Dikira Janda Sama Si Duda

Dikira Janda Sama Si Duda
Pesangon?


__ADS_3

Semua orang berjejer menyambut kedatangan Bu Indah. Laila pun ikut berjejer seperti yang lainnya. Hatinya berdebar menunggu bagaimana komentar Bu Indah atas kue buatannya.


Bu Indah bersama sepuluh orang temannya masih mengobrol santai. Laila sesekali melihat Bu Indah yang terlihat begitu keren di matanya. Meskipun Laila yakin ada rasa rindu dan mungkin kecewa dengan orang yang ada di foto itu, namun Bu Indah sama sekali tidak menunjukkan itu di depan temannya. Bahkan Bu Indah terlihat sangat bahagia. Benar-benar berbeda dengan Bu Indah yang Laila lihat saat itu.


"Itu siapa?" tanya salah satu teman Bu Indah yang menyadari keberadaan Laila.


Laila menelan salivanya saat tertangkap basah sedang memperhatikan mereka. Pikirannya sudah gelisah. Takut jika ternyata sebuah hukuman diterimanya, padahal ia belum lama kerja di rumah itu.


"Laila sini," panggil Bu Indah.


Gerakan tangan Bu Indah yang mengisyaratkan Laila untuk segera mendekat membuatnya ketakutan. Langkahnya perlahan mendekati Bu Indah dengan kaki gemetar.


"Dia anakku," ucap Bu Indah sambil menggenggam tangan Laila.


Mata Laila sampai terbuka lebar saat mendengar ucapan Bu Indah. Ternyata tidak ada hukuman atau sekedar kemarahan. Bu Indah justru mengenalkan Laila dengan sangat bangga.


"Wah, kok baru dikenalin sih?" tanya salah satu temannya.


"Iya. Dia baru seminggu di sini," jawab Bu Indah.


"Masih kecil ya. Masih sekolah?" tanya temannya.


"Dia baru masuk tahun ini di SMK Permata Hati," jawab Bu Indah.


Mendengar nama SMK Permata Hati, temannya saling menatap. Mengira-ngira sespesial apa Laila. SMK tempat Laila sekolah adalah sekolah favorit yang ada di kawasan itu. Orang yang masuk ke sana bukan orang yang sembarangan. Apalagi lulusan dari sana banyak yang melanjutkan pendidikannya ke luar negeri.


"Ngambil jurusan apa?" tanya temannya.


"Tataboga," jawab Bu Indah tanpa melepaskan genggaman tangannya dari Laila.


"Oh ya? Suka masak?" tanya temannya.


Bu Indah tidak menjawab. Tatapannya pada Laila mengisyaratkan jika Laila yang harus menjawab pertanyaan itu.


"Suka bikin kue aja Bu. Barangkali ibu mau coba, itu ada kue buatan saya. Semoga suka," jawab Laila sambil menunjuk dua macam kue buatannya.


Kue buatan Laila langsung dicicipi oleh teman Bu Indah. Ekspresi baik soal rasa kue buatan Laila membuat teman-teman yang lain ikut mencoba kue itu. Hanya Bu Indah yang masih diam dan mengamati teman-temannya.


"Enak banget. Aku boleh pesen gak ya?" ucap teman Bu Indah.


"Aku juga mau," sahut teman yang lain.


"Aku mau juga dong," sahut yang lainnya.


Bibir Laila sudah mengembang. Bahagia sekali saat kue buatannya diapresiasi sangat luar biasa. Namun saat ia akan mengiyakan pesanan kue itu, Bu Indah memberi jawaban menohok.


"Dia tidak sedang berjualan," jawab Bu Indah.

__ADS_1


"Tapi Bu," ucap Laila.


"Kembali ke kamar dan istirahat. Terima kasih untuk kue yang enak ini. Lain kali kita akan membuat lebih banyak untuk hidangan khusus di rumah ini," ucap Bu Indah.


Laila menelan salivanya dengan susah payah. Langkah mundurnya mulai teratur tapi pasti hingga Laila benar-benar kembali ke kamarnya. Menangis. Ya, saat ini hanya menangis yang bisa Laila lakukan. Dadanya terasa sangat sesak.


"Apa aku salah kalau aku berjualan? Ini impianku," ucap Laila dengan kesal.


Lama, Laila tidak keluar kamar. Bahkan hingga akhirnya Bu Indah yang menemui Laila di kamarnya.


"Kamu kenapa? Marah? Kecewa?" tanya Bu Indah.


"Tidak," jawab Laila sambil menggelengkan kepalanya.


"Laila, kamu harus tahu kalau apa yang aku lakukan itu untuk kebaikanmu," ucap Bu Indah.


"Iya Bu," jawab Laila.


Laila tidak ingin protes sedikitpun. Ia menyadari jika saat ini Bu Indah adalah majikannya. Semua yang dikatakan Bu Indah adalah sebuah keharusan untuknya.


"Tetap fokus sama semua tugasmu," ucap Bu Indah.


"Tugas yang mana Bu?" tanya Laila.


"Tugas yang mana? Apa kamu gak berima list tugas yang aku buat?" Bu Indah balik bertanya.


"Nah yang itu. Apa kamu gak baca isinya? Itu semua tugas yang harus kamu lakukan," ucap Bu Indah.


