Dikira Janda Sama Si Duda

Dikira Janda Sama Si Duda
Berasa disindir


__ADS_3

"Permisi," sapa dokter sambil tersenyum ramah.


"Eh ada Bu Dokter," ucap Laila sambil menunduk hormat.


"Ini anaknya ibu ya?" tanya Dokter.


"Iya Dok," jawab Laila sambil tersenyum.


"Saya periksa ibunya dulu ya," ucap Dokter.


"Iya," jawab Laila.


Laila bergeser. Sedikit menjauh dari ibunya. Membiarkan dokter dan dua orang perawat mengerumuni ibunya. Laila sengaja memasang telinganya dengan tajam. Berusaha mendengar apa yang dibicarakan ketiganya.


"Gimana keadaan ibu saya, Dok?" tanya Laila.


"Ibunya sudah membaik. Tapi sayangnya belum boleh pulang. Masih ada pemeriksaan lanjutan. Gak apa-apa ya di sini lagi malam ini. Mudah-mudahan besok bisa pulang ya Dek," jawab Dokter.


"Iya Dok, amiiiin. Sekali lagi terima kasih banyak atas bantuannya," ucap Laila.


"Ini sudah jadi tugas dan tanggung jawab kami. Pihak keluarga jangan lupa selalu support ibunya ya," ucap Dokter.


"Pasti, Dok." Laila terlihat begitu semangat.


Laila mengusap keringat yang membasahi dahi ibunya saat dokter sudah keluar dari ruangan itu.


"Ibu kenapa?" tanya Laila sambil mengipasi ibunya.


"Ini bayarnya pasti mahal," ucap Bu Rini.


"Ibu jangan mikirin hal itu. Tugas ibu sekarang semangat biar cepat sembuh," ucap Laila.


Bu Rini terlihat gelisah. Laila paham betul apa yang ada di pikiran ibunya. Kini bukan lagi menahan rasa sakit, tapi Bu Rini memikirkan biaya atas pengobatannya. Laila pun sebenarnya memikirkan hal yang sama. Namun Yanti sudah meyakinkan Laila jika untuk biaya pengobatan, semua sudah ada anggarannya.

__ADS_1


Sore ini Laila mendapat telepon dari Yanti. Mengajaknya berdiskusi untuk menjaga Bu Rini malam ini. Akhir kesimpulannya adalah Yanti dan Deri ke rumah sakit untuk menjaga Bu Rini, sedangkan Laila pulang untuk menjaga Hasna dan Kayla. Besok pagi Laila ke rumah sakit dan Yanti ke toko. Sedangkan Hasna dan Kayla dititip bersama Deri dulu.


"Tapi jangan suruh Bi Lani nginep lagi ya Kak," pinta Laila.


"Loh, kenapa?" tanya Yanti bingung.


Laila menjelaskan apa yang terjadi selama Bi Lani menginap. Yanti jadi bingung sendiri. Bisakah ia membiarkan Laila mengurus Hasna dan Kayla hanya seorang diri? Masalahnya ini adalah pertama kali Laila harus melakukannya.


"Ya sudah terserah kamu aja," ucap Yanti.


Sesuai dengan rencana yang sudah mereka susun, Laila pulang dan mengasuh kedua keponakannya. Lelah dan sedih saat Laila kembali ke rumah. Namun tawa Hasna yang riang saat menyambut kedatangannya menjadi obat tersendiri.


"Peluk Lala," ucap Kayla yang ikut memeluk di belakang Hasna.


Semakin hari, Laila merasa semakin sayang pada kedua anak Yanti. Meskipun mereka masih kecil, tapi kadang sisi dewasa mereka muncul di saat tertentu. Seperti saat ini, Laila merasa kedua anak itu justru tidak rewel sama sekali. Padahal biasanya Laila dibuat naik darah oleh keduanya.


"Malam ini bobo sama Lala, ya. Jangan nangis, jangan rewel. Nanti Lala marah," ucap Laila sambil mengusap kepala Hasna dan Kayla.


Keduanya memeluk Laila. Seharian tidak bertemu dengan Laila memberi rasa rindu tersendiri untuk kedua anak itu. Hubungan mereka yang kian dekat membuat mereka saling merindukan saat tidak bersama.


"Doakan besok bisa pulang ya Kay," jawab Laila.


Malam ini pertama kalinya Laila tidur hanya bertiga di rumah itu. Rasanya aneh, sepi dan membuatnya tidak bisa tidur. Saat kedua keponakannya sudah tidur, Laila beranjak dari ranjangnya.


"Masih jam dua belas," gumam Laila.


Dengan perasaan yang tidak tenang, Laila membuat segelas teh hangat. Berusaha membuat dirinya tenang meskipun kepalanya terlalu memikirkan hal berat di usianya yang masih belia.


