
"Mas terima kasih banyak ya," ucap Laila sambil menatap buket uang yang dibawa Bagus.
"Sama-sama," ucap Bagus.
"Kalau tahu Mas bakal pakai uang Mas lagi, saya gak bakal minta dibininin buket. Malu saya," ucap Laila.
"Malu kenapa?" tanya Bagus.
"Kelihatan maruk," jawab Laila.
"Ya gak lah. Itu semua buat kamu," jawab Bagus.
"Aku simpen ini di kamar dulu ya Mas," ucap Laila.
Laila segera pergi ke kamar. Menyimpan buket uang berukuran besar itu di dalam kamarnya. Bibirnya tersenyum lebar melihat betapa cantik dan mewahnya buket itu. Ah, sama sekali tidak pernah dibayangkan sebelumnya oleh Laila. Ini benar-benar terlalu indah.
"Mas ini," ucap Laila sambil menyerahkan dompet kecil berisi uang buket yang sempat diacaknya saat di Jakarta.
"Apa ini?" tanya Bagus menerima dompet kecil itu.
"Uang buket yang di Jakarta," jawab Laila.
"Kamu ini apa-apaan sih? Simpan," ucap Bagus sambil kembali menyerahkan dompet kecil itu.
Bagus kembali meyakinkan Laila kalau ia sama sekali tidak mempermasalahkan uang itu. Semua Bagus lakukan untuk menyenangkan calon istrinya. Meskipun Laila sempat menolak beberapa kali, namun akhirnya ia menyimpan kembali uang itu.
"Anggap saja itu uang tabungan untuk masa depan kita," ucap Bagus.
Kalimat itu yang berhasil membuat Laila menerima kembali uangnya. Menyimpannya dengan baik dan segera menemui Bagus untuk melanjutkan bercengkrama.
Setelah resmi dilamar, ada perasaan yang muncul di hati Laila. Perasaan yang semakin lama semakin besar. Bahkan sempat terpikir takut akan kehilangan karena kekhawatiran yang berlebih.
"Oh ya La gimana si tukang masak itu?" tanya Bagus.
Laila tersenyum. Ia meyakinkan Bagus bahwa Chef cukup tahu diri. Setelah tahu kalau Laila sudah dilamar Bagus, Chef sama sekali tidak pernah mengganggu Laila. Bahkan obrolan basa basi saja sudah jarang terjadi. Selama bekerja, Chef hanya berusaha berkomunikasi sepenting mungkin dengan Laila.
"Syukurlah kalau dia sadar diri," ucap Bagus.
__ADS_1
"Jangan begitu dong Mas. Dia orang baik kok," ucap Laila.
"Apa?" tanya Bagus sambil mengangkat wajahnya dan menatap Laila dengan penuh ancaman.
Laila yang menyadari ancaman Bagus, segera tersenyum lebar. Sebagai calon istri yang baik, Laila tentu saja tidak ingin membuat Bagus berpikiran yang tidak-tidak. Apalagi saat mereka tinggal berjauhan.
Setelah istirahat, Bagus mengajak Laila dan kedua keponakannya menuju ke proyek toko kue. Sebenarnya sebelum pulang, Laila menyempatkan ke toko. Namun Bagus tetap mengajak mereka ke sana.
Sebenarnya bukan hanya ingin ke sana, Bagus hanya ingin mengajak Laila dan kedua keponakannya untuk jalan-jalan. Lama berpisah dengan Laila berhasil menabur benih rindu yang harus dituntaskan. Tidak ingin hanya berdua, Bagus tentu selalu melibatkan Hasna dan Kayla.
Meskipun sebenarnya Bagus kadang berharap hanya ingin menghabiskan waktunya berdua dengan Laila. Namun Bagus sadar, kehadiran Hasna dan Kayla selalu membuat Laila tersenyum senang. Benar kata Laila, siapa yang menginginkannya maka harus siap menerima Hasna dan Kayla.
Setelah Bagus menunjukkan semua itu, bukan perkara sulit bagi Bagus mendapatkan hati Laila. Melihat Bagus sangat menyayangi Hasna dan Kayla, sebesar itu pula Laila menyayangi Bagus.
"La, ini kira-kira beresnya berapa lama lagi ya?" tanya Bagus.
"Mana saya tahu Pak. Memangnya saya tukangnya apa?" jawab Laila.
Kebetulan semua tukang sudah pulang. Bagus tidak bisa mendapat jawaban atas pertanyaannya. Awalnya Bagus memang membuat proyek itu berjalan sesuai dengan rencananya, namun karena toko itu akan dijadikan tempat untuk pesta pernikahannya, Bagus ingin segera menyelesaikan proyek pembangunannya.
"Jangan diburu-buru Mas. Nanti kerjanya gak maksimal," ucap Laila.
"Kenapa buru-buru sih Mas?" tanya Laila.
"Udah gak kuat La," jawab Bagus sambil berbisik di telinga Laila.
