
Seperti rencana Bu Herlin, hari ini ia hanya ingin berkenalan dengan Laila. Melihat sepolos apa sikap Laila. Namun menurut Bu Herlin, Laila sangat cantik meskipun dengan kepolosannya. Gaya natural Laila memang terlalu sederhana dan sangat cuek soal penampilan.
"Ya sudah kamu istirahat dulu sana!" ucap Bu Indah.
Setelah Laila pergi ke kamarnya, Bu Indah dan Bu Herlin melnjutkan bahasan mereka tentang Laila. Bahkan Bu Indah sudah membelikan beberapa pakaian namun Laila tidak memakainya.
"Gak cocok kali modelnya," ucap Bu Herlin.
"Aku udah beli di toko yang bagus. Malahan aku minta bantu pilihin ke anak muda yang lagi belanja juga. Laila juga bilang suka kok cocok," ucap Bu Indah.
"Terus kenapa gak dipakai?" tanya Bu Herlin.
"Katanya disimpen buat lebaran," jawab Bu Indah.
Bu Herlin tertawa mendengar jawaban itu. Ternyata Laila memang masih beda kebiasaan meskipun sudah setahun lebih tinggal di Jakarta. Uang jajan yang diberikan pun sering kali dikumpulkan dan dikirim ke kakak iparnya di kampung.
Termasuk transfer Laila tadi sore sudah diketahui Bu Indah. Bukti transfer itu terjatuh saat Laila ikut mengobrol dengan Bu Herlin. Setelah Bu Herlin pulang, Bu Indah segera menemui Laila dan menanyakan alasan mengirim uang yang lumayan besar.
"Maaf Bu, Hasna keponakan saya yang kecil kecelakaan sampai belum sadar. Kakak saya butuh pegangan. Tapi uang lima ratus yang tadi pagi ibu kasih masih ada kok. Ini," ucap Laila sambil menyerahkan uang lima ratus ribu dalam keadaan utuh.
"Laila, bukan masalah uang itu. Aku hanya harus mengingatkanmu untuk tetap menyimpan uang sebagai peganganmu. Aku tidak akan memberikan kompensasi apapun jika suatu saat nanti ada kejadian yang tidak diharapkan. Dengan uang yang kamu simpan, kamu seharusnya bisa bertahan hidup." Panjang lebar Bu Indah menjelaskan kekhawatirannya.
"Iya, Bu." Laila mengangguk dan menunduk.
Bu Indah segera keluar. Sementara uang lima ratus itu tidak dibawanya kembali. Uang itu sudah menjadi milik Laila. Bu Indah hanya mengingatkan jika Laila harus pintar menyimpan uang untuk masa depannya.
Setelah pintu kamarnya tertutup kembali, Laila menghela napas yang panjang. Belum usai masalah Bagas, Laila masih dibuat khawatir dengan keadaan Hasna. Belum.lagi Laila memikirkan arti dari ucapan Bu Indah barusan.
"Tidak ada kompensasi?" gumam Laila sambil mengerutkan dahinya.
Entah apa maksud dari kalimat Bu Indah. Namun yang Laila tangkap, keberadaannya di rumah itu bukan untuk selamanya. Mungkin sampai Laila lulus kuliah, atau mungkin tidak sampai lulus. Ambigu rasanya saat harus memaknai kalimat yang dilemparkan Bu Indah untuknya.
__ADS_1
"Ah, mending aku kerjain PR dulu." Laila menyimpan uang lima ratus ribu itu dan mulai membuka buku PR nya.
Semalaman Laila menghubungi Yanti hanya untuk memastikan jika Hasna baik-baik saja. Jam sebelas malam, Yanti baru mengabarinya jika Hasna sudah sadar. Laila bisa bernapas lega walaupun pada akhirnya dadanya sesak saat mengetahui jika Deri sama sekali tidak menemui Hasna di rumah sakit.
"Emang dasar sableng ya kamu, Bang. Anak sakit kok bisa-bisanya gak datang sih?" gerutu Laila.saat panggilan dengan Yanti sudah berakhir.
Kurang tidur membuat Laila nyaris terlambat. Beruntung Bi Yani mengetuk pintu kamar Laila. Setelah menemui Bi Yani, Laila kalang kabut mencari ponselnya. Padahal alarm pagi selalu diatur Laila setiap harinya.
"Astaga. Pantas aja gak kedengeran," ucap Laila saat menemukan ponselnya di bawah bantal.
Laila segera mandi dan bersiap. Bahkan ia tidak sempat sarapan. Namun Bi yani dengan ramahnya sudah menyiapkan bekal sarapan untuknya. Dengan senyum bahagia, Laila segera pamit ke sekolah setelah memeluk Bi Yani sebentar sebagai ucapan terima kasihnya.
