Dikira Janda Sama Si Duda

Dikira Janda Sama Si Duda
Makan malam


__ADS_3

"Pah gimana? Boleh?" tanya Kayla.


Bagus yang sedang bengong terperanjat. Ia bingung harus menjawab apa. Akhirnya ia meminta Kayla bicara dengan Laila saja. Jawaban yang membuat Kayla kecewa. Kayla merasa jika Laila tentu tidak akan menyetujui keinginannya.


"Ya tanya Mama aja dulu," ucap Bagus.


"Jawab sama Papa aja. Aku cuma mau belajar mandiri aja kok," jawab Kayla.


"Ya nanti ngomong gitu sama Mama ya," ucap Bagus.


"Mama pasti gak boleh," jawab Kayla.


"Belum juga ngomong," ucap Bagus.


"Ah Papa," ucap Kayla kecewa.


Bagus menepuk punggung Kayla lalu mengusap kepalanya. Seolah berusaha menjelaskan jika apa yang menjadi jawaban Laila adalah yang terbaik untuknya. Apapun itu, semua untuk masa depan Kayla juga.


"Papa istirahat dulu ya!" ucap Bagus.


Kayla mengangguk. Ia harus menahan kecewa saat mendengar jawaban Bagus. Entah mengapa akhir-akhir ini Kayla merasa dirinya terkekang. Cara Laila mengungkapkan kasih sayangnya membuat Kayla merasa dibatasi dalam berbagai hal.


Bagus yang bingung, kembali masuk ke dalam kamar. Membuat Laila tersenyum senang. Laki-laki itu harus pasrah mendengarkan ocehan istrinya yang kadang membuat kepalanya penat. Tapi apa boleh buat. Ia hanya bisa pasrah dari pada terus ditekan oleh Kayla.


Sebagai kepala rumah tangga, Bagus kembali berpikir. Keduanya harus bicara bersama. Ada banyak hal yang harus diluruskan agar semua sama-sam terbuka. Karena akhir-akhir ini Bagus melihat keduanya bersitegang.


"Sayang, kita harus bicara sama Kayla. Ada yang harus dibahas," ucap Bagus mengawali pembicaraan.


Laila terlihat kecewa saat Bagus membahas tentang Kayla. Jujur saja, saat ini Laila tidak mau bicara serius dengan Kayla. Kekhawatiran sudah menjadi ketakutan. Setelah itu kini sudah merambah menjadi rasa malas saat harus bicara serius dengan Kayla.


Malas karena nanti ujung-ujungnya mereka berdebat. Perbedaan cara berpikir membuat Laila merasa tidak perlu bicara hal itu dulu. Bahkan kalau bisa, jangan lagi bicara soal itu. Laila sudah tidak mau membahas Deri dalam hidupnya.


"Sayang, kamu harus ingat. Apapun yang terjadi dia adalah anak kamu. Kamu itu ibunya sekarang. Apapun yang terjadi, kamu harus bersikap dewasa." Bagus menggenggam erat tangan Laila.

__ADS_1


Berbagai cara Bagus lakukan agar Laila bisa mengerti keadaan Kayla. Kayla yang beranjak remaja dan nantinya akan semakin dewasa, pasti butuh kehadiran ayah kandungnya. Seburuk apapun Deri di mata Laila, tidak akan mengubah statusnya di hati Kayla.


Laila menunduk. Sakit rasanya mendengar kalimat demi kalimat yang Bagus ucapkan. Seandainya Bagus tahu bagaimana kasar dan jahatnya Deri selama Laila mengenalnya. Padahal saat ini Laila butuh sekali orang yang membelanya.


Kembali Bagus jelaskan bahwa apa yang ia lakukan bukan untuk membela Kayla. Ia hanya ingin Laila mencoba mengerti apa yang dirasakan Kayla. Namun Laila justru merasa tak ada yang mengerti perasaan dirinya sama sekali.


"Kamu sendiri sayang kan sama orang tua kandungmu?" tanya Bagus.


"Orang tua kandung? Yang Laila miliki saat itu adalah ibu kandung. Ayahnya? Bahkan ia tidak tahu siapa. Terakhir ia tahu dari Deri bahwa ayahnya adalah orang jahat yang sudah memperkosa ibunya. Ah sudahlah, Laila tidak mau mengingat semua masa lalunya yang kelam.