"Semua ini bukan tugas Bu. Ini semua hanya list kaum mager dan kegiatan para pemalas," ucap Laila.


"Belajar. Itu tugas utama kamu, Laila. Kenapa aku minta makan dan istirahat teratur? Karena kamu harus sehat agar bisa belajar dan menyelesaikan sekolahmu dengan baik," ucap Bu Indah.


Laila hanya terdiam. Mau tidak mau ia hanya menuruti semua keinginan Bu indah. Yang terbaik menurut Bu Indah menurut Laila tidak baik untuknya. Setiap hari kerjaannya hanya tidur dan makan. Sesekali mengekor Bi Yani jika sedang ada jadwal belanja.


Ini sudah bulan ketiga. Laila sudah mulai aktif di sekolah barunya. Datang dengan diantar seorang sopir. Mobil mewah yang membuat dirinya tidak percaya diri. Uang bekal harian yang menurutnya bisa digunakan untuk jajan seminggu saat di kampung.


"La, makan yu!" ajak Bagas.


"Gak, terima kasih. Aku lagi puasa," jawab Laila.


Penolakan yang sudah pasti tidak akan mendapat bujukan apapun lagi dari Bagas. Ya, Bagas adalah salah satu teman prianya. Diantara yang lain, memang hanya Bagas yang selalu intens mengajaknya makan atau sekedar mengobrol.


Hampir setiap hari Laila mengaku sedang berpuasa. Hal itu dikarenakan Laila tidak mau jajan di kantin sekolah yang menurutnya sangat mahal. Biasanya Laila makan banyak sebelum berangkat sekolah. Dan semua cukup untuk menahan rasa laparnya saat di sekolah.


Benar kata Bu Indah, Laila memang harus belajar lebih giat lagi. Bukan hanya materi pelajaran yang sulit, tapi terlalu banyak orang yang pintar di kelasnya.


"La, bagaimana sekolahmu?" tanya Bu Indah.

__ADS_1


"Baik, Bu. Semuanya baik," jawab Laila.


"Baguslah. Tetaplah semangat belajar," ucap Bu Indah.


"Iya, Bu." Laila mengangguk.


Laila melihat Bu Indah pergi dari kamarnya. Buku tugas yang sedang dipegangnya dilempar begitu saja. Ada hal yang ingin disampaikan pada Bu Indah namun Laila bingung harus memulai dari mana.


"Aduh, gimana ngomongnya sama Bu Indah ya." Laila menggaruk kepalanya.


Ponselnya berdering. Nama Yanti terpampang di layar ponsel miliknya. Dengan cepat Laila menjawab panggilan itu. Tangis Laila pun pecah saat mendengar bahwa ibunya dilarikan lagi ke rumah sakit.


Bermodalkan rasa khawatir pada ibunya, Laila segera menemui Bu Indah. Meminta kejelasan tentang hubungan kerja yang mereka bangun bersama.


"Saya tahu Bu. Mungkin Ibu akan berpikir jika saya memang anak yang kurang ajar dan tidak tahu terima kasih. Tapi maaf sebelumnya, saya pergi ke Jakarta buat kerja. Saya butuh uang," ucap Laila.


"Tentu. Seperti yang aku katakan saat itu. Kamu tetap dibayar. Sesuai UMR kan katamu? Jangan khawatir. Mana nomor rekening yang bisa aku pakai untuk membayar upahmu?" pinta Bu Indah.


"Ini," jawab Laila to the point.


Ya, saat ini yang ada di kepala Laila adalah bagaimana caranya ia bisa mengirimkan uang untuk biaya perawatan ibunya. Ia tidak peduli jika besok akan dipecat dan harus putus sekolah kembali.


"Sudah," ucap Bu Indah sambil menunjukkan bukti pengiriman.


Mata Laila membulat sempurna saat melihat nominal yang dikirimkan Bu Indah pada nomor rekening Yanti.


"Kok banyak banget Bu? Apa jangan-jangan itu sekalian buat pesangon saya ya, Bu? Saya dipecat, Bu?" tanya Laila panik.


Bu Indah tertawa melihat kepanikan Laila. Ia justru meminta maaf atas kesalahannya. Membiarkan upah Laila hingga berbulan-bulan. Ia lupa jika Laila memiliki keluarga di kampungnya. Bahkan Bu Indah sudah merasa jika Laila adalah miliknya.


"Besok kita pulang ke rumahmu," ucap Bu Indah.


"Ah, gimana Bu?" tanya Laila bingung.


"Ibumu sedang sakit dan butuh kehadiranmu. Saat orang tua sakit, bukan uang yang dia butuhkan. Hanya kehadiran anak yang menyayanginya yang bisa jadi obat. Siap-siap ya. Besok kita berangkat jam enam," ucap Bu Indah.


"Apa Ibu benar-benar memecat saya?" tanya Laila bingung.


"Maksudnya?" tanya Bu Indah.


"Apa Ibu benar-benar mau balikin saya ke kampung karena udah bersikap kurang ajar?" tanya Laila.


Bu Indah menggelengkan kepalanya karena sangat jengkel.


"Kembali ke kamarmu dan istirhat. Besok kita berangkat pagi-pagi. Aku gak mau kalau sampai kamu kesiangan," ucap Bu Indah tegas.


Laila segera pamit dan kembali ke kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2