"Bu Indah titip pesen, katanya nanti pulang naik grab lagi. Saya mau jemput Bu Indah nanti siang La," ucap sopir.
"Oh iya gampang. Mamang tenang aja. Udah lihai aku soal grab," jawab Laila dengan begitu percaya diri.
Sopir itu hanya tertawa saat membayangkan bagaimana gapteknya Laila saat pertama kali memesan grab. Namun kini Laila sudah bisa karena mulai dibiasakan. Sudah ada perubahan setelah setahun lebih di Jakarta.
"Siapp mang," jawab Laila.
Dalam hati Laila menggerutu. Rasanya malas saat ia harus belajar dandan dengan Bu Herlin. Bukan tidak suka pada Bu Herlin, tapi Laila merasa apa yang akan ia pelajari tidak mendukung masa depannya.
Yang ia inginkan membuka toko kue besar bahkan yang terbesar di Jakarta dan punya cabang di beberapa kota besar juga. Lalu dandan? Apa untungnya dandan? Ah tapi tak apa, Laila memegang teguh prinsip Bu Rini.
Ilmu itu gak berat dibawa kemana-mana. Pelajari apapun yang kamu temui.
Kalimat itu terngiang saat Bu Indah memaksanya untuk belajar berdandan dengan Bu Herlin. Tidak ada salahnya ia mempelajari apa yang diarahkan oleh Bu Indah.
"Mang, terima kasih ya." Laila menunduk hormat saat ia sudah keluar dari mobil.
Perlakuan sangat menyenangkan yang diterima sopir itu setiap pagi. Laila memang selalu memperlakukan orang dengan sangat baik sebisanya. Ah, cerita tentang orang baik, Bagas juga sangat baik. Namun sayangnya Laila dibuat terkejut saat mendapat kabar bahwa Bagas mengajukan surat pindah.
__ADS_1
"Bagasnya mana?" tanya Laila pada temannya.
Laila segera berlari ke ruang kepala sekolah saat mengetahui Bagas ada di sana. Namun terlambat. Bagas sudah pulang. Nomor teleponnya pun sudah tidak aktif sejak semalam.
"Gas, kamu kenapa sih? Segitu bencinya ya sama aku?" gumam Laila.
Laila duduk di kantin. Di bebangkuan yang biasanya mereka tempati bersama. Kenangan itu indah saat Laila mencoba mengingatnya kembali. Laila tidak tahu dan tidak mau tahu rasa yang tersimpan dalam hatinya untuk Bagas. Saat ini Laila hanya merasa jika kehilangan Bagas membuatnya sedih.
Hari pertama dengan status Bagas yang bukan siswa di sekolah itu lagi membuat Laila merasa bosan. Tidak ada lagi lawakan garing yang kadang justru membuat Laila tertawa renyah saat melihat ekspresi Bagas.
"Laila," panggil Bu Herlin.
Laila yang sedang memesan grab langsung mengangkat wajahnya dan melemparkan senyuman saat melihat Bu Herlin. Pesanan grabnya batal saat Bu Herlin mengajaknya pulang bersama. Namun ternyata, bukan pulang. Bu Herlin tidak mengajak Laila ke rumah Bu Indah.
Mereka berdua menuju sebuah salon. Pertama yang dilakukan Bu Herlin adalah mengubah penampilan Laila dari rambut. Mengubah rambut panjang yang kurang terurusnya hingga disisakan sebahu saja. Setelah itu, Bu Herlin memberi sedikit facial di wajah lembut Laila.
"Bu, saya mau diapain lagi ini?" tanya Laila yang mulai tidak nyaman.
"Itu biar wajah kamu glowing. Nanti kamu makin cantik," jawab Bu Herlin.
Wajah Laila memang sudah lembut dan putih. Namun kadang terlihat kusam saat debu menerpa wajahnya yang hanya dilindungi bedak bayi. Bu Herlin ingin mengubah penampilan Laila namun tidak menghilangkan gaya remaja anak kelas dua SMK itu.
"Bu, jangan dimenor-menorin ya!" pinta Laila
"Gak. Dijamin cantik deh pokonya. Kamu tenang aja ya," ucap Bu Herlin.
Laila tersenyum namun sebenarnya Laila menyembunyikan perasaan gelisahnya. Melihat penampilan Bu Herlin yang begitu cetar. Alis yang terlukis nyata dan bibir merah yang selalu melengkapi penampilannya. Laila tidak bisa membayangkan wajahnya saat dipoles dengan make up seperti itu.
"La, hey." Bu Herlin mengguncang tubuh Laila.
Laila terperanjat saat menyadari jika ia ketiduran di salon. Malu rasanya saat ketiduran karena keenakan di facial. Lelah setelah pulang sekolah membuatnya tidur pulas saat dimanjakan dengan tangan terampil yang memainkan area wajahnya.
__ADS_1