"Aku butuh waktu buat sendiri Mas," ucap Laila.


Bagus menatap Laila dengan kernyitan di dahinya. Butuh waktu buat sendiri? Artinya Laila memintanya untuk keluar kamar. Padahal ia sengaja masuk ke kamar karena menghindari Kayla. Sekarang ia diminta untuk keluar. Lalu harus kemana ia sekarang?


Bagus menarik napas panjang lalu keluar dari kamar. Membiarkan istrinya agar lebih tenang. Ia memilih duduk santai di teras belakang sambil menikmati secangkir teh hangat. Sementara Laila sedang menyendiri. Ia barusaha menerima saran suaminya. Berdebat antara hati dan kepalanya. Berat rasanya saat harus menerima kehadiran Deri di tengah-tengah kebahagiannya saat ini.


Meskipun sebenarnya Deri belum tentu benar-benar hadir. Tidak ada yang bisa memastikan jika Deri benar-benar masih ada. Kalaupun ada, belum tentu Deri peduli pada keluarganya. Laila memandang wajahnya di depan cermin. Menatap setiap senti wajahnya. Mengamati dan mengingat hingga membandingkan wajahnya dengan wajah ibunya.


"Aku memang gak mirip sama ibu," gumam Laila.


"La, aku mau bawa ponsel sebentar ya!" ucap Bagus.


Laila menatap Bagus dengan senyum lebar. Ia merentangkan tangannya agar Bagus mengahampiri dan memeluknya. Walaupun terlihat bingung, Bagus pun mendekat dan segera memeluk Laila.


"Kapan aku harus ngomong sama Kay?" tanya Laila.


"Kamu mau ngomong apa?" Bagus balik bertanya.


"Ngomongnya antara ibu sama anak," jawab Laila.


"Kamu yakin?" tanya Bagus yang seolah kurang meyakini jawaban Laila.


Laila mengangguk.

__ADS_1


"Mas terima kasih ya," ucap Laila.


"Terima kasih?" Bagus balik bertanya.


"Iya," jawab Laila sambil mengangguk.


"Buat apa?" tanya Bagus.


Laila senang, akhirnya ia bisa sedikit tenang. Walaupun ia belum benar-benar bisa menerima kehadiran Deri, tapi paling tidak Laila berusaha tenang meskipun semua tidak seperti yang diharapkannya. Bagus adalah orang lain yang dikenalnya beberapa tahun terakhir. Tapi seolah ia begitu lama mengenal Kayla dan sangat mengerti anak itu.


Saat Laila tidak mengerti keadaan Kayla, Bagus yang awalnya bukan siapa-siapa justru membuatnya begitu peduli dengan Kayla. Laila selalu ingat ucapan Bagus. Siapapun yang datang dan mengambil hati Kayla. Namun pasti ada ruang tersendiri di hatinya untuk orang-orang yang sangat dicintainya.


Menurut Bagus, kalau posisi Laila tidak mau tergeser dari hati Kayla, yang harus Kayla lakukan adalah jadilah berarti dan buatlah Kayla merasa Laila sangat menyayanginya. Salah satu bukti sayang yang diharapkan Kayla saat ini adalah menerima apa yang ia inginkan. Mengerti keadaannya dan tidak mengekangnya.


"Nah kalau gini kan enak. Ya udah nanti malam kita ngobrol ya!" ucap Bagus.


"Iya Mas," ucap Laila.


Malam ini Bagus memesan makanan spesial untuk menu makan malam. Sengaja ia makan di rumah karena ada yang mau mereka bahas. Tidak enak jika harus membahas masalah penting begini di luar.


"Wah, makan enak nih." Hasna berteriak senang saat melihat Laila yang sedang menata makanan di meja makan.


"Iya. Mana Kayla?" tanya Laila.


"Di kamar," jawab Hasna.


"Panggil ke sini. Kita makan," ucap Laila.


"Oke siap," ucap Hasna.


Dengan riang Hasna memanggil nama Kayla sambil berlari menuju kamarnya. Sementara Bagus menggenggam tangan Laila. Meyakinkan jika semua akan terasa lebih nyaman saat terbuka dan saling menerima. Laila mengangguk tanda mengiyakan dan sudah siap dengan waktunya.


"Kamu pasti bisa," ucap Bagus.

__ADS_1


Laila menatap Bagus dan tersenyum.


__ADS_2