Jam satu, Hasna menangis. Laila dengan cepat membuatkan susu dan menemaninya tidur. Hingga akhirnya Laila pun ikut tertidur. Alarm yang terpasang di ponsel membuat Laila terbangun dan segera bersiap.


Seperti biasa, yang pertama dilakukannya adalah membereskan rumah agar tak kena omel Deri. Setelah itu memasak untuk bekalnya di rumah sakit dan untuk di rumah. Selain itu, Laila juga memasukan baju ganti dan beberapa barang lain yang akan dibutuhkannya nanti di rumah sakit.


Baru saja Laila selesai mandi, ia melihat Deri sudah pulang. Tanpa menunggu Hasna dan Kayla bamgun, Laila segera menyiapkan semuanya.

__ADS_1


"Kopi sama rokok di rak ya Bang. Aku berangkat," ucap Laila.


"Hemmm," jawab Deri.


Aman. Pagi ini Laila lepas dari ocehan Deri. Sengaja ia siapkan rokok dan kopi untuk Deri. Benar dugaannya. Semua berjalan dengan baik pagi ini. Mood Laila tidak dirusak hari ini.


Apalagi saat bertemu dengan Bu Rini yang sudah jauh membaik. Kini sudah bisa duduk dan berjalan lagi. Bahkan dokter mengatakan jika Bu Rini bisa pulang siang ini. Senyumnya merekah di bibirnya yang mungil.


"Mumpung ibu tidur, aku cek toko dulu ah. Tadi pagi gak sempat cek," ucap Laila.


Matanya membulat sempurna. Bibirnya yang natural tanpa polesan tersenyum kian melebar. Pesanan di toko online yang ia kelola banyak. Ah, bukan hanya banyak tapi sangat banyak. Laila sampai harus menutup mulutnya yang menganga karena saking terkejutnya.


"Aku harus telepon Kak Yanti nih," ucap Laila.


Dengan cepat tangannya mengetik nama Yanti di layar ponselnya. Tanpa menunggu lama, suara Yanti sudah menyapanya melalui sambungan telepon. Bukan hanya Laila, Yanti juga sangat senang dengan kabar yang Laila berikan.


"Ya sudah cepat kirimkan pesanannya yang mana biar kakak packing sekarang. Kebetulan toko agak sepi," ucap Yanti.


Semangat Laila kian membara meskipun ia sedang berada di rumah sakit. Walaupun sibuk dengan ponsel di tangannya, Laila sesekali melihat keadaan ibunya. Namun reaksi obat yang diberikan dokter sepertinya membuat Bu Rini tidur nyenyak siang ini.


Pesanan sepatu dan kosmetik mendapat komplen dari beberapa pelanggan karena pengirimannya yang lambat. Ya, semua karena Yanti harus mengandalkan pekerja lain. Semangat kerja mereka berbeda hingga pelayanan pada konsumen pun berbeda.


"Kalau barang sepatu sama kosmetik di stop dulu gimana ya, La?" tanya Yanti melalui sebuah pesan yang dikirim ke Laila.


Laila dengan cepat menolaknya. Saat ini Laila sudah selesai sekolah. Hanya menunggu kelulusan saja. Setelah ibunya keluar dari rumah sakit dan sembuh total, Laila yang akan mengurus toko sepatu dan kosmetik itu sendiri.


"Kamu yakin? Hasna gimana?" balas Yanti.


"Kayla sudah besar. Kalau hanya untuk mengambil barang, aku bisa menitipkan Hasna sama Kay. Biar nanti aku packing di rumah aja," balas Laila.


Yanti memang selalu suka atas semangat hidup yang dimiliki Laila. Anak remaja itu memang mudah sekali dalam belajar. Apalagi saat berhubungan dengan uang. Yanti berpikir jika Laila semakin tumbuh dan berkembang. Laila butuh uang untuk tambahan kebutuhannya yang lain. Bukan hanya jajan saja seperti pertama kali Yanti mengenalnya.


"La, terima kasih udah jadi adek, pengasuh dan partner terbaik dalam hidup kakak. Kakak gak tahu jadi apa kalau gak ada kamu," balas Yanti.

__ADS_1


"Ini kok berasa disindir ya Kak?" balas Laila dengan membubuhi emoticon tertawa.


Ya, pada kenyatannya Laila selalu merasa parasit bagi Yanti. Selalu saja Yanti yang menjadi andalah keluarganya setiap berurusan dengan uang. Tapi semua selalu ditepis oleh Yanti. Bagi Yanti, keluarga Laila adalah keluarganya yang tidak perlu ada hitung-hitungn materi seperti itu.


__ADS_2