menyangka jika Bu Indah akan sekecewa itu padanya. Belum reda kegelisahannya, ponsel Laila bergetar.
Tangannya merogoh ponselnya yang disimpan di dalam saku rok. Nama Winati terpampang jelas di layar ponselnya. Hal itu membuat Laila semakin bingung. Rasanya ia ingin mengulang waktu. Pura-pura tidak peduli dengan semua yan terjadi antara Pak Bagus dengan Winari. Namun nasi sudah menjadi bubur. Laila sudah terlanjur mengambil langkah.
Maaf ya Kak Winari, aku gak bisa jawab panggilan Kakak sekarang. Aku bingung. Mau tidur dulu, makan dulu, mand dulu.
Laila segera mandi dan berganti pakaian. Setelah itu ia ke dapur untuk makan. Menjelang tidur, Laila segera mengerjakan PRnya tanpa membuka pesan chat dalam ponselnya.
Pesan Winari baru di buka pagi ini. Laila mencoba meminta maaf jika tidak bisa melanjutkan rencananya. Namun Winari tidak bisa menerima pembatalan sepihak yang sudah berjanji akan membantunya untuk memperbaiki semuanya.
"Kok begitu, La?" tanya Winari.
"Saya lagi banyak tugas, Kak." Laila berusaha berbohong.
"Ayolah, La. Kamu udah janji mau bantu aku," bujuk Winari.
Laila jadi bingung dan tidak tega saat mendengar Winari kembali menangis.
"Ya udah nanti aku pikir-pikir lagi," ucap Laila.
"Aku butuh bantuan kamu, La. Saat ini cuma kamu yang bisa bantu aku. Aku yakin Kak Bagus pasti dengerin omongan kamu," ucap Winari.
__ADS_1
Laila menggelengkan kepalanya saat mendengar Winari begitu yakin padanya. Padahal ia sendiri tidak yakin sama sekali. Bahkan sudah memutuskan untuk tidak melibatkan diri dalam hubungan mereka berdua. Namun tangisan dan rengekan Winari membuat Laila tidak tega.