Laila memukul tangan Bagus saat mendengar jawaban Bagus yang menurutnya menggelikan. Laila yang semakin dewasa semakin paham apa yang dimaksud oleh Bagus. Meskipun sebenarnya Laila belum pernah melakukan hal itu sebelumnya.
Bahkan laki-laki pertama yang mengecup dahinya saja adalah calon suaminya. Dimana laki-laki itu melakukannya tanpa sepengetahuan Laila. Bagus yang mengira jika Laila adalah seorang janda menganggap hal itu bukan hal yang aneh dan dianggap biasa. Hingga Bagus sama sekali tidak merasa bersalah.
Setelah puas melihat perkembangan proyek toko kuenya, Bagus berpikir untuk mencari alasan agar masih bisa menghabiskan waktu dengan Laila. Beberapa tempat berkelebat di kepalanya. Sampai akhirnya sebuah ide diucapkan Bagus.
"Kita makan di pecel lele yuk!" ajak Bagus.
"Aku gak suka pecel lele, Pah." Hasna cemberut.
"Gimana kalau bakso aja!" ajak Laila.
__ADS_1
"Boleh," jawab Bagus.
Padahal sebenarnya Bagus tidak terlalu suka dengan bakso. Namun karena Laila yang mengajaknya, maka ia akan selalu mengiyakan. Tidak masalah, yang penting bisa menghabiskan waktunya dengan Laila.
Bagus yang awalnya selalu gelisah dengan mangkok bekas yang hanya dicuci dengan cara dicelup-celup, kini sudah mulai terbiasa. Hanya saja jika dibandingkan dengan pecel lele, rasanya selera Bagus akan jauh lebih baik. Tapi tak apa, semua demi bisa menghabiskan waktu dengan Laila.
"Mas, udah jam delapan. Ayo pulang!" ajak Laila.
Bagus melihat pergelangan tangannya. Sebuah jam mahal berwarna cokelat itu menunjukkan pukul delapan kurang lima menit.
"Masih kurang lima menit, La." Bagus protes sambil menunjukkan jam tangannya.
"Mas bayar juga udah abis lima menitnya," ucap Laila.
Meskipun Bagus kesal, namun ia segera berdiri. Membayar bakso yang sudah dimakannya lalu pulang. Menghabiskan waktu berjam-jam dengan Laila selalu saja tidak cukup. Rasanya waktu terlalu cepat jika dihabiskan dengan Laila.
Tidak lama, hanya tiga hari Bagus di Surabaya. Setelah itu ia pamit untuk kembali ke Jakarta. Sambil memantau perkembangan pembangunan toko kuenya, Bagus berusaha menyiapkan kebutuhan pesta pernikahannya di Jakarta. Hal yang tidak diketahui Laila.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Winari.
Bagus dan Winari yang bertemu di salah satu tempat percetakan, membuat Bagus harus menahan kesal saat mendapat ocehan dari Winari. Namun Bagus sudah tidak berminat untuk berurusan dengan Winari. Semua rencana balas dendam sudah tuntas. Bagus tidak ingin merespon Winari. Ia hanya menggelengkan kepalanya dan berlalu.
"Mas," panggil Winari sambil menarik tangan Bagus.
"Lepasin," ucap Bagus sambil melepaskan tangannya.
"Mas ngapain ke sini sendiri? Kenapa sih Mas kalau aku lihat-lihat kamu itu kayak yang sibuk sendiri ngejar dia. Dia itu siapa? Bukan siapa-siapa. Masa iya kamu ngurusin yang beginian aja sendirian. Dia memang gak tahu diri," ucap Winari.
"Kamu juga bukan siapa-siapaku. Jadi gak perlu ikut campur," jawab Bagus dengan tegas.
"Hemmmm, kamu sibuk mencaciku hanya untuk membela si janda anak dua itu ya Mas? Kamu gak mikir dia nikah usia berapa? Masa anaknya udah gede gitu?" ucap Winari.
"Mau dia janda anak dua, tiga, atau empat, statusnya janda. Jelas ada pernikahan meskipun aku gak tahu usia berapa dia menikah. Yang pasti jelas. Bukan kayak kamu, semuanya gak jelas." Bagus menatap Winari dengan tatapan mengejek.
Tanpa memberikan kesempatan pada Winari untuk membalas ucapannya, Bagus segera pergi. Ia tidak mau berdebat lebih lama dengan mantan istrinya. Semakin lama, kalimat yang Winari ucapkan semakin membuatnya tertekan. Bagus selalu sakit setiap kali Laila direndahkan.
Bagus merasa status janda beranak dua bukan masalah besar baginya. Toh Bagus juga seorang duda meskipun belum mempunyai anak. Bagus juga mampu membiayai Hasna dan Kayla. Jadi ia tidak suka saat ada yang mengusik masalah pribadinya.
__ADS_1
Dendamnya pada Winari masih membuncah. Namun Bagus sudah tidak peduli, kini yang ada di kepala Bagus adalah menata masa depannya dengan Laila. Sudah tidak penting lagi urusan balas dendamnya.